Rabu, 25 Juni 2014

Tiga Indikasi Kemenangan jiwa

Tiga Indikasi Kemenangan jiwa

Persiapan Khutbah Idul fitri 1435 H

  
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر ...لاإله إلا الله
والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا...لاإله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده , وأعز جنده وحزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر ولله الحمد...
الحمد لله الذي خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثم الذين كفروا بربهم يعدلون, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير .وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صلي وسلم على نبيينا ورسلنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين أم بعد :
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.....
يا أيها الذين آمنوا اتقوالله والتنظر نفس ما قدمت لغد واتقواالله إن الله خبير بما تعملون ...
يا أيها الذين آمنوا اتقوالله وقولوا قولا سديدا..يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم...ومن يتق الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيماً ..

Kaum Muslimin…saudara-saudaraku rahimakumullah jamiian…
Semilir  udara fitri mengantarkan jiwa-jiwa takwa untuk tunduk bersimpuh bertakbir, bertahlil dan bertahmid, memuji kebesaran Allah, tiada tuhan selain Allah bersyukur dengan karunia dan nikmat-Nya yang tidak terhingga sehingga kita dapat menyelesaikan Ibadah puasa Ramadhan pada tahun ini,Kita berada dalam dua perasaan, gembira dan sedih, gembira karena kita telah menyelesaikan ibadah puasa kita dan memasuki hari yang fitri ,diampuni dosa dan kesalahan kita seperti bayi yang lahir dari rahim ibu, sedih karena kita telah ditinggalkan bulan yang benuh dengan rahmat magfirah dan ampunan, bulan yang didalamnya ada malam yang lebih baik darn, bulan tempat kita berlomba mendulang pahala sebanyak-banyaknya, belum tentu tahun depan kita dapat bertemu lagi denganya, namun kita berdoa semoga ibadah shaum kita yang diiringi dengan tilawah infaq sedekah serta kebaikan-kebaikan lainnya di terima oleh Allah subhanahu watalla Allahumma taqabal minna ya Allah…..ya Allah terimalah segala amal ibadah yang telah kami kerjakan sepanjang bulan ramadhan ini…amin ya rabbal Alamiin.

الله أكبر الله اكبر الله أكبر ولله المحد...
Saudaraku..kaum muslimin yang dirahmati Allah…
Puasa selama sebulan penuh yang telah kita laksanakan, dengan diringi ibadah lain seperti tarawih infak,sedekah zakat dll pada dasarnya merupakan pintu gerbang pertama dalam menapaki derajat takwa.sesuai dengan ayat yang mewajibkan puasa yaitu:
ياأيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
Wahai orang-orang yang beriman telah diwajikan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa ( QS. Al baqarah:183)
Inputnya adalah landasan iman dalam berpuasa, prosesnya adalah as shiyam ( puasa) dan outputnya adalah manusia yang berhasil meraih ketakwaan.

Maasyiral muslimin saudaraku yang dikasihi Allah….

Tiga ciri orang yang takwa

Pertanyaannya adalah sudahkah piala takwa itu kita raih sehingga kita merayakannya?
Paling tidak ada tiga cirri utama yang menandakan seseorang berhasil meraih takwa yaitu:
Pertama, berhusnuzhon kepada Allah dan sesama
Kedua, berlomba-lomba dalam peningkatan amal kebaikan
Ketiga, kepedulian.

Pertama husnuzhan kepada Allah, Husnuzhon artinya selalu berbaik sangka kepada Allah, kalau kita fikirkan dengan seksama alangkah maha pemurahnya Allah, apa yang kita minta Allah beri baik cepat atau lambat, begitupula apa yang tidak kita minta, seperti udara segar yang kita hirup setiap detik, panca indera yang sempurna dan lengkap, kesehatan yang dirasakan, keluarga yang bahagia, itu semua nikmat yang patut disyukuri, namun sayang zaman telah mengubah pola fikir kita seolah-olah segala sesuatu diukur dengan uang, materi dan azas kebendaan semata, lalu jikalau kita mengukurnya dengan materi pasti kita tidak akan puas, kurang dan terus kurang…belum bisakah kita bersyukur? Kita selalu menghitung segala kekurangan materi kita sementara Allah tidak pernah hitung hitungan dengan kita..
Husnuzhan dilakukan dalam segala kondisi, baik senang ataupun susah, baik lapang ataupun sempit,baik sukses ataupun gagal, hari ini atau hari yang akan datang kita wajib berbaik sangka kepada Allah, mengapa ? kebanyakan manusia baru tersadar kepada Allah hanya pada saat sedang kesusahaan, ketika dia terbebas dari kesusahan ia ingkar dan lupa kepada Allah seperti disebutkan dalam firman Allah:
إن الإنسان خلق هلوعا . إذا مسه الشرُّ جزوعا . وإذا مسه الخيرُ منوعا
"Sungguh manusia diciptakan suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Apabila mendapat kebaikan ia menjadi kikir ( Al Maarij 19-21)
Imam Ibnu katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan: bila manusia ditimpa bahaya dan kesusahan hatinya akan tersentak hebat karena takut dengan kesusahan dan kesulitan, rasa takut ini menyebabkan menyebabkannya berputus asa dari kebaikan kebaikan Allah yang telah dijanjikan.
Padahal Rasulullah telah bersabda:
عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير و وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن . إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له ( رواه مسلم)
"Sungguh mengagumkan urusan orang mukmin, semua urusannya baik baginya, hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seoramg mukmin, jika ia mendapat kegembiraan ia bersyukur, dan itu baik baginya, jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar dan itu baik baginya ( HR, Muslim )

Husnuzhan kepada manusia,
Mengapa perlu? Karena sumber ketenangan dalam hidup bermasyarakat adalah manakala semua warganya saling mengedepankan sikap saling berprasangka baik kepada semua level manusia, siapapun dia.ketika curiga mulai menggejala dalam tubuh manusia maka yang akan terjadi adalah kekhawatiran dan kekisruhan, ayah curiga kepada ibu, istri curiga terhadap suami, tetangga curiga kepada tetangga lainnya,bos curiga sama karyawan begitu pula sebaliknya, ormas fulan curiga terhadap ormas lainnya,saling benci saling iri saling menjatuhkan bahkan saling bunuh, nauzubillah min zalik semua bermuara pada satu kata yaitu buruk sangka kepada orang.
Padahal Allah secara tegas melarang sikap ini berkembang seperti dalam firmannya;
ياأيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن اثم ,ولا تجسسوا ولا يغتب يعضكم بعضا . أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتاً فكريهتموه واتقوا الله إن الله غفور رحيم ( الحجرات :12 )

" Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah dari banyak prasangka,sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain,dan janganlah ada diantara kamu menggunjing sebagian yang lain, Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?tentu kamu jijik, Dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah maha penerima taubat Maha Penyayang ( QS. Al Hujurat:12)
Imam At Thabari ketika menafsirkan ayat ini menyatakan: 

Ungkapan ( بعض) sebagian prasangka,maksudnya adalah, boleh berprasangka kepada seorang mukmin namun hanya prasangka yang baik saja sedangkan prasangka yang buruk akan menjatuhkannya kepada dosa.

Oleh karenanya momentum idul fitri merupakan momentum untuk membersihkan segala dendam dan buruk sangka kepada manusia, karena dosa kepada manusia tidak akan diampuni Allah selama mereka belum saling memaafkan.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kaum muslimin yang berbahagia…

Ciri kedua, berlomba lomba dalam amal kebaikan
Ramadhan tahun ini telah berlalu dengan segala kenangan indahya, masa berlatih telah usai, ibarat seorang atlet yang masuk pelatnas telah selesai, tiba saatnya kita berada pada kondisi kehidupan yang penuh tantangan, seorang yang berhasil meraih piala takwa ada ciri yang senantiasa dia pertahankan yaitu tradisi berlomba memperbanyak kebaikan.
Seseorang yang telah menyelesaikan amaliyah ramadhan ibarat selembar kain yang telah rapi suci bersih dan selesai ditenun dengan benang- benang ketakwaan, maka jangan sampai kain yang sudah rapi, bersih dan bernilai jual tinggi kita rusak lagi perlahan lahan, kita campakkan kelumpur dosa dan kemaksiatan, seperti yang Allah sebutkan dalam firman-Nya surat An Nahl:92:
ولا تكونوا كالتي تقضت غزلها من بعد قوة أنكاثا ......
" Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali….. ( An Nahl:92)
Imam Ar Razi menyebutkan, bahwa wanita yang disebutkan dalam ayat bernama RAITOH seorang wanita yang dungu dari bangsa Quraisy, yang pekerjaannya memintal benang, namun setelah di pintal ia cerai beraikan lagi,
Kita tidak ingin bernasib seperti wanita tersebut, sia sia pekerjaannya,
Ramadhan yang telah kita lalui hendaknya berdampak pada kedisiplinan kita sholat berjamaah di masjid terutama shalat Subuh dan Isya, karena Rasulullah bersabda:
 من شهد العشاء فكأنما قام نصف الليل , ومن شهد الصبحَ فكأنما قام ليلة ( رواه مسلم )
"Barangsiapa yang shalat isya secara berjamaah maka ia seperti shalat separuh malam, dan barangsiapa yang melaksanakan sholat subuh secara berjamaah, maka ia seperti shalat satu malam penuh ( HR. Muslim )
Pada tahun 1973 terjadi perang antara Mesir dan Israel, seorang tentara muslim Mesir berbicara kepada tentara Yahudi, ia berkata: "Demi Allah, kami akan memerangi dan mengalahkan kalian, sampai kalian bersembunyi di balik pohon dan bebatuan,hingga pepohonan itu berkata Hai mukmin ini ada yahudi dibelakangku bunuhlah ia, namun tentara Yahudi berkata: hal itu tidak akan terjadi sebelum jamaah sholat subuh sama seperti shalat Jumat..( Imad  Ali Abdus Sami,  Keajaiban Shalat subuh hal:78)
Alqur'an banyak mengungkapkan bahwa ketika berbicara tentang kebaikan dengan ungkapan perlombaan, seperti:
-         فاستبقوا الخيرات (البقرة: 48 )
-          فليتنافس المتنافسون ( المطففين:26)
Syawal artinya peningkatan, maka marilah kita pelihara dan lanjutkan kontinuitas ibadah Ramadhan di sebelas bulan kedepan.
Ciri ketiga, kepedulian
Orang yang berhasil meraih takwa memiliki jiwa kepedulian social, memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya,mengapa demikian? Karena lingkungan sangat menentukan dalam sisi ibadah dan sisi lain dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang berhasil meraih takwa memiliki sense of responsibility, seperti apa bentuknya:
a.       Kepedulian tanpa ada batas, sehingga tolok ukurnya adalah kemanusiaan dan keagamaan, kalau saudara kita sesama muslim tertimpa bencana dan musibah, kepedulian kita tidak boleh dibatasi hanya wilayah yang dekat saja, karena setiap muslim adalah bersaudara, begitu juga bila saudara muslim dibelahan dunia seperti Somalia, Palestina dan lainnya kita sudah selayaknya menolong mereka atas dasar agama dan kemanusiaan.

b.      Kemaksiatan, marilah kita lihat apakah dilingkungan kita ada kemaksiatan yang secara terang terangan dilakukan, tanpa ada pelaporan atau tindakan masyarakat terhadap mereka, orang yang nyata nyata berjudi, mabuk mabukan, pergaulan bebas tanpa batas, buang sampah sembarangan, menyalakan hp dengan suara keras di masjid ketika sholat dll,. Dalam memerangi kemaksiatan Imam Ibnu taimiyah mengatakan ada 3 unsur yang di butuhkan yaitu: ilmu, kelemahlembutan dan kesabaran.
Hal yang sangat besar pengaruhnya adalah televisi, islam tidak melarang televisi, namun mengarahkan penggunaannya untuk yang bermanfaat saja sekedar hiburan, departemen agama baru - baru ini mencanangkan program Gerakan Magrib membaca Al Qur'an, maka televisi  dari magrib hingga isya harap di matikan, diisi dengan mengaji al quran, pelajarnya dengan belajar, insya Allah kalau hal ini di lakukan maka kedepan kita akan menjadi bangsa yang maju berakhlak dan mulia di kalangan internasional karena keilmuan serta mulia disisi Allah karena ketaatan beribadah. Semoga tiga hal tadi menjadi tolok ukur pribadi-pribadi yang telah berhasil meraih takwa.
Mari berhari raya saling memaafkan sanak saudara dan tetangga, kita hilangkan segala buruk sangka,  mari berhari raya tetapi jangan lupa pepatah:
ليس العيد لمن لبس الجديد                      ولكن العيد لمن طاعته يزيــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــد
" Bukanlah Ied dengan segala yang serba baru, namun Ied adalah bagi mereka yang Takwanya bertambah"

Khutbah kedua
الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر  ...لاإله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد , الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا...لاإله إلا الله والله أكبر الله اكبر ولله الحمد .
الحمد لله رب العالمين الصلاة والسلام على أشرف المر سلين سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين ,
أصيكم ونفس بتقو ى الله فقد فاز المتقون ..
Marilah kita berdoa kepada Allah semoga kita benar benar dijadikan hamba hamba yang bertakwa, di berikan kemudahan dalam setiap urusan di kabulkan dalam setiap permintaan di berikan jaln keluar dalam setiap masalah….
·      إن الله وملائكته يصلون على النبي ياايها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
·      اللهم اغفرلناولوالدينا ولدميع المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات
·      ربنا إننا سمعنا مناديا ينادي للإيمان أن آمنوا بربكم فىمنا ,ربنا فاغفر لنا ذنوبنا وكفر عنا سياتنا وتوفنا مع الأبرار
·      ربنا وآتنا ما وعدتنا على رسلك ولا تخزنا يوم القيامة إنك لا تخلف الميعاد
·      اللهم تقبل منا صلاتنا وصيامنا وركوعنا وسجودنا وتخشعنا وتضرعنا وتمم تقصيرنا برحمتك يا أرحم الراحمين
·      اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا , وأصلح لنا دنيانا التي هي فيها معاشنا , وأصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر
Ya Allah perbaikilah kehidupan beragama kami yang merupakan kunci kehormatan kami, perbaikilah kehidupan dunia kami yang merupakan tempat kami menjalani hidup, Ya Allah perbaikilah kehidupan akherat kami yang merupakan tempat hamba kembali, jadikanlah hidup kami sebagai kesempatan untuk menambah kebaikan, dan jadikan kematian sebagai tempat berlepas dari segala keburukan

·      اللهم إني أسالك خير المسألة  وخير الدعاء وخير النجاح وخير العلم وخير العمل وخير الحياة وخير الممات برحمتك يا أرحم الراحمين
·      ربنا هبلنا من أزواجنا من أزواجنا قرة أعين واجعلنا اامتقين إماما
·      اللهم إنك عفو تحب العفو فاعو عنا اللهم إنا نسألك رضاك والجنة ونعوذبك من سختك والنار
·      ربنا ىتنا في الدنيا حسنة وفي الأخرة حسنة وقنا عذاب النار , والحمد الله رب العالمين .

Semua Tentang Nikah Siri

Semua Tentang Nikah Siri

Akhir-akhir ini berkembang fenomena baru dikalangan masyarakat kita yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan alasan tertentu pula, baik perilaku mereka  bisa diterima ataupun tidak, yang jelas tren baru ini sudah berkembang ditengah-tengah kita. Muali dari kalangan politisi, pejabat publik, tokoh kondang, ulama, artis, bahkan sampai tukang becak sekalipun. Berbagai statemen dan justifikasi atas perilaku mereka menghiasi berbagai media cetak dan elektronik dan  dikonsumsi oleh siapa saja tanpa pandang usia dan latar belakang pendidikannya. Nah, bagaimanakan Islam menyikapi fenomena nikah siri tersebut? Berikut pembahasannya.
 
Pengertian nikah siri

Secara bahasa siri artinya rahasia atau sembunyi-sembunyi.
Secara istilah, nikah siri mengandung dua pengertian yaitu:
A.    Nikah tanpa wali dari pihak wanita
Menikah tanpa wali dari pihak wanita, hukumnya tidak sah karena wali merupakan syarat selain kedua calon mempelai, ijab qabul, mahar  dan saksi.
Salah satu syarat bila tidak terpenuhi  dengan sesuatu maka tidak sah hukum sesuatu itu tersebut.
Sehingga Ibnu Qudamah menyatakan:
"ما يلزم من عدمه عدم الحكم، ولا يلزم من وجوده وجود ولا عدم لذاته"
 “ Apa apa yang karena ketiadaanya hukum menjadi tidak ada, namun tidak berarti keberadaanya menjadi hukum menjadi ada atau tidak ada zatnya”[1]
Nikah siri  dengan pemahaman yang pertama, statusnya tidak sah, sebagaimana yang ditegaskan mayoritas ulama. Karena di antara syarat sah nikah adalah adanya wali dari pihak wanita. Di antara dalil yang menegaskan haramnya nikah tanpa wali adalah:
Pertama, hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ
“Tidak ada nikah (batal), kecuali dengan wali.”[2]
Kedua, hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ
“Wanita manapun yang menikah tanpa izin wali, maka nikahnya batal.” (HR. Ahmad, Abu daud, dan baihaqi)

Dan masih banyak riwayat lainnya yang senada dengan keterangan di atas, sampai Al-Hafidz Ibn Hajar menyebutkan sekitar 30 sahabat yang meriwayatkan hadis semacam ini.  (At-Talkhis Al-Habir, 3:156).

Kemudian, termasuk kategori nikah tanpa wali adalah pernikahan dengan menggunakan wali yang sejatinya tidak berhak menjadi wali. Beberapa fenomena yang terjadi, banyak di antara wanita yang menggunakan wali kiyai gadungan atau pegawai KUA, bukan atas nama lembaga, tapi murni atas nama pribadi. Sang Kyai dalam waktu hitungan menit, didaulat untuk menjadi wali si wanita, dan dilangsungkanlah pernikahan, sementara pihak wanita masih memiliki wali yang sebenarnya.

Jika nikah siri dipahami sebagaimana di atas, maka pernikahan ini statusnya batal dan wajib dipisahkan. Kemudian, jika keduanya menghendaki untuk kembali berumah tangga, maka harus melalui proses pernikahan normal, dengan memenuhi semua syarat dan rukun yang ditetapkan syariah.

B.     Nikah tanpa dicatatkan secara resmi dilembaga pernikahan atau Kantor Urusan Agama ( KUA).

Selanjutnya, jika yang dimaksud nikah siri adalah nikah di bawah tangan, dalam arti tidak dilaporkan dan dicatat di lembaga resmi yang mengatur pernikahan, yaitu KUA maka status hukumnya sah, selama memenuhi syarat dan rukun nikah. Sehingga nikah siri dengan pemahaman ini tetap mempersyaratkan adanya wali yang sah, saksi, ijab-qabul akad nikah, dan seterusnya.

Hanya saja, pernikahan semacam ini sangat tidak dianjurkan, karena beberapa alasan:

Pertama, pemerintah telah menetapkan aturan agar semua bentuk pernikahan dicatat oleh lembaga resmi, KUA. Sementara kita sebagai kaum muslimin, diperintahkan oleh Allah untuk menaati pemerintah selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa: 59). Sementara kita semua paham, pencatatan nikah sama sekali tidak bertentangan dengan aturan Islam atau hukum Allah.

Kedua, adanya pencatatan di KUA akan semakin mengikat kuat kedua  lah pihak. Dalam Alquran, Allah menyebut akad nikah dengan   perjanjian yang kuat (مِيثَاقًا غَلِيظًا), sebagaimana yang Allah tegaskan di surat An-Nisa: 21.
Nah, surat nikah ditujukan untuk semakin mewujudkan hal ini. Dimana pasangan suami-istri setelah akad nikah akan lebih terikat dengan perjanjian yang bentuknya tertulis. Terlebih kita hidup di zaman yang penuh dengan penipuan dan maraknya kezhaliman. Dengan ikatan semacam ini, masing-masing pasangan akan semakin menunjukkan tanggung jawabnya sebagai suami atau sebagai istri.

Ketiga, pencatatan surat nikah memberi jaminan perlindungan kepada pihak wanita.
Dalam aturan nikah, wewenang cerai ada pada pihak suami. Sementara pihak istri hanya bisa melakukan gugat cerai ke suami atau ke pengadilan. Yang menjadi masalah, terkadang beberapa suami menzhalimi istrinya berlebihan, namun di pihak lain dia sama sekali tidak mau menceraikan istrinya. Dia hanya ingin merusak istrinya. Sementara sang istri tidak mungkin mengajukan gugat cerai ke pengadilan agama, karena secara administrasi tidak memenuhi persyaratan.

Hukum Positif Indonesia

Undang-Undang (UU RI) tentang Perkawinan No. 1 tahun 1974 diundang-undangkan pada tanggal 2 Januari 1974 dan diberlakukan bersamaan dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yaitu Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Menurut UU Perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 UU Perkawinan). Mengenai sahnya perkawinan dan pencatatan perkawinan terdapat pada pasal 2 UU Perkawinan, yang berbunyi: "(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; (2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku."
Dari Pasal 2 Ayat 1 ini, kita tahu bahwa sebuah perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Ini berarti bahwa jika suatu perkawinan telah memenuhi syarat dan rukun nikah atau ijab kabul telah dilaksanakan (bagi umat Islam) atau pendeta/pastur telah melaksanakan pemberkatan atau ritual lainnya, maka perkawinan tersebut adalah sah terutama di mata agama dan kepercayaan masyarakat. Tetapi sahnya perkawinan ini di mata agama dan kepercayaan masyarakat perlu disahkan lagi oleh negara, yang dalam hal ini ketentuannya terdapat pada Pasal 2 Ayat 2 UU Perkawinan, tentang pencatatan perkawinan . Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam pencatatan dilakukan di KUA untuk memperoleh Akta Nikah sebagai bukti dari adanya perkawinan tersebut. (pasal 7 ayat 1 KHI "perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah"). Sedangkan bagi mereka yang beragama non muslim pencatatan dilakukan di kantor Catatan Sipil, untuk memperoleh Akta Perkawinan.
Mengenai pencatatan perkawinan, dijelaskan pada Bab II Pasal 2 PP No. 9 tahun 1975 tentang pencatatan perkawinan. Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di KUA. Sedangkan untuk mencatatkan perkawinan dari mereka yang beragama dan kepercayaan selain Islam, cukup menggunakan dasar hukum Pasal 2 Ayat 2 PP No. 9 tahun 1975. Tata cara pencatatan perkawinan dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 sampai dengan Pasal 9 PP No. 9 tahun 1975 ini, antara lain setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan secara lisan atau tertulis rencana perkawinannya kepada pegawai pencatat di tempat perkawinan akan dilangsungkan, selambat-lambatnya 10 hari kerja sebelum perkawinan dilangsungkan. Kemudian pegawai pencatat meneliti apakah syarat-syarat perkawinan telah dipenuhi dan apakah tidak terdapat halangan perkawinan menurut UU. Lalu setelah dipenuhinya tata cara dan syarat-syarat pemberitahuan serta tidak ditemukan suatu halangan untuk perkawinan, pegawai pencatat mengumumkan dan menandatangani pengumuman tentang pemberitahuan kehendak melangsungkan perkawinan dengan cara menempel surat pengumuman pada suatu tempat yang sudah ditentukan dan mudah dibaca oleh umum .

Kesimpulan

A.    Nikah siri mengandung dua pengertian, yaitu nikah tanpa wali dan nikah yang tidak dicatatkan di KUA.
B.     Secara agama nikah siri bila bermakna dibawah tangan ( tidak dicatatkan di KUA ) hukumnya sah asal syarat dan rukun nikah terpenuhi:
-          Calon mempelai
-          Mahar
-          Ijab Kabul
-          Wali dari pihak perempuan
-          Dua orang saksi
C.     Nikah siri hanya dilakukan oleh laki-laki pengecut
D.    Wanita yang mau dinikahi dengan cara siri, dipertanyakan akhlaknya
E.     Wanita dan anak- anah hasil nikah siri menjadi korban.
F.      Melihat perkembangan zaman yang terjadi sekarang adalah wali dan saksi bisa dibayar, dan diakali keberadaannya.
G.    Melihat fenomena sekarang nikah siri dilakukan hanya untuk melampiaskan nafsu syahwat terhadap wanita yang diinginkan.
H.    Melihat fenomena sekarang nikah siri hanya kedok saja, sementara tanggung jawab dan tujuan pernikahan ( litaskunu ilaiha ) artinya: agar tercipta ketenangan , malah sebaliknya pertengkaran yang terjadi antara istri yang sah dan istri siri.
I.        Dari sinilah kaidah fikih berbunyi:

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
"Meninggalkan mudharat lebih didahululan dari pada mengambil manfaat"

Wallahu A’lam

[1] Ibnu Qudamah w 620 H, Raudhatun Nadzir Wa Jannat al Manadzir,( Muasasah Rayyan, 1423 H ) juz 1 h. 179
[2] (HR. Abu Daud, At Tirmudzi, Ibn Majah, Ad-Darimi, Ibn Abi Syaibah, At Thabrani, dsb.)

Hadits – Hadits Pilihan Tentang Keutamaan Bulan Suci Ramadhan

Hadits – Hadits Pilihan Tentang Keutamaan Bulan Suci Ramadhan

 

Berikut ini adalah sebagian hadits-hadits pilihan yang terkait dengan bulan Ramadhan, sebagai inspirasi bagi kita untuk mengoptimalkan bulan Ramadhan yang sebentar lagi bertamu ke rumah kita. Tentu tidak semua keutamaan itu ada dalam tulisan ini, namun anggaplah sebagai pelepas dahaga ditengah perjalanan.
Diantara hadits-hadits tentang keutamaan bulan Ramadhan adalah:

1.    عن أبي هريرة أَن َرسولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "إِذا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتْ الشَّياطينُ". أخرجه مسلمٌ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “ Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu Surga, ditutuplah pintu-pintu Neraka dan Syetan-Syetan dibelenggu. ( HR. Muslim )

2.    عن أبي هريرة قالَ: كَانَ رسولُ اللهِ صلي الله عليه وسلم يُبَشِّرُ أصْحَابَةُ يقولُ: "قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللهُ عليكم صِيَامَهُ، تُفَتَّحُ فيه أبوابُ الجَنَّةِ وَتغلَّقُ فيه أبوابُ النَّارِ، فيه لَيْلَةُ خَيْرٌ من ألفِ شَهْرٍ، مَن حُرِمَ خَيْرَها فقد حُرِمَ". وهذا لَفْظُ حماد بن زيد. أخرجه النسائيُّ

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, dibukakan pintu-pintu Surga, ditutup pintu-pintu Neraka. Didalam bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia rugi.” (HR. Nasai, Lafadz Hammad bin Zaid)

3.    عن أبي هريرة؛ عن النبي صلى الله عليه وسلم: ((من صام رمضان إيماناً واحتساباً، غفر له ما تقدم من  ذنبه، ومن قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً، غفر له ما تقدم من ذنبه))  متفق على صحته

“Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam: “ Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisaban ( mengharap balasan dari Allah ) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadr dengan iman dan mengharap balasan dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ( Mutafaqun Alaih )

4.    عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: فِي الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ، لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ_  رواه البخاري

Dari Sahl bin Said Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Surga ada delapan pintu, di dalamnya ada pintu yang dinamakan Ar Rayyan, tidak akan masuk dari pintu tersebut melainkan orang-orang yang berpuasa.” ( HR. Bukhari )

5.    عن أبي أيوب رضى الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر" رواه مسلم

Dari Abu Ayyub Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “ Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, ia seperti berpuasa setahun ( HR. Muslim )

6.     عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما، قال: "كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان، فيدارسه القرآن، فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة"، رواه البخاري 
.
Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, berkata: “Rasulullah adalah manusia paling pemurah, dan Beliau lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan, Jibril menemui Beliau setiap malam untuk membacakan Al Qur’an, Rasulullah lebih pemurah dari angin yang berhembus.” ( HR. Bukhari ).

7.     عن أبي أمامة رضي الله عنه قال: أتيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلت: مرني بأمر آخذه عنك، فقال: (عليك بالصوم، فإنه لا مثل له) رواه النسائي.

Dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu, Aku menemui Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam lalu aku berkata: “ Perintahkan kepadaku yang bisa aku ambil dari Engkau, beliau berkata: “ Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa tidak ada yang menyamainya.” ( HR. Nasa’i )

8.     عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عزوجل: كل عمل بن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه) رواه البخاري ومسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ( Allah Azza wa Jalla berfirman : “ Setiap amal anak Adam adalah baginya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk –Ku, Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa janganlah berkata kotor atau menghardik. Apabila seseorang mengumpat atau memusuhinya, katakana: “Aku sedang berpuasa.” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari pada minyank wangi, bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan, ketika berbuka puasa ia bergembira dan ketika bertemu Rabbnya ia gembira dengan pahala puasanya. ( HR. Bukhari Muslim )

9.     عن حذيفة بن اليمان رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (فتنة الرجل في أهله وماله وولده وجاره، تكّفرها الصلاة، والصوم، والصدقة، والأمر والنهي) متفق عليه.

Dari Hudzifah bin Al Yaman Radhiyallahu Anhu, berkata: “Bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam:” Fitnah  ( cobaan ) seseorang dalam keluarga, harta, anak dan tetangga dihapuskan oleh shalat, puasa, sadaqah dan amar ma’ruf nahi munkar.” ( Mutafaq Alaih ).

10. عن عثمان بن عفان رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (الصيام جُنّة من النار، كجنّة أحدكم من القتال) رواه ابن ماجه.

Dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata: “ Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “ Puasa adalah perisai, ibarat perisai kalian dalam perang.( HR. Ibnu Majah )

11. عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الصيام جنّة وحصن حصين من النار) رواه أحمد.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:” Puasa adalah benteng yang menjada dariapi Neraka.( HR. Ibnu Majah )

12. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من صام يوماً في سبيل الله، باعد الله وجهه عن النار سبعين خريفاً) متفق عليه.

Dari Abu Said Al Khudri Radhiyallahu Anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Dia akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 musim.” ( Mutafaq Alaih )

13. عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إن في الجنة غرفاً تُرى ظهورها من بطونها، وبطونها من ظهورها)، فقام أعرابي فقال: لمن هي يا رسول الله؟ قال: (لمن أطاب الكلام، وأطعم الطعام، وأدام الصيام، وصلى لله بالليل والناس نيام) رواه الترمذي.

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:” Sesungguhnya di dalam Surga ada sebuah kamar yang terlihat bagian luarnya dari dalam dan bagian dalamnya dari luar, lalu seorang Arab Badui berkata: “Untuk siapakan itu wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda: “ Untuk orang yang perkataannya baik, suka memberi makan, membiasakan puasa dan shalat malam ketika manusia tidur. ( HR. Tirmidzi )
14. عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة، يقول الصيام: أي رب، منعته الطعام والشهوات بالنهار، فشفعني فيه، ويقول القرآن: منعته النوم بالليل، فشفعني فيه، فيشفعان) رواه أحمد.

Dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “ Wahai Rabb, ia telah menahan makan dan syahwatnya pada siang hari karena aku, izinkan aku memberi syafaat kepadanya. Alqur’an berkata: “ Ia telah terjaga pada malam hari karena aku, izinkan aku memberi syafaat kepadanya, maka puasa dan shalat memberi syafaat kepadanya. ( HR. Ahmad)

15. عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهنّ: دعوة المظلوم، ودعوة المسافر، ودعوة الوالد على ولده) رواه الترمذي.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda:” Tiga doa yang dikabulkan tidak diragukan lagi,yaitu doa orang yang didzalimi, doa musafir dan doa orang tua kepada anaknya. ( HR. Tirmidzi ).
16. عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر) رواه مسلم.

Dari Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Beda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” ( HR. Muslim )
17. عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (السحور أكله بركة؛ فلا تدعوه ولو أن يجرع أحدكم جرعة من ماء؛ فإن الله عز وجل وملائكته يصلون على المتسحّرين) رواه أحمد وابن حبان. 

Dari Abu Said al Khudri Radhiyallahu Anhu berkata, bersabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam: “Makan sahur adalah berkah, jangan kalian tinggalkan meski hanya dengan seteguk air, sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla dan para malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur.” ( HR. Ahmad dan Ibnu Hibban ).

Silsilah 25 Nabi Dan Rasul

♣ Silsilah 25 Nabi dan rasul.

Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah serta menyebarkan ajaran Islam ke muka bumi.

RASUL

Rasul adalah seorang laki laki merdeka yang menerima risalah atau wahyu dari Allah dan ia juga diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.  Jadi boleh dikatakan juga bahwa setiap rasul pasti nabi tapi tidak semua nabi itu adalah rasul.

يَـأَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

Allah berfirman ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (al-Maidah: 67)

NABI

Nabi adalah seorang laki laki merdeka yang diturunkan kepadanya risalah atau wahyu dari Allah untuk diamalkan, namun tidak diperintahkan baginya untuk menyampaikannya kepada kaumnya.

Kenabian lebih umum karena semua rasul adalah nabi tetapi tidak semua nabi adalah rasul. Jadi orang yang bukan nabi berarti bukan rasul, dengan kata lain, untuk bisa menjadi rasul dia harus menjadi nabi. Rasul diutus untuk membawa risalah kepada manusia, untuk membawa syariat Allah dan agama yang harus disampaikan lagi kepada manusia, sedangkan Nabi saw diutus dengan dakwah dan syariat namun tidak diperintahkan untuk menyampaikanya kepada manusia.

Kenabian adalah pemberian Allah semata. Tidak semua orang bisa menjadi nabi atau julukan nabi. Kenabian tidak bisa diraih dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tidak mungkin mendapatkan gelar nabi dengan usaha, karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Orang yang dikehendaki sebagai nabi itu telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Tentu sebelum jadi nabi, Allah menjaganya dari perbuatan yang buruk dan melindunginya dari segala maksiat serta menganugerahkan kepadanya akhlak yang luhur.

Jelasnya, bahwa kenabian tidak diperoleh dengan usaha tertentu, namun kenabian itu anugrah dari Allah diberikan kepada hamba-Nya yang terpilih dan tertentu. Kenabian bukan diberikan kepada orang yang mengharapkan dan memohon menjadi nabi.

Dan kita sebagai muslim, diwajibkan meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk masing-masing umat yang menyeru mereka kepada tauhid. Beriman kepada seluruh rasul dan nabi adalah wajib dan merupakan rukun iman tanpa membedakan beriman kepada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain sebab hal tersebut sama dengan tidak beriman kepada semuanya. ”(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”,” (Al-Baqarah, 285).

JUMLAH PARA NABI DAN RASUL

Wajib bagi setiap muslim mengetahui bilangan para nabi dan rasul yang telah disebut dalam al-Qur’an sebanyak 25 dan wajib meyakininya secara keseluruhan bahwa Allah telah mengutus mereka sebagai nabi dan rasul yang dimulai dari nabi Adam as dan diakhiri oleh nabi Muhammad saw.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (al-Ghafir, 78).

Bilangan para rasul sangat banyak, sebagian ulama mengatakan hingga mencapai 315 rasul. Sedangkan bilangan para nabi mencapai 124.000. Di antara mereka ada yang wajib diketahui dan ada yang tidak wajib. Nabi dan rasul Allah yang wajib diketahui berjumlah 25, yakni mereka yang disebutkan di dalam al-Qur’an dengan perincian sebagai berikut: Adam, Idris, Nuh, Hud, Salih, Ibrahim, Lut, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Musa, Harun, Dhul Kifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Yunus, Zakariya, Yahya, ’Isa, Muhammad

Inilah jumlah nama dan urutan nabi dan rasul Allah yang wajib ketahui. Dimulai dari Nabi Adam as sebagai pembuka para nabi, dan diakhiri Nabi Muhammad saw, nabi dan rasul Allah saw yang terakhir.

Penegasan bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir telah banyak ditegaskan Allah dalam al-Qur’an dan dan ditegaskan pula oleh Rasul-Nya di dalam al-hadits. Jadi kalau ada orang mengaku sebagai nabi setelah beliau, pasti dengan tegas umat Islam akan menolak keberadaanya dan tidak mempercayainya, karena Nabi Muhammad saw adalah akhir dan penutup para nabi. Keyakinan bahwa Rasulallah saw adalah nabi terakhir begitu kuat tertanam di dada para sahabat beliau, sehingga ketika ada yang mengaku sebagai nabi, pasti dengan tegas mereka menolaknya dan sekaligus menyatakan perang kepada mereka

Teks Panduan Muadzin Sholat Jum'at

Teks Panduan Muadzin Sholat Jum'at

Panduan Bilal Sholat Jum'at
Panduan Muadzin/ Bilal Sholat Jum'at ini kami bagikan untuk memudahkan Anda (kaum muslimin khususnya) yang ingin belajar menjadi bilal/ muadzin pada sholat Jum'at. Panduan bilal ini dibuat berdasarkan rangkaian ibadah sholat Jum'at yang dilaksanakan sebagian besar umat Islam, khususnya Nahdlatul Ulama'.

Penulisan Teks Arab Panduan Bilal Jum'at ini masih membutuhkan koreksi dan tidak luput dari kesalahan. Untuk itu, kami mohon kesediaan pembaca yang lebih mengerti dan memahami kaidah penulisan berbahasa Arab untuk memberikan koreksi. Berikut kami sampaikan bacaan-bacaan bilal pada sholat Jum'at beserta waktu mengucapkannya:



Do'a Sebelum Adzan Jum'at
Muadzin/ bilal memulai rangkaian ibadah sholat Jum'at dengan mengumandangkan adzan yang pertama, sebagai tanda masuknya waktu sholat dzuhur atau dimulainya ibadah sholat Jum'at.

مقدّمة اذان الجمعة :
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلآ إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِااللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، أَعُوْذُ بِااللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، قُلِ ادْعُوْ اللهَ أَوِدْعُوْا الرَّحْمَنَ أَيَّامًا تَدْعُوْا فَلَهُ الأَسْمآءُ الْحُسْنَى، وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَبْتَغِ بَيْنَ ذَالِكَ سَبِيْلاً، وَقُلِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِى لَمْ يَتَخِدْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيْكٌ فِى الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّّرْهُ تَكْبِيْرًا.

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ...

Do'a Setelah Adzan Jum'at
Setelah adzan yang pertama selesai dikumandangkan, muadzin/ bilal berdo'a: 

دعاء بعد الأذان :
أَللّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَاتِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًنِ الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَشَّرَفَةَ وَالدَّرَجَةَ الْعَالِيَةَ الرَّفِعَة، وَبْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًنِ الَّذِى وَعَدْتَة، إِنَّكَ لاَتُخْلِفُ الْمِيْعَاد.
Pada sebagian kalangan umat Islam Nahdhatul Ulama' melaksanakan sholat sunah Qobliyah Jum'at setelah adzan yang pertama selesai dikumandangkan. Muadzin menyeru: 
 
صَلُّوْا سُنَّةَ قَبْلِيَةَ الْجُمْعَة رَحِمَكُمُ اللهُ....
Setelah sholat sunah Qobliyah Jum'at selesai, muadzin membacakan Pengantar Khutbah Jum'at. Bacaan ini diucapkan sebelum sang Khotib menuju mimbar.

Pengantar Khutbah Jum'at
فعانتار خطبة الجمعة :
يَا مَعَاشِرَ اْلـمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ اْلـمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ:
رُوِيَ عَنْ أَبِى هُـرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّه قَالَ :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ اْلجُمْعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ.
أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ...
أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ اللهُ...
أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ...
Jika Anda ingin mempelajari Pengantar Khutbah Jum'at versi lain silahkan baca post: Bacaan Bilal Sebelum Khutbah Jum'at

Do'a Sebelum Jum'at
Khotib berdiri dan berjalan menuju mimbar, kemudian muadzin berdo'a: 
الدعاء قبل الخطبة

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ قَوِّالإِسْلاَمَ، مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، وَيَسِّرْهُمْ عَلىٰ إِقَامَةِ الدِّيْنِ. رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، وَيَاخَيْرَالنَّاصِرِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. 
Setelah do'a selesai, Khotib mengucapkan salam lalu Muadzin mengumandangkan Adzan yang kedua

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ...

 Sholawat Antara Dua Khutbah
Sholawat ini dilantunkan setelah khutbah yang pertama selesai atau sholawat diantara dua khutbah
 
سليعان بعد الخطبة الأولى : صلوة
أَللّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ، وَزِدْ وَاتِمْ وَتَفَضَّلْ وَبَارِكْ، بِجَلاَلِكَ وَكَمَالِكَ عَلَى زَيْنِ الْعِبَادِكَ،سَيِّدِ الْعَرَابِى وَالْعَجَامِ، وَالإِمَامُ طَيِّبَةَ وَالْكَرَام، سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ عَنْ كُلِّ أَصْحَابِ سَيِّدِنَا رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْمَعِيْنَ.
Setelah khutbah yang kedua selesai kemudian muadzin mengumandangkan iqomah, dan melaksanakan sholat Jum'at secara jamaah.

Selasa, 24 Juni 2014

"TENTANG PENGERTIAN IKHLAS"

TENTANG PENGERTIAN “IKHLAS”

“KEIKHLASAN” yang dituntut di sini (ibadah & ubudiyah) sehari” seorang mu’min adalah segala macam keikhlasan sesuai dengan tingkat masing-masing orang (ikhlasnya seorang syari’at,ikhlasnya seorang thoriqot,ikhlasnya orang ma’rifat ,ikhlasnya orang haqiqat).

1- Ikhlasnya orang biasa adalah terbebasnya amal perbuatannya dari segala bentuk riya’ seperti pamer, ingin dipuji, ingin dilihat atau didengar orang, ingin balasan dari manusia, ingin dianggap baik, ‘ujub (membanggakan diri) dan sebagainya sehingga amalnya murni dilakukan untuk mengharap balasan dari Alloh semata, baik mendapat surga atau pun terbebaskan dari neraka. Ini adalah tingkatan ikhlas kebanyakan orang.

2- Dalam tingkatan ikhlasnya seorang thoriqot ini seorang salik (penempuh jalan menuju Alloh) melihat adanya perannya sendiri dalam amal yang ia lakukan dan berharap dengan itu ia akan memperoleh balasan yang baik dari Alloh. Adapun ikhlasnya para muhibbin (orang-orang khusus yang cinta mati terhadap Alloh) lebih tinggi dari tingkatan orang biasa tersebut.

Para muhibbin melakukan amal kebaikannya bukan karena ingin balasan surga atau dijauhkan dari neraka, melainkan murni dipersembahkan pada Alloh karena Dia memang berhak untuk itu.

Bagi mereka, Alloh memang sepatutnya disembah tanpa harus memberi balasan apapun pada yang menyembah dan yang menyembah tidak layak menuntut apapun dari Alloh karena ibadahnya merupakan kewajiban yang memang harus dilakukan. Betapa luhur dan sulitnya tingkatan ini, tapi meski demikian dalam tingkatan ini seorang salik juga masih melihat adanya
perannya sendiri dalam amal yang dilakukannya.

3-Dalam tingkat ini Sebagian ulama ahli hakikat, di antaranya Syaikh al-Qusyairi,menjelaskan tentang Ikhlasnya orang ma’rifat adalah maqom khos serta menyebut tingkatan di atas sebagai tingkatan iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah) yang berarti kami tidak menyembah siapa pun kecuali pada-Mu dan kami tidak mempersekutukan-Mu dengan yang lain.

Yang ditekankan dalam tingkatan ini adalah penyatuan tujuan amal, yakni murni pada Alloh atau sering juga disebut dengan al-‘amal lillah (tindakan untuk Alloh).

Ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dari keduanya, yaitu tingkatan para muqarrabinAL-Muwakhhidiin (haqiqat) yaitu orang” yang didekatkan oleh Alloh pada-Nya dengan melalui panggilan (HIDAYATU AL-IMAAN BI AL-TAUHID) .

Istilah ini dipakai dalam dunia sufi untuk menunjukkan bahwa kedekatan pada Alloh pada hakikatnya bukan hal yang dicapai tapi diberi sehingga istilahnya adalah “Yang didekatkan”, bukannya “Yang mendekatkan diri” atau pun “Yang sudah dekat”).

Dalam tingkatan tertinggi ini, seorang salik tidak lagi melihat adanya peran dirinya sendiri dalam amal perbuatan yang ia lakukan. Baginya semua apa yang terjadi di dunia ini murni dengan kehendak Alloh tanpa campur tangan siapa pun.

Amal perbuatannya dianggap bagian dari kehendak & kuasa Alloh itu dan karenaNya hanya Alloh yang berperan di dalamnya, bukan dirinya sendiri sehingga dalam hatinya sama sekali tidak terbesit adanya minta balasan atau merasa bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu untuk dipersembahkan pada Alloh (TABARRI ‘AN KHAULII MA’AL QUWWATI LILLAH) .

Ulama ahli TAUHID menyebut tingkatan muqarrabin ini sebagai tingkatan iyyaka nasta’in (hanya kepad-Mu kami minta tolong) dalam arti kami tidak minta tolong dengan apapun selain-Mu, tidak dengan diri kami, daya kami atau pun kekuatan kami sendiri.

Jika tingkatan sebelumnya adalah al-‘amal lillah (tindakah untuk Alloh), maka tingkatan ini adalah al-‘amal billah (tindakan sebab/dengan Alloh). Ini adalah tingkatan tauhid yang sempurna yang sesuai dengan makna la hawla wa la quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh).

Seorang syeikh imam al-ghozali ra berpesan :

ﺻﺤﺢ ﻋﻤﻠﻚ ﺑﺎﻻﺧﻼﺹ ﻭﺻﺤﺢ ﺍﺧﻼﺻﻚ ﺑﺎﻟﺘﺒﺮﻱ ﻋﻦ ﺣﻮﻝ ﻣﻊ ﺍﻟﻘﻮﺓ ﻟﻠﻪ
“Perbaiki tindakanmu dengan ikhlas dan perbaiki keikhlasanmu dengan membebaskannya dari daya dan kekuatanmu kecuali dengan daya & kekuatannya alloh semata”.

Masing-masing Tindakan / amaliyah melahirkan suatu bentuk hikmah tersendiri.
Misalnya, hati telah sadar akan keutamaan puasa sunah, maka secara otomatis akan menjadi pendorong untuk melakukan ibadah puasa sunah.

Bila di hati telah timbul kesadaran tentang keutamaan bersikap lemah lembut, maka akan menjadi pendorong untuk timbulnya sikap lemah lembut dan begitu seterusnya. Tiap perbuatan lahiriyah selalu mengikuti kecenderungan-kecenderungan bathiniyah. Apabila batinnya telah cenderung pada hal-hal tertentu, maka raga pun akan terdorong untuk melakukannya.

Sebaiknya seorang salik (penempuh jalan kesufian) mengikuti kecenderungan hatinya tersebut agar ibadahnya menjadi maksimal, bukan mengikuti kecenderungan hati orang lain. Semisal, seseorang dianugerahi kemantapan dan kesenangan untuk mengkhotamkan al-Qur’an melebihi kesenangannya melakukan ibadah lain, maka ikuti saja kemauan hati itu dengan banyak-banyak
mengkhatamkan al-Qur’an. Tak perlu dia buru-buru ingin mengikuti langkah Guru
A. yang ahli wirid semalaman atau Guru
B. yang ahli belajar dan mengajar sehari semalaman penuh atau Guru
C. yang ahli puasa setiap hari atau Guru
D. yang ahli sholat sunah ratusan rakaat tiap harinya dan sebagainya.pelajari pelan-pelan
syarat sahnya belajar dengan bimbingan sang ahli di bidangnya ????

Bila saja bila muridiin dan muhibbiin terburu-buru mengikuti langkah orang lain yang pada dasarnya dianugerahi motivasi hati yang berbeda oleh Alloh, maka kemungkinan ibadah yang dia lakukan tidak akan maksimal hikmahnya.Biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya. Tekuni saja apa yang menjadi kecenderungan hatimu hingga nanti Alloh memberimu kecenderungan hati untuk melakukan hal-hal yang lain lagi sebagai tanda tingkatanmu telah bertambah.
Tatkala itu terjadi, tambahlah amalanmu dengan amalan lain yang sesuai dengan kecenderungan hati yang baru itu.