Sabtu, 31 Mei 2014

Benarkah Al Qur`an menyatakan Allah berada di langit atau diatas `Arsy?!

Benarkah Al Qur`an menyatakan Allah berada di langit atau diatas `Arsy?!

Jikalau sebagian kawan-kawan ketika mendakwa
bahwa Al Quran menyatakan bahwa Allah berada di
atas arsy dan atau diatas langit. Dakwaan mereka
bermula dari pemahaman tekstual terhadapi QS:
Thaahaa: 5
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang
bersemayam di atas ‘Arsy.”
dan ayat semisalnyal, kemudian menyimpulkan
bahwa Allah berada di atas `arsy atau berada di
atas langit.

Jikalau demikian titik tolok
memahaminya, mari kita perhatikan sebagian ayat-
ayat Al Qur`an di bawah ini dan kita pahami secara
tekstual juga.

Apakah ayat-ayat berikut singkron dengan pemahaman mereka atau justru terjadi
kotradiktif:

1. QS: An Nahal: 128:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻣَﻊَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﻘَﻮﺍْ ﻭَّﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫُﻢ ﻣُّﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.

2. QS: Al Ankabut: 69
ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻤَﻊَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.

Jika kita lihat 2 ayat di atas secara tekstual, maka akan kita pahami bahwa Allah secara Zat bersama mereka yang bertaqwa dan berbuat baik. Berarti Allah turun dari `arsy?!

3. QS: Al Hadid: 4
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻓِﻲ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻳَﻠِﺞُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎﻳَﻨﺰِﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻌْﺮُﺝُ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﻛُﻨﺘُﻢْ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa
yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja
kamu berada.

Pada satu ayat yang sama Allah menyatakan bahwa Allah berada di atas `arsy dan di akhir ayat Allah menyatakan bahwa Allah berada bersama
hambaNya di mana saja hambaNya berada.

4. QS; Al Mujadilaah: 7
ﺃَﻟَﻢْ ﺗَﺮَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻣَﺎﻳَﻜُﻮﻥُ ﻣِﻦ ﻧَّﺠْﻮَﻯ ﺛَﻠَﺎﺛَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﺭَﺍﺑِﻌُﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺧَﻤْﺴَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ
ﺳَﺎﺩِﺳُﻬُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺩْﻧَﻰ ﻣِﻦ ﺫَﻟِﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻬُﻢْ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎﻛَﺎﻧُﻮﺍ
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang,melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di
mana pun mereka berada.

Jikalau kita pahami secara tekstual Allah adalah ke 4 diantara 3 orang dan Allah adalah yang ke 6 diantara 5 orang yang berbicara. Dan Allah bersama mereka dimana saja mereka berada.

5. QS: Al Baqarah: 186
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.

6. QS: Qaaf: 16
ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻗْﺮَﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﺒْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺭِﻳﺪِ
Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,

7. QS: Al Waqi`ah: 85
ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﺃَﻗْﺮَﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻣِﻨﻜُﻢْ ﻭَﻟَﻜِﻦ ﻟَّﺎ ﺗُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ
Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.
Tetapi kamu tidak melihat,
Jikalau kita pahami secara tekstual 3 ayat di atas, maka Allah sangat dekat sekali dengan kita, bagaimana mungkin berada di atas `arsy yang jauh dari kita, bahkan kita tidak tahu `arsy itu sendiri
dimana. Langit itu sendiri entah dimana, yang jelas
nun jauh lebih jauh dari pandangan mata kita!

8. QS:Al An`am: 3
ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ
Dan Dialah Allah, baik di langit maupun di bumi;

9. QS: Al Zukhruf: 84
ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀ ﺇِﻟَﻪٌ ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﺇِﻟَﻪٌ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ
ﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ
Dan Dia-lah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Bukankah dua ayat di atas menjelaskan bahwa Allah ada di langit dan di bumi, bukan hanya di langit saja atau di atas `arsy!

10. QS: Al `Alaq: 19
ﻛَﻠَّﺎ ﻟَﺎ ﺗُﻄِﻌْﻪُ ﻭَﺍﺳْﺠُﺪْ ﻭَﺍﻗْﺘَﺮِﺏْ
Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan),
Bukankah Allah menyuruh kita bersujud kemudian mendekat kepada Nya?! Apakah mungkin kita disuruh sujud dan disuruh mendekat sementara Allah jauh di atas arsy atau di atas langit?!

11. QS: Maryam: 52
ﻭَﻧَﺎﺩَﻳْﻨَﺎﻩُ ﻣِﻦ ﺟَﺎﻧِﺐِ ﺍﻟﻄُّﻮﺭِ ﺍﻟْﺄَﻳْﻤَﻦِ
Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Thur

12. QS: Al Qashash: 30
ﻧُﻮﺩِﻱ ﻣِﻦ ﺷَﺎﻃِﺊِ ﺍﻟْﻮَﺍﺩِﻱ ﺍﻟْﺄَﻳْﻤَﻦِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒُﻘْﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺒَﺎﺭَﻛَﺔِ ﻣِﻦَﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺓِ ﺃَﻥ ﻳَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan
semesta alam, Pada dua ayat di atas dari mana kah Allah menyeru Nabi Musa?! Apakah Allah menyeru dari langit atau
dari aats `arsy?!

13. QS: Al Baqarah: 115
ﻓَﺄَﻳْﻨَﻤَﺎ ﺗُﻮَﻟُّﻮﺍْ ﻓَﺜَﻢَّ ﻭَﺟْﻪُ ﺍﻟﻠّﻪِ
Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Kemanapun kita menghadap, ada Allah, kita mendapatiNya selalu, bukan hanya saat
menengadahkan tangan ke langit!

14. QS: Al Ra`d: 2
ﺍﻟﻠّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺭَﻓَﻊَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋَﻤَﺪٍ ﺗَﺮَﻭْﻧَﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻭَﺳَﺨَّﺮَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan.
Di ayat ini baru dijelaskan bahwa Allah berada diatas arsy.

Kesimpulan Jikalau ayat-ayat diatas dipahami keseluruhan
secara tekstual, maka akan kita pahami bahwa kebanyakan ayat justru menjelaskan Allah berada di bawah, di alam ini, bukan berada di atas langit
atau di atas `arsy. Meskipun sebagiannya tetap menegaskan Allah berada di langit. Ini artinya secara sekilas nampak kotradiktif tentang tempat keberadaan Allah sesungguhnya.

Saya yakin sahabat-sahabat saya tidak akan mengambil
sebagian ayat al Qur`an dan mengabaikan sebagian yang lain.
Karena ini bukan ciri-ciri
seorang muslim yang baik, apalagi dikatakan sebagai manhaj salaf!

Saya juga yakin, bahwa kita tidak akan mengambil makna secara zahirnya (makna yang langsung di pahami dari lafaz), karena akan menyebabkan kita
menyatakan Allah berada pada beberapa tempat yang disebutkan oleh ayat.

Berarti tidak ada jalan lain selain;
1. Tafwidl (takwil ijmaly/global), mengimani bahwa
apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasul Saw adalah haq, makna yang mereka maksudkan adalah haq, dan kita tidak memaksa diri untuk
mengetahuinya secara rinci, namun kita mesti menafikan makna yang dipahami secara langsungdari tekstual.

2. Takwil tafshily (takwil secara rinci), memahami setiap nash yang bermakna ambigu untuk Al Khaliq dan makhluq, dengan makna yang sesuai dengan bahasa arab dan sifat yang layak bagi Allah. Karena setiap nama berasal dari bahasa atau
langsung dari syariat.
Tentu saja kita tidak akan melakukan takwil kepada
sebagian ayat dan menghalangi sebagian ayat
sesuai dengan kehendak kita.

Menurut Ibnu Al Jauzy di dalam kitab Daf`u Syubhatu Al Tasybih, kesalahan kelompok
musyabihhah dan mujassimah dalam memahami sifat khabariyah, seperti tentang istiwa` ,
disebabkan karena;
1. Mereka menamakan khabar-khabar dengan khabar sifat, padahal realitanya hanyalah sebagai idhafat (penyandaran).
Secara kaidah dijelaskan
bahwa tidak semua idhafah bermakna sifat.
Perhatikanlah Allah berfirman :
ﻭﻧﻔﺨﺖ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺭﻭﺣﻰ
“Aku meniupkan kepadanya ruhKu”
Di sini jelas bahwa ada idhafah Allah dengan ruh.

Akan tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa Allah memiliki sifat ruh.

2. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan adalah hadits mutasyabihat, yang tidak diketahui makna dan maksudnya kecuali oleh Allah.

Namun kemudian mereka menafsirkannya dengan makna yang zhahir! Sangat mengherankan sekali, hal yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, akan tetapi zhahir bagi mereka!

Bukankah makna zhahir dari kalimat ﺍﺳﺘﻮﺍﺀ (bersemayam) kecuali bermakna ﺍﻟﻘﻌﻮﺩ (duduk) ?! dan kalimat ﺍﻟﻨﺰﻭﻝ
(turun) tidak dipahami, kecuali bermakna ﺍﻻﻧﺘﻘﺎﻝ (perpindahan) ?!

3. Mereka kemudian menetapkan berbagai sifat
bagi Allah, sedangkan sifat yang layak bagi Allah tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil yang layak untuk Zat Allah, yang bersifat qath`iy.

4. Di dalam masalah istbat (mentapkan sifat), mereka tidak bisa membedakan, bahwa khabar ada yang bersifat khabar masyhur seperti:
ﻳﻨﺰﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻰ ﺳﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ
Allah turun ke langit dunia
Dan ada khabar yang tidak sahih, seperti: hadits
ﺭﺃﻳﺖ ﺭﺑﻰ ﻓﻰ ﺃﺣﺴﻦ ﺻﻮﺭﺓ .
Aku melihat Tuhanku pada sebaik-baik bentuk.

Akan tetapi mereka justru menetapkan sifat bagi Allah dengan hadits masyhur dan hadits yang tidak sahih ini!

5. Mereka tidak bisa membedakan antara hadits
yang marfu` (bersambungan sanad) kepada Rasul Saw., dan hadits yang mauquf (terputus sanad hanya sampai) kepada sahabat dan tabi`in, namun
mereka menetapkan sifat dengan kedua hadits tersebut.

6. Mereka mentakwil sebagian lafaz pada tempat-tempat tertentu, seperti hadits:
ﻭﻣﻦ ﺃﺗﺎﻧﻰ ﻳﻤﺸﻰ ﺍﺗﻴﺘﻪ ﻫﺮﻭﻟﺔ
Dan barangsiapa yang mendatangi Ku dengan
berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari.

Mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah untuk
menunjukkan makna Allah memberikan nikmat.

Anehnya mereka tidak melakukan takwil pada
tempat yang lain?!

7. Mereka memahami hadits-hadits berdasarkan pemahaman indrawi, oleh karena itu mereka berani
mengatakan: “Allah turun dengan zatNya dan berpindah pindah dari suatu tempat ke tempat yang lain”, kemudian mereka mengatakan “bukan
sebagaimana yang difikirkan!”

Mereka justru sudah
duluan memikirkan dan membuat bingung orang-
orang yang mendengar pernyataan mereka serta
melumpuhkan indra dan akal mereka. Wollohu 'alamu bisshowab.

1 komentar: