Jumat, 07 November 2014

Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur

Hadis Khawarij Kaitannya Dengan Najd Dan Arah Timur
Sebagian dari pengikut salafy menjadikan hadis khawarij sebagai hujjah untuk menetapkan kalau hadis fitnah tanduk setan merujuk ke Irak bukan ke Najd. Mereka menunjukkan kalau khawarij itu muncul di Irak dan terdapat hadis yang mengkaitkannya dengan arah timur. Sayang sekali mereka tidak memperhatikan kalau sebenarnya Najd juga punya kaitan yang erat dengan khawarij. Bisa dibilang munculnya khawarij itu bermula dari Najd.

.

Hadis Asal Mula Khawarij

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول الله صلى الله عليه و سلم يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال ويلك ومن يعدل إذا لم أكن أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه دعني يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]

Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya. Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]

Dzul Khuwaisirah termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani Mudhar.

.

.

.

Bani Tamim Tinggal Di Najd

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata “jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”. Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”. Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar. [Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]

حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin. Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar [Shahih Bukhari 6/137 no 4845]

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata Ali radiallahu ‘anhu yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  membagikannya kepada empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu salah seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd, dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”. [Shahih Muslim 2/741 no 1064]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.

Maka disini kita melihat apa kaitannya Khawarij dengan Najd. Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim. Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal di Najd.

Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti itu.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu. Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain” mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah” mereka berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi. Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”. Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah baiknya kubiarkan saja unta itu [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]

Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam riwayat lain disebutkan bahkan wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim. Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Pernah suatu ketika delegasi bani tamim datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits, Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat “sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti” [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata

فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس

Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikan kami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami sebutkan, kemudian ia duduk [Sirah Ibnu Hisyam 2/562]

Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat melihat bahwa bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?. Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

.

.

.

Hadis Sahl bin Hunaif  Tentang Khawarij

أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]

Hadis ini sanadnya shahih, Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas dari busurnya” [Shahih Bukhari 9/17 no 6934]

Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan isyarat ke arah barat, terkadang disebutkan isyarat ke arah timur dan terkadang disebutkan isyarat ke arah Iraq. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan “tidak kuat” [At Tahdzib juz 11 no 639].

Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan penunjukkan isyarat ke arah timur karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan “timur” yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda

قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية

[Rasulullah] bersabda “akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya”

Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam Fadhail Ash Shahabah no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 913, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.

.

.

.

Keutamaan Yang Memerangi Khawarij

Tidak diragukan kalau khawarij ini telah diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara keseluruhan maka diketahui bahwa asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah. Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu, ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah” [Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Siapakah yang memerangi mereka, tidak diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’id Al Khudri yang berkata

قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق

Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”

Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalam Sunan Nasa’i 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1412 dengan lafaz “segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”

.

.

.

Kesimpulan

Hadis Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya. Jadi disini hadis fitnah Najd masih klop atau sesuai dengan hadis fitnah khawarij. Salam Damai

Kamis, 02 Oktober 2014

Najis dan Cara Mensucikan

Najis dan Cara Mensucikan

Najis adalah sesuatu yang harus dijauhi saat seorang muslim melakukan ritual
ibadah tertentu seperti shalat baik shalat wajib 5 waktu atau shalat sunnah ,
thawaf saat haji dan umrah, dan lain-lain. Tuntunan berikut berkaitan dengan
perkara najis menurut madzhab Syafi'i. Banyak penjelasan di internet seputar najis
yang menggunakan uraian madzhab lain seperti Hanbali atau Hanafi. Panduan ini
khusus mengambil perspektif madzhab Syafi'i agar tidak membingungkan
masyarakat Indonesia yang mayoritas bermadzhab Syafi'i sejak lahir.

DAFTAR ISI
1. Definisi Najis
2. Perkara/Benda Najis
3. Tingkatan Najis
1. Najis Mukhoffafah (Ringan)
2. Najis Mutawassithah (Sedang)
3. Najis Mughalladzoh (Berat)
4. Jenis Najis
1. Najis Hukmiyah ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺤﻜﻤﻴﺔ )
2. Najis Ainiyah ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﺔ )
5. Cara Menghilangkan Najis
1. Cara Menghilangkan Najis Ringan (Mukhoffafah)
2. Cara Menghilangkan Najis Sedang (Mutawassitoh)
3. Cara Menghilangkan Najis Anjing (Mugholadzoh)
4. Cara Menghilangkan Najis Hukmiyah (Tidak Kelihatan)
6. Najis Anjing Menurut 4 (Empat) Madzhab
7. Hukum Memelihara Anjing
8. Najis Babi Menurut 4 (Empat) Madzhab
9. Cara Menghilangkan Najis Menurut Empat Madzhab
10. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

DEFINISI NAJIS
Najis (Arab, ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ) berasal dari bahasa Arab dari akar kata masdar (verbal noun)
najasah yang secara etimologis bermakna kotor (qadzarah - ﺍﻟﻘﺬﺍﺭﺓ). Sedangkan
dalam terminologi fiqh (syariah), najis adalah sesuatu yang kotor yang
diperhntahkan oleh syariah untuk suci darinya dan menghilangkannya dari baju dan
badan dan dari segala sesuatu yang disyaratkan sucinya saat memakai. Seperti
sucinya baju dan badan pada saat melaksanakan shalat dan tawaf umarah dan
haji.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj ( ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ
ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ) menyatakan bahwa najis dalam definisi syariah adalah perkara kotor yang mencegah sahnya shalat.

PERKARA NAJIS
Perkaran atau sesuatu yang dianggap najis menurut syariah Islam sebagai berikut:
1. Kencing baik kencing bayi atau kencing orang dewasa.
2. Tinja (kotoran manusia) atau kotoran hewan
3. Khamr (mimunam beralkohol).

2. Bangkai hewan yang mati tanpa disembelih secara syariah dan seluruh anggota
badannya seperti daging, tulang, tanduk, kuku, dll kecuali,

(a) belalang, hewan laut dan hewan sangat kecil yang darahnya tidak mengalir
seperti lalat dan sejenisnya. Khusus untuk lalat dan sejenisnya apabila masuk ke
air yang sedikit (kurang 2 qullah) dalam keadaan hidup kemudian mati dalam air,
maka airnya tetap suci.

