Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

MELURUSKAN kabar-kabar miring seputar pertemuan HABIB TAUFIQ BIN ABDUL QODIR ASSEGAF dengan KH. SAID AQIL SIRADJ.

Bismillahirrohmanirrohiim...

Berita ini dibuat untuk MELURUSKAN kabar-kabar miring seputar pertemuan HABIB TAUFIQ BIN ABDUL QODIR ASSEGAF dengan KH. SAID AQIL SIRADJ.

Foto ini adalah pertemuan antara Habib Taufiq Assegaf dengan Kiai Said saat istirahat sholat dan makan siang Sesi SEMINAR  "Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia, bersama HABIB ABU BAKAR AL ADNI BIN ALI AL MASYHUR, Yaman, KH. Said Aqil Siradj ( Ketua Umum PBNU ), dan KH. Yahya Zainul Ma'arif ( Buya Yahya ), di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Minggu, 24 Januari 2016.

Dalam berita yang beredar dikabarkan bahwa Kiai Said seperti diadili oleh para Kiai dan Habaib terkait isu yang santer menimpa Kiai Said.

Hal tersebut DIBANTAH oleh pihak Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, bahwa KH. Said Aqil Siradj diundang langsung oleh pengasuh Ponpes Sidogiri yaitu KH. NAWAWI ABDUL JALIL yang juga menjadi tim Ahlul Halli wal 'Aqdi dan merestui KH. Said Aqil menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, Agustus 2015 kemarin.

Sejatinya yang diundang setelah Kiai Said ialah Rais Am PBNU yaitu KH. Ma'ruf Amin, namun entah mengapa yang diundang KH. YAHYA ZAINUL MAARIF atau sering dikenal dengan Buya Yahya.

Menyikapi hal ini salah satu Guru Senior di Ponpes Sidogiri yaitu KH. MUHIB AMMAN ALI menjelaskan :

Forum Sidogiri ini menurut saya amat sangat penting dan langka. Belum pernah ada forum yang menyatukan antara kiai muda, kiai sepuh, habaib muda dan habaib sepuh.

Bahkan ulama dari Hadramaut Habib Abu Bakar Al 'Adni bin Ali Al Masyhur dengan KH. Said Aqil Siradj di pandu oleh Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf yang selama ini selalu berseberangan dan nyaris tidak mungkin bertemu dalam satu majlis.

Ending dari pertemuan ini menurut saya juga berbeda dengan forum lain. Biasanya, jika KH. Said Aqil Siradj dipertemukan dengan kelompok yang bersebarangan dengannya, yang terjadi adalah hanya mengadili.

Tapi dalam forum ini endingnya adalah nasehat dan harapan para ulama dan habaib agar TIDAK ADA LAGI PERNYATAAN-PERNYATAAN KONTROVERSI YANG MEMBINGUNGKAN UMAT.

Forum ini bukan untuk menjatuhkan siapapun, bukan untuk menebar kebencian tapi memperbaiki keadaan umat. Forum ini juga menunjukkan BETAPA PARA KIAI SEPUH DAN HABAIB MASIH SANGAT MEMPERHATIKAN NAHDLATUL ULAMA SEBAGAI WADAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH."

Terkait terpilihnya Kiai Said sebagai Ketua Umum PBNU sudah direstui oleh para ulama dan kiai sepuh seperti Maulana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Syaikhina wa Murobbi Rukhina KH. Maimoen Zubair, KH. Makhtum Hannan, KH. Dimyati Rois, Tuan Guru Turmudzi Badruddin, dan segenap kiai sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli wal 'Aqdi.

Dikabarkan pula bahwa Kiai Said setelah pertemuan istirahat sholat dan makan siang langsung pulang dan tidak mengikuti sesi tanya jawab.

Ditanya hal demikian KH. MUHIB AMMAN ALI langsung membantah

"TIDAK BENAR, beliau ( Kiai Said ) mengikuti sampai sesi tanya jawab.. Waktu sesi tanya jawab, ada salah satu peserta yang mengungkit tentang proses pemilihan dalam muktamar.

Habib Taufiq Assegaf langsung memutus dan menyatakan bahwa terpilihnya KH. Said Aqil adalah kenyataan yang harus diterima., dan tidak boleh ada upaya untuk menjatuhkan.

Tapi sebagai muslim, kita wajib mengingatkan jika ada yang keliru, itulah tanggung jawab ulama, mumpung masih ada kiai sepuh." Begitu penjelasan Kiai Muhib Amman Ali.

JUSTRU yang pulang lebih dahulu adalah KH. Yahya Zainul Maarif, bahkan saat Habib Abu Bakar Al Adni masih menyampaikan sesi ceramah, KH. Yahya Zainul Maarif pamit izin ke Habib Abu Bakar Al Adni untuk meninggalkan tempat acara.

Saat sesi ceramah dari KH. Yahya Zainul Maarif juga hanya sebentar, ini karena beliau merasa tidak pantas berbicara di hadapan para kiai sepuh dan habaib sepuh terutama pengasuh Ponpes Sidogiri dan Habib Abu Bakar Al Adni.

Demikian klarifikasi atas berita-berita miring yang beredar, TETAP JAGA NAHDLATUL ULAMA DENGAN BAIK, jangan membingungkan umat dengan hal-hal yang memicu terjadinya pecah belah.

Dilain kesempatan HABIB ABU BAKAR AL ADNI BIN ALI AL MASYHUR menjelaskan :

"JAUHILAH BERDEBAT, Semua itu permainan iblis yang menyebabkan berhentinya masalah-masalah yang lebih penting karena disebabkan rayuan syaitan kepada Umat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Jika kalian sensitif dan mampu memahami apa yang dibicarakan para ulama salafunas shalih, maka sesungguhnya tidak ada satupun dari mereka yang mengajak kepada pertikaian dan perpecahan.

Kami tidak mau kalian merasa dengki walau sebesar biji dzarrah dengan siapapun yang beragama Islam meskipun berbeda pemahaman.

Meski kadang banyak berbeda pemahaman, Kami tidak pernah sedikitpun dengki kepada sesama muslim yang mendirikan Sholat, akan tetapi kami akan sangat sedih apabila melihat orang Islam yang meninggalkan sholat.

Ketika kami melihat orang yang berbicara atas nama orang 'Alim untuk mencaci orang lain, Ketika kami melihat orang berbicara atas nama agama untuk tujuan membuat konflik ( perpecahan ) kepada umat, Perkara yang seperti inilah yang menyesakkan nafas kami.

Ketahuilah para masyayikh dan orang-orang 'Alim tidak membuang nafas-nafas mereka melainkan hanya untuk mengingatkan kami kepada Allah, Rasulullah, dan para Sahabat.

JALAN KAMI ADALAH MENJAGA LISAN DARI MENCACI DAN MENJAGA TANGAN DARI DARAH ORANG LAIN"

Dalam acara seminar tadi, HABIB ABU BAKAR AL ADNI juga menyampaikan :

"Perbedaan pendapat itu ada DUA :

1. Perbedaan pendapat karena ilmu
2. Perbedaan pendapat karena fitnah

Perbedaan pendapat karena ilmu itu sudah ada sejak zaman dahulu, karena hal itu sudah merupakan sunnatullah, dan ini memang tidak bisa disatukan.

Namun perbedaan pendapat karena fitnah itu yang masih bisa disatukan bila semua fitnah itu bisa dihilangkan. Di saat sekarang ini kekuatan fitnah lebih besar daripada ilmu, waspadalah terhadap berita-berita fitnah yang semakin banyak beredar."

Oleh karena itu, saya MENGHIMBAU kepada seluruh umat Islam agar TIDAK MUDAH TERPROVOKASI atas berita-berita miring yang memecah belah persatuan dan kesatuan umat.

Waspada terhadap pihak-pihak yang dengan sengaja atau tidak untuk berupaya meruncingkan hubungan antara Kiai dan Habaib.

INGAT BAIK-BAIK pesan Hadhratusy Syaikh KH. Hasyim As'ari pendiri NAHDLATUL ULAMA

"Dakwah dengan cara memusuhi ibarat orang membangun kota tetapi merobohkan istananya.

