Kamis, 29 Mei 2014

Apakah orang mati bisa mendengar ?

Apakah orang mati bisa mendengar ?
Di dalam kitab Tafsir Ahkam, Imam Al Qurtubi menguraikan bahwa firman Allah:

فَإِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَى

“Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar….” (QS. Ar-Rum: 52)

adalah berkaitan dengan peristiwa pertanyaan sahabat Umar bin Khattab saat Rasulullah SAW memanggil tiga orang pemimpin kafir Quraisy dalam perang Badar yang telah mati beberapa hari. Saat itu Rasulullah SAW ditanya oleh Umar bin Khattab RA:

يا رسول الله تناديهم بعد ثلاث وهل يسمعون ؟ يقول الله إنك لا تسمع الموتى فقال : والذي نفسي بيده ما أنتمبأسمع منهم ولكنهم لا يطيقون أن يجيبوا

“Ya Rasulullah!, apakah engkau memanggil-manggil mereka yang telah meninggal tiga hari bisa mendengarkan panggilanmu. Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam al Auran: sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar?. Rasulullah SAW menjawab: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, tidaklah engkau sanggup mendengar mereka, mereka lebih mendengar daripada kamu hanya saja mereka tidak mampu menjawab’.”(HR. Muslim dari Imam Anas RA).

Menurut hadits Shohihain (Bukhari Muslim) dari sanad yang berbeda-beda, Rasulullah SAW pernah berbicara kepada orang-orang kafir yang tewas dalam perang Badar saat mereka dibuang di sumur Qulaib kemudian Rasulullah SAW berdiri dan memanggil nama-nama mereka: “Ya Fulan bin Fulan 2x) : “Apakah engkau telah mendapatkan janji dari Tuhanmu dengan benar, sedangkan saya telah mendapatkan janji yang benar pula dari Tuhanku.”

Menurut Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsirnya, bahwa yang dipanggil oleh Rasulullah SAW itu adalah: Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Robi’ah dan Syaibah bin Robi’ah. Ketiganya itu adalah tokoh kafir Quraisy. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas bin Malik.

Dalam riwayat lain menyebutkan bahwa orang yang mati apabila sudah dikuburkan dan orang yang menguburkan itu kembali pulang, maka dia (ahli kubur) itu mampu mendengar gesekan suara sandal. Menurut Imam Al-Qurtubi, orang yang sudah meninggal itu bukan berarti mereka tidak lenyap sama sekali juga tidak pula rusak hubungan dengan orang yang masih hidup. Tetapi yang meninggal itu hanya terputus hubungan antara ruh dan badan dan hanya berpindah dari alam dunia ke alam kubur.

(Tafsir Ahkam Juz 7: hal 326).

Dengan demikian apakah orang yang meninggal itu bisa mendengar orang yang masih hidup saat memberi salam atau lainya? Cukup jelas keterangan ayat dan hadits pada peristiwa dia atas. Untuk lebih jelasnya lagi, kita bisa membuka Kitab Ar Ruh karangan Ibnu Qoyyim Al Jauziyah (Juz I halaman 5). Murid kesayangan Ibnu Taimiyah ini mengatakan bahwa, pada halaman itu tertulis riwayat Ibnu Abdil Bar yang menyandarkan kepada ketetapan Sabda Rasulullah SAW:

ما من مسلم يمر على قبر أخيه كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا رد الله عليه روحه حتى يرد عليه السلام

“Orang-orang muslim yang melewati kuburan saudaranya yang dikenal saat hidupnya kemudian mengucapkan salam, maka Allah mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menjawab salam temannya.”

Bahkan menurut Ulama Salaf mereka telah ijma’ (sepakat) bahwa masalah orang yang mati itu mampu mengenal orang-orang yang masih hidup pada saat berziarah, bahkan para ahli kubur mersasa gembira atas dengan kedatangan para peziarah. Hal ini, menurut Ibnu Qoyyim, merupakan riwayat atsar yang mutawatir.

Selengkapnya kata-kata Ibnu Qoyyim itu adalah sebagai berikut:

والسلف مجمعون على هذاوقد تواترت الآثار عنهم بأن الميت يعرف زيارة الحي له ويستبشر به

Ibnu Qoyyim mengutip ungkapan Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abid bin Abidun-ya dalam kitab Kubur pada bab ma’rifatul mauta biziyaratil ahya’ yang menyebukan hadits sebagai berikut ini:

عن عائشة رضى الله تعالى عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما من رجل يزور قبر أخيه ويجلس عنده إلا استأنس به ورد عليه حتى يقوم

Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang berziarah ke kuburan saudaranya, kemudian duduk di sisi kuburnya maka menjadi tenanglah si mayit, dan Allah akan mengembalikan ruh saudaranya yang meninggal itu untuk menemaninya sampai selesai berziarah.”

Orang yang meninggal dunia, akan menjawab salam baik yang dikenal maupun yang tidak dikenalnya sebagaimana dalam sebuah riwayat hadits berikut:

عن أبى هريرة رضى الله تعالى عنه قال إذا مرالرجل بقبر أخيه يعرفه فسلم عليه رد عليه السلام وعرفه وإذا مر بقبر لا يعرفه فسلمعليه رد عليه السلام

Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Apabila orang yang lewat kuburan saudaranya kemudian memberi salam, maka akan dibalas salam itu, dan dia mengenal siapa yang menyalami. Demikian juga mereka (para mayyit) akan menjawab salamnya orang-orang yang tidak kenal.”

Satu ketika, Seorang lelaki dari Keluarga ‘Ashim Al Jahdari bercerita bahwa dia melihat Ashim al Jahdari dalam mimpinya setelah beliau meninggal dua tahun. Lalu lelaki itu bertanya: “Bukankah Anda sudah meninggal?” “Betul!” “Lalu dimana sekarang?” “Demi Allah, saya ada didalam taman Surga. Saya juga bersama sahabat-sahabatku berkumpul setiap malam Jum’at hingga pagi harinya di tempat (kuburan) Bakar bin Abdullah al Muzanni. Kemudian kami saling bercerita.” “Apakah yang bertemu itu jasadnya saja atau ruhnya saja?” “Kalau jasad kami sudah hancur, jadi kami berkumpul dalam ruh” “Apakah Anda sekalian mengenal kalau kami itu berziarah kepada kalian?” “Benar!, kami mengetahui setiap sore Jum’at dan hari Sabtu hingga terbit matahari” “Kalau hari lainnya?” “Itulah fadilahnya hari Jum’at dan kemuliannya”

Cerita itu menurut Ibnu Qoyim bersumber dari Muhammad bin Husein dari Yahya bin Bustom Al Ashghor dari Masma’dari Laki-laki keluarga Asyim Al Jahdari. Bahkan bukan sore Jum’at dan hari Sabtu saja, menurut riwayat Muhammad bin Husein dari Bakar bin Muhammaddari Hasan Al Qoshob berkata bahwa orang-orang yang sudah meninggal mampu mengetahui para peziarah pada hari dua hari yang mengiringi Jum’at yaitu Kamis dan Sabtu.

Ucapan salam yang disampaikan saat melewati makbaroh/kuburan atau berziarah biasanya seperti yang banyak ditulis dalam kitab hadits yang sangat banyak adalah dengan ungkapan:

السلام عليكم دار قوم مؤمنين وإنا ان شاء الله تعالى بكم لاحقون
“Semoga keselamatan atas kamu wahai kaum mu’minin yang ada di alam kubur, Insya Allah kami akan menyusul.”

Menyiram Kuburan dengan Air Bunga

Ketika berziarah, rasanya tidak lengkap jika seorang peziarah yang berziarah tidak membawa air bunga ke tempat pemakaman, yang mana air tersebut akan diletakkan pada pusara. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah merata di seluruh masyarakat. Bagaimanakah hukumnya? Apakah manfaat dari perbuatan tersebut?

Para ulama mengatakan bahwa hukum menyiram air bunga atau harum-haruman di atas kuburan adalah sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zain, hal. 145

وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين 154)

Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum. (Nihayah al-Zain, hal. 154)

Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi;

حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا) (صحيح البخارى رقم 1361)

Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])

Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin;

يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ (اعانة الطالبين ج. 2، ص119 )

Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar. (I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)

Dan ditegaskan juga dalam Nihayah al-Zain, hal. 163

وَيُنْدَبُ وَضْعُ الشَّيْءِ الرَّطْبِ كَالْجَرِيْدِ الْأَحْضَرِ وَالرَّيْحَانِ، لِأَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمَيِّتِ مَا دَامَ رَطْباً وَلَا يَجُوْزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ قَبْلَ يَبِسِهِ. (نهاية الزين 163)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka memberi harum-haruman di pusara kuburan itu dibenarkan termasuk pula menyiram air bunga di atas pusara, karena hal tersebut termasuk ajaran Nabi (sunnah) yang memberikan manfaat bagi si mayit.

Berkiblat dari hadits shahih dan penjelasan inilah umat Islam melakukan ajaran Nabi SAW, untuk menziarahi kuburan sanak famili dan orang-orang yang dikenalnya untuk mendoakan penduduk kuburan. Dari hadits ini pula umat Islam belajar pengamalan nyekar bunga di atas kuburan.

Tentunya kondisi alam di Makkah dan Madinah saat Nabi SAW masih hidup, sangat berbeda dengan situasi di Indonesia. Maksudnya, Nabi SAW saat itu melakukan nyekar dengan menggunakan pelepah korma, karena pohon korma sangat mudah didapati di sana, dan sebaliknya sangat sulit menemui jenis pepohonan yang berbunga. Sedangkan masyarakat Indonesia berdalil bahwa yang terpenting dalam melakukan nyekar saat berziarah kubur, bukanlah faktor pelepah kormanya, yang kebetulan sangat sulit pula ditemui di Indonesia , namun segala macam jenis pohon, termasuk juga jenis bunga dan dedaunan, selagi masih segar, maka dapat memberi dampak positif bagi mayyit yang berada di dalam kubur, yaitu dapat memperingan siksa kubur sesuai sabda Nabi SAW.

Karena Indonesia adalah negeri yang sangat subur, dan sangat mudah bagi masyarakat untuk menanam pepohonan di mana saja berada, ibarat tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Maka masyarakat Indonesia-pun menjadi kreatif, yaitu disamping mereka melakukan nyekar dengan menggunakan berbagai jenis bunga dan dedaunan yang beraroma harum, karena memang banyak pilihan dan mudah ditemukan di Indonesia, maka masyarakat juga rajin menanam berbagai jenis pepohonan di tanah kuburan, tujuan mereka hanya satu yaitu mengamalkan hadits Nabi SAW, dan mengharapkan kelanggengan peringanan siksa bagi sanak keluarga dan handai taulan yang telah terdahulu menghuni tanah pekuburan. Karena dengan menanam pohon ini, maka kualitas kesegarannya pepohonan bisa bertahan relatif sangat lama.

Memang Nabi SAW tidak mencontohkan secara langsung penanaman pohon di tanah kuburan. Seperti halnya Nabi SAW juga tidak pernah mencontohkan berdakwah lewat media cetak, elektronik, bahkan lewat dunia maya, karena situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan Nabi SAW melakukannya. Namun para ulama kontemporer dari segala macam aliran pemahaman, saat ini marak menggunakan media cetak, elektronik, dan internet sebagai fasilitas penyampaian ajaran Islam kepada masyarakat luas, tujuannya hanya satu yaitu mengikuti langkah dakwah Nabi SAW, namun dengan asumsi agar dakwah islamiyah yang mereka lakukan lebih menyentuh masyarakat luas, sehingga pundi-pundi pahala bagi para ulama dan da’i akan lebih banyak pula dikumpulkan. Yang demikian ini memang sangat memungkinkan dilakukan pada jaman modern ini.

Jadi, sama saja dengan kasus nyekar yang dilakukan masyarakat muslim di Indonesia, mereka bertujuan hanya satu, yaitu mengikuti jejak nyekarnya Nabi SAW, namun mereka menginginkan agar keringanan siksa bagi penghuni kuburan itu bisa lebih langgeng, maka masyarakat-pun menanam pepohonaan di tanah pekuburan, hal ini dikarenakan sangat memungkinkan dilakukan di negeri yang bertanah subur ini, bumi Indonesia dengan penduduk muslim asli Sunny Syafii.
Ternyata dari satu amalan Nabi dalam menziarahi dua kuburan dari orang yang tidak dikenal, dan memberikan solusi amalan nyekar dengan penancapan pelepah korma di atas kuburan mayyit, dengan tujuan demi peringanan siksa kubur yang tengah mereka hadapi, menunjukkan bahwa keberadaan Nabi SAW adalah benar-benar rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, termasuk juga alam kehidupan dunia kasat mata, maupun alam kubur, bahkan bagi alam akhirat di kelak kemudian hari.

Diriwayatkan sesungguhnya Bilal -radliyallahu anhu- ketika berziarah ke makam Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam- menangis dan mengosok-gosokkan kedua pipinya di atas makam Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam- yang mulia. Diriwayatkan pula bahwa Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma- meletakkan tangan kanannya di atas makam Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam-. Keterangan ini dijelaskan oleh Al-Khathib Ibnu Jumlah (lihat kitab Wafa’ul wafa’, karya As-Samhudi, Juz 4 hlm. 1405 dan 1409).

Imam Ahmad dengan sanad yang baik (hasan) menceritakan dari Al-Mutthalib bin Abdillah bin Hanthab, dia berkata : “Marwan bin al-Hakam sedang menghadap ke arah makam Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam-, tiba-tiba ia melihat seseorang sedang merangkul makam Rasulullah. Kemudian ia memegang kepala orang itu dan berkata: ‘Apakah kau tahu apa yang kau lakukan?’. Orang tersebut menghadapkan wajahnya kepada Marwan dan berkata: ‘Ya saya tahu! Saya tidak datang ke sini untuk batu dan bata ini. Tetapi saya datang untuk sowan kepada Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam-’. Orang itu ternyata Abu Ayyub Al-Anshari -radliyallahu anhu-. (Diriwayatkan Imam Ahmad, 5;422 dan Al-Hakim, 4;560)

Diceritakan dari Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullah- bahwa beliau ditanya mengenai hukum mencium makam Rasulullah -shallallahu alayhi wa sallam- dan mimbarnya. Beliau menjawab: “Tidak apa-apa”. Keterangan disampaikan As-Samhudi dalam kitab Khulashah al-Wafa.

Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-athos

Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-athos

Al-Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas dilahirkan di kota Hajeriem, Hadramaut, pada tahun 1255 H. Pada masa kecilnya, beliau mendapat didikan langsung dari ayah beliau Al-Habib Abdullah bin Thalib Alatas. Setelah dirasakan cukup menimba ilmu dari ayahnya, beliau kemudian meneruskan menuntut ilmu kepada para ulama besar yang ada di Hadramaut.

Diantara para guru beliau adalah :

Al-Habib Hasan bin Ali Alkaff
Al-Habib Al-Qutub Sholeh bin Abdullah Alatas
Al-Habib Al-Qutub Abubakar bin Abdullah Alatas
Al-Habib Al-Qutub Thahir bin Umar Alhaddad
Al-Habib Al-Qutub Idrus bin Umar Alhabsyi
Al-Habib Ahmad bin Hasan bin Sholeh Al-Bahar
Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Balfagih

Setelah ditempa oleh para ulama besar bahkan para Qutub yang ada di Hadramaut saat itu, keinginan beliau untuk menuntut ilmu seakan tak pernah luntur dan pupus. Hasrat beliau untuk menambah ilmu sedemikian hebat, sehingga untuk itu beliau kemudian melakukan perjalanan ke kota Makkah. Beliau banyak menjumpai ulama-ulama besar yang tinggal di kota Makkah saat itu. Kesempatan baik ini tak beliau sia-siakan. Beliau berguru kepada mereka. Diantara ulama-ulama besar yang menjadi guru beliau disana adalah :

As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Makkah saat itu)
Al-Habib Abdullah bin Muhammad Alhabsyi
Asy-Syaikh Muhammad bin Said Babsail
Al-Habib Salim bin Ahmad Alatas

Beliau Al-Habib Ahmad dengan giat dan tekun mengambil ilmu dari mereka. Sehingga tak terasa sudah 12 tahun beliau jalani untuk menimba ilmu disana. Beliau terus mengembangkan keilmuannya, sehingga kapasitas beliau sebagai seorang ulama diakui oleh para ulama kota Makkah saat itu.

Beliau kemudian dianjurkan oleh guru beliau, As-Sayyid Al-Allamah Ahmad bin Zaini Dahlan, untuk memulai terjun ke masyarakat, mengajarkan ilmu dan berdakwah. Mula-mula beliau berdakwah di pinggiran kota Makkah. Beliau tinggal disana selama 7 tahun. Dalam kurun waktu itu, kegiatan dakwah selalu aktif beliau lakukan disana.
Kemudian beliau berkeinginan untuk melanjutkan perjalanan dakwah beliau ke Indonesia. Beliau sampai disini diperkirakan sekitar tahun 1295-1300 H. Setibanya beliau di Indonesia, beliau menuju ke kota Pekalongan dan menetap disana.

Di kota Pekalongan beliau selalu aktif meneruskan kegiatan-kegiatan dakwahnya. Beliau tidak ambil pusing dengan urusan-urusan duniawi. Semua fikrah beliau semata ditujukan untuk kepentingan dakwah. Waktu beliau selalu terisi dengan dakwah, ibadah, dzikir kepada Allah dan rajin membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Selain itu, ilmu beliau selalu tampak bercahaya, terpancar melalui akhlak beliau yang mulia. Beliau selalu berperilaku baik, penyayang dan lemah lembut terhadap sesama.

Akan tetapi itupun tidak meniadakan sikap beliau yang selalu ber-nahi mungkar. Jika beliau melihat seseorang yang melakukan suatu kemungkaran, beliau tidak segan-segan untuk menegurnya. Perkataan-perkataan yang keluar dari mulut beliau, selalu beliau ucapkan dengan shidq. Beliau tidak perduli terhadap siapapun jika ada hak-hak Allah yang dilanggar di hadapan beliau. Sehingga berkat beliau, izzul Islam wal Muslimin tampak terang benderang, menyinari kota Pekalongan.

Disamping itu, dari sebagian jasa-jasa baik beliau, beliau membangun beberapa masjid dan madrasah Salafiyah, yang berjalan pada thariqah para salaf beliau yang shaleh. Rumah beliau selalu penuh dengan tamu dan beliau sambut dengan ramah-tamah. Inilah akhlak beliau yang mensuri-tauladani akhlak dan perilaku datuk-datuk beliau.

Sampai akhirnya beliau dipangil ke hadratillah, pergi menuju keridhaan Allah. Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 1347 H di kota Pekalongan dan dimakamkan disana. Masyarakat berbondong-bondong mengiringi kepergian beliau menghadap Allah. Derai keharuan sangat terasa, membawa suasana syahdu…

Selang setahun kepergian beliau, untuk menghidupkan kembali kesuri-tauladan dan mengenang jasa-jasa baik beliau, setiap tahun di kota tersebut diadakan Haul beliau. Haul tersebut banyak dihadiri oleh berbagai kalangan umat Islam. Mereka berduyun-duyun dari berbagai kota hadir disana, demi mengenang kehidupan beliau…demi menjemput datangnya nafaahat dan imdaadat.
Radhiyallohu anhu wa ardhah…Aamiin

Keutamaan bulan sya'ban

Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.
 
Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan kaum muslimin.
 
1). PINDAH QIBLAT
Pada bulan Sya’ban, Qiblat berpindah dari Baitul Maqdis, Palistina ke Ka’bah, Mekah al Mukarromah. Nabi Muhammad SAW menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu dari Rabbnya. Sampai akhirnya Allah SWT mengabulkan penantiannya. Wahyu Allah SWT turun. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)

2). DIANGKATNYA AMAL MANUSIA.
Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah diangkatnya amal-amal manusia pada bulan ini ke langit. Dari Usamah bin Zaid r.a., dia berkata: “Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR. Nasa’i).

3). KEUTAMAAN PUASA DI BULAN SYA'BAN.
Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat, “Adakah puasa yang paling utama setelah Ramadlan?” Rasulullah SAW menjawab, “Puasa bulan Sya’ban karena berkat keagungan bulan Ramadhan.”Dari ‘Aisyah r.a. berkata: “Adalah Rasulullah SAW berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Sepintas dari teks Hadits di atas, puasa bulan Sya’ban lebih utama dari pada puasa bulan Rajab dan bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) lainnya. Padahal Abu Hurairah telah menceritakan sabda dari Rasulullah SAW, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan mulia (asyhurul hurum).” Menurut Imam Nawawi, hal ini terjadi karena keutamaan puasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum) itu baru diketahui oleh Rasulullah SAW di akhir hayatnya sebelum sempat beliau menjalaninya, atau pada saat itu beliau dalam keadaan udzur (tidak bisa melaksanakannya) karena bepergian atau sakit.

Sesungguhnya Rasulullah SAW mengkhususkan bulan Sya’ban dengan puasa itu adalah untuk mengagungkan bulan Ramadhan. Menjalankan puasa bulan Sya’ban itu tak ubahnya seperti menjalankan sholat sunat rawatib sebelum sholat maktubah. Jadi dengan demikian, puasa Sya’ban adalah sebagai media berlatih sebelum menjalankan puasa Ramadhan.

Adapun berpuasa hanya pada separuh kedua bulan Sya’ban itu tidak diperkenankan, kecuali:
Menyambungkan puasa separuh kedua bulan Sya’ban dengan separuh pertama.
Sudah menjadi kebiasaan.
Puasa qodlo.
Menjalankan nadzar.
Tidak melemahkan semangat puasa bulan Ramadhan.
4). TURUN AYAT SHOLAWAT NABI.
Salah satu keutamaan bulan Sya’ban adalah diturunkannya ayat tentang anjuran membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan ini, yaitu ayat: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab;56)

5). SYA'BAN, BULAN Al' QURAN
Bulan Sya’ban dinamakan juga bulan Al Quran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar. Memang membaca Al Quran selalu dianjurkan di setiap saat dan di mana pun tempatnya, namun ada saat-saat tertentu pembacaan Al Quran itu lebih dianjurkan seperti di bulan Ramadhan dan Sya’ban, atau di tempat-tempat khusus seperti Mekah, Roudloh dan lain sebagainya.

Syech Ibn Rajab al Hambali meriwayatkan dari Anas, “Kaum muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban, mereka menekuni pembacaan ayat-ayat Al Quran dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang-orang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

6). MALAM NISHFU SYA'BAN.
Pada bulan Sya’ban terdapat malam yang mulia dan penuh berkah yaitu malam Nishfu Sya’ban. Di malam ini Allah SWT mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang minta belas kasihan, mengabulkan doa orang-orang yang berdoa, menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, memerdekakan orang-orang dari api neraka, dan mencatat bagian rizki dan amal manusia.

Banyak Hadits yang menerangkan keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, sekalipun di antaranya ada yang dlo’if (lemah), namun Al Hafidh Ibn Hibban telah menyatakan kesahihan sebagian Hadits-Hadits tersebut, di antaranya adalah: “Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT melihat kepada semua makhluknya pada malam Nishfu Sya’ban dan Dia mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban).

Para ulama menamai malam Nishfu Sya’ban dengan beragam nama. Banyaknya nama-nama ini mengindikasikan kemuliaan malam tersebut.
Lailatul Mubarokah (malam yang penuh berkah).
Lailatul Qismah (malam pembagian rizki).
Lailatut Takfir (malam peleburan dosa).
Lailatul Ijabah (malam dikabulkannya doa)
Lailatul Hayah walailatu ‘Idil Malaikah (malam hari rayanya malaikat).
Lalilatus Syafa’ah (malam syafa’at)
Lailatul Baro’ah (malam pembebasan). Dan masih banyak nama-nama yang lain.

7). PRO dan KONTRA SEPUTAR NISHFU SYQ'BAN.
Al Hafidh Ibn Rojab al Hambali dalam kitab al Lathoif mengatakan, “Kebanyakan ulama Hadits menilai bahwa Hadits-Hadits yang berbicara tentang malam Nishfu Sya’ban masuk kategori Hadits dlo’if (lemah), namun Ibn Hibban menilai sebagaian Hadits itu shohih, dan beliau memasukkannya dalam kitab shohihnya.” Ibnu Hajar al Haitami dalam kitab Addurrul Mandlud mengatakan, “Para ulama Hadits, ulama Fiqh dan ulama-ulama lainnya, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam Nawawi, bersepakat terhadap diperbolehkannya menggunakan Hadits dlo’if untuk keutamaan amal (fadlo’ilul amal), bukan untuk menentukan hukum, selama Hadits-Hadits itu tidak terlalu dlo’if (sangat lemah).”Jadi, meski Hadits-Hadits yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebut dlo’if (lemah), tapi tetap boleh kita jadikan dasar untuk menghidupkan amalam di malam Nishfu Sya’ban. 

Kebanyakan ulama yang tidak sepakat tentang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban itu karena mereka menganggap serangkaian ibadah pada malam tersebut itu adalah bid’ah, tidak ada tuntunan dari Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pengertian bid’ah secara umum menurut syara’ adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah. Jika demikian secara umum bid’ah itu adalah sesuatu yang tercela (bid’ah sayyi’ah madzmumah). Namun ungkapan bid’ah itu terkadang diartikan untuk menunjuk sesuatu yang baru dan terjadi setelah Rasulullah SAW wafat yang terkandung pada persoalan yang umum yang secara syar’i dikategorikan baik dan terpuji (hasanah mamduhah).

Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumiddin Bab Etika Makan mengatakan, “Tidak semua hal yang baru datang setelah Nabi Muhammad SAW itu dilarang. Tetapi yang dilarang adalah memperbaharui sesuatu setelah Nabi (bid’ah) yang bertentangan dengan sunnah.” Bahkan menurut beliau, memperbaharui sesuatu setelah Rasulullah (bid’ah) itu terkadang wajib dalam kondisi tertentu yang memang telah berubah latar belakangnya.”

Imam Al Hafidh Ibn Hajjar berkata dalam Fathul Barri, “Sesungguhnya bid’ah itu jika dianggap baik menurut syara’ maka ia adalah bid’ah terpuji (mustahsanah), namun bila oleh syara’ dikategorikan tercela maka ia adalah bid’ah yang tercela (mustaqbahah). Bahkan menurut beliau dan juga menurut Imam Qarafi dan Imam Izzuddin ibn Abdis Salam bahwa bid’ah itu bisa bercabang menjadi lima hukum.

Syech Ibnu Taimiyah berkata, “Beberapa Hadits dan atsar telah diriwayatkan tentang keutamaan malam Nisyfu Sya’ban, bahwa sekelompok ulama salaf telah melakukan sholat pada malam tersebut. Jadi jika ada seseorang yang melakukan sholat pada malam itu dengan sendirian, maka mereka berarti mengikuti apa yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf dulu, dan tentunya hal ini ada hujjah dan dasarnya. Adapun yang melakukan sholat pada malam tersebut secara jamaah itu berdasar pada kaidah ammah yaitu berkumpul untuk melakukan ketaatan dan ibadah.

Walhasil, sesungguhnya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah itu hukumnya sunnah (mustahab) dengan berpedoman pada Hadits-Hadits di atas. Adapun ragam ibadah pada malam itu dapat berupa sholat yang tidak ditentukan jumlah rakaatnya secara terperinci, membaca Al Quran, dzikir, berdo’a, membaca tasbih, membaca sholawat Nabi (secara sendirian atau berjamaah), membaca atau mendengarkan Hadits, dan lain-lain.

TUNTUNAN NABI DI MALAM NISHFU SYA'BAN.
Rasulullah SAW telah memerintahkan untuk memperhatikan malam Nisyfi Sya’ban, dan bobot berkahnya beramal sholeh pada malam itu diceritakan oleh Sayyidina Ali r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Jika tiba malam Nisyfi Sya’ban, maka bersholatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya karena sesungguhnya Allah SWT menurunkan rahmatNya pada malam itu ke langit dunia, yaitu mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Dia berfirman, ‘Adakah orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampuni? Adakah orang meminta rizki, maka akan Aku beri rizki? Adakah orang yang tertimpa musibah, maka akan Aku selamatkan? Adakah begini atau begitu? Sampai terbitlah fajar.’” (HR. Ibnu Majah)

Malam Nishfu Sya’ban atau bahkan seluruh bulan Sya’ban sekalipun adalah saat yang tepat bagi seorang muslim untuk sesegera mungkin melakukan kebaikan. Malam itu adalah saat yang utama dan penuh berkah, maka selayaknya seorang muslim memperbanyak aneka ragam amal kebaikan. Doa adalah pembuka kelapangan dan kunci keberhasilan, maka sungguh tepat bila malam itu umat Islam menyibukkan dirinya dengan berdoa kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Doa adalah senjatanya seorang mukmin, tiyangnya agama dan cahayanya langit dan bumi.” (HR. Hakim). 
Nabi Muhammad SAW juga mengatakan, “Seorang muslim yang berdoa -selama tidak berupa sesuatu yang berdosa dan memutus famili-, niscaya Allah SWT meng-anugerahkan salah satu dari ketiga hal, pertama, Allah akan mengabulkan doanya di dunia. Kedua, Allah baru akan mengabulkan doanya di akhirat kelak. Ketiga, Allah akan menghindarkannya dari kejelekan lain yang serupa dengan isi doanya.” (HR. Ahmad dan Barraz).

Tidak ada tuntunan langsung dari Rasulullah SAW tentang doa yang khusus dibaca pada malam Nishfu Sya’ban. Begitu pula tidak ada petunjuk tentang jumlah bilangan sholat pada malam itu. Siapa yang membaca Al Quran, berdoa, bersedekah dan beribadah yang lain sesuai dengan kemampuannya, maka dia termasuk orang yang telah menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dan ia akan mendapatkan pahala sebagai balasannya.

Adapun kebiasaan yang berlaku di masyarakat, yaitu membaca Surah Yasin 3 (tiga) kali, dengan berbagai tujuan, yang pertama dengan tujuan memperoleh umur panjang dan diberi pertolongan dapat selalu taat kepada Allah SWT. Kedua, bertujuan mendapat perlindungan dari mara bahaya dan memperoleh keluasaan rikzi. Dan ketiga, memperoleh khusnul khatimah (mati dalam keadaan iman), itu juga tidak ada yang melarang, meskipun ada beberapa kelompok yang memandang hal ini sebagai langkah yang salah dan batil. 

Dalam hal ini yang patut mendapat perhatian kita adalah beredarnya tuntunan-tuntunan Nabi SAW tentang sholat di malam Nishfu sya’ban yang sejatinya semua itu tidak berasal dari beliau. Tidak berdasar dan bohong belaka. Salah satunya adalah sebuah riwayat dari Sayyidina Ali r.a., “Bahwa saya melihat Rasulullah SAW pada malam Nishfu Sya’ban melakukan sholat 14 (empat belas) rakaat, setelahnya membaca Surat Al Fatihah (14 x), Surah Al Ikhlas (14 x), Surah Al Falaq (14 x), Surah Annas (14 x), ayat Kursi (1 x), dan satu ayat terkhir Surat At Taubah (1 x). 
Setelahnya saya bertanya kepada Baginda Nabi SAW tentang apa yang dikerjakannya, Beliau menjawab, “Barang siapa yang melakukan apa yang telah kamu saksikan tadi, maka dia akan mendapatkan pahala 20 kali haji mabrur, puasa 20 tahun, dan jika pada saat itu dia berpuasa, maka ia seperti berpuasa dua tahun, satu tahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Dan masih banyak lagi Hadits-Hadits palsu lainnya yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin. 

(Disarikan dari “Madza fi Sya’ban”, karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, Muhadditsul Haromain). Insya Allah bermanfa'at...Aamiin

AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH (AL FIRQOTUNNAJIYAH)

PENJELASAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH AQIDAH YANG SHOHIH.

Assalamulaikum,

Alhamdulillah, di sini saya sertakan penerangan yang jelas dan
lengkap tentang Ahlus Sunah Wal Jama’ah.Maklumat ini
dikumpulkan daripada kitab-kitab para Ulama’ ASWJ.
Semoga kita semua kekal dalam Aqidah ASWJ yang shohih dan
bukan seperti yang dicanang oleh sesetengah golongan ajaran
sesat.

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT (al
Firqah an-Najiyah)

Bersabda Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW,
maknanya:“dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi
73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di
surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)
Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’.
Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama
al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq
(pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal,
mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran-
ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau
menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam
agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai
peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeza dengan golongan
falsafah yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal
lainnya yang hanya berdasarkan penilaian akal semata-mata.
Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang
ajaran yang dibawa para nabi dan rasul.

Tuduhan kaum Musyabbihah dan Mujassimah iaitu kaum yang
sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap
Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya
mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh
al-Mu’tazilah (anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan
kerana menggunakan akal sebagai salah satu sumber utama,
adalah tuduhan yang amat salah. Ini tidak ubah seperti kata
pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek
adalah senjata para pengecut). Secara ringkas tetapi namun
padat, kita ketengahkan pembahasan tentang Ahlussunnah
sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-
usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistemnya.

PENGENALAN DAN KRONOLOGI SEJARAH

Sejarah mencatat bahawa di kalangan umat Islam bermula dari
abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali
ibn Abi Thalib) sehinggalah sekarang terdapat banyak firqah
(golongan) dalam masalah aqidah yang saling bertentangan di
antara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah.

Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan
bahawa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Semua ini
sudah tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah
tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Hanya Allah
yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga
telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita ikuti dan panuti
agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Iaitu dengan mengikuti
apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; majoriti umat Islam. Karena
Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad,
bahawa umatnya tidak akan tersesat selama mana mereka
berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan
mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan.
Kesesatan akan menimpa mereka yang menyimpang dan
memisahkan diri dari keyakinan majoriti.

Majoriti umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah
Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan
orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad
(dasar-dasar aqidah); iaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar
iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadith
Jibril uang bermaksud : “Iman adalah engkau mempercayai
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun
buruk”. (H.R. al Bukhari dan Muslim)
Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai majoriti umat
Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah
tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang
bermaksud: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti
sahabat-sahabatku, kemudian mengikuti orang-orang yang
datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah
mereka“. Dan termasuk rangkaian hadith ini: “Tetaplah bersama
al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai
orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh,
maka barang siapa menginginkan tempat lapang di syurga
hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”.
(H.R. at-Tirmidzi; berkata hadith ini Hasan Shahih juga hadith
ini dishahihkan oleh al-Hakim).

Al-Jama’ah dalam hadith ini tidak boleh diertikan dengan orang
yang selalu melaksanakan solat dengan berjama’ah, jama’ah
masjid tertentu. Konteks pembicaraan hadith ini jelas
mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah
majoriti umat Muhammad dari sisi jumlah(‘adad). Penafsiran ini
diperkuatkan juga oleh hadith yang dinyatakan di awal
pembahasan. Iaitu hadith riwayat Abu Daud yang merupakan
hadith Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang
sahabat. Hadith ini memberi kesaksian akan kebenaran majoriti
umat Muhammad bukan kesesatan firqah-firqah yang
menyimpang. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyimpang
ini, jika dibandingkan dengan pengikut Ahlussunnah Wal
Jama’ah sangatlah sedikit. Seterusnya di kalangan Ahlussunnah
Wal Jama’ah terdapat istilah yang popular iaitu “ulama salaf”.
Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan
Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama
hijriyah sebagaimana sabda nabi yang maknanya: “Sebaik-baik
abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian
abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)

Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mula tercetus
bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lain-lainnya dari
kelompok-kelompok yang membuat fahaman atau mazhab baru.
Kemudian muncullah dua imam muktabar pembela Aqidah
Ahlussunnah iaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan
Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah
meridhai keduanya–menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal
Jama’ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-
orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil
naqli (nas-nas al-Quran dan Hadith) dan dalil-dalil aqli
(argumentasi rasional) disertaikan dengan bantahan-bantahan
terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk
mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan Mu’tazilah,
Musyabbihah, Khawarij dan ahli bid’ah lainnya.

Disebabkan inilah Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya.
Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenali dengan
nama al-Asy’ariyyun (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy’ari)
dan al-Maturidiyyun (para pengikut Imam Abu Manshur al-
Maturidi). Hal ini menunjukkan bahawa mereka adalah satu
golongan iaitu al-Jama’ah. Kerana sebenarnya jalan yang
ditempuhi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah
adalah sama dan satu. Adapun perbezaan yang terjadi di antara
keduanya hanyalah pada sebahagian masalah-masalah
furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya
saling berhujah dan berdebat atau saling menyesatkan, serta
tidak menjadikan keduanya terlepas dari ikatan golongan yang
selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbezaan antara al-Asy’ariyyah
dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti perselisihan yang terjadi
di antara para sahabat nabi, tentang adakah Rasulullah melihat
Allah pada saat Mi’raj? Sebahagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan
Ibn Mas’ud mengatakan bahawa Rasulullah tidak melihat
Tuhannya ketika Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas
mengatakan bahawa Rasulullah melihat Allah dengan hatinya.
Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi
Muhammad atau membuka hijab sehingga dapat melihat Allah.
Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap
bersama atau bersefahaman dan sehaluan dalam dasar-dasar
aqidah. Al-Hafiz Murtadha az-Zabidi (W. 1205 H)

mengatakan:“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka
yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (Al-
Ithaf Syarah li Ihya Ulumuddin, juz 2 hlm 6)

Maka aqidah yang sebenar dan diyakini oleh para ulama salaf
yang soleh adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan
al-Maturidiyyah. Kerana sebenarnya keduanya hanyalah
merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah (method)
dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul
serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang
diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para
pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang
utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Aqidah ini diajarkan di pondok-pondok Ahlussunnah di negara
kita Malaysia,Indonesia,Thailand dan lain-lainnya.Dan
Alhamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum
muslimin di seluruh dunia seperti Brunei, India, Pakistan, Mesir
(terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syria, Jordan, Lubnan
dan Palestin), Maghribi,Yaman, Iraq, Turki, Chechnya,
Afghanistan dan banyak lagi di negara-negara lainnya.
Maka wajib bagi kita untuk sentiasa memberi penuh perhatian
dan serius dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang
merupakan aqidah golongan majoriti. Kerana ilmu aqidah
adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau
dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh
al-Akbar. Kerana mempelajari ilmu ini wajib diutamakan dari
mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah selesai atau khatam
mempelajari ilmu ini barulah disusuli dengan ilmu-ilmu Islam
yang lain. Inilah method yang diikuti para sahabat nabi dan
ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam
mempelajari agama ini. Tradisi ini telah bermula dari zaman
Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar dan
Jundub, maknanya: “Kami ketika remaja saat mendekati baligh-
bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum
mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an
maka bertambahlah keimanan kami”. (H.R. Ibnu Majah dan
dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).

Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal ini kerana
ramainya golongan yang menyalahgunakan nama Islam namun
menentang aqidah Islam yang sebenar dan banyaknya kalam
(argumentasi) dari setiap golongan untukmembela aqidah
mereka yang sesat. Tidak semua ilmu kalam itu tercela,
sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok
yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi
ilmu kalam terbahagi menjadi dua bahagian ; ilmu kalam yang
terpuji dan ilmukalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua
inilah yang menyalahi aqidah Islam kerana dikarang dan
dipelopori oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah,
Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan
makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya.

Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang
dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang
sesat. Dikatakan terpuji kerana pada hakikatnya ilmu kalam
Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah
dalam formatnya yang sistematik dan argumentatif; dilengkapi
dengan dalil-dalil naqli dan aqli. Dasar-dasar ilmu kalam ini
telah wujud di kalangan para sahabat. Di antaranya, Imam Ali
ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kukuh dapat
mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah dan juga dapat
membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa
Allah adalah jisim (benda). Demikian pula Abdullah ibn Abbas,
Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Umar juga
membantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in;
Imam al-Hasan al-Bashri, Imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-
Hanafiyyah; cucu Saidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar
ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah.

Kemudian juga para imam dari empat mazhab; Imam Syafi’i,
Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad juga
menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana
dinukilkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H)
dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W
571 H) dalam kitab Tabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-
Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami’ dan al
‘Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram
dan lain-lain. Allah berfirman yang bermaksud: “Maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu”.
(Muhammad :19) Ayat ini sangat jelas mengisyaratkan
keutamaan ilmu ushul atau tauhid. Yaitu dengan menyebut
kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah
untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama. Ketika
Rasulullah ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau
Menjawab,maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R.
Bukhari)

Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah mengkhususkan
dirinya sebagai orang yang paling mengerti dan faham ilmu
tauhid, beliau bersabda,maknanya: “Akulah yang paling
mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-
Nya”. (H.R. Bukhari)

Kerana itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab
khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah
ini. Seperti Risalah al-’Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam
as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al‘Aqidah an-
Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H),
al-‘Aqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn
‘Asakir (W 630 H), al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh
al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau
menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian
menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-
Ayyubi (W 589 H).

Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan
Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau
memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil
di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut
dikenal dengan nama al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah. Sultan
Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i,
mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al ‘Aqidah as-
Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk
mengumandangkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih
(sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh
negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah,
Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh
as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il
dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang
telah dikarang dalam menjelaskan al ‘Aqidah as-Sunniyyah dan
senantiasa penulisan itu terus berlangsung. Kita memohon
kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa
aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para
nabi dan rasul Allah. Amin.

PANDANGAN JUMHUR ULAMA TENTANG AQIDAH ASY’ARIYYAH;
AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-
Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab
baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf,
menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan
nama kepadanya kerana beliau konsisten dalam berpegang teguh
ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau gunakan sebagai
landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang
menjadi hujjah para pendahulunya, kerananya para pengikutnya
kemudian disebut Asy’ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah
ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal
Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang
Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat
ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah
penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam
Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti
Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada
pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik
menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih
terang, jelas dan sistematis demikian juga yang dilakukan oleh
Abu al-Hasan al-Asy’ari”.

Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa
“kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang
dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para
sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan
tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini
sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri.
Dan Alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan
saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal
dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita.
Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:

ﻭﻛﻦ ﺃﺷﻌﺮﻳﺎ ﻓﻲ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﻙ ﺇﻧﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻨﻬﻞ ﺍﻟﺼﺎﻓﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻳﻎ ﻭﺍﻟﻜﻔﺮ “
Jadilah pengikutnya
Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber
yangbersih dari kesesatan dan kekufuran”.

Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al
Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : “Ahlussunnah Wal Jama’ah
adalah al Asya’irah dan al Maturidiyyah”. Dalam kitab ‘Uqud al
Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan :
“Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah
sebagaimana Aqidah para ulama madzhab syafi’i dan Kaum
Ahlussunnah Shufiyyah”. Bahkan jauh sebelum mereka ini Al-
Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahawa aqidah al
Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i,
madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari
madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah). Apa yang dikemukakan
oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di
masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama
Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan
ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam
at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin
as-Subki.

GARIS PANDUAN AQIDAH ASY'ARIYAH

Secara garis besar aqidah asy’ari yang juga merupakan aqidah
ahlussunnah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala
maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda
yang boleh digambarkan, dan juga bukan benda yang berbentuk
dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari
makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai’). Allah ada dan tidak ada
permulaan atau penghabisan bagi kewujudan-Nya, Allah maha
kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Allah tidak
diliputi arah. Allah ada sebelum menciptakan tempat tanpa
tempat, Allah wujud setelah menciptakan tempat dan tanpa
bertempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya bila, dimana dan
bagaimana ada-Nya. Allah ada tanpa terikat oleh masa dan
tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-
sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil.

Allah tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Allah
tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk,
bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya,
berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya. Allah tidak
terjangkau oleh fikiran dan tidak terbayang dalam ingatan,
kerana apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak
seperti itu. Allah maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa,
maha mendengar dan maha melihat. Allah berbicara dengan
kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga
azali, kerana Allah berbeza dengan semua makhluk-Nya dalam
dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah
dengan sifat makhluknya sungguh dia telah kafir. Allah yang
telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Alah
juga yang menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada yang
boleh menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang boleh
menghalangi pemberian-Nya. Allah berbuat dalam kerajaan-Nya
ini apa yang Allah kehendaki. Allah tidak ditanya perihal
perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta
dipertanggungjawakan atas segala perbuatan-Nya. Apa yang
Allah kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Allah kehendaki
tidak akan terjadi. Allah bersifat dengan kesempurnaan yang
pantas bagi-Nya dan Allah maha suci dari segala bentuk
kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan
penghulu para rasul. Nabi Muhammad diutuskan oleh Allah ke
muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun
manusia. Nabi Muhammad jujur dalam setiap apa yang
disampaikannya.

Golongan Ahlussunnah menurut Imam al-Baghdadi

Golongan Ahlussunnah menurut Imam al-Baghdadi
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?
y=2009&dt=1223&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_02.htm
Oleh DR. ASMADI MOHAMED NAIM

SAYA membaca tulisan mengenai makna atau definisi Ahlu al-sunnah wal
Jamaah (ASWJ) daripada seorang penulis mingguan pada pertengahan
November 2009 lepas. Penulis mengutip definisi Ahlussunnah yang ditulis oleh
Imam al-Baghdadi (wafat429H) dalam kitabnya, al-Farq Baina al-Firaq .
Namun malangnya perkataan al-turuq al-sifatiah atau ‘jalan-jalan sifat’ dalam
definisi tersebut diabaikan. Walhal, itulah antara perkara yang penting untuk
menentukan sama ada tauhid yang mensyarahkan sifat-sifat 20 adalah sesuatu
yang baru atau sememangnya sudah lama.

Padahal saya, ada sedikit masalah ‘ketidakjujuran ilmu’, bila dia tidak
menerangkan secukupnya maksud al-Baghdadi apabila mensyarahkan
pengertian ASWJ.

Demikian juga, ada sebuah lagi penulisan yang menceritakan aliran pemikiran
tauhid di Nusantara, yang merujuk bahawa aliran yang mensyarahkan Sifat 20
hanyalah muncul selepas tahun 1,000 Hijrah melalui Imam Sanusi dengan
kitabnya Umm al-Barahin .

Penulis tidak merujuk kemunculan metod tersebut kepada penyusunnya yang
sebenar iaitu Abu Hassan al-Asy’ari (wafat324H) yang muncul pada akhir
kurun ke 3 Hijrah. Ini masalah ‘sikap amanah’ dalam penulisan.
Dalam kesempatan ini, saya hanya mahu menjelaskan siapakah Ahlussunnah
menurut penulisan Imam al-Baghdadi yang telah menjadi rujukan definisi ASWJ
supaya pembaca dapat memahaminya secara jelas.

Beliau menyatakan (hal.19): “Maka golongan yang ke 73 ialah Ahli Sunnah Wal
Jamaah iaitu golongan ahl al-ra’y (Ibu Hanifah dan murid-muridnya) dan ahlu
al-hadis; bukan mereka yang mempermain-mainkan hadis; dan ulama fikah
mereka, penghafal al-Quran mereka, perawi hadis daripada mereka, dan ulama
hadis di kalangan mereka, semuanya sepakat atas keesaan Pencipta, keesaan
sifat-sifat-Nya, keadilan-Nya, hikmah-Nya dan nama-nama-Nya dan pada bab
kenabian dan kepimpinan, hukum hudud dan pada perkara usuluddin.”
Seterusnya, Imam al-Baghdadi Rahimahullah memperincikan lapan golongan
yang termasuk dalam Ahlusunnah wal Jamaah (lihat bukunya dari halaman
240-243):

lGolongan pertama, mereka yang menguasai ilmu khususnya dalam bab Tauhid
(meng-esa-kan Allah) dan kenabian, hukum-hukum wa’ad (khabar gembira)
dan wa’id (ancaman seksa), pahala dan balasan, syarat-syarat ijtihad,
pemerintahan dan kepimpinan. Mereka yang melalui jalan ini ialah ulama Kalam
(Tauhid) yang bebas dari fahaman tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan
makhluk) dan bebas daripada fahaman ta’til (yang menafikan sifat-sifat yang
Azali bagi Allah SWT), dan bebas daripada bidaah al-Rafidhah, Khawarij,
Jahmiah, Najariah dan seluruh pengikut bidaah dan hawa nafsu.

lGolongan kedua ialah imam-imam fiqh sama ada kumpulan yang cenderung
pada rakyun (dalil aqal) atau hadis. Iaitu mereka yang beriktikad
(berkeyakinan) pada perkara usuluddin dengan mazhab-mazhab sifat pada
Allah dan pada sifat-sifatnya yang azali (membicarakan sifat-sifat Allah SWT
sebagaimana sifat 20), dan mereka bebas daripada fahaman Qadariah dan
Muktazilah; mereka menetapkan melihat Allah Taala dengan mata (di akhirat
kelak) dengan mata tanpa tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk),
tanpa ta’til’ (menafikan sifat-sifat Allah). Termasuk dalam golongan ini ialah
murid-murid kepada Malik, al-Shafie, al-Auza’i, al-Thauri, Abu hanifah, Ibn Abu
Laila (wafat148H), sahabat-sahabat Abu Thaur (wafat240H), sahabat-sahabat
Ahmad bin Hanbal (wafat241H), ahli al-Zahir, keseluruhan ulama fiqh yang
beriktikad dalam bab-bab akal ini dengan prinsip-prinsip Sifat (tauhid yang
membahaskan Sifat-sifat Allah). Dan mereka tidak mencampurkannya dengan
apa-apa daripada ahli bidaah dan hawa nafsu.

lGolongan ketiga ialah mereka yang menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan periwayatan hadis dan sunnah yang disampaikan oleh Nabi SAW,
mereka berupaya membezakan antara sahih dan cacat antaranya, mengetahui
sebab-sebab al-jarh wa al-ta’dil (kredibiliti seorang rawi) dan mereka tidak
memasukkan ilmu mereka dengan apa-apa daripada ahli bidaah dan nafsu yang
menyesatkan.

lGolongan keempat ialah kaum yang menguasai kebanyakan topik-topik sastera
Arab, nahu dan saraf. Mereka berada atas jalan pakar bahasa seperti al-Khalil
(wafat175H), Abu ‘Amr bin al-’Ala (wafat 145), Sibawaih (wafat 180H), al-
Farra’ (wafat 207H), al-Akhfash (wafat 215H), al-Asma’i, al-Mazini (wafat
236H), Abu Ubaid (wafat 224H) dan seluruh imam-imam Nahu sama ada
ulama-ulama Kufah atau Basrah, yang mana mereka tidak mencampurkan ilmu
mereka dengan sesuatu daripada bidaah al-Qadariah, atau Rafidhah atau
Khawarij.Maka sekiranya seseorang itu cenderung ke arah nafsu yang
menyesatkan, maka bukanlah ia daripada golongan Ahlussunnah walaupun
kata-katanya adalah ‘hujah’ dalam ilmu bahasa dan Nahu.

lGolongan kelima, antaranya ialah mereka yang menguasai ilmu yang berkaitan
dengan jenis-jenis qiraat untuk al-Quran dan jenis-jenis tafsiran al-Quran,
penakwilannya berdasarkan mazhab-mazhab Ahlussunnah, tanpa berpegang
dengan takwilan ahli nafsu yang sesat.

lGolongan keenam ialah, antaranya ialah para ahli zuhud sufi yang mempunyai
ilmu maka jauh pandangan, yang telah dinilai maka ia diiktibarkan, mereka reda
dengan hidup yang ringkas, mereka mengetahui bahawa penglihatan,
pendengaran dan hati dipertanggungjawabkan terhadap kebaikan dan
kejahatan; menghisab dengan neraca zarah-zarah, justeru menyediakan diri
mereka dengan sebaik-baik persiapan untuk hari Kiamat. Perkataan mereka
berjalan di atas dua jalan iaitu secara jelas dan isyarat di atas jalan ahli hadis,
tanpa mereka ‘membeli’ pandangan yang mempermainkan hadis. Mereka tidak
melakukan kebaikan kerana riak, tidak pula meninggalkan kebaikan kerana malu
kepada orang lain. Agama mereka hanya satu dan menafikan pentasybihan
(menyerupakan Allah dengan makhluk), mazhab mereka ialah tafwidh
(menyerahkannya) kepada Allah SWT, bertawakal kepada-Nya, penyerahan
kepada-Nya, tenang dengan apa yang direzekikan-Nya.

lGolongan ketujuh ialah, antaranya kaum yang terikat dengan barisan hadapan
peperangan dengan orang-orang kafir, berjihad melawan musuh-musuh Islam,
mereka menjadi benteng melindungi umat Islam, meninggalkan isteri-isteri
mereka dan negara mereka dan menzahirkan pada barisan hadapan mereka
Mazhab ASWJ.

lGolongan kelapan ialah, antaranya kebanyakan negara-negara yang secara
kebiasaannya terdapat syiar ASWJ, bukannya negara yang menzahirkan syiar
ahli hawa-nafsu yang sesat.

Itulah huraian sebenar al-Imam Abdul Qahir bin Tohir bin Muhammad al-
Baghdadi. Rupanya, ramai sebenarnya yang diiktiraf sebagai Ahlussunnah. Ia
berbeza dengan pandangan yang meminoritikan dan mengeksklusifkan ASWJ
hanya untuk golongannya sahaja, dengan tuduhan sesat dan bidaah pada
perkara remeh-temeh seperti qunut, talkin, zikir selepas solat, berdoa beramai-
ramai dan sebagainya.

Lihat kata Imam al-Baghdadi tentang perkara-perkara cabang (hal. 19):
“Mereka (ASWJ) hanya khilaf mengenai halal dan haram pada cabang hukum,
bukanlah khilaf tersebut mengundang kepada sesat dan fasik; mereka adalah
puak yang terselamat, kerana mereka bersatu pada keesaan Pencipta dan
qidam-Nya, qidam segala sifatnya sejak azali, dan harus melihat-Nya tanpa
sebarang perumpamaan dan gangguan, serta yakin terhadap isi kandungan
kitab-Nya dan rasul-Nya, dan mengikut segala syariat Islam dan menghalalkan
segala yang dihalalkan oleh al-Quran, dan mengharamkan segala yang diharam
oleh al-Quran serta menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan
beriman pada hari kebangkitan dan perhitungan, dan soal dua Malaikat dalam
kubur, beriman dengan telaga Kauthar dan Timbangan.

Semoga masyarakat Islam tidak terbelenggu dengan perpecahan yang lebih
parah, lantaran perkara-perkara tersebut.

Banyak masa yang perlu digunakan untuk memperbetulkan generasi muda yang
menyongsang arus dengan pelbagai gejala sosial. Wallahu a’lam.

Tujuh tanda-tanda Akhir Zaman

Tujuh tanda-tanda Akhir Zaman

Bismillaahir rahmaanir rahiim...
 
Tanda Pertama.
Dari  Ibnu Umar Ra. ia berkata: “Pada satu ketika dibawa ke hadapan Rasulullah SAW sepotong emas. Emas itu adalah  emas zakat yang pertama sekali dibawa oleh Bani Sulaim dari pertambangan  mereka. Maka sahabat berkata: “Hai Rasulullah! Emas ini adalah hasil  dari tambang kita”. Lalu Nabi SAW menjawab,  “Nanti kamu akan dapati banyak tambang-tambang, dan yang akan  menguasainya adalah orang-orang jahat. (HR. Baihaqi)

Kita  telah mulai melihat bahwa penguasa-penguasa negara yang mengaku muslim  namun mereka menyerahkan penguasaan tambang minyak, emas, tembaga kepada  kaum non muslim.

Tanda kedua.
Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Abdurrahman Al Qari dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidak akan  terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah ruah, hingga seorang laki-laki pergi ke mana-mana sambil membawa harta  zakatnya, tetapi dia tidak mendapatkan seorang pun yang bersedia  menerima zakatnya itu. Dan sehingga tanah Arab menjadi subur Makmur  kembali dengan padang-padang rumput dan sungai-sungai." (HR Muslim 1681)

Sekarang  kita telah mulai menyaksikan kebenaran sabda junjungan kita ini. Kita  banyak melihat tanah Arab yang dahulunya tandus dan kering kerontang  tetapi sekarang telah mulai menghijau dan ditumbuhi rumput-rumputan dan  pohon-pohon kayu. Contohnya, Padang Arafah yang ada di Mekkah  al-Mukarramah yang dahulunya hanya dikenali sebagai padang pasir tandus  dan tidak ada pohon-pohonan. Sekarang ini Padang Arafah mulai dipenuhi  pohon-pohonan, sehingga kelihatan menghijau dan kita dapat berteduh di  bawah naungannya. Keadaan ini walaupun menyejukkan mata memandang namun  ia mengurangi gambaran keadaan padang Mahsyar, tempat berhimpunnya  seluruh makhluk pada hari qiamat nanti yang merupakan tujuan utama dan  pelajaran penting yang diambil dari ibadah wuquf jamaah Haji di Padang  Arafah pada setiap 9 Zulhijjah tahun Hijriyah.

Tanda ketiga. 
 Telah bercerita kepada kami Yahya bin Bukair telah bercerita kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab binti Abu Salamah bercerita kepadanya dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan dari Zainab binti Jahsy r.a bahwa Nabi SAW datang kepadanya dengan gemetar  sambil berkata: Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab karena  keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka benteng Ya'juj dan  Ma'juj seperti ini. Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan  telunjuknya dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku  bertanya; Wahai Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak orang-orang yang shalih?. Beliau menjawab: Ya, benar jika keburukan telah merajalela. (HR Bukhari 3097, 3331, 6535, 6602) (HR Muslim 128, 5129)

Ketika itu bangsa Arab,  banyak orang muslim tetapi tidak banyak lagi muslim yang shalih, di  tanah Arab tidak banyak lagi orang muslim yang mencapai maqom disisi-Nya

Tanda keempat.
Dari  Sahl bin Saad as-Sa‘idi Ra. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah! Jangan Engkau pertemukan aku dan  mudah-mudahan kamu (sahabat) tidak bertemu dengan suatu zaman dikala  para ulama sudah tidak diikuti lagi, dan orang yang penyantun sudah  tidak dihiraukan lagi. Hati mereka seperti hati orang Ajam (pada fasiqnya), lidah mereka seperti lidah orang Arab (pada fasihnya).” (HR. Ahmad)

Orang banyak mengikuti ulama yang fasih  berbahasa arab akan tetapi mereka tidak dapat menggunakan hati mereka  untuk memahami Al Qur’an dan Hadits.

Tanda kelima. 
Dari  Ali bin Abi Thalib Ra. ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW.: “Sudah hampir tiba suatu zaman, kala itu  tidak ada lagi dari Islam kecuali hanya namanya, dan tidak ada dari  Al-Qur’an kecuali hanya tulisannya. Masjid-masjid mereka indah, tetapi kosong dari hidayah. Ulama mereka adalah sejahat-jahat makhluk yang ada dibawah kolong langit. Dari merekalah keluar fitnah, dan kepada mereka fitnah itu akan kembali.” (HR. Al-Baihaqi)

Orang banyak mengikuti ulama yang berilmu namun kosong hidayah dan menebar fitnah.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah SWT melainkan bertambah jauh”

Tanda keenam 
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash berkata; aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda : "Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara  mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan". (HR  Bukhari 98)

Keadaan orang banyak mengikuti mereka yang berfatwa tanpa ilmu. Berfatwa menggunakan akal pikiran sendiri.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al-Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Ilmu agama atau ilmuNya bukan berasal dari akal pikiran manusia namun berasal dari lisannya Rasulullah SAW yang  berasal dari apa yang telah diwahyukan oleh Allah Azza wa Jalla.
Kemudian  dari Rasulullah SAW disampaikan melalui lisan ke lisan ulama yang sholeh sampai kepada hambaNya.

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda, “Di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran,  sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (HR Ath-Thabarani)

Mereka yang berfatwa tanpa ilmu, mereka memahami agama bersandarkan muthola'ah (menelaah kitab) dengan akal pikirannya sendiri.

Ulama keturunan cucu Rasulullah SAW, Habib Munzir Al Musawa menyampaikan “Orang  yang berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja maka ia tidak akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau  guru bisa menegur jika ia salah atau jika ia tak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tak faham ia hanya terikat dengan  pemahaman dirinya, maka oleh sebab itu jadi tidak boleh baca dari  buku, tentunya boleh baca buku apa saja boleh, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanya jika kita mendapatkan masalah”.

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 No:32 )

Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur’an tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di dalam neraka” (HR.Tirmidzi)

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy, quddisa sirruh (Makna tafsir QS. Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” (Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203)

Asy-Syeikh as-Sayyid Yusuf Bakhour al-Hasani menyampaikan bahwa “maksud dari pengijazahan sanad itu adalah agar kamu menghafazh bukan sekadar untuk meriwayatkan tetapi juga untuk meneladani orang yang kamu mengambil sanad daripadanya, dan orang yang kamu ambil sanadnya itu juga meneladani orang yang di atas di mana dia mengambil sanad daripadanya dan begitulah seterusnya hingga berujung kepada kamu meneladani   Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, keterjagaan   al-Qur’an itu benar-benar sempurna baik secara lafazh, makna dan pengamalan“

Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu)”.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta  atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di  neraka” (HR Bukhari)

Hakikat makna hadits tersebut  adalah kita hanya boleh menyampaikan satu ayat yang diperoleh dari orang yang disampaikan secara turun temurun sampai kepada lisannya  Sayyidina Muhammad bin Abdullah SAW.

Kita  tidak diperkenankan menyampaikan apa yang kita pahami dengan akal  pikiran sendiri dengan cara membaca dan memahami namun kita sampaikan  apa yang kita dengar dan pahami dari lisan mereka yang sanad ilmunya tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena hanya perkataan Rasulullah SAW yang merupakan  kebenaran atau ilmu-Nya.

Rasulullah SAW menyampaikan agama kepada Sahabat. Sahabat menyampaikan kepada  Tabi’in. Tabi’in menyampaikan pada Tabi’ut Tabi’in. Para Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad kaum muslim pada umumnya, mereka berijtihad dan beristinbat berlandaskan hasil bertalaqqi (mengaji ) pada Salafush Sholeh

Contoh sanad Ilmu atau sanad guru Imam Syafi’i ra

Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam
Baginda Abdullah bin Umar bin Al-Khottob ra
Al-Imam Nafi’, Tabi’ Abdullah bin Umar ra
Al-Imam Malik bin Anas ra
Al-Imam Syafei’ Muhammad bin Idris ra
Tanda ketujuh
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR Muslim 208)

Rasulullah  SAW  telah mengabarkan bahwa Islam  pada  akhirnya akan asing pula sebagaimana pada awalnya karena pada  umumnya  kaum muslim walaupun mereka banyak dan menjalankan perkara  syariat  namun mereka gagal mencapai maqom disisiNya, mereka gagal menjadi muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang sholeh, muslim yang ihsan  atau muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah Ta’ala dengan hati mereka (ain bashiroh)

“Orang yang asing, orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak atau orang-orang shalih di antara banyaknya orang yang buruk, orang yang menyelisihinya lebih banyak dari yang mentaatinya”. (HR. Ahmad)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya  Islam itu pada mulanya datang dengan asing dan akan kembali dengan asing lagi seperti pada mulanya datang. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?”. Beliau bersabda, “Mereka yang memperbaiki dikala rusaknya manusia”. [HR. Ibnu Majah dan Thabrani]

Islam pada awalnya datang dengan asing diantara manusia yang berakhlak buruk(non muslim/jahiliyah). Tujuan beragama adalah untuk menjadikan manusia yang berakhlakul karimah.

Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad)

Beruntunglah orang orang yang asing yakni orang yang sholeh diantara orang yang rusak/buruk maknanya semakin akhir zaman maka semakin sedikit muslim yang mencapai maqom disisiNya atau muslim yang sholeh, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat, muslim yang menyaksikan Allah Ta’ala  dengan hati mereka (ain bashiroh).

Imam Malik~rahimahullah menasehatkan agar kita menjalankan perkara syariat sekaligus  menjalankan tasawuf agar manusia tidak rusak dan menjadi manusia berakhlak baik

Imam Malik~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fiqih (menjalankan syariat) rusak keimanannya, sementara dia yang belajar fiqih (menjalankan syariat) tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia, hanya dia siapa memadukan  keduanya terjamin benar“.

Begitupula Imam Syafi’i~rahimahullah menasehatkan kita agar mencapai ke-sholeh-an sebagaimana salaf yang sholeh adalah dengan menjalankan perkara syariat sebagaimana  yang mereka sampaikan dalam kitab fiqih sekaligus menjalankan tasawuf untuk mencapai muslim yang baik, muslim yang sholeh, muslim yang  berakhlakul karimah atau muslim yang Ihsan

Imam Syafi’i~rahimahullah menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau  menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.  Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat  padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat) tapi  tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan  kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih (menjalani syariat), maka bagaimana bisa dia  menjadi baik (ihsan)?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya,  Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Anda harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya  kaum Sufi.  Karena kadang diantara  mereka sangat bodoh dengan agama.”

Namun   ketika beliau berguru kepada  Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau  bermajlis dengan para Sufi, karena mereka bisa memberikan tambahan bekal pada kita, melalui ilmu yang banyak,  muroqobah, rasa takut kepada  Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.”  Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama  Allah SWT dalam setiap saat…”

Imam Nawawi~rahimahullah berkata : “Pokok-pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi  maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling  dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridha kepada Allah  dari pemberian-Nya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada  Allah SWT saat suka maupun duka “. 
(Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Wassalam

Rabu, 04 September 2013

Haram Hukumnya Ikut Hizbut Tahrir Indonesia


Rois 'Am Majelis Muzakaroh Muhtadi Cidahu Banten (M3CB) Abuya Muhtadi Dimyathi menyatakan, keinginan dan upaya kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu bentuk pemberontakan.
Pernyataan disampaikan secara tertulis dalam satu surat pernyataan tertanggal 21 Agustus 2013. Surat pernyataan disampaikan langsung oleh beberapa murid Abuya Muhtadi ke kantor redaksi NU Online, Jakarta, Selasa (3/8) kemarin. Sebelumnya surat pernyataan itu juga sudah dikirimkan ke PBNU.
Abuya Muhtadi menyatakan, HTI adalah ormas Islam dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan ingin menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara.
“Perbuatan tersebut salah satu macam dari pemberontakan, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka dari itu HTI haram hukumnya dalam berbagai keadaan” demikian dalam pernyataan tersebut.
Abuya Muhtadi adalah seorang ulama kharismatik di Pandeglang dan mempunyai banyak murid di wilayah Banten. Terkait surat pernyataan ini, menurut beberapa muridnya, Abuya gerah dengan gerakan kelompok HTI di wilayah Banten. Selain itu, informasi yang diterima , putra tokoh besar Abuya Dimyathi ini merasa dirugikan oleh HTI karena namanya sering dicatut dalam berbagai aktifitas mereka.