(b) bangkai manusia, hukumnya suci baik muslim atau nonmuslim (kafir).

3. Darah.
4. Nanah.
5. Muntah.
6. Anjing dan Babi
7. Madzi yaitu cairan putih encer yang keluar bukan karena syahwat. .
8. Wadi yaitu cairan pekat kental yang keluar setelah kencing atau setelah
membawa beban berat.
9. Mani (sperma) anjing dan babi.
10. Susu hewan yang tidak halal dagingnya kecuali susu manusia.

Catatan:
1. Tulang bangkai suci menurut madzhab Hanafi. Rambut dan bulu bangkai suci
menurut madzhab Maliki.
2. Kotoran dan kencing hewan yang halal dimakan hukumnya suci menurut
madzhab Hanbali.
3. Harus dibedakan antara najis dan mutanajjis. Najis adalah perkara najis.
Sedang mutanajjis adalah benda yang terkena atau tersentuh perkara najis. Najis
tidak bisa suci. Sedang mutanajjis dapat suci kalau dihilangkan najisnya.

TINGKATAN NAJIS
Menurut madzhab Syafi'i, tingkatan najis terbagi menjadi 3 (tiga) macam. Yaitu,
najis ringan (mukhaffafah), najis sedang/pertangahan (mutasswithah) dan najis
berat (mughalladzah).

NAJIS MUKHOFFAFAH (RINGAN)
Najis mukhaffafah adalah najis ringan yang cara menghilangkannya cukup dengan
menyiramkan air pada najis tersebut. Najis mukhaffafah terdapat pada kencingnya
anak kecil laki-laki yang belum berusia 2 tahun dan tidak makan apa-apa kecuali
ASI (air susu ibu).

NAJIS MUTAWASSITAH (SEDANG)
Najis mughalladzah adalah najis yang umum seperti darah, bangkai, koroan
manusia atau hewan, muntah, kencing, dll yang cara mensucikannya adalah
dengan

NAJIS MUGHOLLADZAH (BERAT)
Najis mughalladzah adalah najis kaliber berat yaitu najis anjing dan babi. Yang
cara mensucikannya adalah dengan menyiramkan air sebanyak 7 (tujuh) kali salah
satunya dicampur dengan debu atau tanah.

JENIS NAJIS

Ada dua jenis najis yaitu najis hukmiyah ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺤﻜﻤﻴﺔ ) dan najis ainiyah ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔﺍﻟﻌﻴﻨﻴﺔ).

NAJIS HUKMIYAH ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺤﻜﻤﻴﺔ )
Najis hukmiyah adalah najis yang tidak kelihatan warnanya, baunya dan rasanya.

NAJIS AINIYAH ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻌﻴﻨﻴﺔ )
Najis ainiyah adalah sebaliknya najis hukmiyah yaitu najis yang kelihatan
warnanya, baunya dan rasanya.

CARA MENGHILANGKAN NAJIS
Adapun cara menghilangkan najis adalah tergantung dari tingkatan (ringan,
sedang, berat) dan jenis najisnya (ainiyah atau hukmiyah).

CARA MENGHILANGKAN/MENYUCIKAN NAJIS RINGAN (MUKHAFFAFAH)
Najis mukhaffafah adalah terdapat pada kencing anak laki-laki usia di bawah 2
tahun dan belum memakan makanan apapun kecuali ASI (Air Susu Ibu). Adapun
kencing bayi perempuan status najisnya sama dengan kencing orang dewasa .
Cara menghilangkan atau mensucikan najis tersebut adalah dengan menyiramkan
air suci pada kencing anak tersebut sampai merata walaupun air itu tidak
mengalir. Siraman cukup dilakukan satu kali.

CARA MENGHILANGKAN/MENYUCIKAN NAJIS SEDANG (MUTAWASSITAH)
Najis mutawassitah (sedang) adalah seluruh najis selain najis anjing babi dan najis
bayi laki-laki.

Cara menyucikan najis mutawassitah ainiyah adalah dengan menghilangkan
perkara yang najis yakni rasa, warna dan baunya dengan air yang suci dan
mensucikan. Apabila sulit menghilangkan warna atau baunya, maka tidak apa-apa ( ﻣﻌﻔﻮ ﻋﻨﻪ ).
Apabila air untuk menyucikan kurang dari 2 (dua) qullah maka harus dengan
mengalirkan/menyiramkan air tersebut ke benda yang najis. Apabila air sampai 2
qullah atau lebih, maka tidak disyaratkan mengalirkan air ke benda najis tersebut
bahkan boleh memasukkan benda najis tersebut ke air yang sampai 2 qullah atau
lebih. Kecuali apabila berubah salah satu dari 3 sifatnya (warna, bau dan rasa)
maka air tersebut tetap suci.

CARA MENGHILANGKAN/MENYUCIKAN NAJIS BERAT (MUGHALLADZAH)
Najis mughalladzah (mugholadhoh) adalah najis anjing dan babi. Cara
menghilangkannya adalah dengan membasuh najis sebanyak 7 (tujuh) kali dan
salah satu dari tujuh itu dicampur dengan debu atau tanah yang suci.

SABUN SEBGAI GANTI DEBU DALAM MENGHILANGKAN NAJIS ANJING
Ada 3 pendapat tentang boleh tidaknya menggunakan benda selain debu/tanah
untuk menghilangkan najis mugholadhoh sbb:
Pendapat ke-1: Selain debu tidak bisa dipakai sebagai pengganti debu secara
mutlak baik ada debu atau karena tidak adanya. Ini pendapat madzhab Syafi'i,
Hanbali dan Ibnu Hazm

Pendapat ke-2: Selain debu itu dapat berfungsi sebagai ganti dari debu. Baik ada
debu atau karena tidak ada. Ini salah satu pendapat dalam madzhab Syafi'i, dan
Imam Muzani. Dan pendapat yang masyhur dalam madzhab Hanbali.
Pendapat ke-3: Selain debu dapat berfungsi seperti debu apabila tidak ada debu
saja atau apabila ada debu tapi dapat merusak benda yang terkena najis. Ini salah
satu pendapat dalam madzhab Syafi'i dan Hanbali (Uraian lebih detail soal
perbedaan pendapat ini dapat dilihat di kitab Al-Wasith 1/407).

Catatan:
- Ada pendapat dalam madzhab Syafi'i yang menghukumi cukupnya mensucikan
najis mughalladzah sekali saja.

STATUS AIR BEKAS MEMBASUH NAJIS ANJING BABI PADA BASUHAN PERTAMA
SAMPAI KEENAM
Al-Mawardi dalam Alhawi Al-Kabir 1/310 membagi pendapat ulama madzhab
Syafi'i dalam tiga kategori yaitu najis, suci, najis untuk bekas basuhan pertama s/
d keenam, sedang bekas basuhan ketujuh suci.
Bagi yang berpendapat najis, apakah najisnya mugholadzah atau mutawassithoh
dan berapa kali harus dibasuh supaya suci ada dua pendapat. Berikut keterangan
Al-Mawardi dalam Alhawi Al-Kabir 1/310:
ﻓﺼﻞ : ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺘﺒﻘﻲ ﻣﻦ ﻏﺴﻼﺕ ﺇﻧﺎﺀ ﻭﻟﻮﻍ ﺍﻟﻜﻠﺐ
ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻤﻨﻔﺼﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺴﻼﺕ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﺇﺫﺍ ﺃﻓﺮﺩﺕ ﻛﻞ ﻏﺴﻠﺔ ﻣﻨﻬﻦ ﻭﻣﻴﺰﺕ ﻓﻘﺪ ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻓﻴﻪ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺛﻼﺛﺔ
ﻣﺬﺍﻫﺐ :
ﺃﺣﺪﻫﺎ : ﻭﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻷﻧﻤﺎﻃﻲ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﻧﺠﺲ ﺑﻨﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻥ ﻣﺎ ﺃﺯﺍﻝ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻧﺠﺲ .
ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻭﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻟﺪﺍﺭﻛﻲ ﻭﻃﺎﺋﻔﺔ ﺃﻥ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﻃﺎﻫﺮ : ﻷﻧﻪ ﻣﺎﺀ ﻣﺴﺘﻌﻤﻞ ، ﻭﻟﻜﻞ ﻏﺴﻞ ﺣﻆ ﻣﻦ
ﺗﻄﻬﻴﺮ ﺍﻹﻧﺎﺀ .
ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺃﺑﻲ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺍﻟﻤﺮﻭﺯﻱ ﻭﺟﻤﻬﻮﺭ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺃﻥ ﻣﺎﺀ ﺍﻟﻐﺴﻠﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻃﺎﻫﺮ : ﻷﻥ ﺑﻬﺎ ﻃﻬﺮ ﺍﻹﻧﺎﺀ ،
ﻭﻣﺎ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ، ﻣﻦ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﺎﺩﺳﺔ ﻧﺠﺲ ﻻﻧﻔﺼﺎﻟﻪ ‏[ ﺹ : 310 ‏] ﻋﻦ ﺍﻟﻤﺤﻞ ﻣﻊ ﺑﻘﺎﺀ ﻧﺠﺎﺳﺘﻪ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻗﻴﻞ
ﺑﻨﺠﺎﺳﺔ ﺫﻟﻚ ﻭﺟﺐ ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺑﻪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻣﻦ ﺑﺪﻥ ﺃﻭ ﺛﻮﺏ ﻭﻓﻲ ﻗﺪﺭ ﻏﺴﻠﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ :
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﻳﻐﺴﻠﻪ ﻣﺮﺓ ﻭﺍﺣﺪﺓ : ﻷﻧﻪ ﻣﺎﺀ ﻧﺠﺲ ، ﻭﻷﻧﻪ ﺃﻳﺴﺮ ﻣﻦ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻷﻧﺠﺎﺱ ﻟﺘﺄﺛﻴﺮﻩ ﻓﻲ ﺗﻄﻬﻴﺮ ﻏﻴﺮﻩ .
ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻥ ﻳﻐﺴﻞ ﺑﻌﺪﺩ ﻣﺎ ﺑﻘﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺴﻠﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺴﻠﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﺟﺐ ﺃﻥ
ﻳﻐﺴﻠﻪ ﺳﺘﺎ : ﻷﻥ ﺳﺒﻊ ﺍﻟﻮﻟﻮﻍ ﻗﺪ ﻳﺴﻘﻂ ﺑﺎﻟﻐﺴﻠﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻭﻫﻲ ﺳﺘﺔ ﺃﺳﺒﺎﻋﻪ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺴﻠﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ، ﻭﺟﺐ ﺃﻥ
ﻳﻐﺴﻠﻪ ﺧﻤﺴﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻏﺴﻠﻪ ﺃﺭﺑﻌﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ ﻏﺴﻠﻪ ﺛﻼﺛﺎ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺎﻣﺴﺔ ﻏﺴﻠﻪ ﻣﺮﺗﻴﻦ
ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺎﺩﺳﺔ ﻏﺴﻠﻪ ﻣﺮﺓ ، ﻭﻷﻥ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ﺳﺒﻊ ﺍﻟﻮﻟﻮﻍ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ ﻏﺴﻠﻪ ﻣﺮﺓ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻮﻟﻮﻍ
ﺳﺎﻗﻄﺎ ، ﻭﺣﻜﻢ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺑﺎﻗﻴﺎ ، ﻫﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﻗﻴﻞ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻨﻔﺼﻞ ﻧﺠﺲ ، ﻓﺄﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻗﻴﻞ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﻨﻔﺼﻞ ﻋﻦ ﺍﻹﻧﺎﺀ ﻃﺎﻫﺮ ، ﻓﻔﻲ ﻭﺟﻮﺏ
ﻏﺴﻞ ﻣﺎ ﺃﺻﺎﺏ ﻭﺟﻬﺎﻥ :
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﻻ ﻳﺠﺐ : ﻷﻥ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻻ ﻳﻠﺰﻡ .
ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻠﻪ ﻟﻤﺎ ﺗﻌﻠﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻏﺴﻞ ﺍﻟﻮﻟﻮﻍ ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﻖ ﺍﻟﻐﺴﻞ ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﻗﺪﺭ ﻏﺴﻠﻪ ﻭﺟﻬﺎﻥ :
ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺑﻌﺪﺩ ﻣﺎ ﺑﻘﻲ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﺴﻠﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﺻﺎﺑﺖ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻭﺻﻔﻨﺎﻩ .
Artinya: Bab air sisa membasuh wadah yang dijilat anjing
Adapun air yang dipakai dalam basuhan yang tujuh apabila disendirikan dari tiap-
tiap basuhan, maka ulama madzhab Syafi'i terbagi dalam 3 pendapat.

Pertama, masing-masing air bekas basuhan itu najis berdasarkan pada hukum asal air
bekas menghilangkan najis adalah najis.

Kedua, masing-masing bekas basuhan yang tujuh itu suci. Karena ia air
mustakmal. Dan masing-masing basuhan itu memiliki bagian dalam menyucikan
wadah.

Ketiga, air basuhan yang ketujuh hukumnya suci. Sedangkan basuhan sebelumnya
dari pertama sampai keenam hukumnya najis karena terpisah dari tempat sedang
najisnya masih ada.

Apabila mengikuti pendapat ini, maka wajib membasuh benda atau badan yang
terkena bekas air basuhan ini. Adapun jumlah basuhan yang harus dilakukan ada
dua pendapat: Pertama, cukup dibasuh satu kali saja. Kedua, harus dibasuh
menurut jumlah yang tersisa dari tujuh pada basuhan yang terkena. (Misalnya,
apabila cipratan air itu pada basuhan yang pertama, maka membasuhnya enam
kali, dst.)

CARA MENGHILANGKAN NAJIS HUKMIYAH ( ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺤﻜﻤﻴﺔ )
Adapun menghilangkan atau menyucikan najis hukmiyah adalah sama dengan
menyucikan najis ringan (mukhaffafah) yaitu dengan menyiramkan air suci pada
najis hukmiyah tersebut sampai merata walaupun air itu tidak mengalir.

NAJIS ANJING MENURUT EMPAT MADZHAB
Madzhab yang empat yaitu Syafi'i, Hanafi, Maliki, Hanbali memiliki perbedaan
pendapat tentang najisnya anjing sebagai berikut:
- Madzhab Syafi'i: menghukumi bahwa seluruh bagian anjing adalah najis baik
badan, bulu, lendir, keringat dan air liurnya.

Adapun cara menyucikannya adalah dengan menyiramkan 7 kali air salah satunya
dicampur dengan tanah. Namun ada pendapat dalam madzhab Syafi'i yang
menyatakan yang wajib dibasuh 7 kali itu adalah yang terkena air ludah anjing
sedangkan yang selain itu cukup dibasuh satu kali ini berdasar pendapat Imam
Nawawi dalam kitab Raudhah dan Al-Majmuk seperti dikutip dari kitab Kifayatul
Akhyar 1/63.
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ : ﻭﻓﻲ ﻭﺟﻪ ﺷﺎﺫ ﺃﻧﻪ ﻳﻜﻔﻲ ﻏَﺴﻞ ﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻮﻟﻮﻍ ﻣﺮﺓ ، ﻛﻐﺴﻞ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺎﺕ ، ﻭﻫﺬﺍ
ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ : ﺇﻧﻪ ﻣُﺘَّﺠَﻪ ﻭﻗﻮﻱ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ؛ ﻷﻥ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻐﺴﻞ ﺳﺒﻌًﺎ ﺇﻧﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻟﻴُﻨَﻔﺮﻫﻢ ﻋﻦ ﻣﺆﺍﻛﻠﺔ
ﺍﻟﻜﻼﺏ
Artinya: Imam Nawawi berkata dalam kitab Raudah: Menurut pendapat yang
langka (syadz), cukup membasuh satu kali pada najis anjing selain bekas jilatan
sebagaimana membasuh najis yang lain. Pendapat ini dikatakan Nawawi dalam
Al-Majmuk Syarah Muhadzab: Pendapat ini diunggulkan dan kuat dari sisi dalil
karena perintah membasuh tujuh kali itu untuk membersihkan dari bekas makan
anjing.

Adapun sabun dapat berfungsi sebagai pengganti tanah untuk menyucikan najis
anjing menurut salah satu pendapat seperti dikutip dalam kitab Kifayatul Akhyar
1/63 sbb:
ﻭﻫﻞ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻥ ﻭﺍﻷﺷْﻨَﺎﻥ ﻣﻘﺎﻡ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ؟ ﻓﻴﻪ ﺃﻗﻮﺍﻝ ، ﺃﺣﺪﻫﺎ : ﻧﻌﻢ ، ﻛﻤﺎ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺤﺠﺮ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻓﻲ ﺍﻻﺳﺘﻨﺠﺎﺀ ،
ﻭﻛﻤﺎ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﺸَّﺐ ﻭﺍﻟﻘَﺮْﻅ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﺑﺎﻍ ﻣﻘﺎﻣﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﺻﺤﺤﻪ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ‏( ﺭﺀﻭﺱ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ ‏) . ﻭﺍﻷﻇﻬﺮ ﻓﻲ
ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﻭﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻘﻮﻡ ؛ ﻷﻧﻬﺎ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻣﺘﻌﻠﻘﺔ ﺑﺎﻟﺘﺮﺍﺏ ﻓﻼ ﻳﻘﻮﻡ ﻏﻴﺮﻩ ﻣﻘﺎﻣﻪ ﻛﺎﻟﺘﻴﻤﻢ . ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ
ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ : ﺇﻥ ﻭُﺟﺪ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻟﻢ ﻳَﻘُﻢْ ، ﻭﺇﻻ ﻗﺎﻡ . ﻭﻗﻴﻞ : ﻳﻘﻮﻡ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻔﺴﺪﻩ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻛﺎﻟﺜﻴﺎﺏ ﺩﻭﻥ ﺍﻷﻭﺍﻧﻲ .
Artinya: Apakah sabun dan lumut bisa berfungsi sama dengan debu? Ada beberapa
pendapat. Pertama, iya. Sebagaimana berfungsinya selain batu sama dengan batu
dalam istinjak (Jawa, cewok)... Ini adalah pendapat yang disahihkan Nawawi
dalam kitabnya Ru'us al-Masa'il. Yang paling dhahir dalma pendapat Rofi'i,
Raudah dan Al-Majmuk adalah tidak karena kesuciannya berkaitan dengan debu
maka yang lain tidak bisa disamakan. Pendapat ketiga, apabila ada debu maka
yang lain tidak dianggap. Kalau tidak ada debu, maka sabun bisa dijadikan
pengganti. Menurut satu pendapat: sabun bisa berfungsi seperti debu pada benda
yang bisa rusak dengan debu seperti baju, bukan wadah.

- Madzhab Maliki: berpendapat bahwa anjing yang hidup adalah suci baik
badannya, bulunya maupun air liurnya. Adapun mencuci wadah yang bekas dijilat
anjing maka hukumnya ta'abhudi (sunnah).
- Madzhab Hanafi: berpandangan bahwa badan dan bulu anjing itu suci. Sedang
air liur anjing adalah najis. Cara menyucikannya cukup 3 (tiga) kali.
- Madzhab Hanbali: ada dua pendapat di antara ulama madzhab Hanbali yaitu (a)
anjing itu najis baik badannya, bulunya maupun air liurnya; (b) Badan dan bulu
anjing itu suci. Hanya air liurnya yang najis.
Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahibil Arba'ah menyatakan
ﻭﻣﻨﻬﺎ ﺍﻟﻜﻠﺐ . ﻭﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻛﻞ ﺣﻲ ﻃﺎﻫﺮ ﺍﻟﻌﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﻛﻠﺒﺎ . ﺃﻭ ﺧﻨﺰﻳﺮﺍ ﻭﻭﺍﻓﻘﻬﻢ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﻋﻴﻦ
ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻣﺎ ﺩﺍﻡ ﺣﻴﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﺑﻨﺠﺎﺳﺔ ﻟﻌﺎﺑﻪ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺗﺒﻌﺎ ﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻟﺤﻤﻪ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻠﻮ ﻭﻗﻊ ﻓﻲ
ﺑﺌﺮ ﻭﺧﺮﺝ ﺣﻴﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﺼﺐ ﻓﻤﻪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﻢ ﻳﻔﺴﺪ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻮ ﺍﻧﺘﻔﺾ ﻣﻦ ﺑﻠﻠﻪ ﻓﺄﺻﺎﺏ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻨﺠﺴﻪ ‏) ﻭﻣﺎ ﺗﻮﻟﺪ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﺃﻭ
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻭﻟﻮ ﻣﻊ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﻣﺎ ﺩﻟﻴﻞ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻓﻤﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ " ﺇﺫﺍ ﻭﻟﻎ ﺍﻟﻜﻠﺐ
ﻓﻲ ﺇﻧﺎﺀ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻓﻠﻴﺮﻗﻪ ﺛﻢ ﻟﻴﻐﺴﻠﻪ ﺳﺒﻊ ﻣﺮﺍﺕ ﻭﺃﻣﺎ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺍﻟﺨﻨﺰﻳﺮ ﻓﺒﺎﻟﻘﻴﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻷﻧﻪ ﺃﺳﻮﺃ ﺣﺎﻻ ﻣﻨﻪ ﻟﻨﺺ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ
ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻭﺣﺮﻣﺔ ﺍﻗﺘﻨﺎﺋﻪ
Artinya: Anjing dan babi. Madzhab Maliki berpendapat setiap sesuatu yang hidup
itu suci walaupun anjing atau babi. Madzhab Hanafi sepakat atas kesucian anjing
selagi hidup menurut pendapat yang rajih (unggul) kecuali bahwa Hanafi
berpendapat atas najisnya air liur anjing saat hidup karena mengikuti pada
najisnya daging anjing setelah matinya. Apabila ada anjing jatuh ke dalam sumur
lalu keluar dalam keadaan hidup sedang mulutnya tidak mengenai air sumur,maka
airnya tidak najis. Begitu juga basahnya anjing tidak najis apabila menimpa
sesuatu. Hewan yang dilahirkan dari kedua anjing dan babi atau dari salah satunya
walaupun dengan hewan lain. Adapun dalil najisnya anjing adalah hadits riwayat
Muslim dari Nabi: "Apalagi anjing menjilat wadah kaliah, maka alirkan air dan
basuhlah wadah itu tujuh kali." Adapun najisnya babi maka itu berdasarkan pada
analogi (qiyas) pada najis anjing karena babi lebih buruk perilakunya dibanding
anjing dan karena ada teks Quran atas keharamannya dan haramnya memilikinya.

HUKUM MEMELIHARA ANJING
Hukum memelihara anjing sebagai binatang peliharaan (pet) adalah haram kecuali
untuk keperluan menjaga atau berburu yang terakhir ini boleh karena darurat. Ini
kesepakatan ulama termasuk mereka yang menganggap anjing tidak najis
berdasarkan pendapat ulama yang dikutip Al-Jaziri di atas dan juga pandangan
Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim 3/186 sebagai berikut:
ﺭﺧﺺ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﻠﺐ ﺍﻟﺼﻴﺪ ﻭﻛﻠﺐ ﺍﻟﻐﻨﻢ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻷﺧﺮﻯ ﻭﻛﻠﺐ ﺍﻟﺰﺭﻉ ﻭﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻗﺘﻨﺎﺀ ﻏﻴﺮﻫﺎ،
ﻭﻗﺪ ﺍﺗﻔﻖ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻗﺘﻨﺎﺀ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻟﻐﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ، ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻘﺘﻨﻲ ﻛﻠﺒﺎً ﺇﻋﺠﺎﺑﺎً ﺑﺼﻮﺭﺗﻪ ﺃﻭ ﻟﻠﻤﻔﺎﺧﺮﺓ ﺑﻪ،
ﻓﻬﺬﺍ ﺣﺮﺍﻡ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ
Artinya: Nabi memberi dispensasi atau keringanan (rukhsoh) pada anjing pemburu,
anjing penggembala kambing, dan dalam riwayat hadits yang lain anjing penjaga
tanaman. Nabi melarang memelihara lainnya. Ulama madzhab Syafi'i dan lainnya
sepakat bahwa haram memelihara anjing tanpa ada keperluan seperti memiliki
anjing karena takjub pada bentuknya atau untuk kebanggaan. Ini semua haram
tanpa perbedaan ulama.

NAJIS BABI MENURUT EMPAT MADZHAB
Hukum babi sama statusnya dengan anjing. Mayoritas madzhab menganggapnya
najis kecuali madzhab Maliki. Lihat detailnya di Hukum Najis Anjing Menurut
Empat Madzhab .

KAEDAH FIQIH TERKAIT NAJIS
ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺜﻮﺏ ﻓﺈﻥ ﺯﺍﻟﺖ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﺃﺛﺮ ﻟﻬﺎ ‏( ﻃﻌﻢ، ﺭﻳﺢ، ﻟﻮﻥ ‏) ﻓﻬﻮ ﻃﺎﻫﺮ، ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﻟﻮﻥ ﻓﻘﻂ، ﺃﻭ ﺭﻳﺢ ﻓﻘﻂ ﻋﺴﺮ
ﺯﻭﺍﻟﻬﻤﺎ، ﻓﻄﺎﻫﺮ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺇﻥ ﺑﻘﻲ ﻃﻌﻢ ﻋﺴﺮ ﺯﻭﺍﻟﻪ، ﺃﻭ ﻟﻮﻥ ﻭﺭﻳﺢ ﻣﻌﺎ ﻓﺎﻟﺜﻮﺏ ﻣﺘﻨﺠﺲ
Artinya: Baju apabila hilang najisnya dan tidak ada bekasnya (rasa, bau, warna),
maka hukumnya suci. Apabila tampak warna (najis)-nya saja, atau baunya saja
yang sulit dihilangkan, maka suci. Apabila masih ada rasa dan sulit hilang; atau
warna dan bau secara bersamaan, maka hukumnya mutanajjis (terkena najis).
BACA JUGA: Air Ghusalah (Air bekas mencuci najis).

CARA MENGHILANGKAN ATAU MENYUCIKAN NAJIS MENURUT EMPAT MADZHAB
MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN BENDA CAIR SELAIN AIR
Ada dua pendapat ulama dalam soal ini. Pendapat pertama, najis dapat hilang
atau suci dengan alat apapun yang suci yang dapat menghilangkan najis. Jadi
tidak tertentu pada air saja. Ini pendapat madzhab Hanafi dan pilihan Ibnu
Taimiyah (dari madzhab Hanbali). Pendapat kedua, najis tidak bisa dihilangkan
kecuali dengan air. Ini pendapat madzhab Maliki, Syafi'i, Hanbali, dan Muhammad
dan Zafar dari madzhab Hanafi. (l

MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN ALAT MODERN
MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN UAP
Menurut pendapat Ibnu Taimiyah dari madzhab Hanbali, apabila najis bisa hilang
dengan sinar matahari, maka itu dapat menyucikan tempat yang terkena najis.
Apabila demikian, maka penghilangan najis dengan uap selagi dapat
menghilangkan rasa atau warna atau bau maka itu dapat menghilangkan najis.
Pendapat ini tidak disepakati oleh kalangan madzhab yang mengharuskan
memakai air untuk menghilangkan najis.

MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN DIGARUK DAN DIGOSOK
Ada tiga pendapat ulama dalam soal in:.
Pendapat pertama: Madzhab Hanafi berpendapat bahwa menggosok najis dapat
menyucikan pada sandal dan khuf saja (khuf adalah muza atau kaus kaki khusus
musim dingin). Maka menggosok tidak dapat menyucikan baju kecuali mani
(sperma) saja. Mereka mensyaratkan najis tersebut harus berupa benda padat
(jazm). Apabila berupa kencing maka tidak dapat disucikan dengan digosok atau
dikerik dan harus dibasuh. Madzhab Hanafi membagi dua tentang apakah
disyaratkan dalam benda padat itu kering atau tidak. Imam Abu Hanifah sendiri
mensyaratkan harus kering. Kalau basah maka harus dibasuh dengan air.
Sedangkan Abu Yusuf tidak mensyaratkan harus kering. Artinya, benda padat yang
basah juga bisa disucikan dengan digosok atau dikerik.

Pendapat kedua, madzhab Maliki membedakan antara kaki wanita dan sandalnya.
Apabila kaki terkena najis, maka harus disucikan dengan air. Adapun sandal dan
muza (khuf), maka menggosok hanya dapat menyucikan sandal dari kotoran hewan
dan kencingnya baik kering atau basah. Apabila najisnya itu selain dari kotoran
hewan dan kencingnya, maka harus dibasuh dengan air.

Pendapat ketiga, wajib membasuh kaki perempuan dan muza secara mutlak. Ini
pendapat Qaul Jadid dari madzhab Syafi'i. Adapun pendapat Qaul Qadim dari
madzhab Syafi'i adalah membedakan antara kaki wanita dan sandalnya. Maka,
kaki wanita harus dibasuh dengan air apabila terkena najis. Dan tidak perlu
membasuh najis yang mengenai bagian bawah sandal setelah digosok apabila
dalam keadaan kering.

MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN API DAN MATAHARI MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN DIBAKAR API
Pendapat ulama dalam soal ini terbagi dua:
Pendapat pertama, madzhab Maliki dan sebagian madzhab Hanbali berpendapat
bahwa pembakaran apabila merubah benda yang najis dari segi sifatnya sampai
menjadi benda lain seperti bangkai apabila dibakar menjadi abu, maka ia suci.
Apalagi apabila benda ini asalnya suci lalu terkena najis seperti baju apabila
terkena najis, maka ia menjadi suci dengan dibakar dengan syarat berubah sifat-
sifatnya.

Pendapat kedua, madzhab Syafi'i, sebagian Maliki, sebagian Hanafi, dan pendapat
masyhur dari madzhab Hanbali berpendapat bahwa pembakaran tidak menjadikan
suatu benda menjadi benda lain. Ia tetap najis baik benda itu asalnya najis atau
terkena najis. Karena yang tersisa dari pembakaran itu merupakan bagian dari
benda najis.

MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN SINAR MATAHARI
Ada dua pendapat ulama dalam soal ini.
Pendapat pertama, madzhab Hanafi berpendapat bahwa bumi apabila terkena najis
lalu kering oleh sinar matahari maka ia menjadi suci dengan kesucian yang bersifat
dugaan (dzanni) yakni boleh melakukan shalat di tempat itu tapi tidak boleh
bertayammum dengannya karena salah satu syarat tayammum harus dengan tanah
yang pasti sucinya (QS An-Nisa 4:43).

Pendapat kedua, madzhab Maliki, Syafi'i, Hanbali, dan Zafar dari madzhab Hanafi
berpendapat bahwa bumi/tanah tidak bisa suci sebab menjadi kering. Maka tidak
boleh melaksanakan shalat di tempat itu juga tanahnya tidak boleh dibuat
tayammum.

MENGHILANGKAN NAJIS DENGAN SAMAK
Ada empat perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. Perbedaan ini timbul dari
perbedaan mereka dalam menyikapi soal najis atau sucinya hewan yang hidup.
Yang berpendapat hewan hidup itu najis, maka samak tidak menyucikan dan tidak
halal mengambil manfaat darinya. Bagi yang berpendapat bahwa hewan hidup itu
suci, maka samak itu menyucikan dan boleh mengambil manfaat darinya.
Pendapat pertama, samak itu menyucikan seluruh kulit bangkai kecuali kulit babi.
Ini pendapat madzhab Hanafi.

Pendapat kedua, samak itu tidak menyucikan kulit. Ini pendapat madzhab Maliki
dan sebagian pendapat dalam madzhab Hanbali.

Pendapat ketiga, samak itu menyucikan kulit bangkai kecuali anjing dan babi dan
yang lahir dari salah satunya. Ini pendapat madzhab Syafi'i.

Pendapat keempat, samak menyucikan kulit bangkai hewan yang dapat dimakan
dagingnya dan tidak dapat menyucikan yang lain. Ini pendapat lain dari madzhab
Hanbali.
=========================
DAFTAR PUSTAKA
1. ﺃﺑﻮ ﺯﻛﺮﻳﺎ ﻳﺤﻴﻰ ﺑﻦ ﺷﺮﻑ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ dalam kitab ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ
.2 ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻬﻴﺘﻤﻲ dalam kitab ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ
.3 ﺷِﻬَﺎﺏُ ﺍﻟﺪﻳﻦِ ﺃﺣﻤﺪُ ﺑﻦُ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦِ ﺑﻦِ ﺃﺣﻤﺪَ ﺃﺑﻮ ﺷﺠﺎﻉٍ ﺍﻷﺻﻔﻬﺎﻧﻲُّ ﺍﻟﻌﺒَّﺎﺩﺍﻧﻲ dalam kitab ﻣﺘﻦ ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ ﻭﺍﻟﺘﻘﺮﻳﺐ
ﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑِ ﺑـ ‏( ﻣﺘﻦِ ﺃﺑﻲ ﺷﺠﺎﻉ
.4ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ dalam kitab ﻧﻬﺎﻳﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝ ﺇﻟﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ
.5 ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ dalam kitab ﺍﻷﻡ
.6 ﻋﺒﺪِ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻬَﺮَﺭِﻱِّ dalam kitab ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ
.7 ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻘﺮﻳﺐ ﺍﻟﻤﺠﻴﺐ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺍﻟﻐﺰﻱ
8. Abdurrahman Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahibil Arba'ah
9. Kifayatul Akhyar
10. Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim
12. Kitab-kitab yang dipakai rujukan dalam soal menghilangkan najis menurut
madzhab empat antara lain:
ﺑﺪﺍﺋﻊ ﺍﻟﺼﻨﺎﺋﻊ
ﺍﻟﺒﺤﺮ ﺍﻟﺮﺍﺋﻖ ﺷﺮﺡ ﻛﻨﺰ ﺍﻟﺪﻗﺎﺋﻖ
ﻣﺮﺍﻗﻲ ﺍﻟﻔﻼﺡ
ﻣﺠﻤﻮﻉ ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ
ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺇﺑﻄﺎﻝ ﺍﻟﺘﺤﻠﻴﻞ
ﺷﺮﺡ ﺧﻠﻴﻞ ﻟﻠﺨﺮﺷﻲ
ﺍﻟﻘﻮﺍﻧﻴﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﻻﺑﻦ ﺟﺰﻯ
ﺃﺳﻨﻰ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﺐ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺭﻭﺽ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ
ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﻟﻠﻤﺎﻭﺭﺩﻱ
ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ
ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺮﻭﺽ ﺍﻟﻤﺮﺑﻊ
ﺍﻹﻧﺼﺎﻑ
ﺍﻟﻤﺤﻴﻂ ﺍﻟﺒﺮﻫﺎﻧﻲ ﻟﻺﻣﺎﻡ ﺑﺮﻫﺎﻥ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺯﺓ
ﺯﻓﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﻬﺬﻳﻞ ﺑﻦ ﻗﻴﺲ ﺍﻟﻌﻨﺒﺮﻱ

Sebait Do’a Orangtua untuk Ananda tercinta kita yang sedang bersiap mencari ilmu.

Sebait Do’a Orangtua untuk Ananda tercinta kita yang sedang bersiap mencari ilmu.
———————————————————–

Bismillâhir Rahmânir Rahîm

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammadin wa âli Sayyidina muhammad
Allâhumma akhrijnî min zhulumâtil wahmi, wa akrimnî bi nûril fahmi.
Allâhummaftah ‘alaynâ abwâba rahmatika, wansyur ‘alaynâ khazâina ‘ulûmi-ka birahmatika yâ Arhamar râhimîn.

Dengan asma AllahYang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ya Allah, kamibermohon, keluarkanlah putra-putri kamidari gelapnya kebingungan dan muliakan ia dengan cahaya pemahaman.
Ya Allah, bukakan kepada kami pintu-pintu rahmat-Mu, dan curahkan kepada kami khazanah-khazanah ilmu-Mu dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.

Ya Rabb…
Berikanlah ketenangan kepada kami dan pada diri anak kami
Dalam menghadapi satu tahapan penting dalam kehidupannya, Menuntut Ilmu-Mu…

Kuatkan tubuh anak kami … hindarkan ia dari sakit
Dan jauhkan hamba-Mu ini dari perilaku yang membuat buah hati kami sakit
Sakit fisiknya … atau sakit hatinya …

Ya Allah,
Ampuni dosa dan kesalahan hamba Yang dapat membebani anak-anak kami dengan perintah perintah kami Padahal sudah lelah pundak anak-anak kami memanggul beban
Jauhkan kami dari membebani anak kami dengan makian-makian Karena yang mereka sekarang butuh ceria, canda dan tawa

Ya Allah,
Kami Mohon sadarkan nurani dan pikiran kami…
Terangkan dan buat sejuk hati kami Kala melepas anak kami pergi menuntut Ilmu,
Kala menerima anak kami kelak diwaktu pulang

Sadarkan dalam pikiran kami ya Rabb ..
Bahwa anak kami pergi berjuang
Bahwa anak kami pulang dalam kelelahan

Ampuni hamba ini ya Allah …
Yang akan menyambut pahlawan kami kelak
Yang menyambut pahlawan kami dengan marah
Yang tidak memberi kesempatan pahlawan kami istirahat barang sejenak

Ya Rabb,
Hamba tahu bahwa Menuntut Ilmu-Mu itu adalah kewajuban yang begitu penting
Namun jangan sampai merusak hubungan kami dengan anak-anak kami
Jangan sampai membuat lubang menganga dalam hati anak kami
Sehingga mereka menjadi manusia peragu
Sehingga mereka menjadi manusia penakut
Sehingga mereka menjadi manusia yang tak punya kepercayaan diri
Sehingga mereka merasa menjadi manusia lemah dan bodoh

Ya Allah …
Karuniakan kata-kata yang sejuk yang keluar dari mulut hamba
Untuk membantu anak hamba yang sedang butuh bantuan
Untuk mendinginkan panasnya mentari yang mengenai otaknya
Untuk memberi semangat bahwa anak kami harus berhasil
Untuk memberi pengertian bahwa yang terpenting adalah proses
Untuk memberi keteduhan kala harapan yang tinggi tak tergapai

Ya Allah …
Patrikan pada hambamu keyakinan
Bahwa anak kami akan melewati semua proses ini dengan tenang
Bahwa anak kami akan mampu melewati titian berikutnya
Bahwa anak kami pasti akan menemukan kondisi akhir terbaiknya
Bahwa kami dan anak kami siap menerima segala takdirmu
Setelah kami dan anak kami berusaha sekuat mungkin
Apapun keputusanMu Ya Allah …
Kami yakin akan ada hujan hikmah buat kami sekeluarga

Ya Rabb, beri anak-anak kami kemudahan dalam menuntut Ilmu,

Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir

AllAhumma mushorrifal quluubi, shorrif quluu binaa ‘alaa thoo ‘atik.
“Ya Allah yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami untuk selalu
taat kepada-Mu.”

Robbi, a’uudzu bika min hamazaatisy syayaathiin, wa a’uudzu bika robbi ay
yahdhuruun.
“Ya Tuhanku, kami berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan kami
berlindung pula kepada-Mu, Ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku
Demi segala keagunganMu ya Allah, Demi segala janji-janjiMu yang tiada
mungkin Kau pungkiri, Ijabahi siapapun yang bermunajat saat ini ya Allah,
Amin… amin…

ya Allah ya Hayyu ya Qoyyum Birahmatika nastaghiitsu ya Arhamar Raahimiin.
Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah Wa Qiina Adzabannar
Waakhidnal jannata ma’al abrar, Ya Azizu Ya Ghoffar Ya Rabbal Alamien
Rabbana taqobball minna innaka anta samiul ‘alim..watub alayna innaka
antattawaburrahiim
Subbahaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yaashifuun …wasalamun alal
mursaliin…Walhamdulillahirrabil 'alamiin

AL FATIHAH

Wahabi bertabarruk dengan tanah maqom ibnu taimiyah

Wahabi Bertabarruk dengan Tanah Makam Ibnu Taimiyyah

Kelompok minoritas yang mengaku mengikuti dan membela sunnah
Nabi serta mengaku cinta Nabi, sudah dikenal hoby memvonis
syirik, musyrik kepada mayoritas muslimin yang bertabarruk ke
makam orang-orang shaleh. Bahkan mereka pun memvonis syirik
orang yang bertawassul dengan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.

Tapi faktanya, dengan bangga mereka menceritakan dalam salah
satu kitab karya ulama wahabi suatu kisah di mana pecinta Ibnu
Taimiyyah bertabarruk dengan tanah makamnya untuk
kesembuhan dari penyakit mata. Tak ada satu pun wahabi yang
memvonis syirik perbuatan ini, atau minimal mengkritik tulisan
ulama wahabi yang menulis kisah tersebut. Saya publish di sini
supaya para korban penipuan wahabi sadar dan mau merenungi
kerancuan dan kegalauan cara berpikir kaum wahabi-salafi ini.

Di dalam kitab yang berjudul ‘ Ar-Raddu Al-Wafir ‘ala man za’ama
bianna man summiya bi-ibni Taimiyyah kafir “ halaman : 135
karya Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi yang ditahqiq oleh Zuhair
asy-Syawis (ulama yang diklaim ahli hadits sahabat Albani selama
40 tahun) disebutkan :

Diriwayatkan oleh Ibnu Hajji dari Al-Baththoihi Al-Mizzi, ia
berkata :
“ Ketika aku masih muda, dan putriku terkena penyakit mata. Aku
memiliki keyakinan pada Ibnu Taimiyah. Beliau juga sahabat
ayahku dan sering berkunjung pada ayahku. Maka aku berkata
dalam hati “ Aku akan datang ke makam Ibnu Taimiyah dan
mengambil tanah untuk aku jadikan cela mata putriku, akrena
putriku sudah lama sakit mata dan cela apapun belum bisa
menyembuhkannya. Maka aku dating ke kuburan Ibnu Taimiyah
lalu aku melihat seorag dr Baghdad sdang mengumpulkan tanah
kubur beliau.

Lalu aku bertanya kpdanya “ Apa yang sedang kau lakukan ? “
Ia menjawab “ Aku mangambil tanah Ini untuk aku jadikan tanah
celak bagi anak-anaku yang sedang sakit mata “.
Lalu aku bertanya lagi “ Apakah bermanfaat ?”
Ia menjawab “ Ya, dan ini sungguh mujarrob “. Maka aku
bertambah yakin atas tujuanku datang ke sini, lalu aku mngambil
tanah kubur Ibnu Taimiyah dan aku jadikan cela lalu kugunakan
(koleskan ke mata) pada putriku yang sedang tidur, maka
sembuhlah “. (Ar-Raddu Al-Wafir halaman : 135)