Senin, 21 Juli 2014

Fakta Konyol Orang-orang yang Mengaku Tidak Bermazhab

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Mazhab secara bahasa artinya adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba” yazhabu zihaaban . Mahzab adalah isim makan dan isim zaman dari akar kata tersebut.

Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah dan Sunnah Nabawiyah. Mazhab yang kita maksudkan di sini adalah mazhab fiqih.
Adapula yang memberikan pengertian mazhab fiqih adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu.

Nashiruddan al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dhaifah serta orang-orang yang sefaham dengannya melontarkan kritik kepada orang-orang yang bertaqlid dan menyatakan bahwa taqlid dalam agama adalah haram. Mereka juga mengkategorikan pemikiran madzhab Abu Hanifah, madzhab asy-Syafii dan madzhab-madzhab lain yang berbeda-beda dalam mencetuskan hukum setara dengan taaddud asy-syariah (syariat yang berbilangan) yang terlarang dalam agama. (Lihat Silsilah Ahadits adh-Dhaifah ketika membahas hadits Ikhtilaf Ummah. )

Mereka juga tidak segan-segan lagi mengatakan bahwa madzhab empat adalah bidah yang di munculkan dalam agama dan hasil pemikiran madzhab bukan termasuk dari bagian agama. Bahkan ada juga yang mengatakan dengan lebih ekstrim bahwa kitab para imam-imam (kitab salaf) adalah kitab yang menjadi tembok penghalang kuat untuk memahami al-Quran maupun Sunnah dan menjadikan penyebab mundur dan bodohnya umat.

Namun yang aneh dan lucu, justru mereka kerap kali mengutip pendapat-pendapat ulama yang bertaqlid seperti: Izzuddin bin Abdis Salam, Ibnu Shalah, al-Bulqini, as-Subki, Ibnu Daqiq al-Id, al-Iraqi, Ibnu Hazm, Syah Waliyullah ad-Dihlawi, Qadhi Husain, Ibnu Hajar al-Haitami, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, adz-Dzahabi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, as-Suyuthi, al-
Khathib al-Baghdadi, an-Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Rusyd, al-Bukhari dan lain-lain. Padahal diri mereka berkeyakinan bahwa ulama-ulama diatas adalah orang yang salah memilih jalan karena telah bertaqlid dan menghalalkannya.

Lalu jika begitu, sebandingkah seorang al-Albani dengan ulama-ulama di atas yang mau bertaqlid dan melegalkannya sehingga dia mengharamkan taqlid?
Apakah ulama-ulama di atas juga akan masuk neraka karena melakukan dosa bertaqlid? Apakah ulama-ulama di atas juga bodoh tentang al-Quran dan Sunnah Rasulallah menurut mereka? Sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban, akan tetapi difikirkan dan direnungkan dengan fikiran jernih serta jauh dari syahwat dan sikap fanatik yang berlebihan.

Jika di amati dengan seksama, orang-orang yang menolak taqlid sebenarnya juga sering bertaqlid. Mereka mengambil hadits dari Shahih al-Bukhari dan Muslim misalnya serta mengatakan bahwa haditsnya shahih karena telah diteliti dan di kritisi oleh ahli hadits terkenal yaitu al-Bukhari dan Muslim.

Bukankah hal tersebut juga bagian dari bertaqlid dalam bidang hadits?
Bukankah juga, al-Bukhari adalah salah satu ulama pengikut madzhab (asy-Syafii)? Kenapa mereka ingkar sebagian dan percaya sebagian? Lalu ketika mereka mengikuti pemikiran Nashiruddin al-Albani, al-Utsaimin, Ibnu baz dan lain-lain dengan sangat fanatik dan sangat berlebihan, di namakan apa?
Menurut orang-orang yang anti taqlid bahwa orang Islam harus berijtihad dan mengambil hukum langsung dari al-Quran dan Sunnah tanpa bertaqlid sama sekali kepada siapapun. Pemahaman seperti ini muncul akibat dari kebodohan mereka memahami dalil al-Quran dan Sunnah serta lupa dengan sejarah Islam terdahulu (zaman Shahabat). Mereka juga tidak pernah berfikir bahwa
mewajibkan umat Islam berijtihad sendiri sama dengan menghancurkan agama dari dalam, karena hal itu, tentu akan membuka pintu masuk memahami hukum dengan ngawur bagi orang yang tidak ahlinya (tidak memenuhi kriteria mujtahid).

Yang sangat lucu di zaman sekarang, terutama di Indonesia, banyak orang yang membaca dan mengetahui isi al-Quran dan Hadits hanya dari terjemah-terjemah, lalu mereka dengan lantang menentang hasil ijtihad ulama (mujtahid) dan ulama-ulama salaf terdahulu dan bahkan mengatakan juga, mereka semua sesat dan ahli neraka. Bukankan hal itu malah akan menjadi lelucon yang tidak lucu? Lagi-lagi bodoh menjadi faktor penyebab ingkar mereka.

Sedangakan menurut ulama, seseorang dapat menjadi seorang mujtahid (punya kapasitas memahami hukum dari teks al-Quran maupun Hadits secara langsung) harus memenuhi kriteria berikut: handal dibidang satu persatu (mufradat) lafazh bahasa Arab, mampu membedakan kata musytarak (sekutuan) dari yang tidak, mengetahui detail huruf jer (kalimah huruf dalam disiplin ilmu Nahwu), mengetahui mana-mana huruf istifham (kata tanya) dan huruf syarat, handal di bidang isi kandungan al-Quran, asbab nuzul (latar belakang di turunkannya ayat), nasikh mansukh (hukum atau lafazh al-Quran yang dirubah atau di ganti), muhkam dan mutasyabih, umum dan khusus, muthlak dan muqayyad, fahwa al-Khithab, khithab at-Taklif dan mafhum
muwafaqah serta mafhum mukhalafah. Serta juga handal di bidang hadits Rasulallah baik di bidang dirayah (mushthalah hadits atau kritik perawi hadits) dan riwayat, tanggap fikir terhadap bentuk mashlahah umum dan lain-lain. Jika kriteria-kriteria di atas tidak terpenuhi, maka kewajibannya adalah bertaqlid mengikuti mujtahid.

Kami tidak pernah mengatakan bahwa pintu gerbang ijtihad telah tertutup, karena kesempatan menjadi mujtahid tetap terbuka sampai hari kiyamat.

Namun secara realita, siapakah sekarang ini ulama yang mampu masuk derajat mujtahid seperti asy-Syafii, Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal dan lain-lain. Adakah doktor-doktor syariat zaman sekarang yang dapat disejajarkan dengan ulama-ulama pengikut madzhab seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar dan lain-lain? Jika tidak ada yang dapat di sejajar dengan mereka, lalu kenapa tiba-tiba mereka mendakwahkan diri berijtihad?

ketetapan wajib bertaqlid bagi orang yang belum sampai derajat mujtahid adalah berdasar:

1. Dalil Al-Quran Q.S. an-Nahl: 43:
Bertanyalah kalian semua kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.

Dan sudah menjadi ijma ulama bahwa ayat tersebut memerintahkan bagi orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya untuk ittiba(mengikuti) orang yang tahu. Dan mayoritas ulama ushul fiqh berpendapat bahwa ayat tersebut adalah dalil pokok pertama tentang kewajiban orang awam (orang yang belum mempunyai kapasitas istinbath [menggali hukum]) untuk mengikuti orang alim yang mujtahid.

senada dengan ayat diatas didalam Qur`an surat At-Taubah ayat 122;

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.( 122)

2. Ijma
Maksudnya, sudah menjadi kesepakatan dan tanpa ada khilaf, bahwa shahabat-shahabat Rasulallah berbeda-beda taraf tingkatan keilmuannya, dan tidak semua adalah ahli fatwa (mujtahid) seperti yang disampaikan Ibnu Khaldun.

Dan sudah nyata bahwa agama diambil dari semua sahabat, tapi mereka ada yang memiliki kapasitas ijtihad dan itu relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah semua sahabat. Di antaranya juga ada mustafti atau muqallid (sahabat yang tidak mempunyai kapasitas ijtihad atau istinbath) dan shahabat golongan ini jumlahnya sangat banyak.

Setiap shahabat yang ahli ijtihad seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Abdullah bin Masud, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan lain-lain saat memberi fatwa pasti menyampaikan dalil fatwanya.

3. Dalil akal
Orang yang bukan ahli ijtihad apabila menemui suatu masalah fiqhiyyah, pilihannya hanya ada dua, yaitu: antara berfikir dan berijtihad sendiri sembari mencari dalil yang dapat menjawabnya atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid.

Jika memilih yang awal, maka itu sangat tidak mungkin karena dia harus menggunakan semua waktunya untuk mencari, berfikir dan berijtihad dengan dalil yang ada untuk menjawab masalahnya dan mempelajari perangkat-perangkat ijtihad yang akan memakan waktu lama sehingga pekerjaan dan profesi maisyah pastinya akan terbengkalai. Klimaksnya dunia ini rusak. Maka tidak salah kalau Dr. al-Buthi memberi judul salah satu kitabnya dengan Tidak
bermadzhab adalah bidah yang paling berbahaya yang dapat menghancurkan agama.

Dan pilihan terakhirlah yang harus ditempuh, yaitu taqlid. (Allamadzhabiyah hlm. 70-73, Takhrij Ahadits al-Lumahlm. 348. )

Kesimpulannya dalam hal taqlid ini adalah:
1. Wajib bagi orang yang tidak mampu ber-istinbath dari Al-Quran dan Hadits.
2. Haram bagi orang yang mampu dan syaratnya tentu sangat ketat, sehingga mulai sekitar tahun 300 hijriah sudah tidak ada ulama yang memenuhi kriteria atau syarat mujtahid. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafii, Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri dan lain-lain.

Lalu menjawab perkataan empat imam madzhab yang melarang orang lain bertaqlid kepada mereka adalah sebagaimana yang diterangkan ulama-ulama, bahwa larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu berijtihad

Minggu, 20 Juli 2014

Tauladan Perasaan Takut kpd Alloh dari sang pemimpin Umar ra.

Kadang-kala Umar ra. memegang setangkai rumput dan berkata, "Seandainya aku
menjadi setangkai rumput ini." Terkadang beliau berkata," Seandainya ibuku tidak
melahirkanku."

Suatu ketika, ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Seseorang mendatanginya dan
berkata, "Si fulan telah menzhalimiku. Engkau hendaknya menindaknya." Umar ra.
segera mengambil sebatang cambuk dan memukul orang itu, sambil berkata,
"Ketika saya sediakan waktuku untukmu, kamu tidak datang. Sekarang saya
sedang sibuk dengan urusan lain, kamu datang dan memintaku untuk
menyelesaikannya." Orang itu pun pergi. Lalu Umar ra. menyuruh seseorang untuk
memanggil kembali orang tadi. Setelah datang, Umar ra. memberikan cambuk
kepadanya dan berkata, "Balaslah aku!" Jawab orang itu, "Aku telah memaafkanmu
karena Allah."

Segera Umar ra. pulang ke rumahnya dan mengerjakan shalat dua rakaat.
Kemudian beliau berbicara kepada dirinya sendiri, "Hai Umar, dahulu kedudukanmu
rendah, sekarang Allah meninggikan derajatmu. Dahulu kamu sesat, lalu Allah
memberimu hidayah. Dahulu kamu hina, lalu Allah memuliakanmu, dan Dia telah
menjadikanmu sebagai raja bagi manusia. Sekarang telah datang seorang laki-laki
mengadukan nasibnya dan berkata, "Aku telah dizhalimi, balaskanlah untukku,
tetapi kamu telah memukuhiya. Kelak pada hari Kiamat, apakah jawabanmu di
hadapan Tuhanmu?" Lama sekali Umar menghukumi atas dirinya sendiri. (Asadul
Ghobah)

Pelayan beliau, yaitu Aslarn ra. berkata, "Suatu ketika saya pernah bersama Umar
ra. pergi ke Hirah (salah satu kota dekat Madinah). Lalu, terlihat ada nyala api di
atas gunung. Umar ra. berkata, "Itu mungkin suatu kafilah yang kemalaman dan
mereka tidak sampai ke kota, mereka terpaksa menunggu di luar kota. Mari kita
lihat berita baik dari mereka, bagaimana penjagaan malam mereka!" Setibanya di
sana, tampaklah seorang wanita dengan beberapa anak kecil yang menangis di
sekelilingnya. Dan perempuan itu sedang merebus air dalam suatu kuali di atas
tungku yang menyala. Umar ra. memberi salam kepada wanita tadi, dan meminta
ijin untuk dapat mendekatinya, dan bertanya, "Mengapa anak-anak ini menangis?"
Jawab Wanita itu, "Mereka kelaparan." Lalu Umar ra, bertanya, "Apa yang sedang
engkau masak dalam panel itu?" Jawab wanita itu, "Panci ini penuh dengan air,
hanya untuk membohongi anak-anak agar mereka senang dengan menyangka saya
sedang memasakkan makanan untuk mereka, sehingga mereka tertidur. Semoga
Allah menghukum Amirul Mukminin Umar ra., yang tidak mau tahu dengan
kesempitanku ini." Umar ra. menangis, dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu,
tetapi bagaimana Umar ra. dapat mengetahui keadaanmu?" Jawab wanita itu, "Dia
adalah ketua kami, seharusnya ia memperhatikan keadaan kami."

Aslam ra. melanjutkan ceritanya; kemudian Umar ra. mangajakku kembali ke
Madinah. Lalu ia mengeluarkan sekarung gandum, kurma, minyak, dan beberapa
potong pakaian juga beberapa dirham dari Baitul Mal. Setelah karung itu penuh
berisi, beliau berkata kepadaku, "Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku!"
Saya menjawab, "Biarkan saya yang membawanya, ya Amirul Mukminin." Sahut
Umar ra,, "Tidak! Letakkan saja di pundakku." Dua tiga kali aku menawarkan diriku
dengan sedikit memaksa kepadanya, lalu beliau berkata, "Apakah kamu akan
memikul dosa-dosaku nanti pada hari Kiamat? Tidak, aku sendirilah yang akan
memikulnya, dan aku juga yang bertanggung jawab atas hal ini." Terpaksa, saya
letakkan karung itu di pundak beliau. Dan dengan tergesa-gesa beliau membawa
karung itu ke kemah tadi dan saya pun tetap turut bersamanya.

Setibanya di sana, beliau langsung memasukkan tepung, dan sedikit minyak,
ditambah dengan kurma lalu diaduk, dan beliau sendiri yang menyalakan
tungkunya. Aslam bercerita, "Saya melihat asap mengenai janggutnya, beliau
memasak sampai matang. Lalu, beliau sendiri yang menghidang makanan itu
dengan tangannya yang penuh berkah kepada keluarga itu. Demikian senangnya
Umar ra. tertawa-tawa melihat mereka makan. Setelah selesai makan, anak-anak
itu pun bermain-main riang. Wanita itu sangat senang, ia berkata, "Semoga Allah
memberimu balasan yang baik, seharusnya kamu lebih berhak menjadi khalifah
daripada Umar. Untuk menyenangkan hati ibu tadi Umar ra. berkata, "Jika kamu
menjumpai khalifah, maka kamu akan menjumpaiku di sana."

Kemudian, Umar ra. meletakkan kedua tangannya di bawah dan duduk di atas
tanah. Beberapa saat kemudian beliau pun meninggalkan mereka. Umar ra. berkata
kepada Aslam ra, "Aku tadi duduk di situ karena aku telah melihat mereka
menangis, dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa."
(Asyharu Masyahir)

Dalam shalat-shalat Shubuhnya, Umar ra. selalu membaca surat-surat Al-Qur'an
yang panjang. Kadang-kadang, beliau membaca surat Al-Kahfi, Thaha, dan surat
lainnya, sambil menangis terisak-isak, sehingga suara tangisannya terdengar
hingga beberapa shaf ke belakang. Suatu ketika Umar ra. membaca surat Yusuf
dalam Shubuhnya, ketika sampai di ayat:

"Yakub menjawab, "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan
kesusahan dan kesedihanku. "(Yusuf: 86)

Beliau menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak terdengar lagi. Beliau juga
kadang-kadang terus membaca Al-Qur'an sambil menangis dalam tahajjudnya
sehingga terjatuh dan sakit.

Faedah:
Inilah keteladanan rasa takut seseorang kepada Allah, yang namanya sangat
ditakuti oleh raja-raja. Sekarang, setelah 1.300 tahun lamanya, adakah
seorangraja, seorangpejabat, atausekedarpemimpin biasa yang mempunyai rasa
tanggung jawab dan kasih sayang terhadap rakyatnya sedemikian rupa seperti
Umar ra.?

Syawwal, Kesinambungan Anugerah Ramadhan

Marilah kita syukuri segala karunia Allah yang tiada terhingga dan tidak
terbatas. Apapun yang kita minta dan inginkan, Allah siap memberikan seluruhnya
kepada kita sesuai kebijakanNya. Baru saja kita lewati bulan Ramadhan, mudah-
mudahan amal shalih kita dalam bulan Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Taqabbalallaahu minna waminkum, taqabbal yaa kariim.

Anugerah yang kita peroleh secara psikologis/kejiwaan selama bulan suci
Ramadhan, yang diharapkan dapat kita lestarikan selama 11 bulan yang akan
datang adalah kebiasaan untuk selalu beramal shalih, kebiasaan menjadi hamba
yang bertaqwa. Kebiasaan adalah menjadi tujuan Inti dari puasa dan anugerah
terbesar selama Ramadhan.

Seorang pakar renang, yang bergelar profesor atau doktor dalam ilmu berenang,
yang memiliki dan menguasai teori dan macam-macam gaya dalam berenang,
tetapi dia tidak pernah praktek berenang, maka dapat diyakini bahwa dia akan
tenggelam di kolam renang. Karena berenang tidak bisa dikuasal hanya dengan
teori saja, tetapi tergantung dan seberapa sering praktik dan berlatih berenang.
Semua kemampuan praktik bisa didapat dari kebiasaan beramal dan berlatih.
Berlatih pun juga tidak asal-asalan. Tetapi harus istiqomah dan teratur. Begitu
juga dengan amal shalih. Sehingga derajat manusia ditentukan oleh kebiasaan
amalnya. “Dan setiap orang akan memperoleh derajat seimbang dengan apa yang
dikerjakan”. Al-An’am : 132. Kalau amalnya shalih, maka derajatnya adalah
keshalihan dalam hidupnya. Tetapi kalau derajat amalya maksiat, maka derajatnya
kefasikan dalam hidupnya. “Demikianlah kami jadikan hiasan (dipandang baik)
oIeh umat manusia tergantung amal kebiasaanya”. al-Anam:
:108.

Jadi kalau seseorang terbiasa amal shalih, maka dia akan cinta kebaikan.
Sebaliknya kalau seseorang terbiasa maksiat, maka dia akan cinta kepada
kemaksiatan. Witing trisno jalaran son gko kulino (Tumbuhnya cinta karena
kebiasaan). Ibadah akan tampak indah bagi seseorang yang terbiasa beribadah,
dan orang yang terbiasa maksiat akan memandang indah setiap kemaksiatan yang
dikerjakan.

Begitu juga ulama yang tidak mengamalkan ilmunya, maka kahancuranlah yang
didapat. Bahkan dalam sebuah hadith dianggap celaka, karena bagaikan pohon
yang tak berbuah. Tidak membuahkan akhlakul karimah.

Dalam bulan Ramadhan ada motivasi-motivasi, tetapi itu berlaku bagi yang
beriman. Begitu juga dengan turunnya al-Quran yang merupakan sugesti bagi orang
yang beriman. Tetapi bagi orang yang tidak beriman turunnya al-Quran akan
menjadi beban. Surat al-Isra 17:82 menyatakan:

ﻭَﻧُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻣَﺎ ﻫُﻮَ ﺷِﻔَﺎﺀٌ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔٌ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﻻ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ
ﺇِﻻ ﺧَﺴَﺎﺭًﺍ
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-
orang yang dzalim selain kerugian” [QS AL-Isra (17):82].

Yang hidupnya dalam kedzaliman, maka shalat, puasa, zakat, dan perintah-
perintah yang lain adalah beban, merugikan mereka. Nah kalau sugesti dan
motivasi selama bulan Ramadhan itu kita laksanakan dengan istiqomah, maka
akibatnya tercetak dalam jiwa kita, sebuah zhann (persepsi) baru. Allah sudah
memberikan yang terbaik bagi hambaNya, kalau husnuzhzhan (persepsi baik),
maka pemberian Allah itu juga berakibat baik. Kita yang biasanya berpuasa, tidak
berbohong, rajin bangun malam, rajin bertadarrus al-Quran, rajin bersedekah, maka
ketika memasuki bulan Syawwal persepsi tersebut akan kita bawa sebagai
kebiasan yang baik. ltulah presepsi yang kita bawa selepas Ramadhan dalam bulan
Syawwal ini.

Rasanya tidak enak kalau biasanya bertadarrus, kemudian tidak bertadarrus,
rasanya tidak enak berbohong kalau selama Ramadhan kita tidak berbohong. Maka
semua ini tergantung kita dalam meneruskan kebiasaan-kebiasaan yang baik itu di
sebelas bulan yang akan datang. Ada yang hanya mampu bertahan satu bulan, ada
yang dua bulan, ada yang tiga bulan, ada yang sampai ketemu Ramadhan lagi
mampu dipertahankan, bahkan ada juga yang tidak mampu mempertahankan sama
sekali.

Kita mungkin sudah tahu akan hal ini, tetapi mengapa kita sulit mempraktekannya.
Mengapa beramal shalih sulit istiqomah, mengikuti petunjuk Allah susah. Bertaqwa
secara istiqomah sulit. Kesulitan itu karena kita tidak terbiasa, kalau sudah biasa
tidak ada kata sulit. Contohnya, orang desa yang tidak biasa bersepatu harus
dipaksa pakal sepatu, tentu dia akan kesulitan berjalan. Berbeda dengan orang
yang biasa bersepatu, tentu akan mudah dan enjoy aja. Islam pun awalnya adalah
asing, dan sulit untuk dipraktikkan, seperti halnya para mualtaf, tetapi kalau sudah
biasa akan terasa mudah. Shalat akan sulit bagi yang tidak biasa, zakat juga sulit
bagi yang tidak pernah berzakat dst.

Jadi sebetulnya tidak ada kata sulit bagi yang sudah biasa. Kalaupun ada kesulitan
bagaikan seorang siswa yang diuji untuk kenaikan kelas atau tingkat. Karena
setiap kesulitan ada kemudahan, inna ma’aI ‘usri yusron. Setiap kesulitan itu telah
diatur oleh Allah. Jadi tidak mungkin melebihi batas kemampuan manusia, karena
kesulitan atau ujian itu datangnya dari Allah. Karena orang yang betul-betul tahu,
bahwa kesulitan atau musibah itu datangnya dari Allah, maka dia akan yakin pasti
Allah telah mengukur kemampuan hamba yang diujinya itu. Allah tidak pernah
mendhalimi hambaNya. Kalau dirasa melebihi batas kemampuan, itu hanya
persepsi manusia saja yang jelek, yang husnudhan tentu akan diterirna dengan
sabar.

Demikianlah betapa kebiasaan yang baik selama bulan Ramadhan adalah anugerah
yang terbaik bagi kita, yang telah menjalankan puasa dengan benar, dan Syawwal
sebagai kesinambungan adalah dengan tetap mempertahankan amal shalih yang
sudah istiqomah itu, agar kebiasaan ini memperkuat husnudhan kita. Sebab kalau
nanti setelah kita memperoleh dhan yang baru ini lalu kita membiasakan kebiasan
lain, yang menyimpang (fujuur), maka husnudhan kita akan berubah menjadi
su’udhan lagi terhadap pemberian Allah kepada kita, sebab Allah itu tergantung
persepsi hambanya (ana ‘inda dhanni ‘abdi bihi).

Karena itu bulan Ramadhan adalah bulan pembentukan dhan (presepsi) semua
perintah Allah, Dan bulan Syawwal dan seterusnya adalah bulan-bulan untuk
mempertahankan yang kita peroleh di bulan Ramadhan yang lalu. Karena kita tidak
akan menjadi sempurna, maka kita evaluasi selama 6 bulan seperti yang dilakukan
oleh para sahabat, bagaimana dan apa yang sudah kita dapat, dan apa yang
belum. Dan 6 bulan berikutnya kita gunakan untuk menghadapi bulan Ramadhan
yang akan menyongsong kita, agar amal shalih kita semakin meningkat. Dan
persepsi kita kepada Allah juga semakin baik.

Wallahu a’lam.

Sabtu, 19 Juli 2014

Dimanakah posisi taqwa kita.?

Dimana posisi Taqwa Kita?
Marilah kita selalu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Peningkatan
ketaqwaan dalam arti usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Masing-masing
manusia berbeda cara mencapai ketaqwaan ini. Ada seorang mufassir dan
muhaddis terkemuka, Syekh Muhammad bin ‘Alan Ashodiqy (1996- 1057 H),
Membagi ketaqwaan itu menjadi 3 tingkatan, yaitu:

Pertama , golongan yang berusaha menjauhkan diri dari ancaman siksa yang kekal.
Dengan jalan membersihkan diri terhadap sifat syirik kepada Allah SWT. [QS. Al-
fath (48):26]
ﺇِﺫْ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴَّﺔَ ﺣَﻤِﻴَّﺔَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﺄَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻜِﻴﻨَﺘَﻪُ
ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺃَﻟْﺰَﻣَﻬُﻢْ ﻛَﻠِﻤَﺔَ ﺍﻟﺘَّﻘْﻮَﻯ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺃَﺣَﻖَّ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻫْﻠَﻬَﺎ
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu)
kesombongan Jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan
kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa,
dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya, dan
adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Dalam flrmanNya ini Allah SWT mewajibkan kepada orang-orang mukmin agar
mencapai taqwa dengan menjauhkan diri dari sifat syirik kepada Allah SWT
memurnikan kepercayaannya, hanya kepada Allah SWT. Sehingga nantinya akan
selamat dari siksaan api neraka yang kekal. Jadi golongan ini hanya mementingkan
agar dirinya selamat dari siksa neraka yang kekal. Mereka tidak sanggup Iebih dari
itu. Mereka seakan rela masuk neraka asal tidak selamanya. Ini!ah tingkatan
taqwa yang terendah.

Kedua, yaitu golongan yang berusaha menjauhi segala sesuatu yang berakibat
dosa. Apakah dosa yang diakibatkan oleh perbuatan manusia yang karena dilarang
oleh agama, seperti makanan yang diharamkan. Atau keengganan untuk melakukan
sesuatu yang diperintah oleh agama, seperti meninggalkan shalat wajib. Kelompok
inilah yang dimaksudkan Allah SWT sebagaimana firmanNya surat [QS. AI-A’Raf
(7): 96].
ﻭَﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻘُﺮَﻯ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻮْﺍ ﻟَﻔَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺕٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻷﺭْﺽِ ﻭَﻟَﻜِﻦْ
ﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﻓَﺄَﺧَﺬْﻧَﺎﻫُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺴِﺒُﻮﻥَ
“ Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya”.

Dalam ayat ini, Allah menjanjikan pemberian rahmat bagi orang yang beriman.
Taqwa yang dimaksud dalam firman ini menurut tafsir Alkhozin ialah taqwa dalam
arti menjauhkan diri dan larangan-larangan Allah SWT dan apa saja yang di
haramkanNya. Maksudnya bukan hanya sekedar memurnikan kepercayaan kepada
Allah saja, akan tetapi kepercayaan yang sudah tertanam itu diwujudkan dalam
bentuk nyata, yakni dengan menjauhi larangan larangan Allah SWT. Golongan ini
hanya mementingkan dirinya sendiri untuk selalu menghindar dari hal-hal yang
mengakibatkan dosa. Tentunya setelah terlebih dahulu menanamkan keimanannya.
Mereka tidak mampu berbuat selebihnya. Mereka tidak mampu menjalankan
perintah-perintah agama secara sempurna. Mereka tidak mampu melakukan
amalan-amalan yang mendapatkan pahala untuk kepentingan ketaqwaannya.
Golongan ini adalah golongan pertengahan, lebih tinggi dibanding golongan yang
pertama.

Ketiga , golongan yang berusaha membersihkan hatinya yang sedang lalai dan
mengerahkan segalanya hanya untuk Allah SWT semata. Apa yang dikerjakan
selalu disandarkan kepada Allah SWT dalam rangka mencari keridhoanNya. Taqwa
inilah yang dikatakan betul-betul taqwa kepada Allah SWT. Dan taqwa inilah yang
sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firmanNya [QS. Ali Imran (3):102].
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻ ﺗَﻤُﻮﺗُﻦَّ ﺇِﻻ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam”.

Tuntutan taqwa pada ayat ini sangat berat, karena taqwa di sini mengandung tiga
unsur, yaitu:

1. Pertama, harus mentaati ajaran agama, baik yang berbentuk perintah ataupun
larangan. Dan tidak boleh sedikitpun lalai, atau berbuat maksiat.
2. Kedua, harus selalu ingat kepada Allah SWT, tanpa melupakan sejenakpun.
3. Ketiga, harus selalu bersyukur kepadaNya, tanpa pernah mengingkarinya.

Karena ketiga unsur ini amat berat, maka muncullah seorang sahabat yang
mengungkapkan keberatannya kepada baginda Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah,
siapa yang mampu menjalankan taqwa yang seperti itu? Maka turunlah Surat At
Taghobun (64):16.
ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻭَﺍﺳْﻤَﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﻭَﺃَﻧْﻔِﻘُﻮﺍ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻷﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻮﻕَ
ﺷُﺢَّ ﻧَﻔْﺴِﻪِ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah
serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang
beruntung”.

Setelah turun ayat ini, maka taqwa yang mengandung unsur di atas, hendaklah
dilakukan dalam batas kemampuan maksimal. Sebagai manusia, wajarlah kalau
seorang sahabat Nabi menyatakan keberatan dalam menjalankan taqwa
sepenuhnya pada tingkatan terakhir ini, sebab Tuhan menciptakan manusia disertai
hawa nafsu.

Pengendalian hawa nafsu inilah yang sulit dilakukan o!eh setiap manusia.
Walaupun tuhan telah berkali-kali mengingatkannya agar berhati-hati dalam
menghadapi hawa nafsu. Di antaranya dalam surah Al-Munafiqun (63):09. Dalam
ayat ini Allah SWT mengingatkan kepada kita dalam mengendalikan keinginan,
menguasai kekayaan dan anak-anak.
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻ ﺃَﻭْﻻﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ
ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu
dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah
orang-orang yang merugi”.

Bila keinginan nafsu itu sampai melalaikan akan mengingat Allah, berarti telah
mengurangi kualitas ketaqwaan kita. Dalam hal menginginkan untuk menguasai
harta kekayaan dan anak-anak, memang manusia sering kali sampai melupakan
Tuhannya. Hal ini karena harta kekayaan dan anak-anak itu merupakan fitnah
(cobaan) Allah SWT. Bagi yang mampu melewatinya dengan baik, akan
mendapatkan keuntungan besar, dan Allah telah menjanjikan pahala yang besar. Aamiin

Rabu, 16 Juli 2014

Pahala Puasa Ramadhan

pahala yang agung yang telah Allah SWT siapkan untuk orang-orang yang berpuasa. Diantaranya adalah:

a. Bahwa pahala orang yang berpuasa sangatlah besat, saking besarnya, tidak ada siapa pun yang mengetahuinya selain Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Semua amal manusia adalah miliknya, kecuali puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya” (H.R. Bukhari).

b. Siapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah, maka ia akan dijauhkan dari neraka sejauh 70 tahun.
Ini ganjaran satu hari, bagaimana kalau satu bulan penuh?! Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra. ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah -SAW- bersabda: 'Siapa yang berpuasa satu hari fi sabilillah maka Allah SWT akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh 70 tahun'”. (Muttafaqun 'alaih).

c. Puasa akan memberi syafaat kepada yang melakukannya sehingga ia akan memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Abdullah bin 'Amr-radhiyallahu 'anhu- bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Puasa dan Al-Qur'an memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat, puasa berkata: “Wahai Tuhanku! Saya telah mencegahnya dari makan dan syahwa di siang hari, oleh karena itu terimalah syafaat saya untuknya!”. Lalu Al-QUr'an berkata: “Wahai Tuhanku, saya telah memcegahnya dari tidur di malam hari, oleh karena itu, terimalah syafaat saya untuknya!”. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Lalu syafaat keduanya diterima Allah SWT”. (H.R. Ahmad).

d. Di dalam surga ada satu pintu yang bernama Al-Rayyan, pintu ini hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Sahl -radhiyallahu 'anhu dari nabi Muhammad -shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya di surga ada satu pintu bernama Al-Rayyan , dari pintu ini akan masuk orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak ada siapapun selain mereka yang akan memasuki pintu ini, dikatakan (diserukan): Mana orang-orang yang berpuasa? Lalu mereka semua berdiri, tidak ada seorang pun selain mereka yang memasuki pintu ini, jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, maka pintu itu ditutup, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang
memasukinya”. (Muttafaqun 'alaih).

e. Puasa Ramadhan menghapus dosa-dosa yang telah berlalu.
Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- ia berkata: “Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam-bersabda: 'Siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan karena mengharap pahala di sisi Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni'”. (Muttafaqun 'alaih). Dalam hadits lain Rasulullah -shallallahu'alaihi wa sallam- bersabda: Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'shalat lima waktu, Jumat ke Jumat dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus-penghapus dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi” . (H.R. Muslim).

f. Pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Jika datang bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dibuka dan syetan-syetan dibelenggu”. (H.R. Muslim).

g. Doa orang yang berpuasa bulan Ramadhan dikabulkan Allah SWT.
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu- ia berkata: “Rasulullah –shallallahu'alaihi wa sallam- bersabda: 'Tiga orang yang doa mereka tidak ditolak; orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang terzhalimi akan diangkat Allah SWT di atas awan dan dibuka untuknya pintu-pintu langit, dan Allah SWT berfirman: 'Demi izzahku, sungguh Aku akan mendolongmu walaupun setelah beberapa saat” . (H. R. Ahmad dan AtTirmidzi, dan ia berkata: “Hadits ini hasan”). Setelah kita ketahui betapa besar pahala yang Allah SWT sediakan bagi orang-orang yang berpuasa, maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain membangun motivasi dan semangat untuk mengisi siang dan malam hari Ramadhan dengan berbagai amal shaleh dan segala bentuk ketaatan.

Ya Allah, bukalah bagi kami di bulan ini pintu-pintu surgamu, tutuplah untuk kami di bulan ini pintu-pintu nerakamu, dan berikanlah taufik kepada kami di bulan ini untuk membaca al-Quran, wahai dzat yang maha Penurun ketenangan di hati orang Mukminin. Aamiin

Jika Sabar Itu Muda, Tentu Semua Orang Akan Bisa Melakukannya

KISAH NYATA DARI TANAH ARAB…..

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah.
Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan
hati yang mendengar. Tentu saja, Hidayah adalah kehendak NYA dan Hidayah
hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari
yang lalu dari sahabat Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari
Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari
Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal
dibenua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika.
Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu Muslim kulit
hitam yang juga kerja di Hotel ini.

Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja.
Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek
bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum
bisa ramah dikulit saya.

Hari itu Ammar tidak terlihat.

Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya.
“Oh kamu tidak tahu?”
Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur
dengan logat urdhu yang pekat.

“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.
Selepas itu, tanpa saya duga iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir,
semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin
memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu.
Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar
tahun 2004 lalu.
Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan
keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini. Saudi arabia
memang memberikan free visa untuk Negara Negara Arab lainnya termasuk
Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja disini asal punya Pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat.

Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi
keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah
dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar
apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan.
Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di
Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat…
Bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung
berakhir..

Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah
pindah di Kota ini. Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana Kota
yang garang.
Tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu
caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita
masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara
penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia.

Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju
Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung
saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam
setahun..

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini.
Pulang ke suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus
membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu
tekadnya.

Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya.
Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar
dengan lapar dan haus untuk raganya disini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil
terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di
Sudan.

Tapi Ammar pun Manusia.
Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya
yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di
teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.
Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan.

Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa
uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya.
Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket
pulang.

Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman
terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya ia memberinya
sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat
untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja.
Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya- Riyadh, utuk menukar uangnya dengan
tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah
didapat karena konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk
kelas executive saja.

Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya.
Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan
jadwal terbang masih minggu depan.
Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.
Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu
sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi
baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.
Adzan dzuhur bergema..

Semua Toko Toko, Supermarket, Bank, dan Kantor Pemerintah serentak
menutup pintu dan menguncinya. Security Kota berjaga jaga di luar kantor
kantor, menunggu hingga waktu Shalat berjamaah selesai.
Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh.
Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu..
memabasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting
dengan air.

Lalu ia masuk mesjid. Shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk
menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan,
Ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya
berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai.

Ammar masih bingung untuk memulai langkah.
Penerbangan masih seminggu lagi.
Ia diam.

Dilihatnya beberapa mushaf al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid
yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca
taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.
Selepas Maghrib ia masih disana.
Beberapa hari berikutnya, Ia memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal
penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya.
Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu.
Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat,
membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa Kota.
Adzannya memang khas.

Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu
juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah disana.
Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di
kota Riyadh.

Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke
Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2
jam sebelumnya.
Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari
bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30
menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk diruang tunggu dibandara,
Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya.
Ia harus pulang kenegerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini
tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan.
Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam
semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban
kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah
buat anak anaknya.

Diantara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil
manggil namanya.
Suara itu datang dari speaker dibandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang
Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.
Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata
“Prince memanggilmu”.

Ammarpun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince.
Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince.
Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah
Arab ini. Mereka memilii Palace atau Istana masing masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Mesjid tempat
ia menginap seminggu terakhir itu, disana pengelola masjid itu menceritakan
bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.
Setiap kali Ammar adzan prince selalu bangun dan merasa terpanggil..
Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan. Saat
mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang kenegerinya Prince
langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan
segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke
Negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince.
Prince menyambut Ammar dirumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang
alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan.
Amarpun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak
mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk
menghidupi keluarganya.

Prince mengangguk nganguk dan bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu
bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan
sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan bulan tanpa gaji
dinegeri ini.
Prince memakluminya.

Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah
kamu dapati?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun
kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab
Ammar.

Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang.
1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000
(84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung
uang dan menyerahkannya kepada Amar.

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban dihadapannya.
Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah,
Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah
temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan.
Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah
Bilall dimasjidku.. dan hiduplah bersama kami di Palace ini”
Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya.

Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya
di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini
benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya
selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari disiang hari
yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan
untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak.
Semua berubah dalam sekejap!

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar.
Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.

Nothing Imposible for Allah,
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah..
Bumi inipun Milik Allah,..
Alam semesta, Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan
Nya.

Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini
Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia
dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai
Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah…

Seperti itulah buah dari kesabaran.
”Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu
belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas
kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”.
(NAI)

ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻠَﻘَّﺎﻫَﺎ ﺇِﻻ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺻَﺒَﺮُﻭﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻠَﻘَّﺎﻫَﺎ ﺇِﻻ ﺫُﻭ ﺣَﻆٍّ ﻋَﻈِﻴﻢٍ
” Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang
yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
mempunyai keuntungan yang besar. ” (Al Fushilat 35)

Allahuakbar!
Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya

Selasa, 15 Juli 2014

" KISAH ULAR MENUNGGU JENAZAH "

Kisah nyata yang anda baca ini bukan datang dari majalah atau tabloid,tetapi kisah
dari tanah perkuburan Sa’raya,Mekkah..

Pada beberapa tahun yang lalu ada seorang perempuan yang berumur 40an telah
meninggal dunia..

Mereka telah mengusung jenazah beliau untuk dikebumikan di tanah perkuburan Al
Ma’ala yakni lebih kurang 2 kilometer dari Masjidil Haram setelah Shalat Dzuhur..

Namun ketika sampai di tanah perkuburan tersebut, alangkah terperanjatnya mereka
bila mendapati seekor ular yang berwarna hitam sebesar paha bersisik tebal telah
berada di dalam liang lahat (dalam kubur tersebut)..

SubhanALLAH..
Keadaan ular tersebut amat mengerikan..
Mereka pun terus berlalu dari situ dan membawa jenazah wanita tersebut ke tanah
perkuburan yang lain yakni di tanah perkuburan Sa’raya lebih kurang 8 km Jauhnya..
Ketika mereka sampai di tanah perkuburan tersebut, rupa-rupanya ular hitam yang
sama juga telah menunggu jenazah wanita yang ingin dikebumikan di situ..

ALLAHU AKBAR..
Mereka mengambil keputusan untuk memindahkan serta mengangkat ular tersebut
dan Meletakkan di luar yakni berjauhan sedikit dari kawasan tersebut dan
mengkebumikan jenazah wanita itu..

(Namun aneh nya ular hitam itu tidak melakukan apa-apa bila disentuh oleh mereka)..
Dengan segera mereka mengkebumikan mayat wanita itu..
Tiba-tiba Ular Hitam yang diletakkan berjauhan dari situ terus datang dan menjalar
dengan cepat dan masuk ke dalam kubur wanita itu..

MasyaALLAH..
(Seperti menghujam ke dalam swimming pool dari atas – keadaan ketika ular itu
masuk ke dalam kubur)..

Dan tidak berapa lama mereka mendengar bunyi seperti dahan-dahan pokok yang
dipatah patahkan..

Dan ketika mereka melihat ke dalam kubur wanita tersebut, alangkah terperanjatnya
karena ular hitam sedang membelit jenazah wanita itu serta mematah matahkan
tulang jenazah itu …

SubhanALLAH..
Ada beberapa orang yang berada di Sekitar kubur itu turut pingsan melihat kejadian
itu..

Setelah diselidiki kenapa perkara tersebut bisa terjadi..??
Ternyata sewaktu hayatnya, wanita tersebut suka melewat lewatkan Shalat nya..
Marilah kita ambil I'tibar dan Renungan dari kejadian ini..

Semoga ALLAH Subhanahu Wata'ala menguatkan iman kita dalam mendirikan solat 5
waktu daripada gangguan syaitan dan iblis Insya ALLAH..

Ini baru siksaan di dunia akibat melewatkan Shalat..??
Bagaimana kalau tidak Shalat..??

Astaghfirullahhal'adzhiim..
Yuk,Bagikan Inspirasi bermanfaat ini,semoga menjadi KEBAIKAN bagi kita
semua,Aamiin..

Yaa ALLAH..
Mudahkanlah urusan orang yang Membaca status ini..
Dekatkanlah Rezekinya,Sehatkanlah jiwa raganya dan Mudahkanlah jodohnya untuk
orang yang nge-Like dan nge-share Status Ini..

Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin..