Rabu, 04 Juni 2014

Tokoh pendahulu wali songo

Syekh Jumadil Kubro

Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Terdapat beberapa versi babad yang meyakini bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Martin van Bruinessen (1994) menyatakan bahwa ia adalah tokoh yang sama dengan Jamaluddin Akbar (lihat keterangan Syekh Maulana Akbar di bawah).

Sebagian babad berpendapat bahwa Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. Hal tersebut menyebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek yang dominan di Asia Tengah, selain kemungkinan lainnya yaitu etnis Persia, Gujarat, ataupun Hadramaut.

Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.[2]

Syekh Maulana Akbar

Syekh Maulana Akbar adalah seorang tokoh di abad 14-15 yang dianggap merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama lainnya ialah Syekh Jamaluddin Akbar dari Gujarat, dan ia kemungkinan besar adalah juga tokoh yang dipanggil dengan nama Syekh Jumadil Kubro, sebagaimana tersebut di atas. Hal ini adalah menurut penelitian Martin van Bruinessen (1994), yang menyatakan bahwa nama Jumadil Kubro (atau Jumadil Qubro) sesungguhnya adalah hasil perubahan hyper-correct atas nama Jamaluddin Akbar oleh masyarakat Jawa.[3]

Silsilah Syekh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar) dari Nabi Muhammad SAW umumnya dinyatakan sebagai berikut: Sayyidina Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Jalal Syah, dan Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar).

Menurut cerita rakyat, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan atau berasal dari keturunan Syekh Maulana Akbar ini. Tiga putranya yang disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara; adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar kakek Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai, dan Zainal Alam Barakat.

Penulis asal Bandung Muhammad Al Baqir dalam Tarjamah Risalatul Muawanah (Thariqah Menuju Kebahagiaan) memasukkan beragam catatan kaki dari riwayat-riwayat lama tentang kedatangan para mubaligh Arab ke Asia Tenggara. Ia berkesimpulan bahwa cerita rakyat tentang Syekh Maulana Akbar yang sempat mengunjungi Nusantara dan wafat di Wajo, Makasar (dinamakan masyarakat setempat makam Kramat Mekkah), belum dapat dikonfirmasikan dengan sumber sejarah lain. Selain itu juga terdapat riwayat turun-temurun tarekat Sufi di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa Syekh Maulana Akbar wafat dan dimakamkan di Cirebon, meskipun juga belum dapat diperkuat sumber sejarah lainnya.

Syekh Quro

Syekh Quro adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu pesantren Quro di Tanjungpura, Karawang pada tahun 1428.[4]

Nama aslinya Syekh Quro ialah Hasanuddin. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama} asal Mekkah, yang berdakwah di daerah Karawang. Ia diperkirakan datang dari Champa atau kini Vietnam selatan. Sebagian cerita menyatakan bahwa ia turut dalam pelayaran armada Cheng Ho, saat armada tersebut tiba di daerah Tanjung Pura, Karawang.

Syekh Quro sebagai guru dari Nyai Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa penguasa Cirebon. Nyai Subang Larang yang cantik dan halus budinya, kemudian dinikahi oleh Raden Manahrasa dari wangsa Siliwangi, yang setelah menjadi raja Kerajaan Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Pangeran Kian Santang yang selanjutnya menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Makam Syekh Quro terdapat di desa Pulo Kalapa, Lemahabang, Karawang.

Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih markas di pelabuhan Muara Jati, yaitu kota Cirebon sekarang. Ia bernama asli Idhafi Mahdi.

Majelis pengajiannya menjadi terkenal karena didatangi oleh Nyai Rara Santang dan Kian Santang (Pangeran Cakrabuwana), yang merupakan putra-putri Nyai Subang Larang dari pernikahannya dengan raja Pajajaran dari wangsa Siliwangi. Di tempat pengajian inilah tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Makam Syekh Datuk Kahfi ada di Gunung Jati, satu komplek dengan makam Sunan Gunung Jati.

Syekh Khaliqul Idrus

Syekh Khaliqul Idrus adalah seorang muballigh Parsi yang berdakwah di Jepara. Menurut suatu penelitian, ia diperkirakan adalah Syekh Abdul Khaliq, dengan laqob Al-Idrus, anak dari Syekh Muhammad Al-Alsiy yang wafat di Isfahan, Parsi.

Syekh Khaliqul Idrus di Jepara menikahi salah seorang cucu Syekh Maulana Akbar yang kemudian melahirkan Raden Muhammad Yunus. Raden Muhammad Yunus kemudian menikahi salah seorang putri Majapahit hingga mendapat gelar Wong Agung Jepara. Pernikahan Raden Muhammad Yunus dengan putri Majapahit di Jepara ini kemudian melahirkan Raden Abdul Qadir yang menjadi menantu Raden Patah, bergelar Adipati Bin Yunus atau Pati Unus. Setelah gugur di Malaka 1521, Pati Unus dipanggil dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. [5]

Teori Keturunan Hadramaut

Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Walisongo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh daripada merupakan asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif. Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya Thariqah Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Walisongo adalah keturunan Hadramaut:

* L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien (1886)[6] mengatakan:

”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”

* van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204):

”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang-orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”
Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad spesifik kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga Hadramaut lainnya.

* Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.
* Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi’i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.
* Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.

Teori Keturunan Cina

Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Walisongo adalah keturunan Tionghoa Indonesia.[rujukan?] Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa Walisongo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru sempat melarang terbitnya buku tersebut.[rujukan?]

Referensi-referensi yang menyatakan dugaan bahwa Walisongo berasal dari atau keturunan Tionghoa sampai saat ini masih merupakan hal yang kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademik yang berasal dari Slamet Muljana, yang merujuk kepada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarawan, misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C. van den Berg. Sejarawan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin van Bruinessen, bahkan tak pernah sekalipun menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries adalah yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain, seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan [7].

Sumber tertulis tentang Walisongo

1. Terdapat beberapa sumber tertulis masyarakat Jawa tentang Walisongo, antara lain Serat Walisanga karya Ranggawarsita pada abad ke-19, Kitab Walisongo karya Sunan Dalem (Sunan Giri II) yang merupakan anak dari Sunan Giri, dan juga diceritakan cukup banyak dalam Babad Tanah Jawi.
2. Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
3. Dalam penulisan sejarah para keturunan Bani Alawi seperti al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran, ‘Umdat al-Talib oleh al-Dawudi, dan Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur; juga terdapat pembahasan mengenai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Gresik.

sumber: indo hadhramaut

Mengenal Asal Usul Para Habib di Nusantara

Mengenal Asal Usul Para Habib di Nusantara

Menurut Muhammad bin Ahmad al-Syatri dalam kitabnya Adwar al-Tarikh al-Hadrami, bangsa Arab terbagi menjadi tiga golongan : al-Ba’idah yaitu bangsa Arab terdahulu dan kabar berita tentang mereka telah terputus karena sudah terlalu lama, al-’Aribah yaitu orang-orang Arab Yaman keturunan Qahthan, al-Musta’ribah yaitu keturunan Nabi Ismail as (Adnaniyah). Karena golongan yang pertama sudah tidak ada lagi maka para ahli sejarah hanya mengkaji golongan yang kedua dan ketiga, yaitu bani Qahthan dan bani Ismail. Bani Ismail as adalah keturunan dari Nabi Ismail as anak Nabi Ibrahim as yang mula-mula berdiam di kota Ur yang merupakan kota di Babylonia. Nabi Ibrahim as meninggalkan kota Ur dan berpindah ke Palestina. Setelah Nabi Ibrahim as mempunyai anak dari Siti Hajar yang bernama Ismail as, mereka pindah ke Hijaz tepatnya di Wadi Mekkah.

Nabi Ismail as mempunyai putera sebanyak dua belas orang, masing-masing mempunyai keturunan. Tetapi kemudian keturunan mereka terputus, hanya keturunan Adnan-lah yang berkembang biak, sebab itu bani Ismail ini dinamai juga bani Adnan. Sedangkan Bani Qahthan menurunkan suku Tajib dan Sodaf. Bani Qahthan berasal dari Mesopotamia dan kemudian pindah ke negeri Yaman. Penduduk asli Yaman adalah kaum ‘Ad yang kepada mereka diutus Nabi Hud as. Mereka dibinasakan oleh Allah swt dengan menurunkan angin yang amat keras. Kaum ‘Ad yang dibinasakan ini disebut kaum ‘Ad pertama, sedangkan kaum ‘Ad yang masih mengikuti Nabi Hud as disebut kaum ‘Ad kedua.

Sesudah Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah di Mekkah, jadilah kota Mekkah itu kota yang paling masyhur di tanah Hijaz, dan berdatanganlah orang dari segenap penjuru jazirah Arab ke Mekkah untuk naik haji dan ziarah ke Baitullah. Karena itu lama kelamaan kota Mekkah menjadi pusat perniagaan.

Pertama kali kota Mekkah dipegang oleh bani Adnan, karena itu bani Adnanlah yang memelihara dan menjaga Ka’bah. Sesudah runtuhnya kerajaan Sabaiah, maka berpindahlah satu suku yang bernama Khuza’ah dari Yaman ke Mekkah dan mereka merampas kota Mekkah dari tangan bani Adnan. Dengan demikian berpindahlah penjagaan Baitullah dari bani Adnan kepada bani Khuza’ah.

Di kemudian hari, dari suku Quraisy terdapat seorang pemimpin yang kuat dan cerdas, namanya Qushai. Qushai ini beruntung dapat merebut kunci Ka’bah dari bani Khuza’ah dan kemudian mengusir bani Khuza’ah itu dari Mekkah. Maka jatuhlah kembali kekuasaan di Mekkah ke tangan bani Adnan. Kemudian Qushai diangkat menjadi raja yang di tangannya terhimpun kekuasaan keagamaan dan keduniaan. Sesudah Qushai meninggal kekuasaan tersebut dipegang oleh keturunannya yang bernama Abdi Manaf.

Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams, Naufal, al-Muththalib dan Hasyim.Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh Allah yang diantaranya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin Hasyim. Rasulullah saw pernah bersabda :

“Sesungguhnya Allah telah memilih Isma’il dari anak keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma’il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim. “.(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).

Dari al-’Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, Rasulullah saw bersabda :

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”. (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy).

Dari keturunan inilah Allah swt telah menerbitkan cahaya cemerlang, menerangi semesta alam, dikarenakan agama Islam yang dibawa keturunan Adnan kepada masyarakat Hadramaut yang berasal dari keturunan Qahthan. Diantara keturunan Adnan yang berada di Hadramaut adalah kaum Alawiyin, sebelumnya mereka menetap di Basrah, Iraq.

Tokoh pertama golongan Alawi di Hadramaut adalah Ahmad bin Isa yang dijuluki al-Muhajir. Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan kekuasaan diktator kekhalifahan Bani Abbas yang secara turun menurun memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Rakyat mengharapkan salah satu keturunan Rasulullah dapat memimpin mereka. Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan di Bagdad dan menetap di Hadramaut. Imam Ahmad bin Isa keadaannya sama dengan para sesepuhnya. Beliau seorang ‘alim, ‘amil (mengamalkan ilmunya), hidup bersih dan wara’ (pantang bergelimang dalam soal keduniaan). Di Iraq beliau hidup terhormat dan disegani, mempunyai kedudukan terpandang dan mempunyai kekayaan cukup banyak. Mereka hijrah ke Hadramaut bukan karena dimusuhi atau dikejar-kejar tetapi mereka lebih mementingkan keselamatan aqidah keluarga dan pengikutnya. Mereka hijrah dari Basrah ke Hadramaut mengikuti kakeknya Rasulullah saw hijrah dari Makkah ke Madinah.

Mengenai hijrahnya Imam Ahmad Al-Muhajir ke Hadramaut, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalah al-Muawanah mengatakan : Al-Imam Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negaranya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.

Ketika beliau berangkat hijrah dari Iraq ke Hijaz pada tahun 317 H beliau ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin al-Hasan bin ‘Ali al-‘Uraidhy, bersama putera bungsunya bernama Abdullah, yang kemudian dikenal dengan nama Ubaidillah. Turut serta dalam hijrah itu cucu beliau yang bernama Ismail bin Abdullah yang dijuluki dengan Bashriy. Turut pula dua anak lelaki dari paman beliau dan orang-orang yang bukan dari kerabat dekatnya. Mereka merupakan rombongan yang terdiri dari 70 orang. Imam al-Muhajir membawa sebagian dari harta kekayaannya dan beberapa ekor unta ternaknya. Sedangkan putera-puteranya yang lain ditinggalkan menetap di Iraq.

Tibalah Imam al-Muhajir di Madinah al-Munawwarah dan tinggal di sana selama satu tahun. Pada tahun itulah kaum Qaramithah memasuki kota Makkah dan menguasainya. Mereka meletakkan pedang di al-Hajij dan memindahkan Hajarul-Aswad dari tempatnya ke tempat lain yang dirahasiakan. Pada tahun berikutnya al-Muhajir berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Dari Makkah beliau menuju Asir lalu ke Yaman. Di Yaman beliau meninggalkan anak pamannya yang bernama Sayyid Muhammad bin Sulaiman, datuk kaum Sayyid al-Ahdal. Kemudian Imam al-Muhajir berangkat menuju Hadramaut dan menetap di Husaisah. Imam al-Muhajir menetap di Hadramaut atas dasar pengarahan dari Allah SWT, sebab kenyataan menunjukkan, setelah beliau hijrah ke negeri itu di sana memancar cahaya terang sesudah beberapa lama gelap gulita. Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari keturunan Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang mempunyai faham Khawarij dengan dalil dan argumentasi.

Maka masuklah Imam al-Muhajir ke Hadramaut. Ia bersikap lemah lembut dalam da’wahnya dan menempuh cara yang halus dan mengeluarkan hartanya. Maka banyak orang-orang Khawarij yang datang kepadanya dan taubat di tangannya setelah mereka berusaha menentang dan mencacinya. Ia juga menolong qabilah al-Masyaikh al-Afif. Dan bergabung juga dengannya qabilah Kindah dan Madij. Mereka meninggalkan madzhab Ibadhiy dan bercampur dengan orang-orang yang datang dari Iraq.

Kaum Khawarij tidak mengakui atau mengingkari Imam al-Muhajir berasal dari keturunan Nabi Muhammad saw. Untuk memantapkan kepastian nasabnya sebagai keturunan Rasulullah saw, sayyid Ali bin Muhammad bin Alwi berangkat ke Iraq. Di sanalah ia beroleh kesaksian lebih dari seratus orang terpercaya dari mereka yang hendak berangkat menunaikan ibadah haji. Kesaksian mereka yang mantap ini lebih dimantapkan lagi di Makkah dan beroleh kesaksian dari rombongan haji Hadramaut sendiri. Dalam upacara kesaksian itu hadir beberapa orang kaum Khawarij, lalu mereka ini menyampaikan berita tentang kesaksian itu ke Hadramaut.

Dan diantara ulama ahli nasab dan sejarah yang telah memberikan perhatiannya terhadap kebenaran nasab keturunan al-Imam al-Muhajir dan silsilah mereka yang mulia, ialah : pertama, al-Allamah Abu Nash Sahal bin Abdullah al-Bukhori dalam kitabnya Sirru al-Silsilah al-Alawiyah tahun 341hijriyah. Kedua, al-Nasabah Abu Hasan Najmuddin Ali bin Abi al-Ghonaim Muhammad bin Ali al-Amiri al-Bashri, wafat tahun 443. Di antara kitabnya adalah al-Majdi wa al-Mabsuth wa al-Musajjar. Ketiga, al-Allamah Muhammad bin Ja’far al-Ubaidili dalam kitabnya Tahdzib al-Ansab, wafat tahun 435 hijriyah. Keempat, al-Allamah al-Yamani Abu al-Abbas al-Syarajji dalam kitabnya Thabaqat al-Khawash Ahl al-Shidqi wa al-Ikhlas. Di dalamnya disebutkan mengenai hijrahnya Saadah keluarga al-Ahdal dan Bani Qudaimi, disebutkan awal pertama mereka tinggal di daerah Wadi Saham, Wadi Surdud, dan Hadramaut.

Dan terdapat pula dari beberapa ulama nasab yang mempunyai catatan-catatan ringkas mengenai nasab keturunan Rasulullah yang mulia ialah al-Imam al-Nasabah al-Murtadho al-Zubaidi dan al-Nasabah Ibnu Anbah pengarang kitab Umdah al-Thalib.Selain mereka banyak pula yang mengadakan penelitian tentang nasab keturunan Rasulullah saw yang mulia, hasilnya mereka mendapatkan kebenaran yang tidak diragukan lagi, sebagaimana hukum syar’i yang telah menjelaskan masalah interaksi sosial dan keterangan-keterangan yang berkaitan dengan keberadaan mereka dalam bentuk dalil-dalil yang kuat yang menjelaskan kemuliaan nasab mereka, serta kepemimpinan mereka di wilayah Arab, Hindi, Turki, Afrika Timur, Asia, semuanya merupakan dalil yang kuat tentang keberadaan mereka.

Di antara peneliti tersebut ialah al-Khazraji, al-Yafi’, al-Awaji, Ibnu Abi al-Hub, al-Sakhowi, Abu Fadhol, Abu Ubbad, Ibnu Isa al-Tarimi, al-Junaid, Ibnu Abi al-Hissan, Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Samuroh, Ibnu Kabban, Bamahramah, Ibnu Fahd, Ibnu Aqilah, al-Marwani al-Tarimi, dan lainnya sebagaimana dijelaskan oleh Sayid Dhiya’ Shahab dalam bukunya ‘al-Imam al-Muhajir’. Terakhir, nasab keturunan Rasulullah saw dibahas oleh Sayid Abdullah bin Hasan Bilfaqih dalam kitab Tafnid al-Maza’im, Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad dalam kitab al-Qaul al-Fashlu dan al-Syamil fi Tarikh Hadramut, Sayid Abdurrahman bin Ubaidillah al-Saqqaf dalam kitab Badhoi’ al-Tabut.

Dengan demikian mantaplah sudah pengakuan masyarakat luas mengenai keutamaan para kaum ahlul-bait sebagai keturunan Rasulullah saw melalui puteri beliau Siti Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw bersabda :

‘Setiap putra ibu akan bergabung nasabnya kepada ashabahnya (pihak ayah), kecuali anak-anak Fathimah, Akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka’.

Al-allamah Yusuf bin Ismail al-Nabhany dalam bukunya Riyadhul Jannah mengatakan :‘Kaum Sayyid Baalawi oleh umat Muhammad saw sepanjang zaman dan di semua negeri telah diakui bulat sebagai ahlul-bait nubuwah yang sah, baik ditilik dari sudut keturunan maupun kekerabatan, dan mereka itu adalah orang-orang yang paling tinggi ilmu pengetahuan agamanya, paling banyak keutamaannya dan paling tinggi budi pekertinya’.

Ahmad bin Isa wafat di Husaisah pada tahun 345 Hijriah. Beliau mempunyai dua orang putera yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut dan mendapat tiga orang putera yaitu Alwi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Dalam tahun-tahun terakhir abad ke 6 H keturunan Ismail (salah satu keturunannya ialah Syekh Salim Bin Bashriy) dan Jadid (salah satu keturunannya ialah al-Imam Abi Jadid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Jadid) punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal dengan kaum Sayyid Alawiyin.

Kita dapat menyaksikan bahwa sekarang anak cucu dan keturunan Imam Ahmad bin Isa menyebar di berbagai pelosok Hadramaut, dan di daerah pesisir lautan Hindia, seperti Asia Tenggara, India dan Afrika Timur. Para da’i dan ulama-ulama mereka mempunyai peranan yang besar di tanah air mereka yang baru. Karena itu para penguasa, sultan, dan penduduk-penduduknya memuliakan mereka karena karya mereka yang baik dan agung.

Para sayyid Alawiyin menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia Tenggara melalui dua tahap, pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India. Di antara yang hijrah ke India adalah seorang alim syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota ‘Kanur’ dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Alaydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi gelar ‘Azhamat Khan’. Dari keluarga inilah asal keturunan penyebar Islam di Jawa yang disebut dengan Wali Songo. Kemudian dari India, mereka melanjutkan perjalanannya ke Indonesia, yaitu daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.

Menurut Prof. Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Filipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanau dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa sayid al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa sayid Bin Syahab. Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi ulama. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatas, Assaqaf, Alkaf, Bafaqih, Alaydrus, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Al-Haddad, Bin Smith, Bin Syahab, Al-Qadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Basyaiban, Ba’abud, Al-Zahir, Bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan almarhum sayid Muhammad bin Abdurrahman Bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Ahmad bin Isa al-Muhajir Illallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far al-Shaddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rasulullah saw.

Orang-orang Arab Hadramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Perhentian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820, dan koloni-koloni mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada tahun 1870. Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa Arab. Sejak pembangunan pelayaran dengan kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh bahkan menjadi tidak penting sama sekali.

Di pulau Jawa terdapat enam koloni besar Arab, yaitu Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep.. Koloni Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat koloni di pulau Jawa bagian Timur. Koloni Arab lain yang cukup besar berada di Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Lumajang, Besuki dan Banyuwangi. Koloni Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Koloni-koloni Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama famili mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab kemudian berganti nama dengan nama Jawa, mereka itu banyak yang berasal dari keluarga Bayaiban, Ba’bud, Bin Yahya dan lainnya.

Sumber: Pondok Habib

Senin, 02 Juni 2014

Habib Noval bin Muhammad Alaydrus: Melindungi Umat dari Virus Wahabi

Lama tidak terdengar, muballigh, penerjemah, sekaligus penulis produktif, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus, Solo, muncul dengan gebrakan baru. Berdakwah di komunitas bawah yang awam pemahaman agamanya.
Belakangan, habib muda kelahiran Solo, 27 Juli 1975, ini mengubah haluan dakwahnya. Dari yang semula berada di zona “aman”, mengisi ta’lim di berbagai masjid dan majelis secara rutin, berkumpul dalam satu komunitas tertentu dengan habaib dan kiai, kini ia harus berpindah-pindah dan keliling dari satu tempat ke tempat lain, khusunya daerah yang sebagian besar penduduknya belum tersentuh pemahaman agama secara baik. Praktis, keberadaannya jarang terlihat di permukaan.

Ini dilakukannya bukan tanpa alasan. Dewasa ini berbagai penyimpangan dalam aliran Islam semakin marak di Indonesia, wa bil khususdi Solo. Tentu kita masih ingat kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu silam, yang diklaim sementara orang sebagai aksi jihad.

Menurutnya, tragedi memilukan itu tak perlu terjadi, bukan hanya di Solo, namun juga di Indonesia, dan belahan bumi mana pun, bila tidak ada pembiaran terhadap berbagai aliran ekstrem. Inilah peran pemuka agama untuk membentengi aqidah umat.

Karena Hidayah Allah
Seolah mendapat ilham dari Allah SWT, mulai saat ini hingga beberapa waktu ke depan, ia akan lebih gencar membendung paham Wahabi, sebuah paham yang kerap menjadi embrio dalam pemahaman kelompok-kelompok umat yang ekstrem. Bukan dengan cara membumihanguskan paham tersebut, melainkan membentengi aqidah umat dari berbagai aliran yang menyimpang dari doktrin Ahlussunnah wal Jamaa’ah. Sebab, menurutnya, Wahabi itu sesungguhnya kecil, umatlah yang membesarkannya dengan menjadi pengikutnya.

Masih menurut Habib Noval, umat Islam yang berpaham Wahabi itu tidak akan bisa berubah dengan berbagai mau’izhah dan dialog. Mereka hanya akan berubah dengan hidayah Allah. Dialog, sehebat apa pun dan segencar apa pun, tidak efektif bila hidayah Allah belum bermain. Masalahnya, keduanya, baik Ahlussunnah maupun Wahabi, sama-sama menggunakan dalil dan hadits yang hampir sama, hanya pemahamannya yang berbeda. “Seribu ulama Wahabi dan seribu ulama Ahlusunnah, bila beradu ilmu, masing-masing tidak akan menemukan titik temu. Umumnya, seseorang yang keluar dari Wahabi bukan karena ilmu, namun hidayah dari Allah SWT,” kata habib berusia 36 tahun ini.

Ada salah satu kisah menarik di Jawa Timur. Seorang pemuda Wahabi meyakini bahwa pahala mengirim hadiah surah Al-Fatihah kepada orang yang telah meninggal tidak sampai kepadanya, dan dia berdebat habis-habisan dengan koleganya yang seorang Ahlusunnah wal Jama’ah.

Tiba-tiba datang salah seorang habib, dan diadukanlah perkara tersebut.

Menariknya, dengan ringan sang habib hanya menjawab, “Insya Allah sampai, buktikan saja sendiri.”

Malam harinya, pemuda Wahabi tersebut merasa penasaran dan ia pun ingin membuktikan saran sang habib, mengirim hadiah surah Al-Fatihah khusus untuk ayahnya, yang telah lama menghadap-Nya.

Ketika tidur di malam itu juga, ia bermimpi bertemu sang ayah. Bahkan dalam mimpinya itu ayahnya berkata, “Kenapa tidak dari dahulu kamu mengirimkan hadiah ini untuk ayah, Nak?”

Kontan saja ketika terbangun di pagi harinya ia merasa begitu trenyuh. Bahkan ia menjadi mempercayai mimpinya tersebut.

Tidak lama kemudian, ia mengisahkan mimpinya itu kepada teman debatnya. Sejak saat itu, ia pun menyakini dan selalu mengatakan kepada khalayak bahwa hadiah Al-Fatihah untuk orang yang telah meninggal itu sampai.

Artinya, perpindahan aqidah itu bukan karena ilmu, melainkan hidayah dari Allah SWT. Mungkin, seseorang yang baru mulai memasuki ajaran Wahabi masih bisa dipengaruhi dan diberi pemahaman untuk kembali. Tapi bagi yang sudah menjadi Wahabi sangat sulit. Menurut Habib Noval, mengutip perkataan Habib Ali Al-Habsyi, orang yang telah terkena penyakit Wahabi, susah sembuhnya.

Tegas sedari Awal 

Sepertinya, sungguh tepat bila suami Syarifah Fathimah Qonita binti Ali Al-Habsyi, yang masih terhitung cucu Habib Anis Al-Habsyi, ini memutuskan untuk terjun ke lingkungan bawah yang selama ini awam wawasan keberagamaannya. Bukankah mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati?

Sebetulnya dakwah membendung paham Wahabi telah dilakukannya sejak beberapa tahun silam, semasa Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi, guru sekaligus kakek mertuanya, masih hidup. Habib Noval merasa beruntung belajar langsung dengan habib kharismatis itu.

Sejak kecil, sepulang sekolah, mulai dari SD hingga SMA, ia, yang kini telah dianugerahi dua orang anak, selalu aktif di berbagai kegiatan di Masjid Ar-Riyadh, Solo. Yakni shalat berjama’ah, tadarus Al-Qur’an, membacaan ratib, sampai mengikuti pengajian umum secara rutin, mulai dari tema sejarah nabi atau hadits, nahwu dan fiqih, tasawuf, hingga tafsir Al-Qur’an.

Pengembaraan pencarian ilmunya pernah mengantarkannya hingga nyantri di Pondok Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Pasuruan, Jawa Timur, yang kala itu diasuh oleh almarhum Ustadz Hasan Baharun. Namun, sang bunda tampak berat berpisah, ia pun akhirnya hanya sempat belajar di sana selama satu semester plus masa percobaan satu bulan. Jadi kurang lebih selama tujuh bulan.

Meski begitu, waktu yang sangat singkat ini dirasakannya sangat berarti. Sebab hanya dalam kurun waktu tujuh bulan, ia telah dapat berbahasa Arab relatif baik. Ini memang menjadi motivasinya. Pasalnya, ia selalu teringat dengan pesan sang kakek, almarhum Habib Ahmad bin Abdurrahman Alaydrus, bahwa, “Jika kamu mampu menguasai bahasa Arab, kamu telah menguasai setengah ilmu.”

Setelah mendapat restu sang guru, Ustadz Hasan, di tahun 1995, Habib Noval kembali ke kampung halamannya. Sambil terus belajar kepada Habib Anis dan beberapa habib dan kiai lainnya, ia juga mulai berdakwah.

Masa-masa awal itu ia tidak terjun langsung membina umat yang rentan menjadi basis sasaran Wahabi, namun tetap menyuarakan bahayanya aliran Wahabi dan Syi’ah. “Saya sudah berani tegas sejak pertama kali berdakwah. Masa itu Habib Anis masih ada. Dalam khutbah Jum’at misalnya, saya sangat tegas menentang Syi’ah dan Wahabi, namun bahasannya tetap santun dan ilmiah. Dikenal galak, karena berani menyuarakan yang hak dan bathil,” tutur Habib Noval.

Bila dipersentasekan, keberadaan kalangan awam itu jumlahnya sangat besar. Selama ini mereka kebanyakan beragama hanya ikut-ikutan. Namun mereka amat mendambakan kebaikan, sehingga mereka pun taat mengikuti berbagai ritus ibadah. Tidak hanya yang yang wajib, namun juga yang sunnah, seperti shalawatan, tahlilan, Maulidan, dan sebagainnya. Pada gilirannya, sikap taqlid mereka itu disalahgunakan oleh sekelompok tertentu untuk menebar ajakan agar meninggalkan ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah.

Strategi para penebar ajaran itu semakin agresif. Mereka begitu keras menuduh pengamal ritus tersebut sebagai perilaku bid’ah dan sesat, dan para pelakunya kelak akan berada di neraka. Tuduhan itu dilontarkan langsung di hadapan umat. Bukan lagi hanya melalui buku-buku. Terkadang, mereka juga menyebarkannya lewat SMS. Segala cara ini mudah saja mereka lakukan, mengingat dukungan dana yang begitu besar.

Meluruskan Stigma Negatif Bid’ah

Mengenai bid’ah, kata Habib Noval, bid’ah itu sendiri terbagi menjadi dua: bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Sayangnya selama ini kata bid’ah sudah begitu melekat dengan stigma negatif, yang setiap pelakunya itu ahli neraka. Mereka berhasil menempatkan kata bid’ah sebagi sesuatu yang buruk. “Maka saya harus berjuang merebut kembali istilah bid’ah agar tidak dikonotasikan negatif,” kata Habib Noval semangat.

Menurutnya, Syaikh Alwi Al-Maliki, yang berada di Arab Saudi, sarang Wahabi, saja tidak berdiam diri. Ia melakukan perlawanan dengan berbagai cara, baik lisan ketika berdakwah maupun tulisan dalam berbagai kitab dan bukunya. Apalagi muslim Sunni Indonesia, yang mayoritas. “Saya terpanggil, mulai saat ini harus lebih fokus memberantas paham Wahabi, terutama di Solo,” katanya kembali menegaskan.

Menyusul kesuksesan buku terdahulunya, Mana Dalilnya, yang juga ditujukan untuk menolak paham Wahabi, baru-baru ini Habib Noval meluncurkan buku terbarunya berjudul Ahlul Bid’ah Hasanah.

Buku karya Habib Noval bin Muhammad Alaydrus
Yaitu buku Ahlul Bid’ah Hasanah.
Sekilas buku ini memiliki kemiripan dengan buku sebelumnya. Namun menurut Habib Noval, buku ini memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Sesuai namanya, isi buku yang dibandrol seharga empat puluh lima ribu rupiah ini mengupas dalil dan sumber berbagai amaliah Ahlusunnah wal Jama’ah yang selama ini diklaim sebagaibid’ah dan sesat, serta mencantumkan pendapat para ulama yang kuat. Lebih praktis dan tegas. “Pada buku Mana Dalilnya, saya menggunakan kerangka berpikir Wahabi. Sementara buku ini kerangka berpikirnya tengah-tengah: Wahabi dan kaum santri,” katanya.

Aqidah umat mesti diperkuat, agar tidak mudah goyah. Salah satunya dengan membaca buku Ahlul Bid’ah Hasanah.

Tampaknya, buku ini akan kembali mendulang sukses seperti buku-buku karya Habib Noval sebelumnya.
Saat ini, bila ada yang mempengaruhi dan menuduh dengan berbagai label negatif terkait dengan Ya-Sinan, tahlilan, shalawatan, misalnya, umat tidak hanya diam, apalagi terpengaruh, mereka mulai berani membantah, dengan mengutarakan dalil-dalil yang kerap disampaikan Habib Noval, atau minimal tidak terpengaruh.

Semangat habib muda ini dalam membentengi aqidah umat begitu tinggi. Untuk mendukung dakwahnya, kini Habib Noval juga merambah bisnis kaus oblong dengan berbagai gambar dan kata-kata ciri khas Ahlusunnah wal Jama’ah yang menggugah. Ini diproduksinya sendiri menggunakan label “Abah”, singkatan “Ahlul Bid’ahHasanah”.

“Pada produksi kaus, saya menggunakan kata-kata yang menyentuh tapi tidak provokatif, seperti ziarah kubur, Ya-Sinan, tahlilan, Maulidan, kemudian diarahkan dengan menggunakan tanda panah ke kata surga. Kemudian, kalimat Lebih baik gila dzikir daripada waras namun tidak dzikir,” kata Habib Noval.

Respons masyarakat cukup besar. Produksi pertama pada Ramadhan lalu, sebanyak 750 telah habis diserbu konsumen. Saat ini produksi kedua mencetak 1.500 kaus dengan dua varian, lengan panjang dan pendek. Warnanya beragam, mulai dari putih, biru, merah, hingga hitam.

sumber: majalah AlKisah

Profil Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus: Sesejuk Kota Kembang

Di samping kiai, ia pun KIAI, dalam arti kreatif, inovatif, aktif, dan inklusif.

Namanya biasa ditulis “K.H. Drs. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus”. Tak banyak habib yang juga dipanggil kiai atau ditulis “K.H.” di depan namanya. Tokoh habaib Kota Kembang, tokoh NU Jawa Barat, pendidik, pence­ramah, dan ketua umum Yayasan As­salaam, ini termasuk dalam kelompok yang tak banyak itu. Ayahnya, yang telah berpulang 7 Maret 1985 yang lalu, juga demikian, sering ditulis namanya dengan “K.H.”, yakni K.H. Habib Utsman Al-Aydarus. Beliau ini tokoh terkemuka di Bandung di masanya.

Habib Syarief Muhammad memang seorang kiai, baik dilihat dari ilmunya, wawasannya, penampilannya, pemba­waannya, pergaulannya, sikapnya, mau­pun pendiriannya. Bahkan sosoknya lebih menggambarkan sosok seorang kiai pribumi daripada sosok seorang habib sebagaimana dalam bayangan kebanyakan orang.

Meskipun demikian, identitas dan jiwa kehabibannya sama sekali tak hilang, bahkan berkurang pun tidak. Baik dari nama­nya, keyakinannya, amaliah­nya, kecenderungannya, pergaulannya, per­juangannya, maupun keistiqamah­an­nya.

Di samping kiai, ia pun KIAI, dalam arti kreatif, inovatif, aktif, dan inklusif. Ini bukan singkatan yang dibuat-buat dan dicocok-cocokkan dengannya. Orang yang mengenalnya cukup dekat, insya Allah, akan sependapat bahwa masing-masing kata itu memang terlihat dalam dirinya.

Kreativitasnya dapat dilihat dari apa yang dilakukannya sejak kecil, remaja, dan terus hingga kini.

Ia pun seorang yang inovatif. Lang­kah-langkah yang ditempuhnya dan terobosan-terobosan yang dilakukannya dalam mengembangkan Yayasan As­salaam jelas-jelas menunjukkan hal itu. Jangan heran jika Assalaam dengan berbagai lembaga pendidikannya, serta berbagai unit kegiatan lainnya, terus berkembang pesat dan kini menjadi sa­lah satu yayasan Islam yang sangat di­kenal di Bandung dan diakui memiliki kualitas yang baik.