Jagalah persatuan dan kesatuan kita, karena orang lain juga memperkokoh persatuan mereka. Kadang-kadang suatu kebatilan mencapai kemenangan disebabkan mereka bersatu dan terorganisasi. Sebaliknya kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai-berai dan saling bersengketa"

Kanjeng Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

سِبَابُ اْلمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci orang Islam itu merupakan kefasiqan, dan membunuhnya merupakan kekafiran”. [ HR. Bukhari ]

Jumat, 22 Januari 2016

NABI MUHAMMAD MAHLUQ YANG PALING MULYA

🍃Nabi Muhammad ﷺ adalah penghulu anak Adam dan Makhluk yang paling Mulia

وفي الصحيحين ، من غير وجه ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو سيد ولد آدم ، وأكرم الخلائق على الله عز وجل أنه قال : " آتي تحت العرش ، وأخر لله ساجدا ، ويفتح علي بمحامد لا أحصيها الآن ، فيدعني ما شاء الله أن يدعني ، ثم يقول : يا محمد ، ارفع رأسك ، وقل يسمع واشفع تشفع " . قال : " فيحد لي حدا ، فأدخلهم الجنة ، ثم أعود " ، فذكر أربع مرات ،

🌾Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui berbagai jalur dari Rasulullah ﷺ , adalah penghulu anak Adam dan makhluk yang paling mulia, di sisi Allah ﷻ

🍂Disebutkan bahwa nabi ﷺ bersabda:
Aku datang ke bagian bawah Arsy dan aku tertunduk bersujud kepada Allah ﷻ , lalu Allah ﷻ mengajariku pujian-pujian yang tidak dapat aku hitung jumlahnya sekarang, dan Allah membiarkan aku selama waktu yang dikehendakiNya. Setelah itu Allah ﷻ berfirman, "Hai Muhammad, angkatlah wajahmu, dan Berkatalah, pasti di dengar. Dan mintalah syafaat, pasti diberi izin memberi syafaat.” Lalu Allah ﷻ memberikan batasan sejumlah tertentu, maka aku masukkan mereka ke dalam surga, lalu aku meminta lagi.
Nabi ﷺ dalam hadisnya ini menyebutkan bahwa beliau melakukan hal tersebut sebanyak empat kali.

صلوات الله وسلامه عليه وعلى سائر الأنبياء .

🌹Semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepadanya, juga kepada segenap para nabi.

والله أعلم....

📚Di kutib dari Tafsir ibnu katsir  Surat Thaha: 109

👇DOWNLOAD scan kitabNya

📥 https://goo.gl/L7VxtH

صلوا على النبي....

TIPU DAYA IBLIS

👿Iblis menjelma sebagai Seorang Syech Tua dan mengaku dari Najed, serta mendukung Abu jahal

رواه الإمام محمد بن إسحاق بن يسار صاحب " المغازي "
📜Hadis diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin lshaq bin Yasar, penulis kitab Al-Magazi.

🌀Di kisahkan sekelompok orang dari kalangan Pembesar Kafir Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nudwah.
Kemudian Iblis muncul di kalangan mereka dalam wujud seorang syech yang berwibawa.

Ketika mereka melihatnya, mereka berkata; Siapakah anda ini?

Iblis yang berupa orang tua itu menjawab; Aku seseorang dari Najed.
Aku mendengar bahwa kalian mengadakan pertemuan, maka aku berkeinginan untuk menghadiri pertemuan ini, dan saran serta pendapatku nanti niscaya tidak akan mengecewakan kalian.

Mereka berkata; Kalau begitu, silakan masuk.

Maka iblis pun bergabung bersama dengan mereka.

Iblis membuka pembicaraannya; Sampaikanlah pendapat kalian terhadap lelaki itu (maksudnya Nabi ﷺ ), Demi Allah, telah dekat waktunya dia akan menyaingi urusan kalian dengan urusannya.

Seseorang di antara mereka berkata; ikat dan Penjarakanlah dia ( Nabo صلى الله عليه وسلم), kemudian tunggulah saat kematiannya , sebagaimana telah mati orang-orang yang sebelumnya yang semisal denganNya dari kalangan ahli sya'ir, seperti Zuhair dan Nabigah. Sesungguhnya dia hanyalah salah seorang dari mereka.

Maka Iblis (yang berupa seorang tua dari Najed itu) menjerit seraya berkata; Demi Allah, ini bukanlah pendapat yang tepat .
Demi Allah, Tuhannya kelak benar-benar akan membebaskannya,   untuk dikembalikan lagi, kepada para sahabatnya. Dan dalam waktu yang dekat para sahabatnya pasti akan berhamburan untuk membebaskannya dari kalian, dan para sahabatnya siap membelanya dari perbuatan kalian.

Maka saya tidak dapat menjamin keselamatan kalian, mereka pasti akan mengusir kalian dari negeri kalian sendiri.

Orang-orang dalam pertemuan itu berkata; Orang tua ini benar.

maka katakanlah pendapat kalian yang lainnya kata iblis.

Salah seorang dari mereka ada yang mengatakan; Kita usir saja dia sehingga kita terbebas darinya, karena sesungguhnya apabila dia telah diusir, niscaya tidak akan membahayakan kalian apa yang diper­buatnya di mana pun ia berada selama jauh dari kalian; dan urusannya bukan lagi di antara kalian, tetapi di kalangan orang lain.

Iblis berkata; Demi Allah, ini pun bukan pendapat yang tepat bagi kalian, bukankah kalian telah mendengar sendiri tutur katanya yang indah dan ucapanya yang fasih sehingga dapat mengetuk hati orang yang mendengar pembicaraannya! Demi Allah, seandainya kalian melakukan hal itu, dan dia menyeru orang-orang Arab, niscaya semua orang Arab akan mendukungnya. Kemudian mereka benar-benar akan datang kepada kalian untuk mengusir kalian dari negeri kalian dan membunuh para pemimpin kalian. 

Mereka berkata; Benar apa yang dikatakannya,

Kemudian Iblis berkata, demi Allah. Maka katakanlah pendapat lainnya.

Abu Jahal mengemukakan pendapatnya; Demi Tuhan, sesungguhnya aku menyarankan kepada kalian suatu pendapat yang belum kalian sadari sebelumnya.!

Menurutku tiada pendapat lain kecuali yang akan kukemukakan.

Mereka berkata; Pendapat apakah itu?

Abu Jahal berkata; Kalian harus mengambil seorang pemuda yang kuat dan tangkas dari setiap suku. Kemudian setiap pemuda dipersenjatai dengan pedang yang tajam, lalu mereka memukulnya secara beramai-ramai dan bersama-sama dengan sekali pukul. Apabila dia (Muhammad) terbunuh, maka darahnya terbagi-bagi di kalangan semua suku yang terlibat. Maka menurut dugaanku Bani Hasyim tidak akan kuat berperang menghadapi semua suku Qurais.

Maka orang tua dari Najd itu berkata; Ini baru suatu pendapat yang jitu, demi Allah. Menurutku pendapat yang terbaik adalah apa yang baru dikemukakan oleh orang ini(abu jahal).

Maka mereka bubar dengan kesepakatan atas usul Abu Jahal itu.

Kemudian Malaikat Jibril datang kepada Nabi ﷺ dan memerintahkan kepadanya agar jangan menginap di tempat tidur yang biasa ditempatinya, dan memberitahukan kepadanya tentang tipu muslihat dan tipu daya yang akan dilakukan oleh kaumnya. Pada malam itu Rasulullah ﷺ tidak menginap di rumahnya, dan saat itu juga Allah memerintahkan kepadanya untuk berhijrah, lalu Allah menurunkan kepadanya surat Al-Anfal setibanya di Madinah.

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

🌹Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Qs: Al-Anfal: 30)
والله أعلم....

📚Di Kutib dari Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Anfal: 30

👇DOWNLOAD scan kitabNya

📥https://goo.gl/BwOxjE

صلوا على النبي....

Selasa, 17 Februari 2015

KISAH NYATA PENUH HIKMAH [DIKUTIP DALAM KARYA PARA ULAMA KITA]

Hikayah ini dikutip oleh para ulama kita, di antaranya; Syaikh Abd al-Wahhab asy-Sya’rani dalam ath-Thabaqat al-Kubra, Syaikh Yusuf Isma’il an-Nabhani dalam Jami’ Karamat al-Awliya’, Ibn al-Imad al-Hanbali dalam Syadzrat adz-Dzahab Fi Akhbari Man Dzahab, dan lainnya.

Bahwa suatu ketika Wali Allah yang sangat saleh; Syaikh Abd al-Qadir al-Jilani dalam khalwatnya didatangi Iblis yang menyerupai sinar sangat indah.

Iblis berkata: “Wahai Abd al-Qadir, Aku adalah Allah, seluruh kewajiban telah aku gugurkan darimu, dan segala yang haram telah aku halalkan bagimu. Maka berbuatlah sesukamu, karena seluruh dosa-dosamu telah aku ampuni….”.

Saat itu pula Syaikh Abd al-Qadir manjawab: “Khasi’ta ya Iblis… Khasi’ta ya la’in… (Kurang ajar engkau wajai Iblis.. Kurang ajar engkau wahai makhluk terkutuk..).

Iblis kemudian mengaku bahwa dia adalah Iblis, ia berkata: “Wahai Abd al-Qadir, engkau telah mengalahkanku dengan ilmumu, padahal dengan cara ini aku telah menyesatkan 70 orang lebih ahli ibadah…”.

Dari kisah nyata ini para ulama kita menuliskan catatan penting, sebagai berikut:

1. Syaikh Abd al-Qadir tahu bahwa yang datang tersebut adalah Iblis, karena Iblis menyerupai sinar. padahal Allah bukan sinar. Allah yang menciptakan segala sinar, maka Allah tidak sama dengan ciptaan-Nya tersebut.

Adapun nama Allah (dalam al-Asma’ al-Husna) “an-Nur”, bukan artinya bahwa Allah sebagai cahaya, tetapi artinya “Yang Maha memberi petunjuk”, sebagaimana telah dijelaskan oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dalam penafsiran beliau terhadap firman Allah:
“Allahu Nur as-Samawati…”.

