Tampilkan postingan dengan label ASWAJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASWAJA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2015

HADROTUSSYAIKH KH HASYIM ASY'ARI BICARA TENTANG WAHABI

Bagaimana Wahabi Salafi dalam Pandangan Hadhrotus Syaikh KH Hasyim Asyari rohimahulloh ?

Pada masa hidup KH Hasyim Asyari di Indonesia ternyata sudah mulai merebak kabar buruk tentang sekte Wahabi yang sekarang lebih suka menyebut diri sebagai Salafi. Di sini jika kami menyebut Wahabi salafi maka maksudnya sama dengan Salafi Wahabi.

Walaupun dalam penjelasan di kitabnya , KH Hasyim Asyari tidak menyebut langsung Wahabi atau Salafi tetapi yang dimaksud oleh KH Hasyim Asyari adalah Wahabi atau Salafi di zaman sekarang.

بسم ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ ﻭﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﻭﻟﻴﻦ ﻭﺍﻵﺧﺮﻳﻦ، ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﺍﻫﺘﺪﻯ ﺑﻬﺪﻳﻪ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ .

Membaca beberapa artikel yang diposting di beberapa situs milik Wahabi Salafi yang mencatut nama Hadlrotus Syaikh KH Hasyim Asyari khususnya menyangkut peringatan beliau bagi para pelaku kemungkaran dalam acara Maulid Nabi, kami terpanggil untuk menjelaskan maksud yang sebenarnya. Sejatinya peringatan beliau tersebut bertujuan guna menghilangkan atau setidaknya
meminimalisir kemungkaran yang terjadi dalam peringatan Maulid Nabi. Namun oleh para Ustadz yang tidak memahami permasalahan, peringatan-peringatan dari KH Hasyim Asyari tersebut telah dibelokkan untuk melarang atau memerangi acara Peringatan Maulid Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.

Berikut sikap dan pandangan Hadlrotus Syaikh KH Hasyim Asyari tentang WAHABI SALAFI yang tertuang dalam kitab beliau “RISALAH AHLIS SUNNAH WALJAMA’AH”

ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻓﺮﻗﺔ ﻳﺘﺒﻌﻮﻥ ﺭﺃﻱ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪﻩ ﻭ ﺭﺷﻴﺪ ﺭﺿﺎ , ﻭﻳﺄﺧﺬﻭﻥ ﺑﺪﻋﺔﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ﺍﻟﻨﺠﺪﻯ , ﻭ ﺍﺣﻤﺪ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻭﺗﻠﻤﺬﻳﻪ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﻴﻢ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻬﺎﺩﻯ , ﻓﺤﺮﻣﻮﺍ ﻣﺎ ﺍﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻧﺬﺑﻪ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺴﻔﺮﻟﺰﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ, ﻭﺧﺎﻟﻔﻮﻫﻢ ﻓﻴﻤﺎ ﺫﻛﺮﻭﻏﻴﺮﻩ , ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺗﻴﻤﻴﺔ ﻓﻲ ﻓﺘﺎﻭﻳﻪ : ﻭﺍﺫﺍ ﺳﺎﻓﺮ ﻻﻋﺘﻘﺎﺩﻩ ﺍﻧﻬﺎ ﺍﻱ ﺯﻳﺎﺭﺓ ﻗﺒﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻃﺎﻋﺔ ﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺤﺮﻣﺎ ﺑﺈﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ , ﻓﺼﺎﺭ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ ﻣﻦ ﺍﻻﻣﺮ ﺍﻟﻤﻘﻄﻮﻉ ﺑﻪ .

Dan diantara golongan-golongan tersebut adalah kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridho, mereka juga mengambil Bid’ahnya Muhammad Bin Abdil Wahab An
Najdi, Ahmad Ibnu Taimiyyah dan dua orang muridnya yakni Ibnul Qoyyim dan Ibnu Abdil Hadi. Mereka mengharamkan apa yang telah disepakati Ummat Islam sebagai kesunnahan yakni
bepergian untuk berziyarah ke makam Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, mereka menyelisihi ummat Islam dalam hal tersebut juga hal-hal yang lain.

Ibnu Taimiyyah berkata dalam Fatwanya : “Jika seseorang bepergian karena meyakini bahwa Ziyarah ke makam Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam adalah bentuk ketaatan (Ibadah) maka hal tersebut diharamkan berdasarkan kesepakatan Ummat Islam , maka jadilah hukum haram sebagai hukum (perkara) yang pasti.”

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﺨﻴﺖ ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ ﺍﻟﻤﻄﻴﻌﻲ ﻓﻲ ﺭﺳﺎﻟﺘﻪ ﺍﻟﻤﺴﻤﺎﺓ ” ﺗﻄﻬﻴﺮ ﺍﻟﻔﺆﺍﺩ ﻣﻦ ﺩﻧﺲ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ” : ﻭﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﺮﻳﻖ ﻗﺪ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻮﻥ ﺑﻜﺜﻴﺮ ﻣﻨﻬﻢ ﺳﻠﻔﺎ ﻭﺧﻠﻔﺎ, ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻭﺻﻤﺔ ﻭﺛﻠﻤﺔ ﻓﻰﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻭﻋﻀﻮﺍ ﻓﺎﺳﺪﺍ ﻳﺠﺐ ﻗﻄﻌﻪ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻌﺪﻯ ﺍﻟﺒﺎﻗﻰ, ﻓﻬﻮﻛﺎﻟﻤﺤﺬﻭﻡ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﻔﺮﺍﺭ ﻣﻨﻪ ,

Al ‘Allamah As Syaikh Bakhit Al Hanafi Al Muthi’iy berkata dalam risalahnya yang bertajuk “That-hirul Fuad Min Danasil I’tiqod” (Membersihkan Hati Dari Keyakinan/Aqidah Kotor) : “Sungguh Ummat Islam baik salaf maupun kholaf telah diuji/mendapat mushibah dengan adanya sebagian besar kelompok
ini. Mereka ( wahabi / salafi ) bagaikan cacat dan pecahan dalam tubuh ummat Islam . Mereka bagaikan anggota tubuh yang rusak (sakit) dan wajib untuk diamputasi agar tidak menular kepada yang lain. Kelompok ini bagaikan orang yang terkena lepra yang wajib dihindari….

ﻓﺎﻧﻬﻢ ﻓﺮﻳﻖ ﻳﻠﻌﺒﻮﻥ ﺑﺪﻳﻨﻬﻢ , ﻳﺬﻣّﻮﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺳﻠﻔﺎ ﻭﺧﻠﻔﺎ, ﻭﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : “ﺃﻧﻬﻢ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺼﻮﻣﻴﻦ ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺗﻘﻠﻴﺪﻫﻢ , ﻻ ﻓﺮﻕ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﻴﻦ ﺍﻻﺣﻴﺎﺀﻭﺍﻻﻣﻮﺍﺕ .” ﻭﻳﻄﻌﻨﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻳﻠﻘﻮﻥ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ, ﻭ ﻳﺬﺭﻭﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﻋﻴﻮﻥ ﺑﺼﺎﺋﺮ ﺍﻟﻀﻌﻔﺎﺀ , ﻟﺘﻌﻤﻲ ﺍﺑﺼﺎﺭﻫﻢ ﻋﻦ ﻋﻴﻮﺏ ﻫﺆﻻﺀ , ﻳﻘﺼﺪﻭﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﺍﻟﻘﺎﺀ ﺍﻟﻌﺪﺍﻭﺓ ﻭ ﺍﻟﺒﻐﻀﺎﺀ ﺑﺤﻠﻮﻟﻬﻢ ﺍﻟﺠﻮّ, ﻭﻳﺴﻌﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻻﺭﺽ ﻓﺴﺎﺩﺍ …

Sungguh mereka adalah kelompok yang mempermainkan agama , mereka mencela para ulama baik salaf maupun kholaf (dahulu dan sekarang), mereka ( SaWah) berkata : “ Sungguh mereka (para ulama ) adalah tidak ma’shum (tidak terjaga dari kesalahan), maka tidak patut mengikuti (taqlid) pada mereka, tidak ada bedanya baik para ulama ’ yang telah wafat maupun masih hidup”…. mereka ( SaWah) menyerang para ulama dan membuat syubhat-syubhat yang mereka sebarkan dimata kaum awam guna menutupi aib mereka, itu semua mereka lakukan dengan tujuan menciptakan konflik/ permusuhan dan kebencian, mereka berbuat kerusakan dimuka bumi ini…..

Selanjutnya As Syaikh Bakhit berkata :

ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺬﺏ ﻭﻫﻢ ﻳﻌﻠﻤﻮﻥ, ﻳﺰﻋﻤﻮﻥ ﺍﻧﻬﻢ ﻗﺎﺋﻤﻮﻥ ﺑﺎﻻﻣﺮﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ, ﺣﺎﺿﻮﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﺍﺟﺘﻨﺎﺏ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﺸﻬﺪ ﺍﻧﻬﻢ ﻟﻜﺎﺫﺑﻮﻥ .… ﻗﻠﺖ : ﻭﻟﻌﻞ ﻭﺟﻬﻪ ﺍﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭ ﺍﻻﻫﻮﺍﺀ .

Mereka ( Salafi / Wahabi ) mengatakan hal yang dusta terhadap Allah padahal mereka mengtahui itu, mereka mengira bahwa diri mereka sedang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, serta mendorong manusia agar mengikuti syariat dan menjahui bid’ah… dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta. Aku (As Syaikh Bakhit) katakan : Mungkin (melihat) penampilan mereka… merekalah ahli bid’ah dan ahlil hawa….

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻘﺎﺽ ﻋﻴﺎﺽ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﻔﺎ : ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻌﻈﻢ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺪﻳﻦ, ﻭﻗﺪﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺍﻣﺮ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﻤﺎ ﻳﻠﻘﻮﻥ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺪﺍﻭﺓ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔﺗﺴﺮﻱ ﻟﺪﻧﻴﺎﻫﻢ, ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻣﻼّ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻘﺎﺭﻯ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ : ﻭﻗﺪ ﺣﺮﻡﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﺍﻟﻤﻴﺴﺮ ﻟﻬﺬﻩ ﺍﻟﻌﻠﺔ, ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ :ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُﺃَﻥْ ﻳُﻮﻗِﻊَ ﺑَﻴْﻨَﻜُﻢُ ﺍﻟْﻌَﺪَﺍﻭَﺓَ ﻭَﺍﻟْﺒَﻐْﻀَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻴْﺴِﺮِ

Al Qodhi ‘Iyadh dalam kitabnya As Syifa berkata : “Kerusakan terbesar yang mereka lakukan adalah pada agama, dan terkadang merembet ke dalam urusan dunia akibat perseteruan agama yang mereka ciptakan bisa menjalar menjadi perseteruan dalam urusan dunia, (anda dapat membuktikannya dengan apa yang terjadi di sebagian Negara di Timur seperti Mesir, Libiya, Syiria dll).

Al ‘Allamah Mulla Ali Al Qori berkata dalam syarahnya : “Sungguh Allah telah mengharamkan khomer dan perjudian karena alasan ini (dapat menimbulkan konflik / permusuhan. red) sebagaimana yang telah Allah Firmankan : “Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu…” QS. Al Maidah: 91.

Demikian apa yang ditulis oleh Hadhrotus Syaikh KH Hasyim Asyari tentang Wahabi Salafi dalam kitab beliau “Risalah Ahlis Sunnah Wal Jama’ah” hlm : 9-10.

Semoga bermanfaat dan menjadi perhatian kita apa yang telah disampaikan oleh KH Hasyim Asyari , guna mensikapi Fenomena Wahabi Salafi .

Namun demikian kami berharap agar segenap saudara-saudaraASWAJA di samping mempertahankan Manhaj / Ajaran Ahulus Sunnah hendaknya dipertahankan pula akhlaq Ahlus Sunnah, dan tidak mudah terpancing…. Cukup kita buktikan dengan hujjah dan argument yang ilmiyah…, sebagaimana dicontohkan tulisan ilmiyyah dari KH Hasyim Asyari yang telah kami kutipkan di atas.
ﻫﺪﺍﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻳﺎﻛﻢ ﺍﻟﻰ ﻣﺎﻳﺤﺒﻪ ﻭﻳﺮﺿﻰ

Kamis, 29 Mei 2014

AHLUSSUNNAH WALJAMA'AH (AL FIRQOTUNNAJIYAH)

PENJELASAN AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH AQIDAH YANG SHOHIH.

Assalamulaikum,

Alhamdulillah, di sini saya sertakan penerangan yang jelas dan
lengkap tentang Ahlus Sunah Wal Jama’ah.Maklumat ini
dikumpulkan daripada kitab-kitab para Ulama’ ASWJ.
Semoga kita semua kekal dalam Aqidah ASWJ yang shohih dan
bukan seperti yang dicanang oleh sesetengah golongan ajaran
sesat.

AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT (al
Firqah an-Najiyah)

Bersabda Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW,
maknanya:“dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi
73 golongan, 72 di antaranya di neraka dan hanya satu yang di
surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)
Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’.
Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama
al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq
(pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal,
mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran-
ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau
menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam
agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai
peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeza dengan golongan
falsafah yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal
lainnya yang hanya berdasarkan penilaian akal semata-mata.
Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang
ajaran yang dibawa para nabi dan rasul.

Tuduhan kaum Musyabbihah dan Mujassimah iaitu kaum yang
sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap
Ahlussunnah Wal Jamaah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya
mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh
al-Mu’tazilah (anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan
kerana menggunakan akal sebagai salah satu sumber utama,
adalah tuduhan yang amat salah. Ini tidak ubah seperti kata
pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek
adalah senjata para pengecut). Secara ringkas tetapi namun
padat, kita ketengahkan pembahasan tentang Ahlussunnah
sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-
usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistemnya.

PENGENALAN DAN KRONOLOGI SEJARAH

Sejarah mencatat bahawa di kalangan umat Islam bermula dari
abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali
ibn Abi Thalib) sehinggalah sekarang terdapat banyak firqah
(golongan) dalam masalah aqidah yang saling bertentangan di
antara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah.

Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan
bahawa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Semua ini
sudah tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah
tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Hanya Allah
yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga
telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita ikuti dan panuti
agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Iaitu dengan mengikuti
apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; majoriti umat Islam. Karena
Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad,
bahawa umatnya tidak akan tersesat selama mana mereka
berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan
mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan.
Kesesatan akan menimpa mereka yang menyimpang dan
memisahkan diri dari keyakinan majoriti.

Majoriti umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah
Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan
orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad
(dasar-dasar aqidah); iaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar
iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadith
Jibril uang bermaksud : “Iman adalah engkau mempercayai
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun
buruk”. (H.R. al Bukhari dan Muslim)
Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai majoriti umat
Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah
tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang
bermaksud: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti
sahabat-sahabatku, kemudian mengikuti orang-orang yang
datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah
mereka“. Dan termasuk rangkaian hadith ini: “Tetaplah bersama
al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai
orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh,
maka barang siapa menginginkan tempat lapang di syurga
hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”.
(H.R. at-Tirmidzi; berkata hadith ini Hasan Shahih juga hadith
ini dishahihkan oleh al-Hakim).

Al-Jama’ah dalam hadith ini tidak boleh diertikan dengan orang
yang selalu melaksanakan solat dengan berjama’ah, jama’ah
masjid tertentu. Konteks pembicaraan hadith ini jelas
mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah
majoriti umat Muhammad dari sisi jumlah(‘adad). Penafsiran ini
diperkuatkan juga oleh hadith yang dinyatakan di awal
pembahasan. Iaitu hadith riwayat Abu Daud yang merupakan
hadith Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang
sahabat. Hadith ini memberi kesaksian akan kebenaran majoriti
umat Muhammad bukan kesesatan firqah-firqah yang
menyimpang. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyimpang
ini, jika dibandingkan dengan pengikut Ahlussunnah Wal
Jama’ah sangatlah sedikit. Seterusnya di kalangan Ahlussunnah
Wal Jama’ah terdapat istilah yang popular iaitu “ulama salaf”.
Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan
Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama
hijriyah sebagaimana sabda nabi yang maknanya: “Sebaik-baik
abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian
abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)

Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mula tercetus
bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lain-lainnya dari
kelompok-kelompok yang membuat fahaman atau mazhab baru.
Kemudian muncullah dua imam muktabar pembela Aqidah
Ahlussunnah iaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan
Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah
meridhai keduanya–menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal
Jama’ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-
orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil
naqli (nas-nas al-Quran dan Hadith) dan dalil-dalil aqli
(argumentasi rasional) disertaikan dengan bantahan-bantahan
terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk
mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan Mu’tazilah,
Musyabbihah, Khawarij dan ahli bid’ah lainnya.

Disebabkan inilah Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya.
Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenali dengan
nama al-Asy’ariyyun (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy’ari)
dan al-Maturidiyyun (para pengikut Imam Abu Manshur al-
Maturidi). Hal ini menunjukkan bahawa mereka adalah satu
golongan iaitu al-Jama’ah. Kerana sebenarnya jalan yang
ditempuhi oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah
adalah sama dan satu. Adapun perbezaan yang terjadi di antara
keduanya hanyalah pada sebahagian masalah-masalah
furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya
saling berhujah dan berdebat atau saling menyesatkan, serta
tidak menjadikan keduanya terlepas dari ikatan golongan yang
selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbezaan antara al-Asy’ariyyah
dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti perselisihan yang terjadi
di antara para sahabat nabi, tentang adakah Rasulullah melihat
Allah pada saat Mi’raj? Sebahagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan
Ibn Mas’ud mengatakan bahawa Rasulullah tidak melihat
Tuhannya ketika Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas
mengatakan bahawa Rasulullah melihat Allah dengan hatinya.
Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi
Muhammad atau membuka hijab sehingga dapat melihat Allah.
Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap
bersama atau bersefahaman dan sehaluan dalam dasar-dasar
aqidah. Al-Hafiz Murtadha az-Zabidi (W. 1205 H)

mengatakan:“Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka
yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (Al-
Ithaf Syarah li Ihya Ulumuddin, juz 2 hlm 6)

Maka aqidah yang sebenar dan diyakini oleh para ulama salaf
yang soleh adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan
al-Maturidiyyah. Kerana sebenarnya keduanya hanyalah
merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah (method)
dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul
serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang
diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para
pengikut madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang
utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah).

Aqidah ini diajarkan di pondok-pondok Ahlussunnah di negara
kita Malaysia,Indonesia,Thailand dan lain-lainnya.Dan
Alhamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum
muslimin di seluruh dunia seperti Brunei, India, Pakistan, Mesir
(terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syria, Jordan, Lubnan
dan Palestin), Maghribi,Yaman, Iraq, Turki, Chechnya,
Afghanistan dan banyak lagi di negara-negara lainnya.
Maka wajib bagi kita untuk sentiasa memberi penuh perhatian
dan serius dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang
merupakan aqidah golongan majoriti. Kerana ilmu aqidah
adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau
dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh
al-Akbar. Kerana mempelajari ilmu ini wajib diutamakan dari
mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah selesai atau khatam
mempelajari ilmu ini barulah disusuli dengan ilmu-ilmu Islam
yang lain. Inilah method yang diikuti para sahabat nabi dan
ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam
mempelajari agama ini. Tradisi ini telah bermula dari zaman
Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar dan
Jundub, maknanya: “Kami ketika remaja saat mendekati baligh-
bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum
mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an
maka bertambahlah keimanan kami”. (H.R. Ibnu Majah dan
dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).

Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal ini kerana
ramainya golongan yang menyalahgunakan nama Islam namun
menentang aqidah Islam yang sebenar dan banyaknya kalam
(argumentasi) dari setiap golongan untukmembela aqidah
mereka yang sesat. Tidak semua ilmu kalam itu tercela,
sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok
yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi
ilmu kalam terbahagi menjadi dua bahagian ; ilmu kalam yang
terpuji dan ilmukalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua
inilah yang menyalahi aqidah Islam kerana dikarang dan
dipelopori oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah,
Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan
makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya.

Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang
dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang
sesat. Dikatakan terpuji kerana pada hakikatnya ilmu kalam
Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah
dalam formatnya yang sistematik dan argumentatif; dilengkapi
dengan dalil-dalil naqli dan aqli. Dasar-dasar ilmu kalam ini
telah wujud di kalangan para sahabat. Di antaranya, Imam Ali
ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kukuh dapat
mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah dan juga dapat
membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa
Allah adalah jisim (benda). Demikian pula Abdullah ibn Abbas,
Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Umar juga
membantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in;
Imam al-Hasan al-Bashri, Imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-
Hanafiyyah; cucu Saidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar
ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah.

Kemudian juga para imam dari empat mazhab; Imam Syafi’i,
Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad juga
menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana
dinukilkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H)
dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W
571 H) dalam kitab Tabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-
Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami’ dan al
‘Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram
dan lain-lain. Allah berfirman yang bermaksud: “Maka
ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu”.
(Muhammad :19) Ayat ini sangat jelas mengisyaratkan
keutamaan ilmu ushul atau tauhid. Yaitu dengan menyebut
kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah
untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama. Ketika
Rasulullah ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau
Menjawab,maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R.
Bukhari)

Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah mengkhususkan
dirinya sebagai orang yang paling mengerti dan faham ilmu
tauhid, beliau bersabda,maknanya: “Akulah yang paling
mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-
Nya”. (H.R. Bukhari)

Kerana itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab
khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah
ini. Seperti Risalah al-’Aqidah ath-Thahawiyyah karya al-Imam
as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al‘Aqidah an-
Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H),
al-‘Aqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn
‘Asakir (W 630 H), al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh
al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau
menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian
menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-
Ayyubi (W 589 H).

Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan
Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau
memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil
di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut
dikenal dengan nama al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah. Sultan
Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i,
mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al ‘Aqidah as-
Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk
mengumandangkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih
(sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh
negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah,
Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh
as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il
dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang
telah dikarang dalam menjelaskan al ‘Aqidah as-Sunniyyah dan
senantiasa penulisan itu terus berlangsung. Kita memohon
kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa
aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para
nabi dan rasul Allah. Amin.

PANDANGAN JUMHUR ULAMA TENTANG AQIDAH ASY’ARIYYAH;
AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-
Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab
baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf,
menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan
nama kepadanya kerana beliau konsisten dalam berpegang teguh
ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau gunakan sebagai
landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang
menjadi hujjah para pendahulunya, kerananya para pengikutnya
kemudian disebut Asy’ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah
ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal
Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang
Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat
ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah
penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam
Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti
Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada
pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik
menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih
terang, jelas dan sistematis demikian juga yang dilakukan oleh
Abu al-Hasan al-Asy’ari”.

Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa
“kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang
dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para
sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan
tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini
sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri.
Dan Alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan
saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal
dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita.
Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:

ﻭﻛﻦ ﺃﺷﻌﺮﻳﺎ ﻓﻲ ﺍﻋﺘﻘﺎﺩﻙ ﺇﻧﻪ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻨﻬﻞ ﺍﻟﺼﺎﻓﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻳﻎ ﻭﺍﻟﻜﻔﺮ “
Jadilah pengikutnya
Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber
yangbersih dari kesesatan dan kekufuran”.

Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al
Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : “Ahlussunnah Wal Jama’ah
adalah al Asya’irah dan al Maturidiyyah”. Dalam kitab ‘Uqud al
Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan :
“Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah
sebagaimana Aqidah para ulama madzhab syafi’i dan Kaum
Ahlussunnah Shufiyyah”. Bahkan jauh sebelum mereka ini Al-
Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahawa aqidah al
Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i,
madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari
madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah). Apa yang dikemukakan
oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di
masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama
Madzhab Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan
ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam
at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin
as-Subki.

GARIS PANDUAN AQIDAH ASY'ARIYAH

Secara garis besar aqidah asy’ari yang juga merupakan aqidah
ahlussunnah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala
maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda
yang boleh digambarkan, dan juga bukan benda yang berbentuk
dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari
makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai’). Allah ada dan tidak ada
permulaan atau penghabisan bagi kewujudan-Nya, Allah maha
kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Allah tidak
diliputi arah. Allah ada sebelum menciptakan tempat tanpa
tempat, Allah wujud setelah menciptakan tempat dan tanpa
bertempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya bila, dimana dan
bagaimana ada-Nya. Allah ada tanpa terikat oleh masa dan
tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-
sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil.

Allah tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Allah
tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk,
bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya,
berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya. Allah tidak
terjangkau oleh fikiran dan tidak terbayang dalam ingatan,
kerana apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak
seperti itu. Allah maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa,
maha mendengar dan maha melihat. Allah berbicara dengan
kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga
azali, kerana Allah berbeza dengan semua makhluk-Nya dalam
dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah
dengan sifat makhluknya sungguh dia telah kafir. Allah yang
telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Alah
juga yang menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada yang
boleh menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang boleh
menghalangi pemberian-Nya. Allah berbuat dalam kerajaan-Nya
ini apa yang Allah kehendaki. Allah tidak ditanya perihal
perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta
dipertanggungjawakan atas segala perbuatan-Nya. Apa yang
Allah kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Allah kehendaki
tidak akan terjadi. Allah bersifat dengan kesempurnaan yang
pantas bagi-Nya dan Allah maha suci dari segala bentuk
kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan
penghulu para rasul. Nabi Muhammad diutuskan oleh Allah ke
muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun
manusia. Nabi Muhammad jujur dalam setiap apa yang
disampaikannya.

Golongan Ahlussunnah menurut Imam al-Baghdadi

Golongan Ahlussunnah menurut Imam al-Baghdadi
http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?
y=2009&dt=1223&pub=Utusan_Malaysia&sec=Bicara_Agama&pg=ba_02.htm
Oleh DR. ASMADI MOHAMED NAIM

SAYA membaca tulisan mengenai makna atau definisi Ahlu al-sunnah wal
Jamaah (ASWJ) daripada seorang penulis mingguan pada pertengahan
November 2009 lepas. Penulis mengutip definisi Ahlussunnah yang ditulis oleh
Imam al-Baghdadi (wafat429H) dalam kitabnya, al-Farq Baina al-Firaq .
Namun malangnya perkataan al-turuq al-sifatiah atau ‘jalan-jalan sifat’ dalam
definisi tersebut diabaikan. Walhal, itulah antara perkara yang penting untuk
menentukan sama ada tauhid yang mensyarahkan sifat-sifat 20 adalah sesuatu
yang baru atau sememangnya sudah lama.

Padahal saya, ada sedikit masalah ‘ketidakjujuran ilmu’, bila dia tidak
menerangkan secukupnya maksud al-Baghdadi apabila mensyarahkan
pengertian ASWJ.

Demikian juga, ada sebuah lagi penulisan yang menceritakan aliran pemikiran
tauhid di Nusantara, yang merujuk bahawa aliran yang mensyarahkan Sifat 20
hanyalah muncul selepas tahun 1,000 Hijrah melalui Imam Sanusi dengan
kitabnya Umm al-Barahin .

Penulis tidak merujuk kemunculan metod tersebut kepada penyusunnya yang
sebenar iaitu Abu Hassan al-Asy’ari (wafat324H) yang muncul pada akhir
kurun ke 3 Hijrah. Ini masalah ‘sikap amanah’ dalam penulisan.
Dalam kesempatan ini, saya hanya mahu menjelaskan siapakah Ahlussunnah
menurut penulisan Imam al-Baghdadi yang telah menjadi rujukan definisi ASWJ
supaya pembaca dapat memahaminya secara jelas.

Beliau menyatakan (hal.19): “Maka golongan yang ke 73 ialah Ahli Sunnah Wal
Jamaah iaitu golongan ahl al-ra’y (Ibu Hanifah dan murid-muridnya) dan ahlu
al-hadis; bukan mereka yang mempermain-mainkan hadis; dan ulama fikah
mereka, penghafal al-Quran mereka, perawi hadis daripada mereka, dan ulama
hadis di kalangan mereka, semuanya sepakat atas keesaan Pencipta, keesaan
sifat-sifat-Nya, keadilan-Nya, hikmah-Nya dan nama-nama-Nya dan pada bab
kenabian dan kepimpinan, hukum hudud dan pada perkara usuluddin.”
Seterusnya, Imam al-Baghdadi Rahimahullah memperincikan lapan golongan
yang termasuk dalam Ahlusunnah wal Jamaah (lihat bukunya dari halaman
240-243):

lGolongan pertama, mereka yang menguasai ilmu khususnya dalam bab Tauhid
(meng-esa-kan Allah) dan kenabian, hukum-hukum wa’ad (khabar gembira)
dan wa’id (ancaman seksa), pahala dan balasan, syarat-syarat ijtihad,
pemerintahan dan kepimpinan. Mereka yang melalui jalan ini ialah ulama Kalam
(Tauhid) yang bebas dari fahaman tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan
makhluk) dan bebas daripada fahaman ta’til (yang menafikan sifat-sifat yang
Azali bagi Allah SWT), dan bebas daripada bidaah al-Rafidhah, Khawarij,
Jahmiah, Najariah dan seluruh pengikut bidaah dan hawa nafsu.

lGolongan kedua ialah imam-imam fiqh sama ada kumpulan yang cenderung
pada rakyun (dalil aqal) atau hadis. Iaitu mereka yang beriktikad
(berkeyakinan) pada perkara usuluddin dengan mazhab-mazhab sifat pada
Allah dan pada sifat-sifatnya yang azali (membicarakan sifat-sifat Allah SWT
sebagaimana sifat 20), dan mereka bebas daripada fahaman Qadariah dan
Muktazilah; mereka menetapkan melihat Allah Taala dengan mata (di akhirat
kelak) dengan mata tanpa tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk),
tanpa ta’til’ (menafikan sifat-sifat Allah). Termasuk dalam golongan ini ialah
murid-murid kepada Malik, al-Shafie, al-Auza’i, al-Thauri, Abu hanifah, Ibn Abu
Laila (wafat148H), sahabat-sahabat Abu Thaur (wafat240H), sahabat-sahabat
Ahmad bin Hanbal (wafat241H), ahli al-Zahir, keseluruhan ulama fiqh yang
beriktikad dalam bab-bab akal ini dengan prinsip-prinsip Sifat (tauhid yang
membahaskan Sifat-sifat Allah). Dan mereka tidak mencampurkannya dengan
apa-apa daripada ahli bidaah dan hawa nafsu.

lGolongan ketiga ialah mereka yang menguasai ilmu-ilmu yang berkaitan
dengan periwayatan hadis dan sunnah yang disampaikan oleh Nabi SAW,
mereka berupaya membezakan antara sahih dan cacat antaranya, mengetahui
sebab-sebab al-jarh wa al-ta’dil (kredibiliti seorang rawi) dan mereka tidak
memasukkan ilmu mereka dengan apa-apa daripada ahli bidaah dan nafsu yang
menyesatkan.

lGolongan keempat ialah kaum yang menguasai kebanyakan topik-topik sastera
Arab, nahu dan saraf. Mereka berada atas jalan pakar bahasa seperti al-Khalil
(wafat175H), Abu ‘Amr bin al-’Ala (wafat 145), Sibawaih (wafat 180H), al-
Farra’ (wafat 207H), al-Akhfash (wafat 215H), al-Asma’i, al-Mazini (wafat
236H), Abu Ubaid (wafat 224H) dan seluruh imam-imam Nahu sama ada
ulama-ulama Kufah atau Basrah, yang mana mereka tidak mencampurkan ilmu
mereka dengan sesuatu daripada bidaah al-Qadariah, atau Rafidhah atau
Khawarij.Maka sekiranya seseorang itu cenderung ke arah nafsu yang
menyesatkan, maka bukanlah ia daripada golongan Ahlussunnah walaupun
kata-katanya adalah ‘hujah’ dalam ilmu bahasa dan Nahu.

lGolongan kelima, antaranya ialah mereka yang menguasai ilmu yang berkaitan
dengan jenis-jenis qiraat untuk al-Quran dan jenis-jenis tafsiran al-Quran,
penakwilannya berdasarkan mazhab-mazhab Ahlussunnah, tanpa berpegang
dengan takwilan ahli nafsu yang sesat.

lGolongan keenam ialah, antaranya ialah para ahli zuhud sufi yang mempunyai
ilmu maka jauh pandangan, yang telah dinilai maka ia diiktibarkan, mereka reda
dengan hidup yang ringkas, mereka mengetahui bahawa penglihatan,
pendengaran dan hati dipertanggungjawabkan terhadap kebaikan dan
kejahatan; menghisab dengan neraca zarah-zarah, justeru menyediakan diri
mereka dengan sebaik-baik persiapan untuk hari Kiamat. Perkataan mereka
berjalan di atas dua jalan iaitu secara jelas dan isyarat di atas jalan ahli hadis,
tanpa mereka ‘membeli’ pandangan yang mempermainkan hadis. Mereka tidak
melakukan kebaikan kerana riak, tidak pula meninggalkan kebaikan kerana malu
kepada orang lain. Agama mereka hanya satu dan menafikan pentasybihan
(menyerupakan Allah dengan makhluk), mazhab mereka ialah tafwidh
(menyerahkannya) kepada Allah SWT, bertawakal kepada-Nya, penyerahan
kepada-Nya, tenang dengan apa yang direzekikan-Nya.

lGolongan ketujuh ialah, antaranya kaum yang terikat dengan barisan hadapan
peperangan dengan orang-orang kafir, berjihad melawan musuh-musuh Islam,
mereka menjadi benteng melindungi umat Islam, meninggalkan isteri-isteri
mereka dan negara mereka dan menzahirkan pada barisan hadapan mereka
Mazhab ASWJ.

lGolongan kelapan ialah, antaranya kebanyakan negara-negara yang secara
kebiasaannya terdapat syiar ASWJ, bukannya negara yang menzahirkan syiar
ahli hawa-nafsu yang sesat.

Itulah huraian sebenar al-Imam Abdul Qahir bin Tohir bin Muhammad al-
Baghdadi. Rupanya, ramai sebenarnya yang diiktiraf sebagai Ahlussunnah. Ia
berbeza dengan pandangan yang meminoritikan dan mengeksklusifkan ASWJ
hanya untuk golongannya sahaja, dengan tuduhan sesat dan bidaah pada
perkara remeh-temeh seperti qunut, talkin, zikir selepas solat, berdoa beramai-
ramai dan sebagainya.

Lihat kata Imam al-Baghdadi tentang perkara-perkara cabang (hal. 19):
“Mereka (ASWJ) hanya khilaf mengenai halal dan haram pada cabang hukum,
bukanlah khilaf tersebut mengundang kepada sesat dan fasik; mereka adalah
puak yang terselamat, kerana mereka bersatu pada keesaan Pencipta dan
qidam-Nya, qidam segala sifatnya sejak azali, dan harus melihat-Nya tanpa
sebarang perumpamaan dan gangguan, serta yakin terhadap isi kandungan
kitab-Nya dan rasul-Nya, dan mengikut segala syariat Islam dan menghalalkan
segala yang dihalalkan oleh al-Quran, dan mengharamkan segala yang diharam
oleh al-Quran serta menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW dan
beriman pada hari kebangkitan dan perhitungan, dan soal dua Malaikat dalam
kubur, beriman dengan telaga Kauthar dan Timbangan.

Semoga masyarakat Islam tidak terbelenggu dengan perpecahan yang lebih
parah, lantaran perkara-perkara tersebut.

Banyak masa yang perlu digunakan untuk memperbetulkan generasi muda yang
menyongsang arus dengan pelbagai gejala sosial. Wallahu a’lam.