Kemudian, berbagai peran dan ama­nah yang diembannya sejak di bangku kuliah, bahkan sejak remaja, sampai kini, merupakan bukti nyata aktivitasnya yang lama. Sedangkan pergaulannya yang luas dan kedekatannya dengan berbagai kalangan jelas menunjukkan inklusi­vitas­nya. Jadi memang ia seorang KIAI.

Tetap tak Lupa Mengajar

Habib Syarief Muhammad lahir di Ban­dung tanggal 5 November 1954, put­ra pasangan Habib Utsman bin Husein Al-Aydarus dan Hj. Aisyah binti Djali Radjoe Soetan. Ia anak pertama dari lima bersaudara. Adik-adiknya adalah Syarifah Hamidah, Syarif Ahmad, Syarif Hamid, dan Syarifah Mahmudah. Selain itu, Habib Syarief juga memiliki dua ka­kak perempuan lain ibu, yakni Syarifah Fathimah dan Syarifah Maimunah.

Sosok yang ramah, mudah akrab, dan tak suka menonjolkan diri ini memu­lai pendidikan formalnya di lembaga pendidikan yang dirintis ayahandanya sendiri, Assalaam. Jenjang TK dan SD diselesaikannya di sini. Kemudian ia melanjutkan ke PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) enam tahun di Bandung, tahun 1968-1973.

Setelah menuntaskan pendidikan­nya di PGAN, akhir tahun 1973, Habib Syarief melangkahkan kaki ke Yogya­karta di awal tahun  1974. Di sini ia  me­lanjutkan pendidikannya di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, yang dapat diselesaikan tahun 1980, sambil mondok di Pesantren Krapyak, asuhan tokoh NU terkemuka, K.H. Ali Maksum.

Saat kanak-kanak dan remaja, di samping mengaji kepada ayahandanya sendiri, ia juga mengaji kepada para kiai di Bandung meskipun tidak menetap di pesantren mereka. Di antaranya mengaji ilmu falak kepada Ajengan Burhan, pengasuh Pesantren Cijaura.

Sejak kecil telah tumbuh kecintaan­nya terhadap ilmu dan buku. Salah satu yang memotivasinya, ia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya selalu muthalaah kitab setiap hari sekitar enam jam, setiap ba‘da zhuhur, ba‘da isya, dan pagi hari. Padahal, beliau setiap dua hari mengkhatamkan Al-Qur’an. Belum lagi waktunya untuk membaca shalawat. Apa yang dilakukan sang ayah itu me­motivasinya untuk gemar membaca.

Di masa kanak-kanak, setiap hari Jum’at, ia ikut pengajian kitab Minhajul Abidin dan Ihya Ulumiddin, yang diasuh ayahandanya. Juga pengajian kitab Al-Hikam di hari Sabtu. Khusus untuk ilmu-ilmu alat, sang ayah menyuruhnya untuk belajar kepada kakak sepupunya, ke­ponakan sang ayah sendiri, Habib Ahmad bin Hasyim Al-Aydarus. Namun tidak sampai tuntas, karena ia keburu pindah ke Yogya.

Ia memilih kuliah di IAIN Yogya ka­rena sejak di PGA telah banyak mem­baca buku-buku yang ditulis oleh para guru besar IAIN Yogya. Di antaranya buku-buku karya Prof. Hasbi Ash-Shiddiqi, Prof. Mukhtar Yahya, Dr. K.H. M. Tholhah Mansoer, Prof. Mukti Ali, Prof. Zaini Dahlan. Ada sekitar 15 pe­nulis yang bukunya sering ia baca dan sebagian besar mereka adalah guru be­sar dan dosen-dosen senior di sana.

Ketika pertama kali datang di Yogya, ia tinggal di kediaman Dr. K.H. Tholhah Mansur. Kemudian atas saran beberapa orang, termasuk K.H. Anwar Musaddad, ia masuk Pesantren Krapyak sambil kuliah di IAIN Yogya.

Karena sejak kecil menyukai seni, ia memilih Fakultas Adab, sebab ia yakin bahwa di dalamnya ada unsur-unsur seni. Pada tiga tahun pertama, kuliah be­lum dijuruskan. Akhirnya setelah menda­patkan sarjana muda, ia memilih jurusan sejarah kebudayaan Islam. Pilihannya jatuh pada sejarah kebudayaan Islam, bukan jurusan sastra Arab, karena ke­betulan cocok dengan dosen-dosen yang mengajar materi-materi yang ber­kaitan dengan sejarah.

Di antara dosen-dosen favoritnya saat itu adalah Prof. Dr. Nouruzzaman Shiddiqi dan Dra. Chadijah Nasution. Nouruzzaman Shiddiqi dipandangnya mampu mengkombinasikan dengan baik metodologi Timur dan Barat. Cara pe­nyampaiannya pun enak, gayanya san­tai, dan sering memberikan informasi dari buku-buku mutakhir. Sedangkan Chadijah Nasution dikatakannya mem­berikan materi yang mendalam dan di­dukung dengan data-data yang jarang di­ketahui orang. Ia pun sangat mengua­sai sejarah pendidikan Islam di Indo­nesia.

Saat kuliah, Habib Syarief Muham­mad dikenal sebagai aktivis dan organi­satoris. Di tingkat II ia sudah menjadi ke­tua rayon (tingkat fakultas) PMII, padahal biasanya yang menjadi ketua rayon adalah mahasiswa tingkat III atau tingkat IV. Di tingkat III meningkat menjadi ketua komisariat (tingkat universitas), sedang­kan ketua-ketua rayonnya teman-teman seangkatannya.

Kesibukannya berorganisasi tidak membuat kuliahnya terbengkalai. Pada tahun 1980 ia dapat menuntaskannya. Saat sarjana muda, tugas akhir yang ditulisnya berjudul Pengaruh Bahasa Arab terhadap Kebudayaan Islam di Indonesia. Sedangkan ketika skripsi, yang ditulisnya adalah Peran Nahdlatul Ulama dalam Perubahan Sosial di Indonesia. Ia cukup puas dapat menun­tas­kan skripsinya tersebut karena saat itu sulit sekali mencari referensi tentang NU, tidak seperti sekarang, sehingga membutuhkan perjuangan yang cukup berat.

Sepulang dari Yogyakarta, Habib Syarief diminta untuk membantu abah­nya mengajar di SMP Assalaam. Na­mun ini hanya berjalan sekitar dua tahun. Tampaknya jiwa dan pola pikir aktivisnya yang masih menyala-nyala membuatnya tak betah menjalani kegiatan ini.

Tahun 1982, ia meminta izin kepada sang ayah untuk mengajar di perguruan tinggi. Pertama-tama ia mengajar di ITB dengan materi Al-Islam (kuliah agama Islam). Bertahun-tahun ia mengajar sampai hampir diangkat menjadi tenaga pengajar tetap. Namun akhirnya tak jadi, karena ayahnya tak mengizinkannya men­jadi pegawai negeri. Meskipun Habib Syarief beberapa kali mencoba menjadi dosen tetap di beberapa per­guruan tinggi negeri, upayanya selalu ”di­potong di tengah jalan” oleh sang ayah.

Namun hal tersebut tak membuatnya patah semangat untuk terus mengajar, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, meskipun tak menjadi PNS. Tahun 1983 ia mulai mengajar di Uninus dan langsung menjadi sekretaris fakultas sastra. Di fakultas yang sama ia sempat pula menjadi pembantu dekan II (1991-1995) dan pembantu dekan III (1985-1995) sampai akhirnya pembantu rektor III (1995-1999) dan pembantu rektor IV (1999-2003) selama pengabdiannya di kampus ini.

Selain di kedua perguruan tinggi itu, ia pun mengajar di Unisba, Inisi, Ikopin, Unpas, Politeknik Swiss, dan lain-lain. Tercatat, ada 11 perguruan tinggi tempat ia mengajar. Sebagiannya ada yang cu­kup lama, seperti di Uninus, yang di­jalani­nya selama kurang lebih 16 tahun hingga tahun 1999. Di ITB selama de­lapan tahun, di Unisba sekitar tiga sam­pai empat tahun. Ada pula yang hanya dua-tiga tahun saja.

Selain memberikan mata kuliah Al-Islam, ia juga mengajar materi-materi lainnya, di antaranya Ilmu Budaya Da­sar, Filsafat Umum, Metodologi Peneli­tian, Tafsir, Hadits, Ulumul-Qur’an.

Selama periode itu pula, kegiatan Habib Syarief bertambah lagi dengan memberikan pengajian dan ceramah di masyarakat di berbagai tempat, yang dari waktu ke waktu juga terus bertam­bah. ”Sekitar sembilan puluh persen wila­yah Jawa Barat telah dikelilingi. Waktu itu masih senang-senangnya ngomong,” katanya mengenang saat-saat itu.

Bekerja sampai 16 Jam per Hari

Sejak kecil ia memang telah mulai me­miliki pengalaman berbicara di depan umum dan pengalaman menulis. Ketika duduk di kelas III SD ia telah berbicara di depan umum saat acara perpisahan Assalaam gabungan di sebuah bioskop sangat terkenal di Bandung, bioskop Nusantara. Bioskop itu pada tahun 1967 pernah pula dijadikan salah satu arena Muktamar NU, yang ayahnya, Habib Utsman, menjadi ketua panitia. Sang ayah tampaknya telah menyiapkannya agar ia memiliki pengalaman berbicara di depan umum sejak kecil dan agar memiliki rasa percaya diri yang kuat.

Kegemaran membaca juga telah tum­buh sejak kecil. Berbagai buku di­bacanya. Cerita-cerita karya Kho Ping Ho, Sherlock Holmes, Agatha Cristie, Karl May, misalnya, telah disantapnya sejak kanak-kanak.

Masa pertengahan 1980-an hingga pertengahan 1990-an memang merupa­kan saat-saat tersibuk dalam kehidup­annya. Mengajar di berbagai kampus, memberikan pengajian dan ceramah di mana-mana, serta mengikuti macam-macam kegiatan ilmiah. ”Selama sekitar 10 tahun itu, saya bekerja sampai 16 jam per hari. Tidak ada hari hari libur. Hari Sabtu dan Ahad pun tetap sibuk ke sana-kemari,” katanya.

Ketika kegiatan ceramah dari waktu ke waktu terus bertambah, akhirnya se­dikit demi sedikit ia pun terpaksa mengu­rangi kegiatan mengajarnya, dan ber­hen­ti sama sekali pada tahun 1999 ke­tika ia harus ke Jakarta saat menda­patkan amanah sebagai anggota MPR.

Bukan hanya membaca, mengajar, dan berceramah yang menemani hari-harinya saat itu bahkan hingga seka­rang, melainkan juga aktivitas organi­sasi, terutama di NU. Di organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, kiprahnya di­awali tahun 1982 saat menjadi wakil ketua PCNU Bandung yang dipegang­nya hingga tahun 1985. Setelah itu ber­turut-turut mendapat kepercayaan seba­gai wakil katib Syuriah PWNU Jawa Barat (1985-1990), wakil ketua Tanfidzi­yah PWNU Jawa Barat (1990-1995), dan ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Barat (1995-1998). Jabatannya sebagai ketua Tanfidziyah PWNU tak sampai akhir pe­riode, karena ia harus melepasnya sejak menjadi ketua Tanfidziyah DPW Partai Kebangkitan Bangsa (1998-2000).

Di luar itu, amanah yang pernah dan sedang diembannya di antaranya seba­gai ketua umum Yayasan Assalaam Bandung (1985-sekarang), anggota pengurus MUI kota Bandung (1984-1988), anggota pengurus DKM Masjid Agung Bandung (1996-1998), anggota pengurus Forum Komunikasi Umat Ber­agama Jawa Barat (1996-1998), ang­gota Dewan Pembina GP Ansor Jawa Barat (1993-1998), a‘wan PBNU (2005-2009), penasihat Rabithah Alawiyah cabang Bandung (2007-2011).

Pada tahun 1999 Habib Syarief menjadi anggota MPR dari fraksi utusan daerah Provinsi Jawa Barat bersama empat orang lainnya, termasuk Ginanjar Kartasasmita. Setiap provinsi mendapat jatah lima orang untuk fraksi utusan dae­rah dan dipilih oleh anggota DPRD ma­sing-masing provinsi. Di MPR ia kemu­dian diberi amanah sebagai wakil ketua Fraksi PKB. Sebagaimana diketahui, ma­sing-masing anggota fraksi utusan daerah yang berasal dari parpol, di MPR bergabung dengan masing-masing par­polnya.

Habib Syarief pun dipercaya duduk dalam Panitia AdHoc II BP MPR dan terlibat dalam proses amandemen 1 dan 2 UUD 1945. Selesai amandemen, ke­sibukannya berlanjut bersama beberapa anggota lainnya untuk mensosialisasi­kannya, baik di dalam maupun di luar ne­geri. Dalam kapasitasnya sebagai anggota MPR pula ia bersama anggota de­legasi yang lain berkesempatan me­lakukan studi banding ke beberapa ne­gara.

Setelah tak lagi menjadi anggota MPR, kesibukannya bukan berkurang, malah semakin bertambah. Di samping mengelola dan mengembangkan As­salaam beserta segenap pengurus ya­yasan dan mereka semua yang terlibat, ia tetap menjadi pendidik dan pencera­mah di berbagai kesempatan. Jadwal aca­ranya dari hari ke hari sangat padat. Belum lagi kegiatan-kegiatan dzikir yang diasuhnya, seperti istighatsah dan se­bagainya.

Habib Syarief juga menjadi kolumnis dan penulis artikel di berbagai media cetak. Di antaranya tulisannya secara teratur muncul di harian Pikiran Rakyat Ban­dung dan media-media lain. Ia juga menjadi muballigh di berbagai acara keislaman di TVRI Pusat, TVRI Jabar-Banten, dan berbagai TV swasta.

Sosok produktif ini pun telah meng­ha­silkan banyak karya, di antaranya yang telah terbit adalah Agar Hidup Selalu Berkah, Wirid Penyejuk Qalbu (Istighatsah Istisyfa’), Kapita Selekta Dakwah, Wirid Harian, 135 shalawat Nabi,Kronologi Perjalanan Ibadah Haji, 79 Macam Shalat Sunnah, Panduan Doa Manasik Haji, Siraman Pengantin,Pengurusan Jenazah, 1001 Doa Pilihan.

Dari pernikahannya dengan Dra. Hj. Ayusdarniati, Habib Syarief dikarunia empat permata hati: H.M. Luthfi Alman­faluthi, S.T., Hj. Syarifah Rafika Zakiah, H.M. Rifki Noval, dan Hj. Syarifah Zafira.

sumber: Majalah alKisah

Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah: Memelihara Jejak-jejak Salaf Ash-Shalih

Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah: Memelihara Jejak-jejak Salaf Ash-Shalih

Asy Syaikh Abubakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.”
Beberapa bulan terakhir, ada sebuah buku yang banyak dicari-cari orang. Buku tersebut memuat kumpulan biografi para habib yang memiliki peranan penting dalam perkembangan dakwah Islam di Indonesia. Judulnya, Biografi 17 Habaib Berpengaruh di Indonesia. Karena respons peminatnya yang cukup besar, hanya dalam tempo tiga bulan buku tersebut sudah tiga kali cetak ulang. Hingga diturunkannya tulisan ini, buku itu sudah dicetak hingga 12 ribu eksemplar.

Bila diperhatikan secara seksama, buku tersebut memiliki keunikan tersendiri dibanding buku-buku sejenis lainnya. Selain memuat kisah perjalanan para habib sebagai insan-insan dakwah yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan agama Islam di tanah air, buku tersebut juga dilengkapi banyak foto eksklusif para habib itu sendiri.

Tidak mengherankan, karena ternyata buku itu disusun seorang sayyid muda yang sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir bersusah payah mengumpulkan dan memelihara foto-foto para habib. Dari yang antik-antik atau foto-foto habaib dan ulama tempo dulu, hingga foto-foto habaib zaman sekarang. Di samping mengoleksi foto, ia juga gemar mengumpulkan kisah-kisah perjalanan hidup mereka.

Dulu, di awal kesukaannya mengumpulkan foto-foto habaib dan manaqib para salaf, tidak terbersit sedikit pun dalam pikirannya bahwa pada suatu saat kelak ia akan menyusun buku semacam ini. Namun sekarang, terbitnya buku tersebut adalah salah satu bentuk natijah (buah) dari keringat himmah (kesungguhan)-nya selama ini, yang dengan penuh suka dan duka mengumpulkan jejak-jejak dakwah para habib.
Siapakah sayyid muda penulis buku itu? Dialah Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah.

Kenikmatan Memandang Wajah Habaib
Habib Abdul Qadir bin Umar Mauladawilah lahir pada tanggal 8 Juni 1982 di kota Solo, dari pasangan Habib Umar bin Agil bin Umar Mauladawilah (asal kota Malang) dan Syarifah Sidah binti Abdullah bin Husen Assegaf (asal kota Solo).

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2007, ayah Habib Abdul Qadir wafat. Rencananya, sang ayah pada musim haji tahun ini akan berangkat haji. Tapi Allah SWT telah memanggilnya terlebih dahulu.

Dulu, saat orangtuanya menikah, yang menikahkan adalah Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah.

Setelah dikaruniai seorang putra, Habib Umar bin Agil Mauladawilah (ayah Habib Abdul Qadir, penulis buku ini) menemui Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan menyampaikan kabar tentang kelahiran putra pertamanya. Saat itu, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf-lah yang memberikan nama si anak yang baru lahir tersebut. Nama yang diberikan adalah sebagaimana namanya sendiri. Yaitu, Abdul Qadir.

Masa usia sekolah Habib Abdul Qadir dijalani seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Ia masuk Sekolah Dasar Negeri 7 Sukun, Malang, dan kemudian melanjutkannya ke SMP Negeri 12 Malang. Selepas jenjang sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikannya pada Madrasah Aliyah Daaruttauhid Malang sambil mondok di Pondok Pesantren Daruttauhid, yang pada masa itu masih di bawah asuhan Ustadz Abdullah bin Awwadh Abdun. Ia menyelesaikan pendidikan aliyahnya ini pada tahun 2000.

Setelah selesai pendidikan MA, ia tidak langsung pulang ke rumah. Ia masih meneruskan pendidikan diniyah di Pondok Pesantren Daruttauhid tersebut hingga tahun 2001, yaitu setelah gurunya, Ustadz Abdullah Abdun, wafat.

Sebelum masuk pondok, ia lebih fokus pada pendidikan umum dan sama sekali belum terpikirkan akan bergerak di bidang keagamaan. Kegiatan yang merupakan kegemarannya mengumpulkan dokumentasi di seputar habaib baru dimulai sejak tahun 1997, saat ia masuk Pesantren Daruttauhid.

Saat tinggal di pesantren tersebut, ia mulai merasakan adanya kenikmatan tersendiri saat berkumpul dan duduk dalam satu majelis bersama para habib. Ia pun kemudian mulai turut hadir pada acara-acara Maulid Nabi SAW ataupun haul para habib di sekitar Jawa Timu.

Seingatnya, setelah ia tinggal di Daruttauhid, acara yang pertama kali dihadirinya adalah haul Habib Shalih bin Muhsin Al-Hamid, Tanggul, Jember, Jawa Timur.

Dalam majelis-majelis ilmu seperti itu, baik di dalam pesantren sendiri maupun di acara-acara perayaan seperti acara haul, hatinya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan kenikmatan bathiniah yang sukar dilukiskan.

Benarlah apa yang disebutkan dalam kalam Habib Ahmad bin Zen Al-Habsyi yang termaktub pada kitab Al-Manhaj As-Sawi, karya Habib Zen bin Ibrahim Bin Smith, “Duduk satu saat bersama orang-orang shalih, lebih bermanfaat bagi seorang hamba dari seratus atau seribu kali ‘uzlah (menyendiri, menyepi, menghindarkan diri atau mengasingkan diri dari lalu-lalangnya kehidupan duniawi demi penyucian diri – Red.).” Saat itu ia juga merasakan kenikmatan tersendiri kala memandang teduhnya wajah para habib yang datang pada acara-acara yang ia hadiri. Di hatinya pun mulai tumbuh rasa suka memandang wajah mereka, meskipun hanya lewat lembaran-lembaran fotonya.

Ia ingat, pertama kali foto yang didapatkannya adalah foto-foto Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dan Habib Umar Bin Hud Al-Attas. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf dapat dikatakan adalah salah satu tokoh terpenting habaib saat ini. Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf ini pulalah orang yang telah menikahkan orangtuanya dan memberikan nama pada dirinya sewaktu ia lahir. Sementara Habib Umar Bin Hud Al-Attas adalah seorang wali besar dari kota Jakarta yang telah wafat beberapa tahun silam. Saat memandang kedua tokoh habaib tersebut, hatinya berdecak kagum.

Sebuah maqalah ulama dalam kitab Nashaih Al-‘Ibad, karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, menyebutkan bahwa di antara manusia ada yang jika kita memandang wajahnya kita akan merasa bahagia. Demikianlah, dari sana kemudian timbul keinginan untuk mengabadikan momen-momen yang menyentuh hatinya tersebut, dan ia pun mulai aktif mengumpulkan foto-foto para habib.

Sejak dari acara haul Habib Shalih Tanggul yang pertama kali ia hadiri kala itu, ia mulai menikmati aktivitasnya mengambil gambar saat berlangsungnya acara dengan kamera seadanya yang ia miliki.

Tanpa disadarinya, keasyikan yang kemudian dijalaninya secara serius dalam mengumpulkan foto para habib dari sejak ia masih nyantri di Daruttauhid, merupakan titik tolak penting dalam perjalanan hidupnya kelak.

Dalam salah satu kalamnya, Asy Syaikh Abubakar bin Salim mengatakan, “Siapa yang tidak bersungguh-sungguh di permulaannya, tidak akan sampai di penghabisannya.” Sekalipun kalam itu lebih ditujukan pada konteks mujahadah an-nafs (kesungguh-sungguhan dalam perjuangan melawan keinginan syahwat dan berbagai kecenderungan jiwa rendah), dari keumuman redaksi kalimat yang digunakan, konteks permasalahannya dapat diperluas. Terkait dengan kalam tersebut, perjalanan hidup Habib Abdul Qadir ini juga dapat menjadi hikmah bagi siapa pun yang menjalani segala kebaikan secara bersungguh-sungguh.

Terinspirasi dari Sang Guru
Sewaktu mondok dulu, anak pertama dari empat bersaudara ini juga menyaksikan betapa Ustadz Abdullah Abdun, gurunya, sangat ta’zhim kepada guru tempat Ustadz Abdullah Abdun menimba ilmu agama dulu. Guru yang dimaksud adalah Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, pendiri Madrasah Al-Khairat, Palu, Sulawesi Tengah.
Bertahun-tahun lamanya Ustadz Abdullah Abdun berguru kepada Habib Idrus Al-Jufri. Setelah wafatnya Habib Idrus Al-Jufri, beberapa tahun kemudian Ustadz Abdullah Abdun menuliskan sebuah risalah yang berisi biografi sang Guru Tua, julukan bagi Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Habib Abdul Qadir merasa, apa yang dilakukan gurunya tersebut benar-benar dapat menjadi manfaat bagi dirinya dan juga untuk orang banyak lainnya yang ingin mengetahui perjalanan hidup Habib Idrus bin Salim Al-Jufri.

Di samping mengoleksi foto-foto, ia pun kemudian menemukan kebiasaan baru lainnya, yaitu mengoleksi manaqib para ulama dan habaib. Dengan membaca manaqib mereka, ia merasa lebih dekat dengan mereka.