2.Bahwa yang datang tersebut Iblis, adalah karena ia berkata bahwa segala kewajiban telah digugurkan, dan segala yang diharamkan telah ia halalkan. jalas, klaim semacam ini bukan dari syari’at Allah dan rasul-Nya, karena seseorang, setinggi apapun derajatnya, tidak akan pernah gugur darinya kewajiban shalat 5 waktu, puasa ramadan, juga tidak akan pernah menjadi halal baginya untuk berzina, mencuri, membunuh, dan perkara haram lainnya.

Dengan demikian bila ada yang mengaku dirinya “wali”, sementara ia meninggalkan kewajiban2, atau mengerjakan perkara2 haram, maka ia bukan wali Allah , tapi wali Iblis.

3. Bahwa yang datang tersebut Iblis, karena ia berkata-kata dengan huruf, suara, dan bahasa. padahal sifat Kalam Allah bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa, karena bila demikian maka Allah sama dengan makhluk-Nya. adapun kitab al-Qur’an; dalam bentuk tulisan-tulisan Arab, huruf-huruf, dibaca dengan lidah dan suara, ditulis di atas lembaran-lembaran, maka itu adalah UNGKAPAN (‘Ibarah) dari Kalam Dzat Allah. (lebih jelas baca tentang “al-Qur’an Kalam Allah”).

4. Bahwa yang datang tersebut Iblis, karena Iblis berada di tempat syaikh Abd al-Qadir.

padahal Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, karena Allah bukan benda yang memiliki bentuk dan ukuran. Allah bukan benda yang dapat disentuh tangan (bukan Hajm Katsif; seperti manusia, tanah, tumbuhan, dll), dan Allah bukan benda yang tidak dapat disentuh dengan tangan (bukan Hajm Lathif; seperti cahaya, udara, ruh, dll). Allah yang menciptakan Hajm Katsif dan Hajm lathif, maka Allah bukan sebagai hajm (benda). Dan oleh karena Allah bukan benda maka Dia tidak
boleh disifati dengan sifat-sifat benda, seperti bergerak, turun, naik, memiliki tempat, memiliki arah, dan lainnya. karena setiap benda dan sifat-sifatnya adalah makhluk Allah, dan Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. oleh karenanya, ulama kita sepakat bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Amir al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- berkata: “ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﻻَ ﻣَﻜَﺎﻥَ ﻭَﻫُﻮَ ﺍْﻵﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻛَﺎﻥَ ” “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang
(setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam kitabnya al-Farq Bayn al-Firaq, h. 333).

Senin, 16 Februari 2015

Kisah Al-qomah

Dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah ada seorang pemuda yang bernama Alqamah. Dia seorang pemuda yang giat beribadah, rajin shalat, banyak puasa dan suka bersedekah. Suatu
ketika dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah untuk memberitahukan kepada beliau akan keadaan Alqamah. Maka, Rasulullahpun mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib
ar-Rumi dan Bilal bin Rabah untuk melihat keadaannnya. Beliau bersabda, “Pergilah ke rumah Alqamah dan talqin-lah untuk mengucapkan La Ilaha Illallah ”Akhirnya mereka berangkat
kerumahnya, ternyata saat itu Alqamah sudah dalam keadaan naza’, maka segeralah mereka men-talqin-nya, namun ternyata lisan Alqamah tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah.

Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Maka Rasulullah pun bertanya, “Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua?”

Ada yang menjawab, “Ada wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta.”

Maka Rasulullah mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau berkata kepada utusan tersebut, “Katakan kepada ibunya Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rasulullah maka datanglah, namun kalau tidak, maka biarlah Rasulullah yang datang menemuimu.’”

Tatkala utusan itu telah sampai pada ibunya Alqamah dan pesan beliau itu disampaikan, maka dia berkata, “Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah.”

Maka, dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rasulullah.

Sesampainya di rumah Rasulullah, dia mengucapkan salam dan Rasulullah pun menjawab salamnya.

Lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan
kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”

Sang ibu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia rajin mengerjakan shalat, banyak puasa dan senang bersedekah.”

Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Lalu apa perasaanmu padanya?”

Dia menjawab, “Saya marah kepadanya Wahai Rasulullah.”

Rasulullah bertanya lagi, “Kenapa?”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan diapun durhaka kepadaku.”

Maka, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.”

Si ibu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau perbuat?”

Beliau menjawab, “Saya akan membakarnya dihadapanmu.”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku.”

Maka, Rasulullah menjawab, “Wahai Ibu Alqamah, sesungguhnya adzab Allah lebih pedih dan lebih langgeng, kalau engkau ingin agar Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqamah, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, shalat, puasa dan sedekahnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya,”

Maka dia berkata, “Wahai Rasulullah, Allah sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah ridha pada anakku Alqamah”.

Rasulullah pun berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqamah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum, barangkali ibu Alqamah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya, barangkali dia hanya malu kepadaku.”

Maka, Bilal pun berangkat, ternyata dia mendengar Alqamah dari dalam rumah mengucapkan La Ilaha Illallah. Maka, Bilal pun masuk dan berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridhanya telah menjadikanya mampu mengucapkan syahadat.”

Kemudian, Alqamah pun meninggal dunia saat itu juga.

Maka, Rasulullah melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani, kemudian beliau menshalatkannya dan menguburkannya,

Lalu, di dekat kuburan itu beliau bersabda, “Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertobat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridhanya, karena ridha Allah
tergantung pada ridhanya dan kemarahan Allaoh tergantung pada kemarahannya.”

Sabtu, 26 Juli 2014

Doa dan Tangisan Perpisahan Ramadhan

Perpisahan dengan bulan mulia yang hadir bersama seluruh keindahan dan keistimewaannya.

Berpisah dengan bulan ini bermakna kita meninggalkan kesempatan meraih pahala kebaikan yang berlipat ganda. Kita kehilangan dua keajaiban kegembiraan sewaktu berbuka puasa dan hilangnya kesempatan untuk memperoleh ampunan Allah terhadap dosa yang kita lakukan.

Sabda Rasulullah SAW: “Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Allah.” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Selesainya Ramadhan bermakna lenyapnya kesempatan kita untuk menunaikan solat malam dengan jaminan pahala ampunan atas dosa dan kekhilafan yang kita sudah tenggelam di dalamnya.

Sabda Rasulullah SAW: “Sesiapa saja yang solat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala solat sepanjang malam.” (Hadis riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah)

Oleh karena itu jangan disia-siakan detik perpisahan ini, rasakan benar-benar kehadiran kita pada bulan ini dan lupakan kesibukan serta hilangkan rasa lelah dengan memperbanyakkan dzikir, tilawah al-Quran, munajat dan memohon ampunannya.

Tangisan Perpisahan

Hari-hari terakhir menjelang perpisahan dengan bulan penuh kemuliaan, kita ambil semangat Lailatul Qadar dengan suatu perubahan sikap yang istiqamah terhadap Islam, mencintai Allah SWT sepenuhnya, tanpa dinodai dengan cinta dunia. Dengan itu kita insya Alloh bisa menjadi manusia yang ikhlas, menerima Islam sepenuhnya, tidak separuh-separuh.

Demi perpisahan ini, menangislah kerana kita akan berpisah dengan kemuliaan dan keberkahan hebat bulan ini. Rasulullah SAW bersabda: “Bahawa tidak akan masuk neraka orang yg menangis kerana takut kepada Allah sehingga ada air susu kembali ke tempat asalnya.”

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa sempat bertemu Ramadhan dan tidak diampuni dosanya, maka semakin jauh ia dengan Allah.” (Hadis riwayat Ibn Hibban).

Doa Akhir Ramadhan

Salah satu adab yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya adalah membaca doa Perpisahan diakhir bulan Ramadhan.

Berikut adalah beberapa contoh doa perpisahaan yang bisa kita amalkan.

Doa Pertama

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW , bersabda;  “Barang siapa yang berdoa di akhir sujud Solat Subuh pada Jumaat terakhir di akhir Ramadhan, nescaya Allah SWT akan mengabulkan.”

 Sahabat bertanya, “ Doa apa itu Ya Rasulullah? ”

Berdoalah ; “Ya Allah! Pertemukan daku di Bulan Ramadhan tahun berikutnya, dalam keadaan Sihat wal’afiat, mudahkanlah rezeki bagiku dan segala urusanku, Ya Allah! “

Doa Kedua

Dari Jabir bin Abdillah r.a. dari Muhammad al Mustafa SAW: Beliau bersabda, “Siapa yang membaca doa ini di malam terakhir Ramadhan, ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan: menjumpai Ramadhan mendatang atau ampunan dan rahmat Allah.”

“Ya Allah! Janganlah kau jadikan puasa kali ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya kau menetetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang sia-sia.”

Doa Ketiga

Ya Allah! Janganlah kau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya kau menetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan puasa yang sia-sia.

Seandainya masih ada padaku dosa yang belum kau ampuni atau dosa yang menyebabkan hamba diseksa kerananya, sehingga terbitnya fajar malam ini atau sehingga berlalunya bulan ini, maka ampunilah semuanya wahai Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.

Ya Allah! Terimalah puasaku dengan sebaik-baik penerimaan, perkenan, maafkan, kemurahan, pengampunan dan  keridhaan-Mu. Sehingga kau memenangkan hamba dengan segala kebaikan yang dituntut, segala anugerah yang kau curahkan di bulan ini.

Selamatkanlahhamba di dalamnya dari kebimbangan terhadap bencana yang mengancam atau dosa yang terus menerus.  Demikian juga, dengan rahmat-Mu golongkanlah hamba ke dalam orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) malam al-Qadar. Malam yang telah kau tetapkan lebih baik dari seribu bulan.

Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga daku dapat kembali bertemu pada Ramadhan mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan.

Doa Keempat

Ya Allah! Dalam kitab yang kau wahyukan (kepada Nabi Muhammad SAW), kau berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkannya Al Qur’an di dalamnya”. Tetapi seketika lagi bulan Ramadhan akan berlalu. Kami mohon pada-Mu dengan perantaraan Wajah-Mu yang Mulia, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna; Sekiranya masih ada dosa padaku yang belum Dikau ampuni, atau dosa yang (menyebabkan) kami disiksa kerananya (hingga) terbitnya fajar malam ini, atau hingga berlalunya bulan ini; Maka ampunilah semuanya, wahai Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.

Ya Allah! BagiMu segala pujian. Segala pujian yang telah kau ucapkan untuk diri-Mu sendiri, segala pujian sungguh-sungguh yang diungkapkan hamba-Mu yang bijak dan sentiasa berdzikir dan bersyukur kepada-Mu. Merekalah orang-orang yang telah kau bantu menunaikan hak-hak-Mu dari sebagian makhluk-Mu yang tersebar di alam ini, baik dari kalangan malaikat yang dekat dengan-Mu ataupun nabi-nabi yang telah kau utus ataupun orang-orang yang berfikir ataupun dari kalangan mereka yang bertasbih kepada-Mu.

Sesungguhnya, Engkau telah membawa kami ke bulan Ramadhan dan telah mengurniakan kami kenikmatan dan anugerah. Engkau telah menampakkan kemurahan dan pemberian-Mu. Pada-Mu lah bermurah segala sanjungan yang abadi, kekal, dan tetap selamanya. Betapa Agung Sebutan-Mu!

Tuhanku! Bantulah kami menjalani bulan Ramadhan sehingga engkau sempurnakan puasa, solat dan segala kebaikan, syukur dan zikir kami di bulan ini. Wahai Tuhanku! Terimalah puasaku dengan sebaik-baik penerimaan, perkenanan, maaf, kemurahan, pengampunan, dan hakikat keridhaan-Mu. Sehingga engkau memenangkan kami dengan segala kebaikan yang dituntut, segala anugerah yang kau curahkan di bulan ini. Selamatkanlah kami di dalamnya dari kehawatiran terhadap bencana yang mengancam atau dosa yang berketerusan.

Duhai Tuhanku! Kami mohon pada-Mu dengan keagungan yang diminta hamba-Mu dari kemuliaan nama-nama dan keindahan pujian-Mu dan dari para pengharap yang istimewa. Sudilah engkau mencurahkan rahmat-Mu kepada Muhammad dan keluarganya. Dan agar engkau jadikan bulan ini seagung-agungnya Ramadhan, yang telah berlalu dari kami sejak engkau turunkan ke dunia, sebagai berkah dalam menjaga agama, jiwa dan segala keperluanku. Juga berkatilah kami dalam semua persoalan, sempurnakanlah pemberian nikmat-Mu, jauhkanlah kami dari keburukan dan hiasi kami dengan pakaian kesucian di bulan ini.

Demikian juga, dengan rahmat-Mu golongkanlah kami ke dalam orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) malam al-Qadar. Malam yang telah engkau tetapkan lebih baik dari seribu bulan, dalam keagungan pahala, kemuliaan perbendaharaan, keindahan syukur, panjang umur dan kemudahan yang berketerusan.

Wahai Tuhanku! Kami mermohon dengan perantaraan rahmat, kebaikan, ampunan, karnia, keluhuran, kebaikan dan pemberian-Mu. Janganlah Dikau jadikan Ramadhan ini sebagai kesempatan terakhirku. Sudilah engkau menghantar kami hingga Ramadhan berikutnya dalam keadaan yang paling baik. Perlihatkan kami hilal (anak bulan) Ramadhan berikutnya, bersama orang-orang yang melihat keluasan rahmat-Mu. Dan limpahkanlah anugerah-Mu, wahai Tuhanku. Tiada Tuhan selain Allah!

Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Sehingga daku dapat kembali bertemu pada tahun mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan. Kini daku berada di hadapan-Mu dengan penuh kesetiaan. Sesungguhnya Dikau Maha Mendengar segala doa. Ya Allah! Dengarkanlah pengaduanku ini. Perhatikanlah rintihan, kerendahan, kepapaan dan penyerahan diriku ini.

Daku berserah diri pada-Mu, Tuhanku! Daku tidak mengharapkan kemenangan, ampunan, kemuliaan dan penyampaian (kepada cita-citaku) kecuali pada-Mu. Anugerahkanlah daku keagungan pujian-Mu, kesucian nama-nama-Mu dan sampaikan daku kepada Ramadhan berikutnya dalam keadaan terlepas dari semua keburukan, kebimbangan dan ketidaktentuan. Segala pujian untuk-Mu sahaja, yang telah membantu kami menunaikan puasa dan mendirikan qiamullail di bulan Ramadhan ini, sehingga malamnya yang terakhir.

Taqabbalallahu minna waminkum, wakullu ‘aamin wa antum bikhairin.

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya ibadah.

Aamiin …!

Minggu, 20 Juli 2014

Tauladan Perasaan Takut kpd Alloh dari sang pemimpin Umar ra.

Kadang-kala Umar ra. memegang setangkai rumput dan berkata, "Seandainya aku
menjadi setangkai rumput ini." Terkadang beliau berkata," Seandainya ibuku tidak
melahirkanku."

Suatu ketika, ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Seseorang mendatanginya dan
berkata, "Si fulan telah menzhalimiku. Engkau hendaknya menindaknya." Umar ra.
segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu, sambil berkata,
"Ketika saya sediakan waktuku untukmu, kamu tidak datang. Sekarang saya
sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk
menyelesaikannya." Orang itu pun pergi. Lalu Umar ra. menyuruh seseorang untuk
memanggil kembali orang tadi. Setelah datang, Umar ra. memberikan cambuk
kepadanya dan berkata, "Balaslah aku!" Jawab orang itu, "Aku telah memaafkanmu
karena Allah."

Segera Umar ra. pulang ke rumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat.
Kemudian beliau berbicara kepada dirinya sendiri, "Hai Umar, dahulu kedudukanmu
rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah
memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah
menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki-laki
mengadukan nasibnya dan berkata, "Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku,
tetapi kamu telah memukuhiya. Kelak pada hari Kiamat, apakah jawabanmu di
hadapan Tuhanmu?" Lama sekali Umar menghukumi atas dirinya sendiri. (Asadul
Ghobah)

Pelayan beliau, yaitu Aslarn ra. berkata, "Suatu ketika saya pernah bersama Umar
ra. pergi ke Hirah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu, terlihat ada nyala api di
atas gunung. Umar ra. berkata, "Itu mungkin suatu kafilah yang kemalaman dan
mereka tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu di luar kota. Mari kita
lihat berita baik dari mereka, bagaimana penjagaan malam mereka!" Setibanya di
sana, tampaklah seorang wanita dengan beberapa anak kecil yang menangis di
sekelilingnya. Dan perempuan itu sedang merebus air dalam suatu kuali di atas
tungku yang menyala. Umar ra. memberi salam kepada wanita tadi, dan meminta
ijin untuk dapat mendekatinya, dan bertanya, "Mengapa anak-anak ini menangis?"
Jawab Wanita itu, "Mereka kelaparan." Lalu Umar ra, bertanya, "Apa yang sedang
engkau masak dalam panel itu?" Jawab wanita itu, "Panci ini penuh dengan air,
hanya untuk membohongi anak-anak agar mereka senang dengan menyangka saya
sedang memasakkan makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga
Allah menghukum Amirul Mukminin Umar ra., yang tidak mau tahu dengan
kesempitanku ini." Umar ra. menangis, dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu,
tetapi bagaimana Umar ra. dapat mengetahui keadaanmu?" Jawab wanita itu, "Dia
adalah ketua kami, seharusnya ia memperhatikan keadaan kami."

Aslam ra. melanjutkan ceritanya; kemudian Umar ra. mangajakku kembali ke
Madinah. Lalu ia mengeluarkan sekarung gandum, kurma, minyak, dan beberapa
potong pakaian juga beberapa dirham dari Baitul Mal. Setelah karung itu penuh
berisi, beliau berkata kepadaku, "Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku!"
Saya menjawab, "Biarkan saya yang membawanya, ya Amirul Mukminin." Sahut
Umar ra,, "Tidak! Letakkan saja di pundakku." Dua tiga kali aku menawarkan diriku
dengan sedikit memaksa kepadanya, lalu beliau berkata, "Apakah kamu akan
memikul dosa-dosaku nanti pada hari Kiamat? Tidak, aku sendirilah yang akan
memikulnya, dan aku juga yang bertanggung jawab atas hal ini." Terpaksa, saya
letakkan karung itu di pundak beliau. Dan dengan tergesa-gesa beliau membawa
karung itu ke kemah tadi dan saya pun tetap turut bersamanya.

Setibanya di sana, beliau langsung memasukkan tepung, dan sedikit minyak,
ditambah dengan kurma lalu diaduk, dan beliau sendiri yang menyalakan
tungkunya. Aslam bercerita, "Saya melihat asap mengenai janggutnya, beliau
memasak sampai matang. Lalu, beliau sendiri yang menghidang makanan itu
dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Demikian senangnya
Umar ra. tertawa-tawa melihat mereka makan. Setelah selesai makan, anak-anak
itu pun bermain-main riang. Wanita itu sangat senang, ia berkata, "Semoga Allah
memberimu balasan yang baik, seharusnya kamu lebih berhak menjadi khalifah
daripada Umar. Untuk menyenangkan hati ibu tadi Umar ra. berkata, "Jika kamu
menjumpai khalifah, maka kamu akan menjumpaiku di sana."

Kemudian, Umar ra. meletakkan kedua tangannya di bawah dan duduk di atas
tanah. Beberapa saat kemudian beliau pun meninggalkan mereka. Umar ra. berkata
kepada Aslam ra, "Aku tadi duduk di situ karena aku telah melihat mereka
menangis, dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa."
(Asyharu Masyahir)

Dalam shalat-shalat Shubuhnya, Umar ra. selalu membaca surat-surat Al-Qur'an
yang panjang. Kadang-kadang, beliau membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat
lainnya, sambil menangis terisak-isak, sehingga suara tangisannya terdengar
hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika Umar ra. membaca surat Yusuf
dalam Shubuhnya, ketika sampai di ayat:

"Yakub menjawab, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan
kesusahan dan kesedihanku. "(Yusuf: 86)

Beliau menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak terdengar lagi. Beliau juga
kadang-kadang terus membaca Al-Qur'an sambil menangis dalam tahajjudnya
sehingga terjatuh dan sakit.

Faedah:
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat
ditakuti oleh raja-raja. Sekarang, setelah 1.300 tahun lamanya, adakah
seorangraja, seorangpejabat, atausekedarpemimpin biasa yang mempunyai rasa
tanggung jawab dan kasih sayang terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti
Umar ra.?

Syawwal, Kesinambungan Anugerah Ramadhan

Marilah kita syukuri segala karunia Allah yang tiada terhingga dan tidak
terbatas. Apapun yang kita minta dan inginkan, Allah siap memberikan seluruhnya
kepada kita sesuai kebijakanNya. Baru saja kita lewati bulan Ramadhan, mudah-
mudahan amal shalih kita dalam bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Taqabbalallaahu minna waminkum, taqabbal yaa kariim.

Anugerah yang kita peroleh secara psikologis/kejiwaan selama bulan suci
Ramadhan, yang diharapkan dapat kita lestarikan selama 11 bulan yang akan
datang adalah kebiasaan untuk selalu beramal shalih, kebiasaan menjadi hamba
yang bertaqwa. Kebiasaan adalah menjadi tujuan Inti dari puasa dan anugerah
terbesar selama Ramadhan.

Seorang pakar renang, yang bergelar profesor atau doktor dalam ilmu berenang,
yang memiliki dan menguasai teori dan macam-macam gaya dalam berenang,
tetapi dia tidak pernah praktek berenang, maka dapat diyakini bahwa dia akan
tenggelam di kolam renang. Karena berenang tidak bisa dikuasal hanya dengan
teori saja, tetapi tergantung dan seberapa sering praktik dan berlatih berenang.
Semua kemampuan praktik bisa didapat dari kebiasaan beramal dan berlatih.
Berlatih pun juga tidak asal-asalan. Tetapi harus istiqomah dan teratur. Begitu
juga dengan amal shalih. Sehingga derajat manusia ditentukan oleh kebiasaan
amalnya. “Dan setiap orang akan memperoleh derajat seimbang dengan apa yang
dikerjakan”. Al-An’am : 132. Kalau amalnya shalih, maka derajatnya adalah
keshalihan dalam hidupnya. Tetapi kalau derajat amalya maksiat, maka derajatnya
kefasikan dalam hidupnya. “Demikianlah kami jadikan hiasan (dipandang baik)
oIeh umat manusia tergantung amal kebiasaanya”. al-Anam:
:108.

Jadi kalau seseorang terbiasa amal shalih, maka dia akan cinta kebaikan.
Sebaliknya kalau seseorang terbiasa maksiat, maka dia akan cinta kepada
kemaksiatan. Witing trisno jalaran son gko kulino (Tumbuhnya cinta karena
kebiasaan). Ibadah akan tampak indah bagi seseorang yang terbiasa beribadah,
dan orang yang terbiasa maksiat akan memandang indah setiap kemaksiatan yang
dikerjakan.

Begitu juga ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, maka kahancuranlah yang
didapat. Bahkan dalam sebuah hadith dianggap celaka, karena bagaikan pohon
yang tak berbuah. Tidak membuahkan akhlakul karimah.

Dalam bulan Ramadhan ada motivasi-motivasi, tetapi itu berlaku bagi yang
beriman. Begitu juga dengan turunnya al-Quran yang merupakan sugesti bagi orang
yang beriman. Tetapi bagi orang yang tidak beriman turunnya al-Quran akan
menjadi beban. Surat al-Isra 17:82 menyatakan:

ﻭَﻧُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ
ﺇِﻻ ﺧَﺴَﺎﺭًﺍ
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-
orang yang dzalim selain kerugian” [QS AL-Isra (17):82].

Yang hidupnya dalam kedzaliman, maka shalat, puasa, zakat, dan perintah-
perintah yang lain adalah beban, merugikan mereka. Nah kalau sugesti dan
motivasi selama bulan Ramadhan itu kita laksanakan dengan istiqomah, maka
akibatnya tercetak dalam jiwa kita, sebuah zhann (persepsi) baru. Allah sudah
memberikan yang terbaik bagi hambaNya, kalau husnuzhzhan (persepsi baik),
maka pemberian Allah itu juga berakibat baik. Kita yang biasanya berpuasa, tidak
berbohong, rajin bangun malam, rajin bertadarrus al-Quran, rajin bersedekah, maka
ketika memasuki bulan Syawwal persepsi tersebut akan kita bawa sebagai
kebiasan yang baik. ltulah presepsi yang kita bawa selepas Ramadhan dalam bulan
Syawwal ini.

Rasanya tidak enak kalau biasanya bertadarrus, kemudian tidak bertadarrus,
rasanya tidak enak berbohong kalau selama Ramadhan kita tidak berbohong. Maka
semua ini tergantung kita dalam meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang baik itu di
sebelas bulan yang akan datang. Ada yang hanya mampu bertahan satu bulan, ada
yang dua bulan, ada yang tiga bulan, ada yang sampai ketemu Ramadhan lagi
mampu dipertahankan, bahkan ada juga yang tidak mampu mempertahankan sama
sekali.

Kita mungkin sudah tahu akan hal ini, tetapi mengapa kita sulit mempraktekannya.
Mengapa beramal shalih sulit istiqomah, mengikuti petunjuk Allah susah. Bertaqwa
secara istiqomah sulit. Kesulitan itu karena kita tidak terbiasa, kalau sudah biasa
tidak ada kata sulit. Contohnya, orang desa yang tidak biasa bersepatu harus
dipaksa pakal sepatu, tentu dia akan kesulitan berjalan. Berbeda dengan orang
yang biasa bersepatu, tentu akan mudah dan enjoy aja. Islam pun awalnya adalah
asing, dan sulit untuk dipraktikkan, seperti halnya para mualtaf, tetapi kalau sudah
biasa akan terasa mudah. Shalat akan sulit bagi yang tidak biasa, zakat juga sulit
bagi yang tidak pernah berzakat dst.

Jadi sebetulnya tidak ada kata sulit bagi yang sudah biasa. Kalaupun ada kesulitan
bagaikan seorang siswa yang diuji untuk kenaikan kelas atau tingkat. Karena
setiap kesulitan ada kemudahan, inna ma’aI ‘usri yusron. Setiap kesulitan itu telah
diatur oleh Allah. Jadi tidak mungkin melebihi batas kemampuan manusia, karena
kesulitan atau ujian itu datangnya dari Allah. Karena orang yang betul-betul tahu,
bahwa kesulitan atau musibah itu datangnya dari Allah, maka dia akan yakin pasti
Allah telah mengukur kemampuan hamba yang diujinya itu. Allah tidak pernah
mendhalimi hambaNya. Kalau dirasa melebihi batas kemampuan, itu hanya
persepsi manusia saja yang jelek, yang husnudhan tentu akan diterirna dengan
sabar.

Demikianlah betapa kebiasaan yang baik selama bulan Ramadhan adalah anugerah
yang terbaik bagi kita, yang telah menjalankan puasa dengan benar, dan Syawwal
sebagai kesinambungan adalah dengan tetap mempertahankan amal shalih yang
sudah istiqomah itu, agar kebiasaan ini memperkuat husnudhan kita. Sebab kalau
nanti setelah kita memperoleh dhan yang baru ini lalu kita membiasakan kebiasan
lain, yang menyimpang (fujuur), maka husnudhan kita akan berubah menjadi
su’udhan lagi terhadap pemberian Allah kepada kita, sebab Allah itu tergantung
persepsi hambanya (ana ‘inda dhanni ‘abdi bihi).

Karena itu bulan Ramadhan adalah bulan pembentukan dhan (presepsi) semua
perintah Allah, Dan bulan Syawwal dan seterusnya adalah bulan-bulan untuk
mempertahankan yang kita peroleh di bulan Ramadhan yang lalu. Karena kita tidak
akan menjadi sempurna, maka kita evaluasi selama 6 bulan seperti yang dilakukan
oleh para sahabat, bagaimana dan apa yang sudah kita dapat, dan apa yang
belum. Dan 6 bulan berikutnya kita gunakan untuk menghadapi bulan Ramadhan
yang akan menyongsong kita, agar amal shalih kita semakin meningkat. Dan
persepsi kita kepada Allah juga semakin baik.

Wallahu a’lam.

Sabtu, 19 Juli 2014

Dimanakah posisi taqwa kita.?

Dimana posisi Taqwa Kita?
Marilah kita selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Peningkatan
ketaqwaan dalam arti usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Masing-masing
manusia berbeda cara mencapai ketaqwaan ini. Ada seorang mufassir dan
muhaddis terkemuka, Syekh Muhammad bin ‘Alan Ashodiqy (1996- 1057 H),
Membagi ketaqwaan itu menjadi 3 tingkatan, yaitu:

Pertama , golongan yang berusaha menjauhkan diri dari ancaman siksa yang kekal.
Dengan jalan membersihkan diri terhadap sifat syirik kepada Allah SWT. [QS. Al-
fath (48):26]
ﺇِﺫْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴَّﺔَ ﺣَﻤِﻴَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﺄَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻜِﻴﻨَﺘَﻪُ
ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺃَﻟْﺰَﻣَﻬُﻢْ ﻛَﻠِﻤَﺔَ ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺃَﺣَﻖَّ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻫْﻠَﻬَﺎ
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu)
kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan
kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa,
dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya, dan
adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Dalam flrmanNya ini Allah SWT mewajibkan kepada orang-orang mukmin agar
mencapai taqwa dengan menjauhkan diri dari sifat syirik kepada Allah SWT
memurnikan kepercayaannya, hanya kepada Allah SWT. Sehingga nantinya akan
selamat dari siksaan api neraka yang kekal. Jadi golongan ini hanya mementingkan
agar dirinya selamat dari siksa neraka yang kekal. Mereka tidak sanggup Iebih dari
itu. Mereka seakan rela masuk neraka asal tidak selamanya. Ini!ah tingkatan
taqwa yang terendah.

Kedua, yaitu golongan yang berusaha menjauhi segala sesuatu yang berakibat
dosa. Apakah dosa yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang karena dilarang
oleh agama, seperti makanan yang diharamkan. Atau keengganan untuk melakukan
sesuatu yang diperintah oleh agama, seperti meninggalkan shalat wajib. Kelompok
inilah yang dimaksudkan Allah SWT sebagaimana firmanNya surat [QS. AI-A’Raf
(7): 96].
ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽِ ﻭَﻟَﻜِﻦْ
ﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﻓَﺄَﺧَﺬْﻧَﺎﻫُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ
“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya”.

Dalam ayat ini, Allah menjanjikan pemberian rahmat bagi orang yang beriman.
Taqwa yang dimaksud dalam firman ini menurut tafsir Alkhozin ialah taqwa dalam
arti menjauhkan diri dan larangan-larangan Allah SWT dan apa saja yang di
haramkanNya. Maksudnya bukan hanya sekedar memurnikan kepercayaan kepada
Allah saja, akan tetapi kepercayaan yang sudah tertanam itu diwujudkan dalam
bentuk nyata, yakni dengan menjauhi larangan larangan Allah SWT. Golongan ini
hanya mementingkan dirinya sendiri untuk selalu menghindar dari hal-hal yang
mengakibatkan dosa. Tentunya setelah terlebih dahulu menanamkan keimanannya.
Mereka tidak mampu berbuat selebihnya. Mereka tidak mampu menjalankan
perintah-perintah agama secara sempurna. Mereka tidak mampu melakukan
amalan-amalan yang mendapatkan pahala untuk kepentingan ketaqwaannya.
Golongan ini adalah golongan pertengahan, lebih tinggi dibanding golongan yang
pertama.

Ketiga , golongan yang berusaha membersihkan hatinya yang sedang lalai dan
mengerahkan segalanya hanya untuk Allah SWT semata. Apa yang dikerjakan
selalu disandarkan kepada Allah SWT dalam rangka mencari keridhoanNya. Taqwa
inilah yang dikatakan betul-betul taqwa kepada Allah SWT. Dan taqwa inilah yang
sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firmanNya [QS. Ali Imran (3):102].
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻻ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam”.

Tuntutan taqwa pada ayat ini sangat berat, karena taqwa di sini mengandung tiga
unsur, yaitu:

1. Pertama, harus mentaati ajaran agama, baik yang berbentuk perintah ataupun
larangan. Dan tidak boleh sedikitpun lalai, atau berbuat maksiat.
2. Kedua, harus selalu ingat kepada Allah SWT, tanpa melupakan sejenakpun.
3. Ketiga, harus selalu bersyukur kepadaNya, tanpa pernah mengingkarinya.

Karena ketiga unsur ini amat berat, maka muncullah seorang sahabat yang
mengungkapkan keberatannya kepada baginda Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah,
siapa yang mampu menjalankan taqwa yang seperti itu? Maka turunlah Surat At
Taghobun (64):16.
ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻷﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻮﻕَ
ﺷُﺢَّ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah
serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang
beruntung”.

Setelah turun ayat ini, maka taqwa yang mengandung unsur di atas, hendaklah
dilakukan dalam batas kemampuan maksimal. Sebagai manusia, wajarlah kalau
seorang sahabat Nabi menyatakan keberatan dalam menjalankan taqwa
sepenuhnya pada tingkatan terakhir ini, sebab Tuhan menciptakan manusia disertai
hawa nafsu.

Pengendalian hawa nafsu inilah yang sulit dilakukan o!eh setiap manusia.
Walaupun tuhan telah berkali-kali mengingatkannya agar berhati-hati dalam
menghadapi hawa nafsu. Di antaranya dalam surah Al-Munafiqun (63):09. Dalam
ayat ini Allah SWT mengingatkan kepada kita dalam mengendalikan keinginan,
menguasai kekayaan dan anak-anak.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻ ﺃَﻭْﻻﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ
ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu
dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah
orang-orang yang merugi”.

Bila keinginan nafsu itu sampai melalaikan akan mengingat Allah, berarti telah
mengurangi kualitas ketaqwaan kita. Dalam hal menginginkan untuk menguasai
harta kekayaan dan anak-anak, memang manusia sering kali sampai melupakan
Tuhannya. Hal ini karena harta kekayaan dan anak-anak itu merupakan fitnah
(cobaan) Allah SWT. Bagi yang mampu melewatinya dengan baik, akan
mendapatkan keuntungan besar, dan Allah telah menjanjikan pahala yang besar. Aamiin

Rabu, 16 Juli 2014

Pahala Puasa Ramadhan

pahala yang agung yang telah Allah SWT siapkan untuk orang-orang yang berpuasa. Diantaranya adalah:

a. Bahwa pahala orang yang berpuasa sangatlah besat, saking besarnya, tidak ada siapa pun yang mengetahuinya selain Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya” (H.R. Bukhari).

b. Siapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah, maka ia akan dijauhkan dari neraka sejauh 70 tahun.
Ini ganjaran satu hari, bagaimana kalau satu bulan penuh?! Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra. ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah -SAW- bersabda: 'Siapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah maka Allah SWT akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun'”. (Muttafaqun 'alaih).

c. Puasa akan memberi syafaat kepada yang melakukannya sehingga ia akan memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Abdullah bin 'Amr-radhiyallahu 'anhu- bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Puasa dan Al-Qur'an memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat, puasa berkata: “Wahai Tuhanku! Saya telah mencegahnya dari makan dan syahwa di siang hari, oleh karena itu terimalah syafaat saya untuknya!”. Lalu Al-QUr'an berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah memcegahnya dari tidur di malam hari, oleh karena itu, terimalah syafaat saya untuknya!”. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Lalu syafaat keduanya diterima Allah SWT”. (H.R. Ahmad).

d. Di dalam surga ada satu pintu yang bernama Al-Rayyan, pintu ini hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Sahl -radhiyallahu 'anhu dari nabi Muhammad -shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan , dari pintu ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan (diserukan): Mana orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka semua berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang
memasukinya”. (Muttafaqun 'alaih).

e. Puasa Ramadhan menghapus dosa-dosa yang telah berlalu.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- ia berkata: “Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda: 'Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan karena mengharap pahala di sisi Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni'”. (Muttafaqun 'alaih). Dalam hadits lain Rasulullah -shallallahu'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus-penghapus dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi” . (H.R. Muslim).

f. Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Jika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dibuka dan syetan-syetan dibelenggu”. (H.R. Muslim).

g. Doa orang yang berpuasa bulan Ramadhan dikabulkan Allah SWT.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- ia berkata: “Rasulullah –shallallahu'alaihi wa sallam- bersabda: 'Tiga orang yang doa mereka tidak ditolak; orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang terzhalimi akan diangkat Allah SWT di atas awan dan dibuka untuknya pintu-pintu langit, dan Allah SWT berfirman: 'Demi izzahku, sungguh Aku akan mendolongmu walaupun setelah beberapa saat” . (H. R. Ahmad dan AtTirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini hasan”). Setelah kita ketahui betapa besar pahala yang Allah SWT sediakan bagi orang-orang yang berpuasa, maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain membangun motivasi dan semangat untuk mengisi siang dan malam hari Ramadhan dengan berbagai amal shaleh dan segala bentuk ketaatan.

Ya Allah, bukalah bagi kami di bulan ini pintu-pintu surgamu, tutuplah untuk kami di bulan ini pintu-pintu nerakamu, dan berikanlah taufik kepada kami di bulan ini untuk membaca al-Quran, wahai dzat yang maha Penurun ketenangan di hati orang Mukminin. Aamiin

Jika Sabar Itu Muda, Tentu Semua Orang Akan Bisa Melakukannya

KISAH NYATA DARI TANAH ARAB…..

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah.
Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan
hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah
hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari
yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari
Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari
Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal
dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.
Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit
hitam yang juga kerja di Hotel ini.

Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.
Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek
bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum
bisa ramah dikulit saya.

Hari itu Ammar tidak terlihat.

Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.
“Oh kamu tidak tahu?”
Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur
dengan logat urdhu yang pekat.

“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.
Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir,
semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin
memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.
Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar
tahun 2004 lalu.
Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan
keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia
memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk
Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.

Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi
keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah
dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar
apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.
Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di
Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…
Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung
berakhir..

Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah
pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota
yang garang.
Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu
caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita
masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara
penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia.

Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju
Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung
saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam
setahun..

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini.
Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus
membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu
tekadnya.

Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya.
Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar
dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil
terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di
Sudan.

Tapi Ammar pun Manusia.
Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya
yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di
teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan.

Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa
uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket
pulang.

Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman
terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya
sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat
untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan
tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah
didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk
kelas executive saja.

Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.
Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan
jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.
Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu
sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi
baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.
Adzan dzuhur bergema..

Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak
menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor
kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.
Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu..
memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting
dengan air.

Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk
menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan,
Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya
berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai.

Ammar masih bingung untuk memulai langkah.
Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.

Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid
yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca
taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
Selepas Maghrib ia masih disana.
Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal
penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.
Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu.
Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat,
membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas.

Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu
juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di
kota Riyadh.

Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke
Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2
jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari
bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30
menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara,
Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya.
Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini
tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan.
Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam
semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban
kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah
buat anak anaknya.

Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil
manggil namanya.
Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang
Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.
Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata
“Prince memanggilmu”.

Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince.
Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince.
Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah
Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat
ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan
bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.
Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil..
Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat
mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince
langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan
segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke
Negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.
Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang
alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.
Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak
mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk
menghidupi keluarganya.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu
bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan
sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji
dinegeri ini.
Prince memakluminya.

Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah
kamu dapati?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun
kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab
Ammar.

Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang.
1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000
(84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung
uang dan menyerahkannya kepada Amar.

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.
Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,
Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah
temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan.
Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah
Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”
Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya.

Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya
di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini
benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya
selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari
yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan
untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
Semua berubah dalam sekejap!

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.
Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.

Nothing Imposible for Allah,
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah,..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan
Nya.

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini
Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia
dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai
Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah…

Seperti itulah buah dari kesabaran.
”Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu
belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas
kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
(NAI)

ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻠَﻘَّﺎﻫَﺎ ﺇِﻻ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺻَﺒَﺮُﻭﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻠَﻘَّﺎﻫَﺎ ﺇِﻻ ﺫُﻭ ﺣَﻆٍّ ﻋَﻈِﻴﻢٍ
” Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
mempunyai keuntungan yang besar. ” (Al Fushilat 35)

Allahuakbar!
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya

Selasa, 15 Juli 2014

" KISAH ULAR MENUNGGU JENAZAH "

Kisah nyata yang anda baca ini bukan datang dari majalah atau tabloid,tetapi kisah
dari tanah perkuburan Sa’raya,Mekkah..

Pada beberapa tahun yang lalu ada seorang perempuan yang berumur 40an telah
meninggal dunia..

Mereka telah mengusung jenazah beliau untuk dikebumikan di tanah perkuburan Al
Ma’ala yakni lebih kurang 2 kilometer dari Masjidil Haram setelah Shalat Dzuhur..

Namun ketika sampai di tanah perkuburan tersebut, alangkah terperanjatnya mereka
bila mendapati seekor ular yang berwarna hitam sebesar paha bersisik tebal telah
berada di dalam liang lahat (dalam kubur tersebut)..

SubhanALLAH..
Keadaan ular tersebut amat mengerikan..
Mereka pun terus berlalu dari situ dan membawa jenazah wanita tersebut ke tanah
perkuburan yang lain yakni di tanah perkuburan Sa’raya lebih kurang 8 km Jauhnya..
Ketika mereka sampai di tanah perkuburan tersebut, rupa-rupanya ular hitam yang
sama juga telah menunggu jenazah wanita yang ingin dikebumikan di situ..

ALLAHU AKBAR..
Mereka mengambil keputusan untuk memindahkan serta mengangkat ular tersebut
dan Meletakkan di luar yakni berjauhan sedikit dari kawasan tersebut dan
mengkebumikan jenazah wanita itu..

(Namun aneh nya ular hitam itu tidak melakukan apa-apa bila disentuh oleh mereka)..
Dengan segera mereka mengkebumikan mayat wanita itu..
Tiba-tiba Ular Hitam yang diletakkan berjauhan dari situ terus datang dan menjalar
dengan cepat dan masuk ke dalam kubur wanita itu..

MasyaALLAH..
(Seperti menghujam ke dalam swimming pool dari atas – keadaan ketika ular itu
masuk ke dalam kubur)..

Dan tidak berapa lama mereka mendengar bunyi seperti dahan-dahan pokok yang
dipatah patahkan..

Dan ketika mereka melihat ke dalam kubur wanita tersebut, alangkah terperanjatnya
karena ular hitam sedang membelit jenazah wanita itu serta mematah matahkan
tulang jenazah itu …

SubhanALLAH..
Ada beberapa orang yang berada di Sekitar kubur itu turut pingsan melihat kejadian
itu..

Setelah diselidiki kenapa perkara tersebut bisa terjadi..??
Ternyata sewaktu hayatnya, wanita tersebut suka melewat lewatkan Shalat nya..
Marilah kita ambil I'tibar dan Renungan dari kejadian ini..

Semoga ALLAH Subhanahu Wata'ala menguatkan iman kita dalam mendirikan solat 5
waktu daripada gangguan syaitan dan iblis Insya ALLAH..

Ini baru siksaan di dunia akibat melewatkan Shalat..??
Bagaimana kalau tidak Shalat..??

Astaghfirullahhal'adzhiim..
Yuk,Bagikan Inspirasi bermanfaat ini,semoga menjadi KEBAIKAN bagi kita
semua,Aamiin..

Yaa ALLAH..
Mudahkanlah urusan orang yang Membaca status ini..
Dekatkanlah Rezekinya,Sehatkanlah jiwa raganya dan Mudahkanlah jodohnya untuk
orang yang nge-Like dan nge-share Status Ini..

Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin..

Rabu, 25 Juni 2014

Silsilah 25 Nabi Dan Rasul

♣ Silsilah 25 Nabi dan rasul.

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi.

RASUL

Rasul adalah seorang laki laki merdeka yang menerima risalah atau wahyu dari Allah dan ia juga diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.  Jadi boleh dikatakan juga bahwa setiap rasul pasti nabi tapi tidak semua nabi itu adalah rasul.

يَـأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

Allah berfirman ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (al-Maidah: 67)

NABI

Nabi adalah seorang laki laki merdeka yang diturunkan kepadanya risalah atau wahyu dari Allah untuk diamalkan, namun tidak diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.

Kenabian lebih umum karena semua rasul adalah nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Jadi orang yang bukan nabi berarti bukan rasul, dengan kata lain, untuk bisa menjadi rasul dia harus menjadi nabi. Rasul diutus untuk membawa risalah kepada manusia, untuk membawa syariat Allah dan agama yang harus disampaikan lagi kepada manusia, sedangkan Nabi saw diutus dengan dakwah dan syariat namun tidak diperintahkan untuk menyampaikanya kepada manusia.

Kenabian adalah pemberian Allah semata. Tidak semua orang bisa menjadi nabi atau julukan nabi. Kenabian tidak bisa diraih dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tidak mungkin mendapatkan gelar nabi dengan usaha, karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Orang yang dikehendaki sebagai nabi itu telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Tentu sebelum jadi nabi, Allah menjaganya dari perbuatan yang buruk dan melindunginya dari segala maksiat serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang luhur.

Jelasnya, bahwa kenabian tidak diperoleh dengan usaha tertentu, namun kenabian itu anugrah dari Allah diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih dan tertentu. Kenabian bukan diberikan kepada orang yang mengharapkan dan memohon menjadi nabi.

Dan kita sebagai muslim, diwajibkan meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk masing-masing umat yang menyeru mereka kepada tauhid. Beriman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib dan merupakan rukun iman tanpa membedakan beriman kepada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain sebab hal tersebut sama dengan tidak beriman kepada semuanya. ”(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”,” (Al-Baqarah, 285).

JUMLAH PARA NABI DAN RASUL

Wajib bagi setiap muslim mengetahui bilangan para nabi dan rasul yang telah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 dan wajib meyakininya secara keseluruhan bahwa Allah telah mengutus mereka sebagai nabi dan rasul yang dimulai dari nabi Adam as dan diakhiri oleh nabi Muhammad saw.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (al-Ghafir, 78).

Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad

Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi Adam as sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul Allah saw yang terakhir.

Penegasan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir telah banyak ditegaskan Allah dalam al-Qur’an dan dan ditegaskan pula oleh Rasul-Nya di dalam al-hadits. Jadi kalau ada orang mengaku sebagai nabi setelah beliau, pasti dengan tegas umat Islam akan menolak keberadaanya dan tidak mempercayainya, karena Nabi Muhammad saw adalah akhir dan penutup para nabi. Keyakinan bahwa Rasulallah saw adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat beliau, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, pasti dengan tegas mereka menolaknya dan sekaligus menyatakan perang kepada mereka

Selasa, 24 Juni 2014

"TENTANG PENGERTIAN IKHLAS"

TENTANG PENGERTIAN “IKHLAS”

“KEIKHLASAN” yang dituntut di sini (ibadah & ubudiyah) sehari” seorang mu’min adalah segala macam keikhlasan sesuai dengan tingkat masing-masing orang (ikhlasnya seorang syari’at,ikhlasnya seorang thoriqot,ikhlasnya orang ma’rifat ,ikhlasnya orang haqiqat).

1- Ikhlasnya orang biasa adalah terbebasnya amal perbuatannya dari segala bentuk riya’ seperti pamer, ingin dipuji, ingin dilihat atau didengar orang, ingin balasan dari manusia, ingin dianggap baik, ‘ujub (membanggakan diri) dan sebagainya sehingga amalnya murni dilakukan untuk mengharap balasan dari Alloh semata, baik mendapat surga atau pun terbebaskan dari neraka. Ini adalah tingkatan ikhlas kebanyakan orang.

2- Dalam tingkatan ikhlasnya seorang thoriqot ini seorang salik (penempuh jalan menuju Alloh) melihat adanya perannya sendiri dalam amal yang ia lakukan dan berharap dengan itu ia akan memperoleh balasan yang baik dari Alloh. Adapun ikhlasnya para muhibbin (orang-orang khusus yang cinta mati terhadap Alloh) lebih tinggi dari tingkatan orang biasa tersebut.

Para muhibbin melakukan amal kebaikannya bukan karena ingin balasan surga atau dijauhkan dari neraka, melainkan murni dipersembahkan pada Alloh karena Dia memang berhak untuk itu.

Bagi mereka, Alloh memang sepatutnya disembah tanpa harus memberi balasan apapun pada yang menyembah dan yang menyembah tidak layak menuntut apapun dari Alloh karena ibadahnya merupakan kewajiban yang memang harus dilakukan. Betapa luhur dan sulitnya tingkatan ini, tapi meski demikian dalam tingkatan ini seorang salik juga masih melihat adanya
perannya sendiri dalam amal yang dilakukannya.

3-Dalam tingkat ini Sebagian ulama ahli hakikat, di antaranya Syaikh al-Qusyairi,menjelaskan tentang Ikhlasnya orang ma’rifat adalah maqom khos serta menyebut tingkatan di atas sebagai tingkatan iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah) yang berarti kami tidak menyembah siapa pun kecuali pada-Mu dan kami tidak mempersekutukan-Mu dengan yang lain.

Yang ditekankan dalam tingkatan ini adalah penyatuan tujuan amal, yakni murni pada Alloh atau sering juga disebut dengan al-‘amal lillah (tindakan untuk Alloh).

Ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dari keduanya, yaitu tingkatan para muqarrabinAL-Muwakhhidiin (haqiqat) yaitu orang” yang didekatkan oleh Alloh pada-Nya dengan melalui panggilan (HIDAYATU AL-IMAAN BI AL-TAUHID) .

Istilah ini dipakai dalam dunia sufi untuk menunjukkan bahwa kedekatan pada Alloh pada hakikatnya bukan hal yang dicapai tapi diberi sehingga istilahnya adalah “Yang didekatkan”, bukannya “Yang mendekatkan diri” atau pun “Yang sudah dekat”).

Dalam tingkatan tertinggi ini, seorang salik tidak lagi melihat adanya peran dirinya sendiri dalam amal perbuatan yang ia lakukan. Baginya semua apa yang terjadi di dunia ini murni dengan kehendak Alloh tanpa campur tangan siapa pun.

Amal perbuatannya dianggap bagian dari kehendak & kuasa Alloh itu dan karenaNya hanya Alloh yang berperan di dalamnya, bukan dirinya sendiri sehingga dalam hatinya sama sekali tidak terbesit adanya minta balasan atau merasa bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu untuk dipersembahkan pada Alloh (TABARRI ‘AN KHAULII MA’AL QUWWATI LILLAH) .

Ulama ahli TAUHID menyebut tingkatan muqarrabin ini sebagai tingkatan iyyaka nasta’in (hanya kepad-Mu kami minta tolong) dalam arti kami tidak minta tolong dengan apapun selain-Mu, tidak dengan diri kami, daya kami atau pun kekuatan kami sendiri.

Jika tingkatan sebelumnya adalah al-‘amal lillah (tindakah untuk Alloh), maka tingkatan ini adalah al-‘amal billah (tindakan sebab/dengan Alloh). Ini adalah tingkatan tauhid yang sempurna yang sesuai dengan makna la hawla wa la quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh).

Seorang syeikh imam al-ghozali ra berpesan :

ﺻﺤﺢ ﻋﻤﻠﻚ ﺑﺎﻻﺧﻼﺹ ﻭﺻﺤﺢ ﺍﺧﻼﺻﻚ ﺑﺎﻟﺘﺒﺮﻱ ﻋﻦ ﺣﻮﻝ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﻟﻠﻪ
“Perbaiki tindakanmu dengan ikhlas dan perbaiki keikhlasanmu dengan membebaskannya dari daya dan kekuatanmu kecuali dengan daya & kekuatannya alloh semata”.

Masing-masing Tindakan / amaliyah melahirkan suatu bentuk hikmah tersendiri.
Misalnya, hati telah sadar akan keutamaan puasa sunah, maka secara otomatis akan menjadi pendorong untuk melakukan ibadah puasa sunah.

Bila di hati telah timbul kesadaran tentang keutamaan bersikap lemah lembut, maka akan menjadi pendorong untuk timbulnya sikap lemah lembut dan begitu seterusnya. Tiap perbuatan lahiriyah selalu mengikuti kecenderungan-kecenderungan bathiniyah. Apabila batinnya telah cenderung pada hal-hal tertentu, maka raga pun akan terdorong untuk melakukannya.

Sebaiknya seorang salik (penempuh jalan kesufian) mengikuti kecenderungan hatinya tersebut agar ibadahnya menjadi maksimal, bukan mengikuti kecenderungan hati orang lain. Semisal, seseorang dianugerahi kemantapan dan kesenangan untuk mengkhotamkan al-Qur’an melebihi kesenangannya melakukan ibadah lain, maka ikuti saja kemauan hati itu dengan banyak-banyak
mengkhatamkan al-Qur’an. Tak perlu dia buru-buru ingin mengikuti langkah Guru
A. yang ahli wirid semalaman atau Guru
B. yang ahli belajar dan mengajar sehari semalaman penuh atau Guru
C. yang ahli puasa setiap hari atau Guru
D. yang ahli sholat sunah ratusan rakaat tiap harinya dan sebagainya.pelajari pelan-pelan
syarat sahnya belajar dengan bimbingan sang ahli di bidangnya ????

Bila saja bila muridiin dan muhibbiin terburu-buru mengikuti langkah orang lain yang pada dasarnya dianugerahi motivasi hati yang berbeda oleh Alloh, maka kemungkinan ibadah yang dia lakukan tidak akan maksimal hikmahnya.Biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya. Tekuni saja apa yang menjadi kecenderungan hatimu hingga nanti Alloh memberimu kecenderungan hati untuk melakukan hal-hal yang lain lagi sebagai tanda tingkatanmu telah bertambah.
Tatkala itu terjadi, tambahlah amalanmu dengan amalan lain yang sesuai dengan kecenderungan hati yang baru itu.