Minggu, 24 Januari 2016

KH. DARIP BIN KURDIN ULAMA ASWAJA BETAWI PEJUANG KEMERDEKAAN

Hanya beberapa saat setelah Bung Karno dan Bung Hatta mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, suasana di Tanah Air, khususnya di Jakarta, terjadi berbagai pergolakan. Apalagi tidak lama kemudian, pasukan Belanda dengan mendompleng sekutu turut mendarat ke Jakarta.

Rakyat yang tidak ingin lagi melihat negerinya dijajah, melakukan perlawanan. Di Jakarta, di antara para ulama dan mualim yang menghimpun para pemuda untuk siap mati membela negara, ada nama Haji Mohammad Arif. Ia lebih dikenal dengan sebutan Haji Darip. Nama itulah yang kini diabadikan sebagai nama jalan di daerah Klender menuju arah Bekasi.

Haji Darip adalah putra asli Betawi yang lahir pada tahun 1886. Ia adalah sosok yang sangat disegani di wilayah Klender, Bekasi, dan sekitarnya. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Begitu sekutu mendarat, ia memutuskan untuk turut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan. Dengan prinsip “mencintai Tanah Air merupakan bagian dari iman”, ia membakar semangat ratusan pemuda dari Klender dan sekitarnya. Namanya yang sudah dikenal membuatnya dalam waktu singkat mengumpulkan banyak pengikut.

Mereka lalu menghimpun diri dalam BARA (Barisan Rakyat) yang dipimpin Haji Darip sendiri dan para pemuda dari Menteng 31 yaitu Maruto Nitimihardjo, Sjamsuddin Can, Sidik Kertapati dan MH. Lukman. Secara umum BARA diberi tugas “memobilisasi penduduk”. Namun tugas utamanya adalah bekerjasama dengan para gerombolan setempat yang sudah diketahui pemimpinnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, khususnya dikampung-kampung sebelah timur Jakarta. Adalah Syamsudin Chan yang khusus secara aktif dipinggiran timur kota Jakarta, mendorong para pemimpin lokal untuk menyatakan dukungan pada Rapublik dan membangun kontak jaringan diwilayahnya. Langkahnya ini didasarkan pada hubungan yang telah lama dibina dengan Muhammad Yamin dan para pengikutnya sebelum masa perang. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. Haji Darip sendiri saat itu dijuluki “Panglima Perang dari Klender”.

Sebuah brosur dari Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota tanggal 17 Agustus 1985 — empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia — menyebutkan, almarhum pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Bung Karno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, Haji Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Rumahnya berdekatan dengan stasiun kereta api Klender, setelah melewati Jl Pisangan Lama, Jakarta Timur. Menurut H Uung, ayahnya benar-benar berjuang lillahi ta’ala, sama seperti para ulama Betawi lainnya yang turut terlibat dalam perang kemerdekaan. Begitu tawaduknya, mereka tak mau menonjolkan diri usai perang dan namanya hilang dalam catatan sejarah. Semangatnya yang tidak pernah henti untuk mengusir penjajah, didasarkan pada ajaran agama bahwa penjajahan yang mengeksploitasi manusia tidak dibenarkan dalam Islam.

Sebelum menjadi ulama di Jakarta, Haji Darip selama bertahun-tahun menjadi mukimin di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Selama di sana, dia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara. Inilah yang mengilhaminya untuk turut terlibat dalam pergerakan kemerdekaan sekembalinya ke Tanah Air. Ia mengawali perjuangan dengan berdakwah di sebuah musala kecil — kini berubah menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah — di Klender. Di sini bergabung juga sejumlah ulama dari Klender yang juga pejuang seperti KH Mursidi dan KH Hasbiallah.

Ketika Jakarta dikuasai serdadu NICA Belanda yang mendompleng tentara sekutu, Haji Darip dan kawan-kawannya itu hijrah ke pedalaman Cikarang – Karawang – Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia). Dari tempat persembunyiannya, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler — ia bermarkas di Purwakarta dan menyususn strategi melawan NICA. Tahun 1948, setelah selama tiga tahun tidak henti-hentinya melawan pasukan Belanda, ia pun tertangkap. Kemudian dibawa ke Jakarta dan dipenjara di rumah tahanan Glodok (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco). Lebih dari setahun ia mendekam di penjara Glodok, sebelum akhirnya dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan akhir Desember 1949.

Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang kekediamannya, seperti Sukarni dan Pandu Kartawiguna. Kedua tokoh Partai Murba menjelang 17 Agustus 1945 menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka, dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang. Sejumlah tokoh masyarakat mengetahui bahwa Jepang sudah menyerah setelah di bom sekutu pada 6 Agustus 1945. “Kemudian saya panggil buaye-buaye sini. Dari mana-mana dari hutan-hutan juga (60 tahun lalu Klender masih merupakan perkampungan dan perkebunan), Mereka datang atas panggilan saya. Saya bicarakan soal pengusiran orang-orang Jepang,” ujar Haji Darip seperti dikutip sebuah harian yang terbit tahun 1950.

Haji Darip merupakan tokoh tunggal daerah Klender yang ikut menentukan jalannya sejarah Proklamasi kemerdekaan. Dan dia merupakan salah satu tokoh Jakarta asli yang benar benar berjuang dan berperang demi lestarinya Indonesia Merdeka.
Sangat menarik sekali mengikuti kisah hidup patriot kita yang seorang diri ini. Dia seorang tokoh yang self-made, yang tumbuh dari rakyat dan akhirnya memimpin rakyat sekitarnya. Dia buta huruf dan tak pernah menginjak bangku sekolah, tetap akan kita ketahui bahwa ia itu ulung dan jitu dalam tekad perbuatannya untuk bejuang dan berperang maupun dalam pembicaraannya yang taktis dan diplomatis. Dia punya wibawa pula untuk menggerakan api semangat rakyat yang terus berkobar. Dan orang pertama yang dapat melihat potensi pejuang klender ini adalah Sukarni, Kamaludin serta Pandu Kartawiguna.