Selain mengoleksi manaqib yang telah cukup banyak tertulis, ia juga mengoleksi kumpulan manaqib dari kutipan-kutipan ceramah para pembicara di acara-acara haul. Di acara-acara tersebut, biasanya pembicara mengisahkan perjalanan hidup orang yang sedang dirayakan haulnya. Merekam isi ceramah saat acara berlangsung adalah salah satu kiatnya untuk mengumpulkan kisah-kisah para habib dengan menggunakan tape recorder miliknya.

Pada akhirnya, Habib Abdul Qadir ini pun sekaligus sempat menjadi seorang kolektor kaset rekaman isi ceramah-ceramah keagamaan pula. Jumlah kaset yang dikoleksinya bertambah dari waktu ke waktu.

Dalam aktivitas merekam itu, ia selalu berusaha merekam selengkap mungkin. Sewaktu acara di tempat Habib Anis Solo misalnya, ia merekamnya dari mulai acara rauhah, haul, hingga Maulid-nya. Sehingga kalau hadir di acara haul Solo, paling sedikit ia harus membawa lima buah kaset. Apalagi kalau ia hadir dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi SAW di Jakarta, yang berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan lamanya. Sepulangnya dari Jakarta, ia bisa membawa sekurang-kurangnya 70 kaset hasil rekaman.

Kalau acara haul di Tegal dan Pekalongan, di masing-masing kota tersebut ia harus menyediakan minimal sekitar tujuh sampai delapan kaset.

Di samping koleksi foto-fotonya, koleksi kasetnya pun bertambah dari waktu ke waktu. Kendala yang dihadapi olehnya dalam mengoleksi kaset ternyata tidak sederhana. Dalam menatanya, butuh waktu yang tidak singkat. Ia perlu memutar dulu masing-masing kaset koleksinya untuk kemudian menandainya satu per satu. Maklum saja, pada saat awal ia mengoleksi kaset itu, teknologi suara digital belum terlalu akrab di kota tempat tinggalnya.

Belum lagi perawatan pada fisik kaset koleksinya. Bila tidak dirawat dengan baik, pita kaset akan menjamur. Hingga pernah suatu ketika sekitar 250 kumpulan koleksi kasetnya rusak termakan jamur.

Akhirnya ia sendiri mulai agak kewalahan menangani jumlah kaset rekamannya yang semakin banyak. Sementara dulu teknologi penyimpanan data digital tidak cukup mudah dijangkau seperti zaman sekarang. Sekarang semua orang dapat mengkonversi suara sebagai data digital dan kemudian dimasukkan pada media penyimpan data, seperti dalam hard disk, flash disk, CD, DVD, dan yang sejenisnya, dengan sebegitu mudahnya. Kalaupun dulu ada, harganya pun masih relatif sangat mahal.

Ia kemudian lebih memfokuskan diri pada koleksi foto saja. Banyak koleksi kaset rekaman yang ia miliki kemudian diserahkannya kepada sejumlah kawannya. Bukan dipinjamkan, tapi ia berikan begitu saja secara cuma-cuma. Ia berpikir, mungkin orang lain memiliki waktu dan konsentrasi yang lebih dibanding dirinya dalam memelihara kaset-kaset rekaman tersebut.

Ternyata koleksi foto-fotonya saja, yang kemudian dilengkapi dengan kumpulan manaqib para ulama, sangat bermanfaat sekarang ini. Sebuah perkataan yang terdapat dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, karya Syaikh Az-Zarnuji, kiranya dapat dengan tepat menggambarkan apa yang telah dijalani oleh Habib Abdul Qadir. “Sekadar kesusahan yang ditempuh seseorang, maka akan didapat apa yang dicita-citakan.”

Bingkai Besar di Atas Motor
Siapa yang mencari sesuatu secara bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan. Ungkapan ini juga termaktub dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Kesungguh-sungguhan Habib Abdul Qadir, yang juga ternyata seorang kolektor majalah alKisah dari sejak edisi pertama kalinya, telah teruji oleh waktu.

Banyak kisah suka duka yang dialaminya dari sejak ia menjalani aktivitasnya mengoleksi foto para habib. Pernah suatu kali ia mengetahui ada seseorang di daerah Pujon, Batu, Malang, yang memiliki foto Habib Muhammad bin Alwi Al-Maliki. Menurutnya, pose Habib Muhammad Al-Maliki dalam fotonya itu unik dan menarik. Maka kemudian ia meminjam foto tersebut. Foto itu ada dalam sebuah bingkai besar yang ukurannya hampir seukuran pintu rumah.

Waktu itu ia hendak meminjam fotonya saja, tapi si empunya foto rupanya keberatan, karena khawatir akan rusak. “Kalau mau pinjam, silakan sekalian berikut bingkainya,” katanya.

Saat itu ia pun kebingungan, dengan apa ia akan membawa bingkai sebesar itu. Padahal ia hanya membawa sepeda motor. Akhirnya, ia, yang saat itu berdua dengan seorang kawan, memutuskan untuk tetap membawa foto berbingkai besar tersebut, sekalipun dengan menggunakan sepeda motor.

Di sepanjang perjalanan, ternyata membawanya cukup sulit, dan harus ekstra hati-hati, agar tidak terbentur kendaraan lain. Bebannya juga semakin berat karena tekanan angin yang mendorong bingkai foto tersebut.
Sesampainya di kota Malang, hujan deras turun secara tiba-tiba. Maka ia dan kawannya segera mencari tempat untuk berteduh. Lantaran begitu derasnya hujan, tempat berteduhnya pun terkena air hujan yang tampias. Air itu mengenai bingkai foto dan sempat merusak foto di dalamnya.

Setelah sampai di rumah, ia merepro foto tersebut dan mengganti foto yang rusak itu dengan sedikit proses di sana-sini.

Alhamdulillah, setelah dikembalikan, pemilik foto tersebut tampak senang menerimanya. Mungkin karena hasil foto repro barunya itu terlihat lebih bagus dari aslinya.

Setelah kejadian itu, bukannya kapok, Habib Abdul Qadir malah semakin merasa asyik dalam menjalani aktivitas memburu foto-foto para habib.

Nasib Baik
Suatu hari ia pernah tersasar di suatu desa di daerah Malang. Saat sedang duduk-duduk di depan sebuah rumah, ia sekilas melihat di dalam rumah tersebut terdapat foto habaib yang unik menurutnya. Namun ternyata penghuni rumah itu sedang tidak ada di rumah karena sedang bekerja.

Biasanya, seusai kerja, yaitu sekitar pukul lima sore, penghuni rumah itu sudah sampai di rumah. Ia pun kemudian menunggu selama berjam-jam untuk menanti kedatangan penghuni rumah tersebut. Saat penghuni rumah itu datang, ia menyampaikan maksudnya untuk meminjam foto yang terpampang di dinding ruangan depan rumah milik orang tersebut.

Awalnya si pemilik rumah tampak sedikit curiga. Wajar saja, karena dia merasa tidak mengenalnya sama sekali. Namun setelah diterangkan secara baik-baik, akhirnya ia diperbolehkan meminjam foto itu.

“Silakan bawa, tapi segera kembalikan lagi,” demikian pesan si pemilik foto.
“Bukannya saya berpikir tidak akan mengembalikan, tapi daerah itu sama sekali saya tidak tahu. Jangankan berpikir untuk mengembalikan foto itu, untuk kembali pulang ke rumah saja saya tidak paham,” ujarnya bercerita.

Akan tetapi karena ia memang niat meminjam, ia berjanji akan mengembalikan setelah ia merepronya.
Dengan sedikit bersusah payah akhirnya sampai juga ia di rumah.

Setelah foto itu direpro, ia pun memenuhi janjinya, mengembalikan foto tersebut. Seperti saat ia hendak pulang ke rumah, untuk mencari kembali rumah si pemilik foto itu pun ternyata menempuh waktu yang tidak sebentar. Namun akhirnya ia sampai juga di sana.

Apa yang dialami oleh Habib Abdul Qadir mengingatkan orang pada apa yang dikatakan Imam Syafi’i dalam salah satu diwan-nya, “Nasib baik dapat mendekatkan setiap perkara yang jauh. Nasib baik dapat membuka setiap pintu yang tertutup.”

Tentunya, nasib baik itu akan menjadi sempurna adanya bila berdasarkan niat yang baik pula, seperti halnya niatan yang ada dalam hati Habib Abdul Qadir dalam memelihara jejak-jejak peninggalan para salaf ash-shalih.

sumber: Majalah AlKisah

Habib taufiq

Ini adalah tugas bagi mereka yang masih sadar. Para pendidiknya, para kepala keluarganya, dan semua pihak lainnya. Sayangnya, mereka masih asyik berjalan sendiri-sendiri.
Sejak lama Pasuruan dikenal banyak orang sebagai kota gudangnya ulama dan habaib. Salah satu tokoh dakwah kota ini adalah Habib Taufiq bin Abdul Qadir bin Husein Assegaf. Tak ada yang meragukan ketokohannya. Bukan hanya di kota Pasuruan, pengaruh dakwahnya juga mencakup kota-kota lain di Jawa Timur. Namanya juga amat familiar bahkan hingga ke berbagai pelosok negeri ini.

Pria kharismatis kelahiran Pasuruan, 1969, ini tak pernah menempuh pendidikan formal, namun dari pendidikan ta’lim ke ta’lim. Sekalipun demikian, ia sosok dai yang kreatif dalam berdakwah dan dikenal berwawasan luas.

Di bulan Ramadhan, malam-malam kota Pasuruan tampak semarak dengan nuansa dakwah lewat acara Khatmul Qur’an yang dipandu oleh sang habib. Acara Khatmul Qur’an adalah tradisi warga Pasuruan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Acara ini digelar setiap malam di bulan Ramadan, yaitu mulai malam ke-9 Ramadan sampai malam ke-29 Ramadhan.

Dulunya, acara Khatmul Qur’an ini digagas oleh ulama kota Pasuruan, Habib Abdul Qadir Assegaf, yang tak lain ayahanda Habib Taufiq, menantu Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf, ulama besar Pasuruan yang juga dikenal sebagai salah satu guru Kiai Hamid Pasuruan. Habib Taufiq terus menghidupkan tradisi salafush shalih ini, yaitu ihya’ al-layali Ramadhan, menghidupan malam-malam bulan Ramadan, yang tentunya dengan amalan-amalan baik. Alhamdulillah, kota Pasuruan pada setiap malam Ramadhan pun tampak begitu hidup dan semarak dengan acara-acara keagamaan, dan ribuan orang berbondong-bondong menghadiri acara tersebut.

Tugas Bersama
Menyenangkan, ramah, dan sangat luas serta arif dalam memandang setiap permasalahan. Itu kesan yang ditangkap alKisah saat berjumpa dengan Habib Taufiq di rumahnya, sekitar sebulan silam.

Saat ditanya tentang kondisi umat Islam saat ini yang tampaknya semakin jauh meninggalkan jejak salafush shalih, Habib Taufiq menyampaikan pandangan luasnya sekaligus menuturkan langkah apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan ini.

”Sekarang, kita ini sudah ketinggalan jauh dari salaf. Ya semuanya, ilmunya, akhlaqnya, ibadahnya. Semuanya itu nyaris sudah tak tampak dari kita sehari-hari.

Kita mengenal mereka semuanya sebagai ulama, tapi semakin sedikit di antara kita, yang generasi sekarang ini, yang serius menekuni ilmu agama.

Mereka juga ahli ibadah, tapi kini kita jarang yang melaksanakan qiyamullail, awrad datuk-datuknya sendiri juga sudah tak lagi dibaca. Keturunan mereka sendiri sudah tak tahu lagi apa saja amaliyah salaf mereka….

Begitu pula di kalangan Alawiyyin sendiri. Ini adalah tugas bagi setiap Alawiyyin yang masih sadar dan masih memiliki kepedulian pada Alawiyyin.

Bagaimana cara kita memperbaiki Alawiyyin?

Ada tiga hal yang harus ditangani bersama.

Pertama, tarbiyah. Kita harus mendidik putra-putri kita agar kalau dewasa nanti tidak menjadi musuh kita. Kita didik mereka agar kalau sudah besar nanti mereka menjadi orang yang baik untuk agama.

Kedua, ekonomi mereka. Kita penuhi sisi ini, jangan sampai kekurangan, yang justru sampai-sampai orang lain yang memikirkan kita. Harus ada kesadaran pihak-pihak yang sanggup menanggulangi masalah ini dan harus ada pula pihak yang dipercaya untuk menanggung amanah dalam mengkoordinasikannya.

Ketiga, mengubah budaya. Jangan pajang foto-foto yang tak perlu dalam rumah tangga-rumah tangga kita, khususnya keluarga Alawiyyin. Pakaian-pakaian mereka yang sudah tak tepat harus diubah, diganti dengan pakaian-pakaian yang sesuai syari’at Islam. Tontonan-tontonan di rumah diubah, simpanan kaset-kaset dan CD-CD yang tak sesuai di rumah diubah, diganti dengan koleksi kaset-kaset ceramah.

Ini adalah tugas bagi mereka yang masih sadar. Para pendidiknya, para kepala keluarganya, dan semua pihak lainnya. Sayangnya, mereka masih asyik berjalan sendiri-sendiri. Ini repot. Bisa saling melemahkan.

Contohnya, anak ditaruh di pondok, pulang ke rumah, budayanya bertentangan dengan kebiasaannya di pondok. Kira-kira bisa bertahan berapa lama si anak dengan kebiasaan lamanya di pondok? Tak akan lama, si anak akan kembali jauh dari nilai-nilai agama yang ia dapat di pondok.

Aset kita sebenarnya banyak, tapi sayangnya terbengkalai. Gerakan dakwah kita, bagaimana pun mereka menampilkan gaya dakwah mereka, itu adalah aset kita. Tinggal kita benerin, apa yang kurang gimana caranya jadi tidak kurang, apa yang salah gimana caranya menjadi benar.
Kalaupun memang tidak benar, ayolah, arahkan untuk lebih benar, jangan saling bermusuhan, apa gunanya? Saya pun berdakwah dengan banyak cara.

Kita panggil semua pihak dan terus-menerus bicarakan semua masalah yang berkembang. Jangan kedepankan egoisme. Kedepankan pelayanan dan penjagaan pada umat.

Ada orang yang bisa bergerak dengan kemampuan ilmunya, ada yang dengan kemampuan finansialnya, ada yang dengan kemampuannya masing-masing. Sebaliknya, yang tidak mampu, jangan hanya duduk pada tempatnya.”-

Beragam Aktivitas Dakwah
Semasa kecil, Habib Taufiq diasuh oleh ayahandanya, Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf, dengan sebaik-baik asuhan dan didikan agama. Melengkapi bimbingan yang ia terima dari sang ayah, ia pun melanjutkan ta’limnya kepada ulama dan habaib yang ada di Pasuruan, salah satunya Habib Ahmad bin Hadi Al-Hamid.

Tak hanya Habib Ahmad, rumah habaib dan ulama ternama kota Pasuruan satu per satu ia datangi, untuk menimba ilmu mereka. “Karena itu minimlah ilmu saya. Karena saya tidak belajar seperti halnya para lulusan pesantren luar negeri,” kata Habib Taufiq merendah.

Setelah banyak belajar dari ulama dan habaib yang ada di kota Pasuruan, ia melanjutkan pelajarannya kepada seorang ulama Surabaya, yakni Habib Umar bin Hasyim Ba’agil, yang dikenal kefaqihannya. Selama belajar kepada Habib Umar, ia tinggal di Surabaya selama seminggu dan seminggu kemudian di Pasuruan. Aktivitas itu ia jalani sampai Habib Umar bin Hasyim Ba’agil wafat.

Setelah menggali ilmu ke berbagai tempat dari para ulama dan habaib, mulailah ia merintis dakwah, melanjutkan rintisan dakwah para pendahulunya. Pada awalnya ia hanya membuka madrasah di Jln. K.H. Wahid Hasyim (barat masjid kota) Pasuruan. Ia kemudian melanjutkan pengelolaan madrasah yang pernah diasuh oleh Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf (kakeknya) dan Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf (ayahnya).

Untuk mematangkan konsep dan langkah berdakwah, sejak tahun 2003 yang lalu ia mendirikan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah di Jln. Sidogiri, Pasuruan. Meski pesantrennya tergolong muda usia, kini di Jawa Timur pengaruh pesantrennya ini sangat besar.

Untuk melebarkan sayap dakwahnya, dengan modal semangat bajanya dalam berdakwah ia memberanikan diri menerbitkan Majalah Cahaya Nabawi. Media dakwah ini adalah terobosan dakwahnya yang kreatif dan terbukti efektif untuk dapat masuk pada rumah-rumah kaum muslimin di berbagai penjuru wilayah tanah air. Di balik kebersahajaan majalah ini, terkandung isi yang sarat dengan ajaran agama. Amat wajar bila majalah ini pun cepat merebut pangsa pasar yang tersebar di tanah air.

Selain membagi waktu untuk mengelola majalah, ia juga rajin menyampaikan taushiyah. Di tengah kesibukannya mengelola ta’lim, majalah, radio, dan berceramah di sekitar Pasuruan, ia juga berdakwah ke berbagai wilayah di perbagai penjuru tanah air. Bahkan jangkauan dakwah Habib Taufiq merambah pada wilayah-wilayah yang terpencil.

Sampai sekarang ia secara rutin membina umat di daerah-daerah yang minoritas muslim, seperti daerah Tengger, Sampit, Bali. Habib Taufiq juga tak segan-segan mengirim santri-santrinya dan mendampingi masyarakat yang awam pengetahuan agama.

Di tengah kesibukannya berdakwah langsung ke masyarakat, ia juga juga mempunyai jadwal tetap, yakni mengajar ta’lim di rumahnya di Jln. K.H. Wahid Hasyim atau tepatnya di barat masjid kota Pasuruan tiap hari jam enam pagi dan diteruskan dengan pembacaan kalam salaf. Majelis ta’lim yang sudah berlangsung turun-temurun dari sang kakek, Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf, dan ayahnya, Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf, yakni membaca kitab Ihya Ulumiddin, yang diikuti masyarakat Pasuruan dan sekitarnya.

Melihat perkembangan zaman yang sangat menghawatirkan bagi kaum muslimah, Habib Taufiq kemudian berinisiatif mendirikan pondok pesantren putri, yang kemudian dinamainya ”Azzahra”, dengan tujuan mengembalikan kaum muslimah ke jalan yang sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, serta mengikuti jejak para salafunash shalihin.

Agar dakwahnya lebih syi’ar, setiap ta’lim di rumahnya maupun di pesantrennya dipancarkan langsung melalui Radio Suara Nabawiy, yang juga berada di bawah pengelolaannya, melalui frekuensi 107 FM dan 747 AM.

Keberadaan radio Suara Nabawy ternyata merangsang berdirinya sejumlah radio dakwah lain di Jawa Timur, yang sebagian besar dikelola oleh para dai muda yang pernah belajar kepadanya, seperti oleh Habib Hasan Al-Muhdhar di Kraksan, Probolinggo, Habib Umar Al-Hamid di Jember, Habib Sholeh Bin Jindan di Banyuwangi, serta beberapa radio dakwah lainnya di kawasan Tapal Kuda.-

Trah Keluarga Al-Qur’an
Acara Khatmul Qur’an yang dipimpinnya, yang kemudian mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin kota Pasuruan dan sekitarnya, tentu tak terlepas dari didikan yang ia terima dalam lingkungan keluarganya yang sarat dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Tak aneh, ayah maupun kakeknya adalah para ulama yang sangat akrab dengan kehidupan Qur’ani.

Kakeknya dari pihak ibu, Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf, adalah seorang ulama yang mendapat julukan ”Al-Qur’an Berjalan”. Julukan yang sangat tepat. Pasalnya, hafalan, bacaan, dan pemahamannya terhadap Al-Qur’an amat mengagumkan. Ia mengeluarkan berbagai ilmu dari Al-Qur’an yang bermanfaat dan pemahaman-pemahaman yang baik. Begitu kuat hafalan dan pemahamannya, hingga sering ia menandai tanggal dengan ayat Al-Qur’an.

Ketika Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi membangun masjid di Kwitang, Jakarta, Habib Ja’far mencatatnya dengan firman Allah Ta’ala pada ayat 99 dari surat Al-Hijr, yang bermakna, ”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.” Jumlah nilai huruf yang ada dalam ayat ini menurut abjad Arab adalah 1356, persis dengan tahun pembangunan masjid itu (1356 H/1937 M).

Pada kesempatan lain, ketika Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi bertemu dengannya, ia pun mencatat tahun pertemuan tersebut dengan firman Allah, ”Sesungguhnya ini adalah saudaraku.” (QS Shad: 23). Jumlah ini nilai hurufnya 1368, persis dengan tahun pertemuan itu, yakni 1368 H/1949 M.

Itu bukan suatu kebetulan, nemun merupakan salahsatu tanda kekuasaan Allah yang diberikan kepada Habib Ja’far bin Syaikhan Assegaf.

Ia juha mencatat tahun selesainya pembangunan Masjid Riyadh di Gurawan, Solo, dengan firman Allah, ”Lalu mereka menjadi orang-orang yang menang (dikenal).” (QS Ash-Shaf: 14), yang nilai hurufnya berjumlah 1354. Ayat itu sebagai pertanda bahwa Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi akan menjadi ulama termasyhur yang menggantikan ayahnya, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

Para ulama di masanya mengakui kapasitas keilmuan Habib Ja’far. ”Jika semua makna ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabawiy, dan pemahaman-pemahaman sufistis dari lisan Habib Ja’far dicatat, akan banyak yang dikumpulkan,” tutur menantunya, Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf, ayahanda Habib Taufiq, alam kitabnya, Layal al-Qadr.

Ayahnya, Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf, adalah murid Habib Muhammad bin Hadi Assegaf dan Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf (ayahanda Habib Abdul Qadir Jeddah), yang tergolong murid-murid terkemuka Shahib Simthud Durar, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

Hari-hari di bulan Ramadan selalu diisinya dengan ibadah. Di setiap pertengahan malam ia bertahajjud sampai sekitar 45 menit sebelum fajar, setelah itu ia baru sahur dengan keluarga. Setelah shalat Subuh berjama’ah di masjid Jami’ Al-Anwar, ia berziarah ke makam Habib Jafar, yang terletak persis di barat masjid sampai terbit matahari.

Ia kemudian pulang beristirahat sejenak, di pertengahan waktu shalat Dhuha, dan tidak beranjak dari mihrabnya sampai datangnya waktu shalat Zhuhur.

Setelah shalat Zhuhur berjama’ah, ia membaca dua juz Al-Qur’an dan terus berada di mihrab sampai ashar.

Setelah waktu Ashar, ia shalat di masjid dan mengadakan majelis rauhah.

Kemudian, 20 menit menjelang buka, ia mengajak para fakir dan miskin dan untuk berbuka bersama. Setelah itu ia shalat Maghrib berjama’ah.

Sekitar 30 menit waktu sebelum shalat Isya, ia baru makan bersama dengan keluarga sampai datang waktu Isya.

Setelah waktu isya, ia keluar rumah. Kemudian jama’ah diajak membaca surah Ya-Sin, Ratibul Haddad, Ratibul Attas, shalat Isya, shalat Tarawih, shalat Witir, dan dilanjutkan dengan shalat Tasbih.

Ibadah-ibadah rutin ini diamalkan secara istiqamah selama bulan Ramadhan.

Ia juga menjaga shalat jama’ah, tidak pernah ditinggalkan. Kalau tidak mendapatkan jama’ah, ia rela membayar orang-orang fakir untuk diajak shalat jama’ah, karena itu adalah sunnahnya Rasulullah SAW. Ia sangat menjaga sunnah-sunnah Rasulullah SAW, hampir-hampir tidak ada amalan sunnah yang ia tingalkan. Apa yang menjadi sunnah Nabi, ia selalu berusaha untuk mengerjakan.

Tradisi berdzikir dan membaca Al-Qur’an dibawanya sampai menjelang wafat pada waktu ba’da ashar, 19 Syawwal 1399 H/11 September 1979 M.

Di akhir umurnya sebelum meninggalkan dunia yang fana ini, ketika detik-detik terakhir, selang beberapa menit sebelum wafat, dibukanya seluruh jendela, lalu ia terbaring dan membaca ayat Al-Qur’an, yakni QS At-Tawbah: 128-129. Ketika sampai bacaan la illa hu… saat itulah ruhnya dicabut oleh Allah SWT.

sumber: Majalah alKisah

Habib ‘Abdul Qadir bin Husein Assegaf

Kota Pasuruan mendapat keberkahan dari Habib ‘Abdul Qadir bin Husein Assegaf, seorang ‘ulama yang menggerakan majelis ilmu. Ia seorang ahli ilmu dan amal, sehingga dakwahnya diterima oleh masyarakat luas.

Dalam sebuah acara haul Habib ‘Alwi bin Segaf Assegaf, seorang waliyullah di Kebon Agung (Pasuruan-Jatim), Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf seorang mufti yang mukim di Jeddah pernah berkata pada hadirin, “Bahwa kalian semua, utamanya masyarakat Pasuruan patut bersyukur kepada Allah SWT. Setelah kalian ditinggal Habib Alawy bin Segaf Assegaf, kalian mendapatkan Habib Jafar bin Syaikhon Assegaf. Dan setelah Habib Jafar wafat, kini pengantinya diteruskan oleh menantunya, yakni Habib Abdul Qadir bin Husin Assegaf.”

Di majelis haul tersebut, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf meneguhkan maqam seorang auliya dari Pasuruan, yakni Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf. Sangat wajarlah kalau Habib Abdul Qadir mendapatkan maqam yang sedemikian tinggi di sisi Allah SWT. Hal itu tentu bukan satu hal yang berlebihan dan semua itu bukan diperoleh dengan gratis. Kemuliaannya itu diperoleh dari hasil jerih payahnya. Sehingga ia mendapatakan bisyarah (ganjaran) dari Allah SWT.

Hingga saat ini, sekalipun Habib Abdul Qadir telah wafat puluhan tahun yang lalu, namun kiprah dakwahnya dalam memakmurkan majelis ilmu semakin semarak di rumahnya yang terletak di Jl Wahid Hasyim Gg VII, atau tepatnya di sebelah barat masjid Jami Al-Anwar, Kota Pasuruan.

Sampai sekarang berbagai macam kegiatan keagamaan mulai pembacaan kitab Ihya Ulumuddin, Maulid, Burdah dan peringatan Khotmil Qur’an tiap malam Ramadhan adalah rintisan dari Habib Abdul Qadir bin Husein Assegaf. Kini majleis-majelis dakwah itu masih diteruskan oleh salah satu putranya yakni Habib Taufiq bin Abdul Qadir bin Husein Assegaf yang membuat kota yang bergelar kota santri itu makin bersinarkan ilmu dan syiar dakwah.

Habib Abdul Qadir bin Husein sendiri dilahirkan di Seiwun pada 1320 H. Ia merupakan putra dari Habib Husein bin Segaf Assegaf dan Hababah Salma binti Husin bin Alwy Assegaf. Ayah Habib Abdul Qadir ini masih satu saudara sekandung dengan Alawy bin Segaf Assegaf yang makamnya di Kebon Agung (Pasuruan).

Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keluarga yang sarat dengan nilai-nilai religius. Keluarga dari Habib Abdul Qadir adalah ahlu ‘ilm wa ahlu amal. Pada usia yang sangat kecil ia sudah belajar Al-Quran dengan kedua orangtuanya. Ia belajar pertama kali dengan berguru pada Syeikh Hasan bin Abdullah Baraja’.
Seiring dengan berjalan usianya ia tidak henti-hentinya menuntut ilmu dari orang yang alim ke orang alim yang alim yang ada di sekitar Hadramaut. Guru-guru dari Habib Abdul Qadir diantaranya adalah Habib Muhammad bin Hadi Assegaf, Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, Habib Hasan bin Abdurrahman Assegaf, Habib Alawy bin Abdullah bin Husin Assegaf, Habib Muhammad bin Hasan Aidid dan ulama-ulama yang ada di Tarim, Hadramaut.

Setelah sekian lama ia belajar menuntut ilmu agama, ia sempat berdiam diri di sebuah tempat yang bernama Basalim di Seiwun. Hingga ia mendengar keberadaan seorang auliya’ yang ada di Pasuruan. Rupanya ia ingin berkunjung dan bertemu dengan Habib Jafar bin Syaikhon Assegaf. Ia kemudian datang dari Hadramaut menuju Indonesia untuk menemui Habib Jafar di Pasuruan.

Begitu sampai di Indonesia, ia langsung menuju Pasuruan, Jawa Timur. Ketika itu Habib Jafar sedang menemui tamunya, diantaranya Habib Ahmad bin Ali Assegaf (alm) yang merupakan pendamping setia Habib Jafar. Begitu datang Habib Abdul Qadir, Habib Ahmad berkata kepada Habib Jafar, ”Ya Habib Jafar, kini kita kedatangan seorang tamu yang shalih yakni Habib Abdul Qadir bin Husin Assegaf, seorang soleh, ahli ilm dan amal dari Hadramaut.”

Kemudian diceritakan seluruh kebaikan Habib Abdul Qadir oleh Habib Ahmad bin Ali Assegaf. Lalu Habib Ahmad melanjutkan, “Kesempatan Habib Abdul Qadir datang di tempat ini. Lebih baik, jangan biarkan Habib Abdul Qadir meninggalkan kota ini. Caranya, kawinkan dengan salah satu putri Habib. Supaya dia berdiam di sini dan kelak meneruskan engkau, wahai Habib Jafar.”

Habib Jafar tidak menanggapi pernyataan dari pendamping setianya itu dan ia diam saja. Sampai Habib Abdul Qadir pamitan dan siap berangkat ke kota yang lain. Habib Ahmad bertambah bingung, “Kok tidak ditahan sama sekali?”

Setelah melepas Habib Abdul Qadir meneruskan perjalanan ke Jakarta, Habib Ahmad kembali berkata kepada Habib Jafar, “Sayang, kenapa tidak ditahan tadi. Coba kalau dia menjadi menantu Habib, ia bisa meneruskan engkau, wahai Habib Jafar.”
Mendengar kecemasan dari Habib Ahmad, Habib Jafar menjawab sambil menerawang ke depan, ”Terbanglah kemana pun engkau suka, wahai burung! Tapi ingat, kendalimu ada di tangan saya. Sewaktu–waktu saya tarik dari Pasuruan, ia akan kembali ke kota ini. Ia tidak akan tingalkan tempat ini!” Itulah perkataan dari seorang Waliyyulah, dan keyakinan dari Habib Jafar ini akhirnya terbukti.

Walaupun, Habib Abdul Qadir sempat menikah di Jakarta, namun usia perkawinan itu tidak berlangsung lama. Habib Abdul Qadir akhirnya kembali ke Pasuruan dan menikah dengan salah satu putri Habib Jafar yang bernama syarifah Rugayah binti Habib Jafar Syekhon Assegaf. Dari perkawinan ini ia mempunyai 7 anak (3 putra, 2 putri).

IBADAHNYA

Berbicara ibadahnya Habib Abdul Qadir sangattmengagumkan, sulit di jaman sekarang mencari seorang ahli ibadah seperti beliau. Dalam sebuah risalah, surat yang ditulis dari Habib Muhammad kepada Habib Ahmad tentang ibadah yang paling utama dari Habib Abdul Qadir di bulan suci Ramadan. “Hari-hari di bulan Ramadan selalu diisi dengan ibadah. Di setiap pertengahan malam ia bertahajud sampai 45 rakaat sebelum fajar, setelah itu ia baru melaksanakan sahur dengan keluarga. Setelah shalat Subuh berjamaah di masjid Jami’ Al-Anwar, ia berziarah ke makam Habib Jafar yang terletak persis di barat Masjid sampai terbit matahari. Dan pulang beristirahat sejenak, di pertengahan shalat Dhuha dan tidak beranjak dari mihrabnya sampai datangnya waktu shalat Zhuhur. Setelah Zhuhur berjamaah, beliau membaca 2 juz dari Al-Quran dan terus berada di mighrab sampai Ashar. Dan setelah waktu Ashar shalat di masjid dan raukhah, membaca kitab dan menjelaskan isi kitabnya, ada ulama yang menterjemahkan kepada orang-orang yang hadir. Setelah itu 20 menit menjelang buka, ia selalu mengajak para fakir dan miskin untuk berbuka bersama, setelah itu beliau shalat Maghrib berjamaah.

Sekitar 30 menit waktu sebelum shalat Isya, beliau baru makan bersama dengan keluarga sampai datang waktu Isya. Setelah waktu Isya, beliau keluar rumah dan jamaah diajak membaca Surat Yasin, Ratibul Haddad, Ratib Attas, shalat Isya, shalat Tarawih, shalat Witir dan dilanjutkan dengan shalat Tasbih. Ibadah-ibadah rutin ini, diamalkan secara istiqamah selama bulan Ramadhan.

Habib Abdul Qadir dikenal orang sebagai ahli dzikir, membaca Quran, maulid, Qasidah Al Muthoriah. Sampai sekarang pembacaan maulid masih rutin dilaksanakan dikediaman beliau setiap Jum’at sore dipimpin oleh anaknya Habib Taufiq Assegaf. Bahkan dalam berpergian (safar), beliau tidak ketinggalan wiridnya. Bahkan dalam membaca maulid jika waktunya tidak sampai, ia tetap berdiri sekalipun harus berdiri di kendaraan saat Mahalul Qiyam, walau beliau susah payah untuk mengerjakan kebiasaan itu.

Al Habib Abdul Qodir juga menjaga shalat jama’ah tidak pernah ditinggalkan, kalau tidak mendapatkan jamaah, beliau rela membayar orang-orang fakir untuk diajak shalat jamaah, karena itu adalah sunnahnya Rasulullah SAW. Ia sangat menjaga sunnah-sunnah Rasulullah SAW, hampir-hampir tidak ada amalan sunnah yang ia tingalkan. Apa yang menjadi sunnah nabi, beliau selalu berusaha untuk mengerjakan. “Kalau masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan, kalau lupa salah mendahulukan kaki ketika masuk atau keluar masjid, beliau tak segan-segan akan mengulanginya lagi agar sama dengan sunnahnya Nabi Muhammad SAW.

Demikian juga dalam bersiwak. Siwak tidak pernah ketinggalan, beliau mempunyai siwak di setiap tempat, mulai di atas sajadah, almari, kamar, khawatir tidak bersiwak. Demikian menjaga sunnah nabi SAW, ” demikian kata Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf menantu Habib Abdul Qadir.

Tradisi berdzikir dibawa sampai menjelang wafat pada waktu ba’da Asar, 19 Syawal 1399 H. Kota Pasuran berduka ditinggalkan oleh Habib Abdul Qadir bin Husin Assegaf. Diakhir umurnya sebelum meninggalkan dunia yang fana, ketika detik-detik terakhir, selang beberapa menit sebelum wafat, beliau sempat masuk ke kamar dan memerintahkan salah satu keluarga memanggil Habib Ahmad bin Ali Assegaf untuk masuk ke dalam kamar .

Dibuka seluruh jendela dan ia terbaring dan membaca ayat Al-Qur’an yakni QS At Taubah: 128-129. Ketika sampai bacaan la illa hu…ketika itulah ruhnya dicabut oleh Alah SWT. Innalillahi wa inna ilahi rajiuun. Sepanjang hidup penuh kebaikan, menyambut ajalpun dengan cara terbaik. Tentu kita boleh mengagumi beliau, namun yang terpenting adalah meneladani amal sholeh beliau.

semoga bermanfaat..