Senin, 08 Februari 2016

Imam Abu Hanifah (w 150 H) Berkeyakinan "Allah Ada Tanpa Tempat", Tidak Seperti Keyakinan Kaum Wahhabiyyah.. Awas Terkecoh!!

Ini catatan sangat penting; menyangkut pernyataan Imam Abu Hanifah yang sering "dipelintir/diselewengkan" (disalahpahami) oleh kaum Wahhabi. Baca pelan-pelan, cermat, dan teliti. Bermanfaat InsyaAllah.

Suatu ketika al-Imam Abu Hanifah ditanya makna "Istawa", beliau menjawab:

“Barangsiapa berkata: Saya tidak tahu apakah Allah berada di langit atau barada di bumi maka ia telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam itu memberikan pemahaman bahwa Allah bertempat.

Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah bertempat maka ia adalah seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya” (Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini dikutip oleh banyak ulama. Di antaranya oleh al-Imam Abu Manshur al-Maturidi dalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam Hall ar-Rumuz, al-Imam Taqiyuddin al-Hushni dalam Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad, dan al-Imam Ahmad ar-Rifa’i dalam al-Burhan al-Mu’yyad).

Di sini ada pernyataan yang harus kita waspadai, ialah pernyataan Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Murid Ibn Taimiyah ini banyak membuat kontroversi dan melakukan kedustaan persis seperti seperti yang biasa dilakukan gurunya sendiri. Di antaranya, kedustaan yang ia sandarkan kepada al-Imam Abu Hanifah. Dalam beberapa bait sya’ir Nuniyyah-nya, Ibn al-Qayyim menuliskan sebagai berikut:

“Demikian telah dinyatakan oleh Al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit, juga oleh Al-Imam Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Adapun lafazh-lafazhnya berasal dari pernyataan Al-Imam Abu Hanifah...
bahwa orang yang tidak mau menetapkan Allah berada di atas arsy-Nya, dan bahwa Dia di atas langit serta di atas segala tempat, ...
Demikian pula orang yang tidak mau mengakui bahwa Allah berada di atas arsy, --di mana perkara tersebut tidak tersembunyi dari setiap getaran hati manusia--,...
Maka itulah orang yang tidak diragukan lagi dan pengkafirannya. Inilah pernyataan yang telah disampaikan oleh al-Imam masa sekarang (maksudnya gurunya sendiri; Ibn Taimiyah).

Inilah pernyataan yang telah tertulis dalam kitab al-Fiqh al-Akbar (karya Al-Imam Abu Hanifah), di mana kitab tersebut telah memiliki banyak penjelasannya”.

Apa yang ditulis oleh Ibn al-Qayyim dalam untaian bait-bait syair di atas tidak lain hanya untuk mempropagandakan akidah tasybih yang ia yakininya. Ia sama persis dengan gurunya sendiri, memiliki keyakinan bahwa Allah bersemayam atau bertempat di atas arsy. Pernyataan Ibn al-Qayyim bahwa keyakinan tersebut adalah akidah al-Imam Abu Hanifah adalah kebohongan belaka. Kita meyakini sepenuhnya bahwa Abu Hanifah adalah seorang ahli tauhid, mensucikan Allah dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Bukti kuat untuk itu mari kita lihat karya-karya al-Imam Abu Hanifah sendiri, seperti al-Fiqh al-Akbar, al-Washiyyah, atau lainnya. Dalam karya-karya tersebut terdapat banyak ungkapan beliau menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada tempat atau arsy, karena arsy adalah makhluk Allah sendiri. Mustahil Allah membutuhkan kepada makhluk-Nya.

Sesungguhnya memang seorang yang tidak memiliki senjata argumen, ia akan berkata apapun untuk menguatkan keyakinan yang ia milikinya, termasuk melakukan kebohongan-kebohongan kepada para ulama terkemuka. Inilah tradisi ahli bid’ah, untuk menguatkan bid’ahnya, mereka akan berkata: al-Imam Malik berkata demikian, atau al-Imam Abu Hanifah berkata demikian, dan seterusnya. Padahal sama sekali perkataan mereka adalah kedustaan belaka.

Bantahan:

Dalam al-Fiqh al-Akbar, al-Imam Abu Hanifah menuliskan sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya Allah itu satu bukan dari segi hitungan, tapi dari segi bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tidak ada suatu apapun yang meyerupai-Nya. Dia bukan benda, dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Dia tidak memiliki batasan (tidak memiliki bentuk; artinya bukan benda), Dia tidak memiliki keserupaan, Dia tidak ada yang dapat menentang-Nya, Dia tidak ada yang sama dengan-Nya, Dia tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, dan tidak ada suatu apapun dari makhluk-Nya yang menyerupainya” (Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan Syarh-nya karya Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 30-31).

Masih dalam al-Fiqh al-Akbar, Al-Imam Abu Hanifah juga menuliskan sebagai berikut:

وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.
“Dan kelak orang-orang mukmin di surga nanti akan melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka melihat-Nya tanpa adanya keserupaan (tasybih), tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah), tanpa bentuk (kammiyyah), serta tanpa adanya jarak antara Allah dan orang-orang mukmin tersebut (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan atau-pun samping kiri)”” ( Lihat al-Fiqh al-Akbar dengan syarah Syekh Mulla Ali al-Qari, h. 136-137).

Pernyataan al-Imam Abu Hanifah ini sangat jelas dalam menetapkan kesucian tauhid. Artinya, kelak orang-orang mukmin disurga akan langsung melihat Allah dengan mata kepala mereka masing-masing. Orang-orang mukmin tersebut di dalam surga, namun Allah bukan berarti di dalam surga. Allah tidak boleh dikatakan bagi-Nya “di dalam” atau “di luar”. Dia bukan benda, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Inilah yang dimaksud oleh Al-Imam Abu Hanifah bahwa orang-orang mukmin akan melihat Allah tanpa tasybih, tanpa Kayfiyyah, dan tanpa kammiyyah.

Pada bagian lain dari Syarh al-Fiqh al-Akbar, yang juga dikutip dalam al-Washiyyah, al-Imam Abu Hanifah berkata:

ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق
“Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah kebenaran. Hal itu tanpa dengan Kayfiyyah, dan tanpa tasybih, dan juga tanpa arah” (al-Fiqh al-Akbar dengan Syarah Mulla ‘Ali al-Qari’, h. 138).

Kemudian pada bagian lain dari al-Washiyyah, beliau menuliskan:

وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.

“Kita menetapkan sifat Istiwa bagi Allah pada arsy, bukan dalam pengertian Dia membutuhkan kepada arsy tersebut, juga bukan dalam pengertian bahwa Dia bertempat atau bersemayam di arsy. Allah yang memelihara arsy dan memelihara selain arsy, maka Dia tidak membutuhkan kepada makhluk-makhluk-Nya tersebut. Karena jika Allah membutuhkan kapada makhluk-Nya maka berarti Dia tidak mampu untuk menciptakan alam ini dan mengaturnya. Dan jika Dia tidak mampu atau lemah maka berarti sama dengan makhluk-Nya sendiri. Dengan demikian jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia? (Artinya, jika sebelum menciptakan arsy Dia tanpa tempat, dan setelah menciptakan arsy Dia berada di atasnya, berarti Dia berubah, sementara perubahan adalah tanda makhluk). Allah maha suci dari pada itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh Mullah Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70).

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.

“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

Pada bagian lain dalam kitab al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

“Allah ada tanpa permulaan (Azali, Qadim) dan tanpa tempat. Dia ada sebelum menciptakan apapun dari makhluk-Nya. Dia ada sebelum ada tempat, Dia ada sebelum ada makhluk, Dia ada sebelum ada segala sesuatu, dan Dialah pencipta segala sesuatu. Maka barangsiapa berkata saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?, maka orang ini telah menjadi kafir. Demikian pula menjadi kafir seorang yang berkata: Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit” (al-Fiqh al-Absath, h. 57).

Dalam tulisan al-Imam Abu Hanifah di atas, beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku (Allah) apakah Ia di langit atau di bumi?”. Demikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah bertempat di arsy, tapi saya tidak tahu apakah arsy itu di bumi atau di langit”.

Klaim kafir dari al-Imam Abu Hanifah terhadap orang yang mengatakan dua ungkapan tersebut adalah karena di dalam ungkapan itu terdapat pemahaman adanya tempat dan arah bagi Allah. Padahal sesuatu yang memiliki tempat dan arah sudah pasti membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam tempat dan arah tersebut. Dengan demikian sesuatu tersebut pasti baharu (makhluk), bukan Tuhan.

Tulisan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali disalahpahami atau sengaja diputarbalikan pemaknaannya oleh kaum Musyabbihah.

Perkataan al-Imam Abu Hanifah ini seringkali dijadikan alat oleh kaum Musyabbihah untuk mempropagandakan keyakinan mereka bahwa Allah berada di langit atau berada di atas arsy. Padahal sama sekali perkataan al-Imam Abu Hanifah tersebut bukan untuk menetapkan tempat atau arah bagi Allah. Justru sebaliknya, beliau mengatakan demikian adalah untuk menetapkan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Hal ini terbukti dengan perkataan-perkataan al-Imam Abu Hanifah sendiri seperti yang telah kita kutip di atas. Di antaranya tulisan beliau dalam al-Washiyyah: “Jika Allah membutuhkan untuk duduk atau bertempat di atas arsy, lalu sebelum menciptakan arsy dimanakah Ia?”.

Dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa klaim kafir yang sematkan oleh al-Imam Abu Hanifah adalah terhadap mereka yang berakidah tasybih; yaitu mereka yang berkeyakinan bahwa Allah bersemayam di atas arsy. Inilah maksud yang dituju oleh al-Imam Abu Hanifah dengan dua ungkapannya tersebut di atas, sebagaimana telah dijelaskan oleh al-Imam al-Bayyadli al-Hanafi dalam karyanya; Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam (Lihat Isyarat al-Maram, h. 200). Demikian ini pula prihal maksud perkataan al-Imam Abu Hanifah ini telah dijelasakan oleh al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitab Takmilah as-Saif ash-Shaqil (Lihat Takmilah ar-Radd ‘Ala an-Nuniyyah, h. 180).

Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan sebagai berikut:

“Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang berkata “Saya tidak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”.

Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”. Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana jika seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya tidak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu telah menjadi kafir. Karena Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.

Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat.

Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

Asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Hamami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka, dalam kitab karyanya berjudul Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad menuliskan beberapa pelajaran penting terkait riwayat Abu Muthi’ al-Balkhi di atas, sebagai berikut:

Pertama: Bahwa pernyataan yang dinisbatkan kepada al-Imam Abu Hanifah tersebut sama sekali tidak ada penyebutannya dalam al-Fiqh al-Akbar. Pernyataan semacam itu dikutip oleh orang yang tidak bertanggungjawab, dan dengan sengaja ia berdusta mengatakan bahwa itu pernyataan al-Imam Abu Hanifah dalam al-Fiqh al-Akbar, tujuannya tidak lain adalah untuk mempropagandakan kesesatan orang itu sendiri.

Ke dua: Kutipan riwayat semacam ini jelas berasal dari seorang pemalsu (wadla’). Riwayat orang semacam ini, dalam masalah-masalah furu’iyyah (fiqih) saja sama sekali tidak boleh dijadikan sandaran, terlebih lagi dalam masalah-masalah ushuliyyah (akidah). Mengambil periwayatan orang pemalsu semacam ini adalah merupakan pengkhiatan terhadap ajaran-ajaran agama. Dan ini tidak dilakukan kecuali oleh orang yang hendak menyebarkan kesesatan atau bid’ah yang ia yakini.

Ke tiga: Periwayatan pemalsu ini telah terbantahkan dengan periwayatan yang benar dari seorang al-Imam agung terpercaya (tsiqah), yaitu al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam. Periwayatan al-Imam Ibn Abd as-Salam tentang perkataan al-Imam Abu Hanifah jauh lebih terpercaya dan lebih benar dibanding periwayatan pemalsu tersebut. Berpegang teguh kepada periwayatan seorang pendusta (kadzdzab) dengan meninggalkan periwayatan seorang yang tsiqah adalah sebuah pengkhianatan, yang hanya dilakukan seorang ahli bid’ah saja. Seorang yang melakukan pemalsuan semacam ini, cukup untuk kita klaim sebagai orang yang tidak memiliki amanah. Jika orang awam saja melakukan pemalsuan semacam ini dapat menjadikannya seorang yang tidak dapat dihormati lagi, terlebih jika pemalsuan ini dilakukan oleh seorang yang alim, maka jelas orang alim ini tidak bisa dipertanggungjawabkan lagi dengan ilmu-ilmunya. Dan “orang alim” semacam itu tidak pantas untuk kita sebut sebagai orang alim, terlebih kita golongkannya dari jajaran Imam-Imam terkemuka, atau para ahli ijtihad.

Dan lebih parah lagi jika pengkhianatan pemalsu ini dalam tiga perkara ini sekaligus. Padahal dengan hanya satu pengkhianatan saja sudah dapat menurunkannya dari derajat tsiqah. Karena jika satu riwayat sudah ia dikhianati, maka kemungkinan besar terhadap riwayat-riwayat yang lainpun ia akan melakukan hal sama (Lebih lengkap lihat Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad, h. 99-100).

Kemudian dalam bait sya’ir di atas, Ibn al-Qayyim tidak hanya membuat kedustaan kepada al-Imam Abu Hanifah, namun ia juga melakukan kedustaan yang sama terhadap al-Imam Ya’qub. Yang dimaksud al-Imam Ya’qub dalam bait sya’ir ini adalah sahabat al-Imam Abu Hanifah; yaitu Abu Yusuf Ya’qub ibn Ibrahim al-Anshari. Dalam menyikapi perbuatan Ibn al-Qayyim ini, asy-Syaikh Musthafa Abu Saif al-Humami berkata: “Tidak diragukan lagi apa yang ia nyatakan ini adalah sebuah kedustaan untuk tujuan mempropagandakan keyakinan bid’ahnya” (Lihat Ghauts al-‘Ibad Bi Bayan ar-Rasyad, h. 99).

Penilaian yang sama terhadap Ibn al-Qayyim semacam ini juga telah diungkapkan oleh al-Muhaddits al-Imam Muhammad Zahid al-Kautsari dalam kitab bantahannya terhadap Ibn al-Qayyim sendiri, berjudul Takmilah ar-Radd ‘Ala Nuniyyah Ibn al-Qayyim. Karya Al-Imam al-Kautsari ini adalah sebagai tambahan atas kitab karya Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil, kitab yang juga berisikan serangan dan bantahan terhadap bid’ah-bid’ah Ibn al-Qayyim. Yang dimaksud dengan “Ibn Zafil” oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam judul kitabnya ini adalah Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah; murid dari Ibn Taimiyah (Lihat Takmilah ar-Radd ‘Ala an-Nuniyyah, h. 108).

Dengan demikian riwayat yang sering dipropagandakan oleh Ibn al-Qayyim, yang juga sering dipropagandakan oleh kaum Wahhabiyyah bahwa al-Imam Abu Hanifah berkeyakinan “Allah berada di langit” adalah kedustaan belaka. Riwayat ini sama sekali tidak benar. Dalam rangkaian sanad riwayat ini terdapat nama-nama perawi yang bermasalah, di antaranya; Abu Muhammad ibn Hayyan, Nu’aim ibn Hammad, dan Nuh ibn Abi Maryam Abu ‘Ishmah.

Orang pertama, yaitu Abu Muhammad ibn Hayyan, dinilai dla’if oleh ulama hadits terkemuka yang hidup dalam satu wilayah dengan Abu Muhammad ibn Hayyan sendiri. Ulama hadits tersebut adalah al-Imam al-Hafizh al-‘Assal. Kemudian orang kedua, yaitu Nu’aim ibn Hammad adalah seorang mujassim (Lihat Tahdzib at-Tahdzib, j. 10, h. 409).

Demikian pula Nuh ibn Abi Maryam yang merupakan ayah tiri dari Nu’aim ibn Hammad, juga seorang mujassim (Lihat Tahdzib at-Tahdzib, j. 10, h. 433).

Dan Nuh ibn Abi Maryam ini adalah anak tiri dari Muqatil ibn Sulaiman; pemuka kaum mujassimah.

Dengan demikian, Nu’aim ibn Hammad telah dirusak oleh ayah tirinya sendiri, yaitu Nuh ibn Abi Maryam. Demikian pula Nuh ibn Abi Maryam telah dirusak oleh ayah tirinya sendiri, yaitu Muqatil ibn Sulaiman. Orang-orang yang kita sebutkan ini, sebagaimana dinilai oleh para ulama ahli kalam, mereka semua adalah orang-orang yang berkeyakinan tasybih dan tajsim. Dengan demikian bagaimana mungkin riwayat orang-orang yang berakidah tasybih dan tajsim semacam mereka dapat dijadikan sandaran dalam menetapkan permasalahan akidah?! Sesungguhnya orang yang bersandar kepada mereka adalah bagian dari mereka sendiri.

Al-Imam al-Hafizh Ibn al-Jawzi dalam kitab Daf’u Syubah at-Tasybih, dalam penilaiannya terhadap Nu’aim ibn Hammad, mengutip perkataan Ibn ‘Adi, mengatakan: “Dia (Nu’aim ibn Hammad) adalah seorang pemalsu hadits” (Lihat Daf’u Syubah at-Tasybih, h. 32).

Kemudian al-Imam Ahmad ibn Hanbal pernah ditanya tentang riwayat Nu’im ibn Hammad, tiba-tiba beliau memalingkan wajahnya sambil berkata: “Hadits munkar dan majhul” (Daf’u Syubah at-Tasybih, h. 32). Penilaian Al-Imam Ahmad ini artinya bahwa riwayat Nu’aim ibn Hammad ada sesuatu yang sama sekali tidak benar.

(Masalah):

Jika kaum Musyabbihah, seperti kaum Wahhabiyyah, mengatakan bahwa adz-Dzahabi telah mengutip riwayat dari kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat karya al-Hafizh al-Bayhaqi bahwa pernyataan “Allah berada di langit” adalah berasal dari al-Imam Abu Hanifah.

(Jawab):

Kita katakan: Riwayat al-Hafizh al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat dengan memepergunakan kata “In shahhat al-hikayah...” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 429). Hal ini menunjukan bahwa riwayat tersebut bermasalah. Artinya, riwayat yang dikutip al-Hafizh al-Bayhaqi ini bukan untuk dijadikan dalil. Yang menjadi masalah besar ialah bahwa tulisan al-Bayhaqi “In shahhat ar-riwayah...” ini diacuhkan oleh adz-Dzahabi untuk tujuan memberikan pemahaman kepada para pembaca bahwa pernyataan “Allah berada di langit” adalah statemen al-Imam Abu Hanifah.

Ini menunjukan bahwa adz-Dzahabi tidak memiliki amanat ilmiyah. Hal ini juga menunjukan bahwa adz-Dzahabi telah banyak dipengaruhi oleh faham-faham gurunya sendiri, yaitu Ibn Taimiyah. al-Imam al-Muhaddits Muhammad Zahid al-Kautsari dalam Takmilah ar-Radd ‘Ala Nuniyyah Ibn al-Qayyim menuliskan bahwa pernyataan al-Bayhaqi dalam al-Asma’ Wa ash-Shifat: “In shahhat ar-riwayah...” menunjukan bahwa dalam riwayat tersebut terdapat beberapa cacat (al-khalal).

Namun hal terpenting dari pada itu ialah bahwa al-Imam al-Bayhaqi dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat tersebut, di dalam banyak tempat banyak menyebutkan tentang kesucian Allah dari pada tempat dan arah, salah satunya pernyataan beliau berikut ini:

“Sebagian sahabat kami (kaum Ahlussunnah dari madzhab Asy’ariyyah Syafi’iyyah) mengambil dalil dalam menafikan tempat dari Allah dengan sebuah hadits sabda Rasulullah: “Engkau ya Allah az-Zahir (Yang segala sesuatu menunjukan akan keberadaan-Nya) tidak ada suatu apapun di atas-Mu, dan Engkau ya Allah al-Bathin (Yang tidak dapat diraih oleh akal pikiran) tidak ada suatu apapun di bawah-Mu”. Dari hadits ini dipahami jika tidak ada suatu apapun di atas Allah, dan tidak ada suatu apapun di bawah-Nya maka berarti Dia ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 400).

Pada halaman lain dalam kitab al-Asma’ Wa ash-Shifat, Al-Imam al-Bayhaqi menuliskan:

“Apa yang diriwayatkan secara menyendiri (tafarrud) oleh al-Kalbi dan lainnya memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki bentuk, padahal sesuatu yang memiliki bentuk maka pasti dia itu baharu, membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam bentuk tersebut. Sementara Allah itu Qadim dan Azali (tanpa permulaan)” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 415).

Pada bagian lain dari kitab di atas, al-Imam al-Bayhaqi menuliskan:

“Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 448-449).

Juga mengatakan:

“Sesungguhnya gerak, diam, dan bersemayam atau bertempat itu adalah termasuk sifat-sifat benda. Sementara Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, Dia tidak membutuhkan kepada suatu apapun, dan tidak ada suatu apapun yang menyerupai-Nya” (al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 448-449).

Dengan penjelasan ini menjadi sangat terang bagi kita bahwa keyakinan Allah berada di langit yang dituduhkan sebagai keyakinan Al-Imam Abu Hanifah adalah kedustaan belaka yang sama seakali tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tuduhan semacam ini tidak hanya kedustaan kepada Al-Imam Abu Hanifah semata, tapi juga kedusataan terhadap orang-orang Islam secara keseluruhan dan kedustaan terhadap ajaran-ajaran Islam itu sendiri.

Al Hamdu Lillah Rabb al-Alamin.

Sabtu, 06 Februari 2016

KH. Muhaiminan Gunardo Mursyid Thoriqoh Syadziliyah dari Temanggung ( Penerus Semangat Perjuangan Bambu Runcing)

Ia sangat peduli pada gonjang-ganjing bangsa. Maka ia pun berkeliling tanah air: memimpin istigasah, menghibur umat, memberikan nasihat kepada pemerintah.

Jemaah istigasah menyambut Muktamar Jam’iyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah yang memadati Masjid Jami’ Pekalongan baru saja menarik napas, setelah sebelumnya melantunkan syair Simthud Durar. Tiba-tiba terdengar suara menggelegar. Di shaf terdepan, sesosok tegap berpakaian putih-putih, lengkap dengan serban dan jubah, tampak khusyuk melantunkan tawasul kepada para aulia pendiri tarekat. Menilik perawakan dan suaranya, orang seakan tak percaya bahwa usianya telah melampaui 83 tahun.

Pembacaan doa-doa istighatsah yang baru selesai sepertinya tak menyisakan keletihan di wajahnya yang selalu segar. Dialah K.H.R. Muhaiminan Gunardo dari kaki Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Tema istighatsah malam itu, sebagaimana istighatsahnya yang lain, ialah memohon keselamatan bangsa dari berbagai bencana yang belakangan menghantam bertubi-tubi. Semangat kebangsaan pengasuh Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing, Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, ini memang luar biasa.

Usianya memang sudah cukup senja. Tapi kiprahnya semakin mengukuhkan profil ulama pejuang ini. Kepeduliannya akan gonjang-ganjing perjalanan bangsa mengantarkan langkahnya ke berbagai pelosok tanah air. Baik untuk memimpin istigasah, ngayemi-ayemi (menghibur) umat, maupun memberikan nasihat langsung kepada pemerintah.
Almarhum Mbah Hinan, panggilan akrab KH Muhaiminan Gunardo, dilahirkan di Parakan, .

Beliau adalah keturunan Raden Santri salah seorang wali yang masih keturunan Pangeran Diponegoro. Beliau adalah pimpinan Pondok Pesantren Bambu Runcing Parakan, Suatu Pondok Pesantren yang dikenal sebagai pusat pendekar di jaman perjuangan Indonesia.Di Pesantren yang didirikan oleh kakek Beliau inilah nama senjata tradisional Bambu Runcing menjadi sangat terkenal dan ditakuti oleh penjajah Belanda. Pada jaman perjuangan para pendekar sering berkumpul di pesantren Parakan untuk mengatur strategi perjuangan melawan Belanda sekaligus diajarkan berbagai macam Ilmu Hikmah.

Setiap kali berangkat berjuang selain ilmu beladiri para pendekar juga dibekali sebuah senjata yaitu Bambu Runcing, tetapi Bambu Runcing ini bukan bambu runcing biasa karena senjata ini telah di beri Asma oleh kyai. Konon setiap kali dilemparkan Bambu Runcing ini tidak saja dapat membunuh lawan bahkan dapat meledak spt bom. Itulah salah satu Karomah kyai Parakan.Sehingga Bambu Runcing Menjadi sangat terkenal di seluruh Indonesia dan ditakuti penjajah Belanda.

Lasykar Hizbullah
Di masa-masa awal revolusi fisik itu, setiap hari ribuan pejuangan mampir ke Parakan dalam perjalanan mereka dari ke front-front pertempuran di Magelang, Ambarawa, Ungaran, dan Semarang. Beberapa di antaranya bahkan datang dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Barat. Adalah Kiai Subeki atau Mbah Subki, saat itu 90-an tahun, magnet yang menarik mereka ke Parakan. Setelah wafat ia dijuluki Kiai Parak Awal.

Sebelum berangkat ke medan pertempuran, para pejuang – rata-rata anak-anak anggota Lasykar Hizbullah – sowan kepada kiai sepuh yang sangat tawaduk ini.

Oleh Mbah Subeki mereka didoakan, dan satu per satu senjata mereka dijamah sambil berdoa: Bismillahi bi ‘aunillah. Ya Hafidz, ya Hafidz, ya Hafidz. Allahu akbar, Allahu akbar, Allah akbar (Dengan menyebut nama Allah, dengan pertolongan Allah. Wahai Zat yang Maha Menjaga, Allah, yang Mahabesar).

Begitulah “ijazah doa” yang diberikan oleh Mbah Subeki kepada para pejuang, yang kemudian terbukti menambah keberanian dan rasa percaya diri di medan perang. Bahkan diyakini mendatangkan perlindungan Allah dari hujan peluru dan bom lawan. Sejak itu, setiap hari ribuan orang memasuki Parakan untuk nyuwuake (memohonkan doa) buat senjata mereka. Mulai dari bambu runcing, pestol, bedil, karaben, bahkan kanon.

Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren, mantan Menteri Agama K.H. Saifudin Zuhri antara lain menulis, di antara pasukan yang singgah ke Parakan terdapat anggota Tentara Keamanan Rakyat dari Banyumas pimpinan Kolonel Soedirman – yang belakangan menjadi panglima besar. Mereka membawa peralatan tempur lengkap. Ketika itu mereka dalam perjalanan ke medan perang Ambarawa.

Parakan sendiri daerah unik, karena merupakan pertemuan berbagai budaya, sebagaimana diceritakan oleh Saifudin Zuhri, “Sejak tertangkapnya Pangeran Diponegoro, sisa-sisa prajurit Mataram dalam taktik mengundurkan diri bergerak menyusuri Kali Progo melalui daerah Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, dan akhirnya Parakan, sebuah persimpangan tapal batas Karesidenan Banyumas, Kedu, Pekalongan, dan Semarang.

Daerah dataran tinggi di kaki Gunung Sindoro itu menjadi tempat bertemunya bermacam-macam sisa prajurit Diponegoro dari berbagai daerah. Tidaklah mengherankan jika penduduk Parakan mempunyai unsur kebudayaan yang bercampur antara ketulusan rakyat Banyumas, kesabaran rakyat Kedu, keberanian rakyat Pekalongan, dan keterampilan rakyat Semarang.

Pencak Silat

Itulah Parakan, kota kecil tempat lahirnya K.H.R. Muhaiminan Gunardo. Ia adalah putra Raden Abu Hasan, yang lebih dikenal dengan nama K.H. Sumomihardho – salah seorang keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono II. Sementara ibundanya, Hj. Mahwiyah, adalah putri Kiai Badrun, sesepuh Parakan yang berpengaruh karena kedalaman ilmu agamanya.

Sejak muda, Kiai Muhaiminan – yang termasuk dalam forum Kiai Khos Langitan – gemar berolahraga, khususnya pencak silat, yang digelutinya di sela-sela mengaji kepada beberapa ulama besar. Tamat Sekolah Rakyat di Parakan, ia mengaji kepada K.H. Dalhar alias Mbah Dalhar (Pesantren Watucongol, Magelang), ulama besar yang pernah selama delapan tahun berkhalwat – mengasingkan diri untuk memusatkan perhatian pada ibadah (berzikir dan tafakur) kepada Allah SWT – di Gua Hira, tempat Rasulullah SAW melakukan hal yang sama, beruzlah. Mbah Dalhar juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Syadziliyah yang termasyhur.

Selepas dari Watucongol, Muhaiminan muda melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu kepada K.H. Maksum (Lasem, Rembang), Kiai Muhajir di Bendo (Pare, Kediri), lalu ke Pesantren Tebuireng, Jombang.

Selain mengaji ilmu agama, di setiap pesantren yang disinggahinya Muhaiminan mendalami ilmu pencak silat. Pendekar tangguh yang pernah menjadi gurunya, antara lain, K.H. Nahrowi atau Ki Martojoto. Ia juga mendalami ilmu pencak silat di pesantren terakhir yang disinggahinya, yaitu Ponpes Dresmo (Surabaya), yang memang terkenal dengan keampuhan olah kanuragannya.

Sehari-hari, Mbah Minan selalu menyempatkan diri mendidik ratusan santrinya, dan mendampingi kurang lebih 30 orang pengajar. Terutama dalam mujahadah – zikir untuk meraih derajat yang tinggi di sisi Allah – dan istigasah setiap bakda magrib dan setiap malam Jumat dan Selasa Kliwon. Sementara pengelolaan sehari-hari pesantren yang berdiri pada 1955 itu diserahkan kepada sebuah kepengurusan yang dinamakan Idarah Ma’had Kiai Parak Bambu Runcing.

Idarah tersebut juga membawahkan beberapa lembaga yang mengurus kepentingan pesantren dan umat. Termasuk Lembaga Seni Bela Diri Garuda Bambu Runcing (LGBR), perguruan pencak silat yang mengajarkan dua jenis ilmu bela diri, yakni pencak silat sebagai bela diri fisik dan bela diri batin. LGBR tidak hanya diikuti para santri, tapi juga warga masyarakat umum. Hingga kini anggota aktifnya kurang lebih 45.000 orang, bahkan telah memiliki beberapa cabang di Jawa dan Sumatra.

Kemasyhuran Kiai Muhaiminan Gunardo dan pesantrennya dalam dunia spiritualitas memang telah membuah bibir di kalangan umat Islam, khususnya di Jawa Tengah. Di luar aktivitas keilmuan dan kanuragan, pesantren yang terletak di dataran tinggi eks Karesidenan Kedu ini memang selalu ramai dikunjungi orang. Baik yang hendak berkonsultasi masalah kehidupan, berguru ilmu hikmah, maupun untuk mengaji tasawuf kepada Mbah Nan.

Ketika terjadi heboh pembunuhan terhadap para kiai dan santri pada 1999 – yang terkenal sebagai “kasus ninja”, karena pembunuhnya bertopeng seperti ninja – pesantren ini menjadi tujuan utama warga nahdliyin yang belajar membentengi diri.
Barangkali memang sudah menjadi ketentuan Allah SWT bahwa ulama Parakan secara turun-temurun ditugasi menjadi benteng pertahanan terakhir umat dalam menghadapi berbagai kesulitan. Bisa dimaklum jika langkah Kiai Muhaiminan sepertinya masih harus panjang – selama keadaan Indonesia belum memenuhi harapan yang dicita-citakan para ulama pendahulunya.

Ahli Hikmah

Selama ini masyarakat lebih mengenal Mbah Hinan selain sebagai alim ulama yang ahli di bidang agama juga ahli di bidang ilmu hikmah. Tak sedikit yang berhubungan dengan almarhum berkaitan dengan ilmu kekebalan untuk pertahanan diri bahkan tak sedikit yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan. Salah satu Karomah Kiai khos ini Adalah ketika bermain pencak silat orang disekitarnya merasakan tanah disekeliling beliau bergetar seperti ada gempa bumi. Salah satu ilmu andalan Beliau adalah SASRA BIRAWA yaitu ilmu tenaga dalam yang dapat memecahkan benda keras dari jarak jauh seperti ilmu yang dimiliki Mahesa Jenar. Setiap Santri di Pesantren Parakan diajarkan ilmu pencak silat Garuda Bambu Runcing. Salah satu murid beliau yang dikenal sebagai pendekar di kota Solo adalah Almarhum KH. Hilal Adnan pimpinan Thoriqoh Syadziliyah di Solo Jawa Tengah.

Mursyid Thoriqoh Syadziliyah dan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
Mengikuti jejak gurunya, Kiai Dalhar Watucongol, ia juga menjadi mursyid Tarekat Sadziliyah dan Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang bersanad sampai ke Rasulullah SAW. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Jami’yyah Thariqoh Muqtabaroh An-Nahdliyyah serta pimpinan thoriqoh Syadziliyah.

Di organisai PBNU, almarhum menjabat sebagai Mustasyar. KH Muhaiminan Gunardo merupakan seorang tokoh panutan yang sangat dikenal masyarakat luas. Selain itu, beliau juga banyak memberikan sumbangan spiritual bagi kehidupan masyarakat.

"AKHLAKUL KARIMAH YANG DICONTOHKAN OLEH ABAH GURU SEKUMPUL KEPADA KITA - UNTUK SENANTIASA MENGHORMATI PEGURUAN ( GURU )"

☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Pada suatu acara haulan Alm Guru Kasyful Anwar, yang diadakan di kubah Guru kasyful Anwar berjejerlah Guru-guru Pesantren Darussalam duduk di acara tersebut menunggu-nunggu acara dilaksanakan, waktu pun berjalan dan tibalah saat yang dinanti-nantikan seseorang yang telah di tunggu dan yang akan memimpin acara haulan tersebut tiba ditempat acara tersebut, yaitu seorang yang tersohor karena budi pekertinya dan 'ilmu-'ilmunya beliau.

Tidak lain dan tidak bukan adalah Ulama kebanggaan kalimantan yaitu Syekh Zaini bin Abdul Ghani Al-Banjari atau yang sering kita panggil dan kita kenal yaitu Abah Guru Sekumpul.

Abah Guru pun memasuki tempat yang sudah disiapkan oleh panitia untuk memimpin acara haulan Guru kasyful anwar, Guru Kasyful adalah salah satu pemimpin Pondok Pesantren Darussalam yang telah melahirkan ribuan Ulama ahlusunnah wal jamaah yang tersebar di segala penjuru Nusantara...

hal inipun tidak ingin di lewatkan untuk mengambil manfaat oleh orang-orang dan para Guru-guru Darussalam agar dapat mencium tangan Abah Guru Sekumpul, untuk mengambil berkat dan barokah kepada Abah Guru Sekumpul..

waktu beliau masuk, Abah Guru melihat salah satu Guru beliau yaitu Guru Salman Yusuf yang duduk disalah satu barisan Guru-guru Darussalam yang berjejer tadi, langsung Abah Guru menghampiri Guru beliau itu, dan untuk sementara, beliaupun menghiraukan sebagian Guru-guru Darussalam yang belum sempat mencium tangan Abah Guru.. ( karena Abah Guru langsung menuju ketempat Guru beliau, Guru Salman Yusuf )

Abah Guru pun langsung menghampiri dan mencium tangan Guru Salman Yusuf bolak balik sambil beliau berkata :

"Guru, ulun ( saya ) mohon ampun dan maaf, doakan ulun ( saya ) lah"

setelah itu, beliau pun duduk dan menyalami orang yang berada disekitar beliau satu per satu..

Setelah selesai acara, Abah Guru Sekumpul pun cepat-cepat keluar menuju pintu, apa yang beliau lakukan..?

Beliau diluar sibuk sedang mencarikan sendal yang dikenakan oleh Guru Salman Yusuf, Guru beliau..

Sedangkan beliaupun tidak mengenakan sendal pada saat mencarikan sendal Guru beliau..

Abah Guru bertanya kepada Guru Salman Yusuf :

"Guru, sendal pian ( anda ) yang mana?" Abah Guru bertanya.

"yang itu" kata Guru Salman Yusuf..

langsung lah Abah Guru Sekumpul mengambilkan sendalnya beliau dan merasukkannya di kedua jari kaki Guru Salman Yusuf... Dan setelah itu beliaupun bangkit dan langsung mencium bolak balik tangan Guru beliau itu, dan berkata :

"Do'akanlah Ulun ( saya )"..

Subhanallah itulah kisah ketawadhu'an seorang Ulama yang akhlak budi pekertinya seperti Rasulullah saw, beliau tidak malu dan segan atas apa yang beliau miliki dan gelar seorang Ulama besarpun tidak dihiraukan bagi beliau, karena semata-mata ingin berbakti kepada Guru beliau.

*Catatan :

kisah ini adalah kisah dari seorang Guru Darussalam, yaitu Guru Ahmad Rifani. Beliau menyaksikan sendiri kejadian tersebut..

kisah ini di ambil dari postingan salah satu grup pecinta abah Guru Sekumpul. Dan dialih bahasakan ke bahasa indonesia...

Semoga ada barokah dan 'ilmu yang kita dapatkan dari membacanya akan kita, mengenai akhlakul karimahnya Guru kita, Abah Guru Sekumpul.

Aamiin Allahumma aamiin.

Rabu, 03 Februari 2016

Kisah Amalan Istighfar KH. Mohammad Kholil Bangkalan

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا {10

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا {11

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا {12

Satu Macam Doa untuk Tiga MasalahSuatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang pertama:“Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus,” ucap tamu pertama.

Beberapa saat Kyai Kholil menjawab, “Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar,” pesan kyai mantap.

Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua:

“Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan,” kata tamu kedua.

Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab, “Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar,” tandas kyai.

Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya, “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya, ” ucap tamu yang ketiga, dengan raut muka serius.

“Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar,” pesan kyai kepada tamu yang terakhir.

Berapa murid Kyai Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.

Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu. Lalu, Kyai Kholil membacakan al-Qur’an :

Surat Nuh ayat 10-12 yang artinya: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.

(Penuturan penulis; “Alhamdulillah..sudah lama saya membuktikan kedahsyatan “istighfar” dalam kehidupan saya terutama tantangan yg terkait dgn pekerjaan desain kapal sehingga saya diberi berkah oleh Allah mampu mendesain kapal patroli yg pertama kali di Indonesia yg menggunakan teknologi dan mataerial bimetal (kombinasi baja dan aluminium). Selain istighfar juga membuktikan khasiatnya sholawat nabi yg mengandung banyak barokah..salam..”)

(Ditulis oleh : Mas Eko Febriyanto)
Sumber SARKUB

KH Muhammad Khalil bin Kiyai Haji Abdul Lathif bin Kiyai Hamim bin Kiyai Abdul Karim bin Kiyai Muharram bin Kiyai Asrar Karamah bin Kiyai Abdullah bin Sayid Sulaiman.

Sayid Sulaiman adalah cucu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Syarif Hidayatullah itu putera Sultan Umdatuddin Umdatullah Abdullah yang memerintah di Cam (Campa). Ayahnya adalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra.

KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langsung oleh ayah Beliau. Setelah menginjak dewasa beliau ta’lim diberbagai pondok pesantren. Sekitar 1850-an, ketika usianya menjelang tiga puluh, Kiyai Muhammad Khalil belajar kepada Kiyai Muhammad Nur di Pondok-pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur. Dari Langitan beliau pindah ke Pondok-pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan. Kemudian beliau pindah ke Pondok-pesantren Keboncandi. Selama belajar di pondok-pesantren ini beliau belajar pula kepada Kiyai Nur Hasan yang menetap di Sidogiri, 7 kilometer dari Keboncandi. Kiyai Nur Hasan ini, sesungguhnya, masih mempunyai pertalian keluarga dengannya.

Sewaktu menjadi Santri KH Muhammad Kholil telah menghafal beberapa matan, seperti Matan Alfiyah Ibnu Malik (Tata Bahasa Arab). disamping itu juga beliau juga seorang hafiz al-Quran . Beliau mampu membaca alqur’an dalam Qira’at Sab’ah (tujuh cara membaca al-Quran).

Pada 1276 Hijrah/1859 Masihi, KH Muhammad Khalil Belajar di Mekah. Di Mekah KH Muhammad Khalil al-Maduri belajar dengan Syeikh Nawawi al-Bantani (Guru Ulama Indonesia dari Banten). Di antara gurunya di Mekah ialah Syeikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Mustafa bin Muhammad al-Afifi al-Makki, Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud asy-Syarwani. Beberapa sanad hadis yang musalsal diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani dan Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail al-Bimawi (Bima, Sumbawa).

KH.Muhammad Kholil Sewaktu Belajar di Mekkah Seangkatan dengan KH.Hasym Asy’ari,KH.Wahab Hasbullah dan KH.Muhammad Dahlan namun Ulama-ulama Dahulu punya kebiasaan Memanggil Guru sesama Rekannya, dan KH.Muhammad Kholil yang dituakan dan dimuliakan di antara mereka.

Sewaktu berada di Mekah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, KH.Muhammad Khalil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar.

Diriwayatkan bahwa pada waktu itulah timbul ilham antara mereka bertiga, yaitu: Syeikh Nawawi al-Bantani, Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri dan Syeikh Saleh as-Samarani (Semarang) menyusun kaidah penulisan huruf Pegon. Huruf Pegon ialah tulisan Arab yang digunakan untuk tulisan dalam bahasa Jawa, Madura dan Sunda. Huruf Pegon tidak ubahnya tulisan Melayu/Jawi yang digunakan untuk penulisan bahasa Melayu.

Kiyai Muhammad Khalil cukup lama belajar di beberapa pondok-pesantren di Jawa dan Mekah, maka sewaktu pulang dari Mekah, beliau terkenal sebagai ahli/pakar nahwu, fiqih, thariqat ilmu-ilmu lainnya.

Untuk mengembangkan pengetahuan keislaman yang telah diperolehnya, Kiyai Muhammad Khalil selanjutnya mendirikan pondok-pesantren di Desa Cengkebuan, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya. KH. Muhammad Khalil al-Maduri adalah seorang ulama yang bertanggung jawab terhadap pertahanan, kekukuhan dan maju-mundurnya agama Islam dan bangsanya. Beliau sadar benar bahwa pada zamannya, bangsanya adalah dalam suasana terjajah oleh bangsa asing yang tidak seagama dengan yang dianutnya.

Beliau dan keseluruhan suku bangsa Madura seratus persen memeluk agama Islam, sedangkan bangsa Belanda, bangsa yang menjajah itu memeluk agama Kristian. Sesuai dengan keadaan beliau sewaktu pulang dari Mekah telah berumur lanjut, tentunya Kiyai Muhammad Khalil tidak melibatkan diri dalam medan perang, memberontak dengan senjata tetapi mengkaderkan pemuda di pondok pesantren yang diasaskannya. Kiyai Muhammad Khalil sendiri pernah ditahan oleh penjajah Belanda kerana dituduh melindungi beberapa orang yang terlibat melawan Belanda di pondok pesantrennya. beberapa tokoh ulama maupun tokoh-tokoh kebangsaan lainnya yang terlibat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak sedikit yang pernah mendapat pendidikan dari Kiyai Muhammad Khalil al-Maduri.

KH.Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil, sapan KH Kholill bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, mengerahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu.

Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar.

Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar.

Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. ”Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,” papar Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.

Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.

Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyub,” cerita Kiai Ghozi.

Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju.

Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.

”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” papar kiai Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

di antara sekian banyak murid KH Muhammad Khalil al-Maduri yang cukup menonjol dalam sejarah perkembangan agama Islam dan bangsa Indonesia ialah KH Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok-pesantren Tebuireng, Jombang, dan pengasas Nahdhatul Ulama / NU) Kiyai Haji Abdul Wahhab Hasbullah (pendiri Pondok-pesantren Tambakberas, Jombang); Kiyai Haji Bisri Syansuri (pendiri Pondok-pesantren Denanyar); Kiyai Haji Ma’shum (pendiri Pondok-pesantren Lasem, Rembang, adalah ayahanda Kiyai Haji Ali Ma’shum), Kiyai Haji Bisri Mustofa (pendiri Pondok-pesantren Rembang); dan Kiyai Haji As’ad Syamsul `Arifin (pengasuh Pondok-pesantren Asembagus, Situbondo).

Sumber: Akasa Sayidina
مشكور.. بارك الله فيك

Pemahaman Ahlussunnah Tentang Hadîts an-Nuzûl; Mewaspadai Akidah Tasybih Ajaran Wahabi

Imam Abdul Ghani an-Nabulsi berkata: "Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memenuhi (bertempat) langit-langit dan (atau) memenuhi bumi, atau berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang duduk di atas arsy maka dia seorang yang kafir sekalipun dirinya mengaku muslim" (al Fath ar Rabbani)

Ada sebuah hadits yang dikenal dengan nama Hadîts an-Nuzûl. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dan al-Imâm Muslim dalam kitab Shahih masing-masing. Redaksi hadits riwayat al-Bukhari adalah sebagai berikut: (Shahîh al-Bukhâri; Kitâb al-Shalât, Bâb al-Du’â Wa al-Shalât Âkhir al-Layl. Lihat pula Shahîh Muslim; Kitâb Shalât al-Musâfirîn Wa Qashruhâ; Bâb al-Targhîb Fî al-Du’â Wa al-Dzikr Fî Âkhir al-Layl Wa al-Ijâbah Fîh.)

“Telah mengkabarkan kepada kami Abdullah ibn Maslamah, dari Malik, dari Ibn Syihab, dari Abu Salamah dan Abu Abdillah al-Agarr, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:

يَنْـزِلُ رَبّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيلَةٍ إلَى السّمَاءِ الدّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللّيلِ الآخِر يَقُوْل: مَنْ يَدْعُونِي فَأسْتَجِيْب لهُ وَمَن يَسْألنِي فأعْطِيه وَمنْ يَسْتَغْفِرني فأغْفِر لهُ (رواه البخاري)

Hadîts an-Nuzûl ini tidak boleh dipahami dalam makna zhahirnya, karena makna zhahirnya adalah turun dari arah atas ke arah bawah, artinya bergerak dan pindah dari satu tempat ke tampat yang lain, dan itu mustahil pada hak Allah. Al-Imâm an-Nawawi dalam kitab Syarh Shahîh Muslim dalam menjelaskan Hadîts an-Nuzûl ini berkata:

“Hadist ini termasuk hadits-hadits tentang sifat Allah. Dalam memahaminya terdapat dua madzhab mashur di kalangan ulama;

Pertama: Madzhab mayoritas ulama Salaf dan sebagian ulama ahli Kalam (teolog), yaitu dengan mengimaninya bahwa hal itu adalah suatu yang hak dengan makna yang sesuai bagi keagungan Allah, dan bahwa makna zahirnya yang berlaku dalam makna makhluk adalah bukan makna yang dimaksud. Madzhab pertama ini tidak mengambil makna tertentu dalam memahaminya, artinya mereka tidak mentakwilnya. Namun mereka semua berkeyakinan bahma Allah Maha Suci dari sifat-sifat makhluk, Maha Suci dari pindah dari suatu tempat ke tempat lain, Maha Suci dari bergerak, dan Maha Suci dari seluruh sifat-sifat makhluk.

Ke dua: Madzhab mayoritas ahli Kalam (kaum teolog) dan beberapa golongan dari para ulama Salaf, di antaranya sebagaimana telah diberlakukan oleh Malik, dan al-Auza’i, bahwa mereka telah melakukan takwil terhadap hadits ini dengan menentukan makna yang sesaui dengan ketentuan-ketentuannya. Dalam penggunaan metode takwil ini para ulama madzhab kedua ini memiliki dua takwil terhadap Hadîts an-Nuzûl di atas.

Pertama; Takwil yang nyatakan oleh Malik dan lainnya bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah turunnya rahmat Allah, dan perintah-Nya, serta turunnya para Malaikat pembawa rahmat tersebut. Ini biasa digunakan dalam bahasa Arab; seperti bila dikatakan: “Fa’ala al-Sulthân Kadzâ…” (Raja melakukan suatu perbuatan), maka yang dimaksud adalah perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya dengan perintahnya, bukan raja itu sendiri yang melakukan perbuatan tersebut.

Ke dua; takwil hadits dalam makna isti’ârah (metafor), yaitu dalam pengertian bahwa Allah mengaruniakan dan mengabulkan segala permintaan yang dimintakan kepada-Nya saat itu. (Karenanya, waktu sepertiga akhir malam adalah waktu yang sangat mustajab untuk meminta kepada Allah)” (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, j. 6, h. 36).
 
Dengan demikian pendapat kaum Musyabbihah jelas batil ketika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah turunnya Allah dengan Dzat-Nya. Di antara dalil lainnya yang dapat membatalkan pendapat mereka ini adalah bahwa sebagian para perawi hadits al-Bukhari dalam Hadîts an-Nuzûl ini telah memberikan harakat dlammah pada huruf yâ’, dan harakat kasrah pada huruf zây; menjadi “Yunzilu”, artinya; menjadi fi’il muta’addi; yaitu kata kerja yang membutuhkan kepada objek (Maf’ûl Bih).

Dengan demikian menjadi bertambah jelas bahwa yang turun tersebut adalah para Malaikat dengan perintah Allah. Makna ini juga seperti yang telah jelas disebutkan dalam riwayat Hadîts an-Nuzûl lainnya dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy bahwa Allah telah memerintah Malaikat untuk menyeru di langit pertama pada sepertiga akhir malam tersebut. Dengan demikian kaum Masyabbihah sama sekali tidak dapat menjadikan hadits ini sebagai dalil bagi mereka.

Seorang ahli tafsir terkemuka; al-Imâm al-Qurthubi, dalam menafsirkan firman Allah: ”Wa al-Mustaghfirîn Bi al-Ashâr” (QS. Ali ’Imran: 17), artinya; ”Dan orang-orang yang ber-istighfâr di waktu sahur (akhir malam)”, beliau menyebutkan Hadîts an-Nuzûl dengan beberapa komentar ulama tentangnya, kemudian beliau menuliskan sebagai berikut:

“Pendapat yang paling baik dalam memaknai Hadîts an-Nuzûl ini adalah dengan merujuk kepada hadits riwayat an-Nasa-i dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudriy, bahwa Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ عَزّ وَجَلّ يُمْهِلُ حَتّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ الأوّلِ ثُمّ يأمُرُ مُنَادِيًا فَيَقُوْل: هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَه، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى

”Sesungguhnya Allah mendiamkan malam hingga lewat paruh pertama dari malam tersebut, kemudian Allah memerintah Malaikat penyeru untuk berseru: Adakah orang yang berdoa?! Maka ia akan dikabulkan. Adakah orang yang meminta ampun?! Maka ia akan diampuni. Adakah orang yang meminta?! Maka ia akan diberi.

Hadits ini dishahihkan oleh Abu Muhammad Abd al-Haq. Dan hadits ini telah menghilangkan segala perselisihan tentang Hadîts an-Nuzûl, sekaligus sebagai penjelasan bahwa yang dimaksud dengan hadits pertama (hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim) adalah dalam makna dibuang mudlâf-nya. Artinya, yang dimaksud dengan hadits pertama tersebut ialah bahwa Malaikat turun ke langit dunia dengan perintah Allah, yang kemudian Malaikat tersebut menyeru. Pemahaman ini juga dikuatkan dengan adanya riwayat yang menyebutkan dengan dlammah pada huruf yâ’ pada kata “Yanzilu” menjadi “Yunzilu”, dan riwayat terakhir ini sejalan dengan apa yang kita sebutkan dari riwayat an-Nasa-i di atas” (Tafsîr al-Qurthubi, j. 4, h. 39).

Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar dalam kitab Syarh Shahîh al-Bukhâri menuliskan sebagai berikut:

“Kaum yang menetapkan adanya arah bagi Allah dengan menjadikan Hadîts an-Nuzûl ini sebagai dalil bagi mereka; yaitu menetapkan arah atas, pendapat mereka ini ditentang oleh para ulama, karena berpendapat semacam itu sama saja dengan mengatakan Allah bertempat, padahal Allah Maha suci dari pada itu. Dalam makna Hadîts an-Nuzûl ini terdapat beberapa pendapat ulama” (Fath al-Bâri, j. 3, h. 30).

Kemudian al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan:

“Abu Bakar ibn Furak meriwayatkan bahwa sebagian ulama telah memberikan harakat dlammah pada huruf awalnya; yaitu pada huruf yâ’, (menjadi kata yunzilu) dan objeknya disembunyikan; yaitu Malaikat. Yang menguatkan pendapat ini adalah hadits riwayat an-Nasa-i dari hadits sahabat Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudzriy, bahwa Rasulullah bersabda:

إنّ اللهَ يُمْهِلُ حَتّى يَمْضِيَ شَطْرُ اللّيْلِ ثُمّ يأمُرُ مُنَادِيًا يَقُوْل: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَه

”Sesungguhnya Allah mendiamkan waktu malam hingga lewat menjadi lewat paruh pertama dari malam tersebut. Kemudian Allah memerintah Malaikat penyeru untuk berseru: Adakah orang yang berdoa!! Ia akan dikabulkan”.

Demikian pula pemahaman ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan dari Utsman ibn al-Ash dengan redaksi sabda Rasulullah:

يُنَادِ مُنَادٍ هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ

”…maka Malaikat penyeru berseru: ”Adakah orang yang berdoa! Maka akan dikabulkan baginya”.
Oleh karena itulah al-Qurthubi berkata: “Dengan demikian segala perselisihan tentang hadits ini menjadi selesai” (Fath al-Bâri, j. 3, h. 30).

Al-Imâm Badruddin ibn Jama’ah dalam kitab Idlâh al-Dalîl Fî Qath’i Hujaj Ahl al-Ta’thîl menuliskan sebagai berikut:

“Ketahuilah, bahwa tidak boleh memaknai an-nuzûl dalam hadits ini dalam pengertian pindah dari satu tempat ke tempat lain, karena beberapa alasan berikut;

Pertama: Turun dari satu tempat ke tempat lain adalah salah satu sifat dari sifat-sifat benda-benda dan segala sesuatu yang baharu. Turun dalam pengertian ini membutuhkan kepada tiga perkara; Benda yang pindah itu sendiri, Tempat asal pindahnya benda itu, dan Tempat tujuan bagi benda itu. Makna semacam ini jelas mustahil bagi Allah.

Ke Dua: Jika Hadîts an-Nuzûl dimaknai bahwa Allah turun dengan Dzat-Nya secara hakekat, maka berarti pekerjaan turun tersebut terus-menerus terjadi pada Allah setiap saat dengan pergerakan dan perpindahan yang banyak sekali, supaya bertepatan dengan sepertiga akhir malam. Hal ini karena kejadian sepertiga akhir malam terus terjadi dan bergantian di setiap belahan bumi. Dengan demikian hal itu menuntut turunnya Allah setiap siang dan malam dari suatu kaum kepada kaum yang lain. Hal itu juga berarti bahwa Allah pada saat yang sama turun naik antara langit dunia dan arsy. Tentunya pendapat semacam ini tidak akan diungkapkan oleh seorang yang berakal sehat.

Ke Tiga: Pendapat yang menyebutkan bahwa Allah bertempat di atas arsy dan memenuhinya, bagaimana mungkin cukup bagi-Nya untuk bertempat di langit dunia, padahal luasnya langit dibanding arsy tidak ubahnya seperti sebesar kerikil dibanding lapangan yang luas. Dalam hal ini pendapat sesat tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan; Pertama: Bahwa langit dunia setiap saat berubah menjadi besar dan luas hingga mencukupi Allah. Kedua: Atau bahwa Dzat Allah setiap saat menjadi kecil agar tertampung oleh langit dunia tersebut. Tentunya, kita menafikan dua keadaan yang mustahil tersebut dari Allah.

Dengan demikian setiap ayat dan hadits mutasyâbihât yang zahirnya seakan menunjukkan adanya keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan keagungan Allah. Atau jika tidak memberlakukan takwil maka harus diyakini kesucian Allah dari segala sifat-sifat makhluk-Nya” (Idlâh al-Dalîl, h. 164).
--------------------------------------------------------

KESIMPULAN:
Ahli tafsir terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imâm al-Mufassir Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang sangat terkenal; al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir al-Qurthubi, menuliskan sebagai berikut:

"و"العليّ" يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان، لأن الله منزه عن التحيز"

“Nama Allah “al-‘Aliyy” adalah dalam pengertian... ketinggian derajat dan kedudukan bukan dalam ketinggian tempat, karena Allah maha suci dari bertempat”[1].

Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

"ومعنى"فَوْقَ عِبَادِهِ" فوقية الاستعلاء بالقهر والغلبة عليهم، أي هم تحت تسخيره لا فوقية مكان"

“Makna Firman-Nya: “Fawqa ‘Ibâdih...” (QS. al-An’am: 18), adalah dalam pengertian Fawqiyyah al-Istîlâ’ Bi al-Qahr Wa al-Ghalabah; artinya bahwa para hamba berada dalam kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian fawqiyyah al-makan, (tempat yang tinggi)”[2].

Masih dalam kitabnya yang sama al-Imâm al-Qurthubi juga menuliskan sebagai berikut:

"والقاعدة تنزيهه- سبحانه وتعالى- عن الحركة والانتقال وشغل الأمكنة"

“Kaedah -yang harus kita pegang teguh-: Allah maha suci dari gerak, berpindah-pindah, dan maha suci dari berada pada tempat”[3].

[1] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 3, h. 278, QS. al-Baqarah: 255
[2] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 6, h. 399, QS. al-An’am: 18
[3] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 6, h. 390, QS. al-An’am: 3

Allah bukan benda, dan Dia tidak disifati dengan sifat-sifat benda. Segala apa yang terlintas dalam benak manusia tentang Allah maka Dia tidak seperti demikian itu. Allah tidak terikat oleh dimensi; ruang dan waktu, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah yang menciptakan arsy dan langit maka Dia tidak membutuhkan kepada keduanya.

Imam al-Qurthubi Dalam Kitab Tafsir-nya; ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH

(Menohok Ajaran Sesat Wahabi)

Ahli tafsir terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imâm al-Mufassir Muhammad ibn Ahmad al-Anshari al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya yang sangat terkenal; al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir al-Qurthubi, menuliskan sebagai berikut:

"و"العليّ" يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان، لأن الله منزه عن التحيز"
“Nama Allah “al-‘Aliyy” adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan kedudukan bukan dalam ketinggian tempat, karena Allah maha suci dari bertempat”[1].

Pada bagian lain dalam kitab yang sama al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

"ومعنى"فَوْقَ عِبَادِهِ" فوقية الاستعلاء بالقهر والغلبة عليهم، أي هم تحت تسخيره لا فوقية مكان"
“Makna Firman-Nya: “Fawqa ‘Ibâdih...” (QS. al-An’am: 18), adalah dalam pengertian Fawqiyyah al-Istîlâ’ Bi al-Qahr Wa al-Ghalabah; artinya bahwa para hamba berada dalam kekuasaan-Nya, bukan dalam pengertian fawqiyyah al-makan, (tempat yang tinggi)”[2].

Masih dalam kitabnya yang sama al-Imâm al-Qurthubi juga menuliskan sebagai berikut:

"والقاعدة تنزيهه- سبحانه وتعالى- عن الحركة والانتقال وشغل الأمكنة"
“Kaedah -yang harus kita pegang teguh-: Allah maha suci dari gerak, berpindah-pindah, dan maha suci dari berada pada tempat”[3].

Lalu dalam menafsirkan firman Allah:

أَوْ  يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْيَأْتِي بَعْضُءَايَاتِ  رَبِّكَ (الأنعام: 158)
    
al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

"وليس مجيئه تعالى حركة ولا انتقالا ولا زوالا لأن ذلك إنما يكون إذا كان الجائي جسما أو جوهرا"
“Yang dimaksud dengan al-Majî’ pada hak Allah adalah bukan dalam pengertian gerak, bukan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, bukan pula dalam pengertian condong, karena sifat-sifat seperti demikian itu hanya terjadi pada sesuatu yang merupakan Jism atau Jawhar”[4].

Pada bagian lain dalam menafsirkan firman Allah tentang Nabi Yunus:

وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لآإِلَهَ إِلآ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنبياء: 87)

al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

"وقال أبو المعالي: قوله صلى الله عليه وسلم "لا تفضلوني على يونس بن متّى " المعنى فإني لم أكن وأنا في سدرة المنتهى بأقرب إلى الله منه وهو في قعر البحر في بطن الحوت. وهذا يدل على أن البارىء سبحانه وتعالى ليس في جهة"
“Abu al-Ma’ali berkata: Sabda Rasulullah berbunyi “Lâ Tufadl-dlilûnî ‘Alâ Yûnus Ibn Mattâ” memberikan pemahaman bahwa Nabi Muhammad yang diangkat hingga ke Sidrah al-Muntaha tidak boleh dikatakan lebih dekat kepada Allah dibanding Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan besar yang kemudian dibawa hingga ke kedalaman lautan. Ini menunjukan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”[5].

Kemudian dalam menafsirkan firman Allah:

وَجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا  (الفجر: 22)

al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

"والله جل ثناؤه لا يوصف بالتحول من مكان إلى مكان، وأنَّى له التحول والانتقال ولا مكان له ولا أوان، ولا يجري عليه وقت ولا زمان، لأن في جريان الوقت على الشىء فوت الأوقات، ومن فاته شىء فهو عاجز"
“Allah yang maha Agung tidak boleh disifati dengan perubahan atau berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, karena mustahil Dia disifati dengan sifat berubah atau berpindah. Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah, dan tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Karena sesuatu yang terikat oleh waktu itu adalah sesuatu yang lemah dan makhluk”[6].

Kemudian dalam menafsirkan firman Allah:

ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (الملك: 16)

al-Imâm al-Qurthubi menuliskan:

"والمراد بها توقيره وتنزيهه عن السفل والتحت، ووصفه بالعلوِّ والعظمة لا بالأماكن والجهات والحدود لأنها صفات الأجسام. وإنما ترفع الأيدي بالدعاء إلى السماء لأن السماء مهبط الوحي ومنزل القطر ومحل القُدس ومعدن المطهرين من الملائكة، واليها ترفع أعمال العباد، وفوقها عرشه وجنته، كما جعل الله الكعبة قِبلة للدعاء والصلاة، ولأنه خلق الأمكنة وهو غير محتاج إليها، وكان في أزله قبل خلق المكان والزمان ولا مكان له ولا زمان، وهو الآن على ما عليه كان"
“Yang dimaksud oleh ayat ini adalah keagungan Allah dan kesucian-Nya dari arah bawah. Dan makna dari sifat Allah al-‘Uluww adalah dalam pengertian ketinggian derajat dan keagungan bukan dalam pengertian tempat-tempat, atau arah-arah, juga bukan dalam pengertian batasan-batasan, karena sifat-sifat seperti demikian itu adalah sifat-sifat benda. Adapun bahwa kita mengangkat tangan ke arah langit dalam berdoa adalah karena langit tempat turunnya wahyu, tempat turunnya hujan, tempat yang dimuliakan, juga tempat para Malaikat yang suci, serta ke sanalah segala kebaikan para hamba diangkat, hingga ke arah arsy dan ke arah surga. Hal ini sebagaimana Allah menjadikan Ka’bah sebagai kiblat dalam doa dan shalat kita (bukan artinya Allah di dalam Ka’bah). Karena sesungguhnya Allah yang menciptakan segala tempat maka Dia tidak membutuhkan kepada ciptaannya tersebut. Sebelum menciptakan tempat dan zaman, Allah ada tanpa permulaan (Azaliy), tanpa tempat, dan tanpa zaman. Dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat dan zaman tetap ada sebagaimana sifat-Nya yang Azaliy tanpa tempat dan tanpa zaman”[7].

Referensi

[1] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 3, h. 278, QS. al-Baqarah: 255
[2] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 6, h. 399, QS. al-An’am: 18
[3] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 6, h. 390, QS. al-An’am: 3
[4] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 7, h. 148, QS. al-An’am: 158
[5] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 11, h. 333-334, QS. al-Anbiya’: 87
[6] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 20, h. 55, QS. al-Fajr: 22
[7] al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, j. 18, h. 216, QS. al-Mulk: 16

Selasa, 02 Februari 2016

Ustadz T.M. Fouzy: Selamat Tinggal, Wahabi…

Setelah didoakan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, hatinya terbuka untuk kembali mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah secara utuh tanpa terpengaruh paham Wahabi lagi.
Untuk ukuran orang Melayu, perawakan tokoh ini cukup besar, meskipun tidak terlampau tinggi dan tidak pula terlalu gemuk. Kulitnya bersih dan penampilannya rapi. Orangnya ramah, mudah diajak berbincang-bincang, dan cepat akrab. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kesombongan meskipun ia sosok yang memiliki banyak kemampuan, baik keilmuan maupun yang lainnya, dengan pengalaman yang luas di berbagai negara.      

Tengku Mohd Fouzy bin Tengku Mahid Jumat, demikian nama lengkap tokoh ini. Ustadz Fouzy adalah nama yang tak asing lagi bagi muslimin Singapura. Betapa tidak, kegiatan dakwah dan pendidikan Islam di sana banyak yang berkaitan dengan dirinya. Sejak akhir 1980-an hingga kini ia eksis sebagai tokoh yang menyuarakan dakwah Islam berdasarkan paham Ahlussunnah wal Jama’ah di Singapura. Namun untuk sampai pada pilihan itu secara mantap perlu waktu yang tidak sebentar.

Tokoh ini lahir tanggal 8 November 1955 di Singapura, yang juga tempat lahir ayah-ibunya. Ia putra kedua pasangan Tengku Mahid Jumat, yang berasal dari Aceh, dan Hajjah Salmah binti Haji Abdul Halim, berasal dari Melaka. Selain saudara sekandung, ia juga punya empat kakak lain ibu.

Sejak sekolah rendah (SD) hingga sekolah menengah, ia belajar di sekolah negeri. Sambil bersekolah, ia belajar kepada Kiai Kasim dengan mempelajari kitab-kitab Jawi (Arab Melayu),  seperti Siyarus-Salikin, Sabilal Muhtadin.

Selepas sekolah menengah, dalam usia sekitar 16 tahun, ia pergi ke India untuk belajar di Madrasah Sabilur-Rasyad, Bangalore, atas rekomendasi dari Jamaah Tabligh, karena sebelumnya aktif di perkumpulan ini.

Ia sebenarnya senang belajar di madrasah yang terletak di kawasan pegunungan ini. Tempatnya bagus dan udaranya pun sejuk. Guru-gurunya para pengikut tasawuf yang akhlaqnya bagus. Sayangnya ia hanya sempat belajar tujuh bulan di sini. Kendalanya adalah faktor bahasa. Untuk mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama ia harus menggunakan bahasa Urdu, sedangkan ia tidak memahami bahasa tersebut. Tentu hal itu menyulitkannya. Tetapi keberadaannya di sana tidak sia-sia, karena selama tujuh bulan itu ia sempat mengikuti pelajaran Tahfizhul Qur’an.

Setelah itu, beberapa pelajar Malaysia menyarankannya untuk belajar di Kedah, Malaysia, di sebuah pondok bernama Mishbahul Falah. Maka pada tahun 1973, dalam usia 17 tahun, ia melangkahkan kaki menuju Kedah, tepatnya di Lanai, sebuah kampung di kawasan Baling, Kedah. Pendiri sekaligus pemimpin ma`had saat itu adalah Syaikh Umar Zuhdi, seorang alim yang sempat belajar selama lima tahun di Makkah. Sekitar dua tahun ia menimba ilmu di sini.

Pada tahun 1975, ibundanya ingin menunaikan ibadah haji dan mengajaknya untuk menemani. Setelah menunaikan haji, ia terus bermukim di sana menuntut ilmu. Selama dua tahun ia dapat mengikuti pengajian para ulama di Masjidil Haram.

Selama di Makkah, Ustadz Fouzy juga belajar di Darul Ulum, madrasah terkenal di sana yang menjadi salah tujuan para penuntut ilmu agama, khususnya yang datang dari Nusantara. Ia pun sempat mengikuti pelajaran di Madrasah Shaulatiyah, sebuah madrasah terkenal pula. Di antaranya gurunya di sini adalah Syaikh `Iwadh Al-Yamani dan Syaikh Ismail Al-Yamani. Kegiatan lainnya, setiap hari Jum’at Ustadz Fouzy bersama beberapa kawannya dan Syaikh Ismail Al-Yamani mendatangi rumah Syaikh Hasan Masysyath untuk mengikuti pengajian kitab Ihya` Ulumiddin.

Demikianlah, antara tahun 1975 hingga 1977, ia belajar di Darul Ulum sekaligus menimba ilmu di luar madrasah kepada para ulama Makkah, di antaranya menghadiri pengajian di halaqah Sayyid Muhammad Al-Maliki, yang ketika itu masih mengajar di Masjidil Haram. Guru-guru lainnya di Makkah adalah Syaikh Muhammad Quthb dari India (bukan Syaikh Muhammad Quthb Mesir), Syaikh Abdul Hamid Jaha, yang berasal dari Indonesia, Syaikh Abdul Karim Banjari, dan Syaikh Ali Cahya, ulama dari Patani, Thailand Selatan.      

Setelah selesai jenjang Mutawassith (setingkat Tsanawiyah/SLTP di Indonesia) di Darul Ulum, ia masuk kelas I tingkat Tsanawiyah (setingkat Aliyah/SLTA di Indonesia). Tapi kemudian ia direkomendasikan oleh Ar-Rabithah Al-Islamiyyah untuk masuk perguruan tinggi di Madinah, yakni Al-Jami`ah Al-Islamiyyah. Ia pun mengajukan permohonan dan alhamdulillah diterima. Tetapi sebelumnya ia mengikuti dulu tingkat-tingkat persiapan selama empat tahun, yakni satu tahun di kelas persiapan Bahasa Arab dan tiga tahun berikutnya di tingkat tsanawiyah yang berada di bawah universitas ini.

Setelah itu ia langsung masuk Kulliyyatusy-Syari`ah (Fakultas Syariah) dan dapat selesai dalam waktu empat tahun. Pada tingkat I, II, dan III, ia mendapatkan predikat mumtaz (istimewa), sedangkan pada tingkat IV ia meraih jayyid jiddan (sangat baik). Jadi, waktu yang dihabiskannya belajar di Madinah adalah delapan tahun.

Ia kemudian disarankan melanjutkan pendidikannya ke tingkat magister di universitas yang sama. Tapi ia berpikir, tidak boleh berlaku zhalim terhadap diri sendiri. Saat itu ia berada di antara dua pemahaman keagamaan yang berbeda yang membuatnya seperti terombang-ambing. Di satu sisi, dalam waktu yang lama selama belajar di Singapura, Malaysia, dan Makkah, ia mendapatkan didikan para ulama Ahlussunnah, yang berpegang teguh pada paham Asy`ari. Tetapi di sisi lain, ketika belajar di Madinah ia dididik dalam lingkungan yang kental warna Wahabi-nya, yang sedikit banyak mempengaruhi dirinya.

Benar, ataukah Sesat?

Agar adil terhadap dirinya dan tidak terombang-ambing, ia memutuskan untuk mengambil ilmu dari sumber yang lain lagi. Maka setelah pulang ke Singapura tahun 1985, di awal 1986 pergilah ia ke Kairo. Saat itu ia mengajukan permohonan di Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo. Karena lebih dulu diterima di Universitas Kairo, ia pun segera mengikuti pelajaran di sini sambil menunggu diterima di Universitas Al-Azhar. Setelah diterima di Al-Azhar, ia pun pindah ke sana.

Baru sekitar dua minggu belajar di Al-Azhar, ibunya mulai menderita sakit dan memintanya pulang agar bisa menemaninya. Terpaksa ia membatalkan niatnya untuk melanjutkan pelajaran di sana dan langsung kembali ke Singapura.

Di negerinya, mulailah Ustadz Fouzy mengabdikan diri mengajar di samping tetap mendekatkan diri dengan para ulama untuk mengambil manfaat ilmu dan keberkahan dari mereka. Tempat pengabdiannya yang pertama di lembaga pendidikan formal adalah di Madrasah Al-Junaid Al-Islamiyyah, sekolah Islam yang termasyhur di sana. Mulai tahun 1987 ia pun menjadi imam eksekutif di Masjid Darul Aman di Jalan Eunos, Singapura. Yang dimaksud imam eksekutif adalah imam yang bukan hanya memimpin shalat dan ibadah lain, tetapi juga mengelola dakwah secara keseluruhan di masjid itu.       

Selama sekitar lima tahun ia juga mengajar di Persatuan Guru-Guru Agama Islam Singapura (Pergas) setiap hari Sabtu dan hari Ahad dengan menyampaikan beberapa materi keagamaan, seperti aqidah, fiqih, tafsir, hadits, akhlaq.

Pada tahun 1990 ia mulai membawa rombongan haji dan umrah ke Tanah Suci di beberapa perusahaan travel yang menggunakan tenaganya sebagai pembimbing. Empat tahun kemudian, 4 Juli 1994, secara resmi ia membuka usaha travel haji dan umrah sendiri yang kini tidak hanya khusus melayani haji dan umrah saja tetapi juga wisata-wisata Islami ke berbagai negeri. Aktivitasnya ini membuatnya terlibat di AMTAS (Association of Muslim Travel Agents Singapore, Asosiasi Agen Perjalanan Muslim Singapura). Ia kini menjabat presidennya untuk periode ketiga secara berturut-turut. 

Sejak dua tahun yang lalu ia pun diberi kepercayaan untuk duduk di Lajnah (Lembaga) Majelis Fatwa pada Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS). Sebulan sekali majelis ini bersidang membahas persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam Singapura yang hasilnya selalu dibukukan dan disebarluaskan. Masih banyak lagi aktivisnya yang lain, baik di MUIS maupun yang lainnya.       

Selain usaha travel, ia juga mendirikan usaha penyembelihan ayam halal pada tahun 1996 yang terus dijalaninya hingga kini. “Sebelumnya yang membuka usaha penyembelihan ayam halal adalah orang-orang non-muslim, sehingga tidak dapat dipastikan kehalalannya. Meskipun tidak banyak menguntungkan, bahkan terkadang membawa kerugian, tetap saya jalani, karena saya pandang sebagai fardhu kifayah,” katanya.      

Kesibukannya menangani usaha travel tak membuatnya melalaikan tugas utamanya untuk mengajar dan berdakwah. Ia tetap membuka kelas-kelas pengajian di beberapa masjid di Singapura yang telah dijalaninya sejak lama.

Saat baru kembali ke Singapura, ia sedikit banyak masih membawa gaya dan cara, serta beberapa pemikiran Wahabi yang keras. Ia pun merasa tidak harus terikat dengan madzhab, meskipun tidak anti madzhab. Karena, walaupun lama belajar di lembaga pendidikan yang kuat Wahabi-nya, ia punya bekal ilmu yang didapatnya di pesantren dan dari ulama-ulama Makkah yang sealiran dengan para gurunya di Singapura dan Malaysia. Namun pengaruh Wahabi itu membuatnya longgar dalam berpegang dengan madzhab.

Keadaan demikian, yang seperti terombang-ambing itu, membuatnya tidak nyaman. Maka ketika sedang membawa jama’ah haji atau umrah, di Masjidil Haram ia bermohon kepada Allah agar diberikan petunjuk apakah pemahaman Wahabi itu benar ataukah sesat.

Setelah berdoa, ia pun mengunjungi gurunya, Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.

Sayyid Muhammad memberikan ijazah kepadanya dan mendoakannya. Dari gurunya ini Ustadz Fouzy mendapatkan ijazah ammah (ijazah umum) dari semua sanad yang dimilikinya.

“Setelah itu hati saya pun terbuka untuk kembali mengikuti ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah secara utuh tanpa terpengaruh lagi paham Wahabi,” katanya. Ia bersyukur karena hingga saat ini dapat mempertahankan aqidah Ahlussunnah dan bermadzhab Syafi`i sebagaimana asalnya.

Kini dengan dibantu para ustadz lain, di antaranya Ustadz Hasan Saifour Rijal, murid dan sekaligus kini menjadi sahabatnya dalam dakwah, ia mencoba menjelaskan kepada kaum muslimin, khususnya di Singapura, ihwal masalah-masalah aqidah yang sangat perlu diketahui umat. Di antaranya mengenai bagaimana sebenarnya pemahaman-pemahaman Wahabi dan bagaimana pandangan-pandangan Ahlussunnah dalam menolaknya.

✨🌷🌹🌸سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله ،والله اكبر🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸للَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وسلم🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸رب اغفر لي و لوالديا,رب اغفر لي و لوالديا,رب اغفر لي و لوالديا🌷🌹🌸✨
✨🌷🌹🌸استغفر الله للمؤمنين و المؤمنات  x27 ✨🌷🌹🌸
💞🌹🌻✨Darokah Yaa Ahlal Madinah, Yaa Tarim Wa Ahlaha ✨🌻🌹💞

©Scan Original & Official®
█║▌│█│║▌║││█║▌║▌║
Verified Official by Nurul’s™ ツ

#DiariSangGadisSufi2016
#KalamSufi
#NurulHalawatulIman_MinhatulMaula
#InsyaAllahFirdausiAhla
#DaulatNusantara #IndiaPakistanBangladesh_Zindabad