Jika Haji Darip merintah kan anak buahnya yang mayoritas adalah para buaye, demikian julukan untuk para jagoan, maka mereka berbuat lebih dari satu itu, orang orang Jepang itu tidak hanya diserbu dan usir tetapi dibunuh, akan tatapi keadaan ini oleh haji Darip tidak disesalkan, akan tetapi ia pun mengerti akan dendam anak buahnya, lagi pula mereka dibunuh untuk tidak terbunuh, seperti dilaporkan oleh anak buah nya, jika Jepang- Jepang itu tidak dibunuh sudah pasti merekalah yang terbunuh karena Jepang mempunyai senjata api sedang mereka hanya mempunyai kekuatan fisik dan golok saja.
Sumur ditempat itu tidak ada yang mau minum air lantaran penuh bangke orang Jepang ”kata Haji darip. Demikian juga sungai sunter penuh dengan bangkai tentara Jepang.

Ada kejadian lain yang terjadi pasca proklamasi Kemerdekaan yaitu pada tanggal 19 Oktober 1945, 68 pengawal Angkatan Laut Jepang dibantai dibekasi didalam perjalanan ke Penjara Ciater dan pada tanggal 23 November 1945, sekelompok tentara Hindia-Inggris dibantai setelah pesawat Dakota yang mereka tumpangi jatuh di dekat Bekasi.

MENGUMPULKAN SENJATA

H. Darip sudah berhasil mengerahkan rakyat yang dihimpun dan dipimpinnya untuk menghabiskan orang-orang Jepang yang bertugas di pinggiran. Kini otaknya mulai jalan. Kekuatan rakyat tak seberapa jika jika tidak dilengkapi dengan senjata.
Bagaimana pula caranya ia mendapatkan senjata? Lagi pula ia pun harus memikirkan perlengkapan logistik. Senjata dan persediaan makanan harus cukup jika Klender ingin melawan Jepang.

Kira-kira seminggu sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, Haji Darip mendatangi camat Klender. Ia sudah sudah punya pemikiran dan rencana.

Pemikiran seorang pemimpin rakyat. Ia sudah tahu Indonesia bakal merdeka dan dia Hakkul Yakin bahwa Indonesia pasti merdeka. Berkatalah ia pada Camat!

“Sekarang ente mau turut perintah siapa?” Dia bingung tak bisa jawab. Lalu saya katakan padanya bahwa segala pakaian rakyat yang bakal dibagikan jangan dikeluarkan sepotongpun. Wah, rakyat pada telanjang, pakai karung atau pakai pakaian karet. Tetapi pakaian bertumpuk di kecamatan. Saya suruh camat menyimpannya baik-baik, bakal rakyat nanti kalau saatnya tiba,”kata Haji Darip.

Ia juga mendatangi kantor polisi, masih kantor polisi di bawah kekuasaan Jepang. Komandannya juga ditanya, dia bakal turut perintah siapa. Sang Komandan polisi itu ketakutan. Pastilah di sudah mendengar kemasyuran nama Haji Darip yang mulai mengharum di Klender khususnya dan Jakarta pada umumnya. Ia bertanya kebingungan akan ada apa sebenarnya.
Memang pada masa itu rakyat Klender tak ada yang tahu bahwa Indonesia akan merdeka dan akan segera memproklamirkan kemerdekaan.

Hanya Haji Darip yang tahu dan ia tutup mulut demi selamatnya semua rencana. Tetapi rakyat sudah ada di belakangnya dan mendukung semua gerak serta perintahnya. Kepada Komandan polisi Jepang itu pun (Komandannya orang Indonesia) ia tak mengatakan bahwa akan terjadi ini dan itu. Ia hanya meminta supaya senjata-senjata yang ada dikantor polisi jangan diserah kan kepada siapa-siapa, jangan diserahkan kepada jepang, melainkan harus diserahkan kepada rakyat nanti. Haji Darip cukup pandai dengan segala siasatnya. Ia menyuruh komandan polisi membuat pernyataan dan membubuhkan tanda tangannya untuk menyerahkan senjata kepada rakyat.

Dari situ Haji Darip pergi ke Seksi tujuh: “ Yang ada di situ adalah Darmatin dan Juhra anak Banten dan sukahar. Sukahar yang sekarang Jenderal itu. Saya tak tahu waktu itu! Setelah berbicara dengan mereka akhirnya saya katakan bahwa apapun senjata yang ada di situ, granat atau lainnya, serahkan saja kepada rakyat. Mereka bertanya senjata itu akan diserahkan kepada siapa dan kapan. Apa sekarang? Saya katakan jangan sekarang tapi nanti.”

Kemudian Haji Darip menuju bui atau penjara Cipinang. Direkturnya diberi tahu hal yang sama dengan apa yang dikatakan pada Camat, Kepala polisi maupun Komandan Seksi VII. Pada saatnya pula nanti Haji Darip meminta agar para tahanan dilepaskan. Ia juga datang ke Seksi V dan melakukan hal yang sama.

Hari Proklamasi makin dekat dan keadaan makin panas saja. Tetapi dia telah mempersiapkan anak buah nya. Dia juga mendatangi gudang-gudang beras di Klender untuk memblokir beras yang ada jangan sampai dikeluarkan, jangan sampai pula keluar dari klender. Maka jadilah Klender wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan ala kadarnya.

“Ka Djakarta, ka Djakarta
Kita menjerboe!
Ka Djakarta, ka Djakarta
Kita menggempoer moesoeh!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar