Selasa, 03 September 2013

Rabi’ah, yang memuja Tuhan karena cinta

RABI’AH AL-ADAWIYAH





Salah seorang Wali Allah pilihan pada zamannya, yang kedudukan ruhaninya mengungguli hampir semua Wali Allah. Meski beliau adalah perempuan, namun karena ketinggian kedudukan spiritualnya, para Sufi menjulukinya “Mahkota Kaum Pria” (Taj al-Rijal). Fariduddin Aththar memujinya sebagai “Zahid mulia yang tinggal di biar orang-orang Allah, wanita suci dalam selubung ketulusan, terbakar api cinta, tenggelam dalam kerinduan … utusan kesucian Maryam.” Bahkan Muhyiddin Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa kedudukan Sayyidatuna Rabi’ah adalah sejajar dengan kedudukan Syekh Qutub al-Alam ABDUL QADIR AL-JAILANI.

Sayyidatuna Rabi’ah al-Adawiyah adalah termasuk kabilah Al-Atik, yang silsilah keturunannya berasal dari Nabi Nuh. Tidak diketahui dengan jelas kapan beliau lahir. Menurut salah satu riwayat, pada malam beliau dilahirkan, tidak ada sehelai kain, lampu atau setetes minyak untuk mengolesi pusarnya. Beliau adalah anak keempat dan karenanya dinamai Rabi’ah. Sang ayah telah lama berjanji untuk tidak meminta bantuan kepada siapapun. Karenanya, meski mereka butuh lampu dan minyak, sang ayah tidak mau meminta kepada tetangganya. Sang ayah merasa sedih, namun saat tertidur beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW yang berkata kepadanya, “Jangan bersedih. Engkau telah dianugerahi anak perempuan yang akan menjadi Wali Allah besar. Syafaatnya diharapkan oleh tujuh puluh ribu orang dari umatku.” Dalam mimpi itu Nabi Muhammad SAW berpesan agar ayah Rabi’ah berkirim surat kepada Isa Radan, pemimpin di Basrah. Pesannya adalah, “Besok kirimlah surat kepada Isa Radam. Setiap malam ia biasa bershalawat 100 kali dan setiap malam jum’at 400 kali. Namun pada malam Jum’at ini dia lupa bershalawat. Katakan kepadanya bahwa, sebagai tebusannya, dia harus memberimu 400 dinar.”

Setelah Isa Radan menerima surat itu, dia memerintahkan, “Uang sepuluh ribu dinar harus diberikan kepada orang-orang miskin sebagai rasa syukurku karena Nabi telah sudi menyebut namaku.” Dan ayah Rabi’ah pun diberi 400 dinar. Setelah orang tua Rabi’ah meninggal dunia, petaka kelaparan melanda Basrah. Semua saudara Rabi’ah berpencar. Rabi’ah sendiri dijual sebagai budak. Selama menjadi budak, beliau senantiasa berpuasa dan shalat tahajud setiap malam tanpa melupakan tugas yang diberikan oleh tuannya. Suatu malam tuannya terbangun mendengar suara rintihan munajat Rabi’ah: “Ya Allah, Engkau tahu bahwa satu-satunya yang kudambakan adalah mematuhi perintah-Mu … aku tidak akan berhenti menyembah-Mu walau sesaatpun. Namun Engkau telah membuatku tunduk kepada seorang makhluk. Karena itu, aku terlambat datang dalam beribadah kepada-Mu.” Mendengar ucapan ini, sang tuan kemudian membebaskan Rabi’ah. Sejak saat itu Rabi’ah mengabdikan diri sepenuhnya dalam ibadah. Konon beliau shalat 1000 rakaat setiap harinya. Di setiap malam selepas Isya beliau biasa berdoa: “Ya Allah, semua telah sunyi, dan segala yang bergerak telah diam. Semua pecinta telah bersembunyi bersama kekasihnya. Kini aku menyendiri bersama-Mu. Wahai Kekasih, biarkan kesendirianku bersama-Mu malam ini akan menyelamatkanku dari api neraka kelak di akhirat. Ya Allah, bintang-gemintang telah nampak. Semua mata telah lelap. Di balik gerbang istana para pangeran telah tidur. Para pecinta telah bersama kekasihnya, bersuka ria. Namun dihadapan wajah-Mu aku berdiri sendirian.” Kemudian beliau akan meneruskan beribadah sampai tiba waktu subuh.

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa beliau pernah bekerja sebagai peniup seruling, namun kemudian bertaubat dan hidup dalam keadaan tunawisma di reruntuhan bangunan. Beliau membuat kamar untuk menyendiri dan beribadah. Akhirnya beliau pergi ke Mekah dan beruzlah ke gurun pasir. Tahun wafatnya Rabi’ah juga tidak diketahui dengan pasti. Sebagian menyebutkan beliau wafat pada tahun 135 H, sebagian menyebut tahun 180 H atau 185 H. Di saat-saat terakhir hidupnya, sekelompok Wali Allah berkumpul di sekitar peraduannya. Sayyidatuna Rabi’ah tiba-tiba berucap, “Berdirilah dan berilah jalan kepada para Nabi Allah.” Merekapun berdiri dan meninggalkan ruangan. Kemudian terdengar suara, “Wahai Jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai oleh-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam sorga-Ku” (Q.S. 89: 27-30).

Ajaran dan Karamah
Sayyidatuna Rabi’ah umumnya dianggap sebagai Sufi awal yang memperkenalkan ajaran cinta Tuhan tanpa pamrih. Dalam sebuah riwayat yang terkenal, beliau mengatakan bahwa ibadahnya semata-mata demi cintanya kepada Allah, bukan lantaran takut neraka atau ingin sorga. Dalam salah satu cerita dikisahkan pada suatu hari beliau, mungkin dalam keadaan jadzab, tampak keluar rumah membawa seember air dan sebuah obor. Ketika ditanya untuk apa dua benda itu, beliau menjawab, “Aku akan melemparkan api ke dalam sorga dan mengguyurkan air ke dalam neraka agar jelas siapa yang memuja Tuhan karena cinta, bukan karena takut api neraka atau mengharapkan kenikmatan sorga.” Cinta Sayyidatuna Rabi’ah kepada Tuhan adalah cinta absolut, tak ada lagi ruang tersisa bagi selain-Nya. Karenanya konon beliau tak pernah menikah. Ketika ditanya mengapa beliau tidak menikah, beliau menjawab: “Aku khawatir akan tiga hal. Jika kalian sanggup membebaskanku dari kekhawatiran itu, maka aku akan menikah. Pertama, di saat sekarat, akankah keimananku cukup untuk menyelamatkanku? Kedua, akankah buku amalku diberikan kepadaku di tangan kanan atau kiriku? Ketiga, saat sekelompok orang digiring ke sorga dan sekelompok lainnya digiring ke neraka, di kelompok manakah aku nanti akan berada?” Dalam riwayat lain dikemukakan satu tambahan, “Ketika aku ditanya oleh Malaikat Munkar dan Nakir, apakah nanti aku bisa menjawabnya?”
Sayyidatuna Rabi’ah juga dianggap sebagai pencetus konsep tentang Tuhan yang pencemburu: “Dia tidak akan memperkenankan apapun berbagi dengan-Nya.” Dalam cinta semacam ini seorang Sufi menyatu atau menjadi milik-Nya sepenuhnya. Dalam sebuah munajatnya, beliau berkata, “Ilahi, bagian apapun dari dunia ini yang Kau anugerahkan kepadaku, berikanlah kepada musuh-musuh-Mu, dan bagian apapun dari akhiratku berikanlah kepada para sahabat-Mu, sebab Engkau telah cukup bagiku.” Masih menurut beliau, “Orang yang mencintai Allah akan senantiasa menangis [karena rindu] sampai ia beristirahat dalam pelukan Sang Kekasih, yakni Allah SWT.”

Banyak kisah karamah yang dinisbahkan kepada beliau. Salah satu yang dahsyat adalah saat beliau mengarungi gurun pasir, mendadak Ka’bah datang langsung menyambutnya. Beliau juga dipatuhi oleh semua binatang liar dan buas. Dalam kisah lain diriwayatkan bahwa beberapa sahabat mengunjunginya pada suatu malam. Namun Sayyidatuna Rabi’ah tidak punya lampu. Beliau kemudian meniup jari-jarinya dan seketika itu juga jemarinya menyala terang hingga pagi hari.Ketika orang menanyakan keajaiban ini, beliau menjawab, “Ini sama dengan putihnya telapak tangan Nabi Musa.” Ketika orang keberatan dengan jawaban itu karena Rabi’ah bukan Nabi, beliau menerangkan, “Para pengikut Nabi beroleh sedikit berkah berupa karamah. Anugerah Allah kepada Nabi berupa mukjizat, sedangkan para Awliya Allah diberkahi melalui keutamaan kepatuhan dan ketaatan kepada Nabi dengan kekuatan yang serupa, yang disebut karamah.”

‘UJUB, GHURUR DAN TAKABBUR

Berbahagialah Orang2 yg mempunyai sifat Tawadhu’, karena dg sifat itu berarti telah memilki satu bekal utama untuk menjadi hamba Allah yg sesungguhnya, sebab Allah berfirmandalam Al Quran Surah Al Furqon ayat 63:

وعباد الرحمن الذين يمشون على الأرض هونا وإذا خاطبهم الجاهلون قالوا سلاما

“Dan Hamba2 Al Rahman itu ialah orang2 yg berjalan di atas Bumi dg Haun (Kerendahan hati dan apa bila orang jahil mengata2i mereka, mereka mengucapkan kata2 yg mengandung keselamatan (Salam)”
Dalam Tafsir Al Thobari di jelaskan Haun yg dimaksud antara lain adalah :
 بالحلم والسكينة والوقار غير مستكبرين، ولا متجبرين، ولا ساعين فيها بالفساد ومعاصي الله
Dg Toleransi dan kesabaran hati, dan ketenangan, dan wibawa tanpa ada kesombongan, dan tanpa ada kepongahan, dan tidak berjalan dalam rangka membuat kerusakan dan Ma’shiyyat kepada Allah.
Jika Shifat “Haun” ini belum melekat dan meresap dalam jiwa raga seseorang, maka dapat di pastikan bahwa terdapat 3 penyakit jiwa yg menjadi kebalikan dari sifat Tawadzu’ tadi, yaitu :
1. ‘Ujub:
Ialah merasa lebih baik  dan lebih unggul dari orang lain, membanggakan kebaikan2 yg dia lakukan, melihat dirinya telah aman dalam kesalihan pribadi dan sosial, Allah memberi peringatan kepada orang2 yg memiliki shifat seperti ini dg FirmanNya dalm Al Quran Surah Al Najm ayat 53:
الذين يجتنبون كبائر الإثم والفواحش إلا اللمم إن ربك واسع المغفرة هو أعلم بكم إذ أنشأكم من الأرض وإذ أنتم أجنة في بطون أمهاتكم فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى
(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Orang yg mencukupkan dirinya hanya menjauhi Dosa2 besar, dan menyepelekan dosa2 kecil karena mengira dirinya telah aman dg keta’atan yg dia lakukan, sehingga dg tanpa terasa sama saja dia melakukan dosa2 besar, karena dosa2 kecil yg di ulang2 itu sama saja dg melakukan dosa besar.
Al Lamam seperti yg terdapat dala Tafsir Al Samarqondi yg menuqil dari Imam Hasan sebagai berikut:
وروي عن الحسن أنه قال : { اللمم } هو أن يصيب النظرة من المرأة ، والشربة من الخمر . ثم ينزع عنه
Al Lamam adalah membiasakan memandang Wanita (Bukan Muhrim), meminum Khomar, kemudian seketika menghindari.
Kemudian menurut Al Mujahid . وروي عن مجاهد أنه قال : الذي يلم بالذنب Al Lamam Adalah apa yg dapat menyakitkan sebab Dosa.
Kita tentu ingat dg Kisah ‘Ulam Bani Israel yg melakukan dosa kecil karena tipuan Iblis dg alasan agar Keta’atannya bertambah, karena dia merasa telah melakukan keta’atan yg luar biasa, sehingga dia meremehkan Dosa kecil unutk memancing Istighfar setelahnya. Dia telah mengira dirinya telah bersih dari dosa!!!
Ada dua factor yg menyebabkan timbulnya ‘Ujub pada diri seseorang, yaiy factor internal (dalam diri sendiri), hanya memperhatikan Nikmat tanpa mau memandang yg member Nikmat, wawasan yg sempit, dan lalai akan hakikat diri sendiri menimbulkan pujian untuk dirinya sendiri. Faktor eksternalnya adalah seperti penghormatan dan pujian yg di berikan Masyarakat secara berlebihan, serta Komunitas yg terbiasa dg sikap ‘Ujub.
Panggilan “Gus, Lora, Ning, Mbah, Pak Yai” yg berangkat dari Keluarga seorang Tokoh Masyarakat, tidak lagi memandang Sikap, ucap apalagi Karyanya, Namun ketika telah terbiasa dg panggilan2 tersebut, jika ada yg berani menegur kesalahannya, mengkritik atau menasihati, dia tidak dapat menerima, dia pikir apapun yg dia lakukan harus di pandang dari sudut “Gusnya, Ningnya, Loranya, Pak Yainya”. Anehnya lagi keluarga ikut mendukung, Masyarakat sekitar takut Kuwalat, Sodara2nya bangga punya saudara Jadzab katanya.
2. Ghurur:
Dari segi bahasa Ghurur berarti adalah Penipuan, sikap ini lahir dari ‘Ujub tadi yg memandang dirinya lebih dari Orang lain, sehingga tega menipu diri sendiri dg tidak menghiraukan pendapat Orang lain, Nasihatnya, tegurannya, kritiknya di pandang sebagai hal yg bodoh, walaupun sebenarnya hati kecilnya membenarkan. Sikapnya egois, tidak ada kebenaran kecuali keluar dari mulutnya sendiri, sayalah yg berhak menasihati,Orang terhormat seperti aku inilah yg harus di dengarkan pendapatnya, orang2 bodoh itu harus menurut dan meng iyakan apa kataku!!! Katanya. Semua itu di lakukan semata2 untuk mengejar kemulyaan Dunia saja, dan melupakan Akhirat.
Allah berfirman dalam Al Quran Surah Al Fathir ayat 5:
يا أيها الناس إن وعد الله حق فلا تغرنكم الحياة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرور
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.
Yg di maksud فلا تغرنكم الحياة الدنيا (Janganlah kehidupan Dunia memperdayakanmu) sebagaimana di jelaskan Imam Baidlowi dalam Tafsirnya adalah فيذهلكم التمتع بها عن طلب الآخرة
Melupkanmu memikirkan Akhirat karena mengejar kepuasan Dunia. Selanjutnya dalam menjelaskan  ولا يغرنكم بالله الغرور  (dan janganlah kalian menipu Allah dg tipuanmu) adalah sebagai berikut:
الشيطان بأن يمنيكم المغفرة مع الإِصرار على المعصية ، فإنها وإن أمكنت لكن الذنب بهذا التوقع كتناول السم اعتماداً على دفع الطبيعة
Iyalah bisikan Syaithon yg mengedepankan ampunan Allah ketika sesorang itu menjalankan Ma;shiyyat, walaupun besar kemungkinannya Allah mengamouni dosa2 ketika seseorang itu jatuh dalam kemaksiyatan. Seperti menyengajakan meminum racun untuk menghilangkan Penyakit.
3. Takabbur:
Congkak dan Sombong di sertai meremehkan Orang lain dalam menolak kebenaran. Faktor utama Takabbur itu adalah mersa telah lebih dahulu melaksanakan sebuah keutamaan, seperti pergi berjihad, lama berdakwah, bertahun2 menuntut Ilmu dll.
Di karenakan merasa lebih dahulu melakukan keutamaan2, dia akan mudah sekali memandang rendah Orang lain, merasa lebih memhami Agama, lebih melaksanakan Sunnah, dll.
Kiranya masalah Takabbur ini semua Orang tahu akibat buruknya, tak perlu berdalil dg hokum alam dan perabaan jiwa saja kita sudah sepakat bahwa betapa buruknya Takabbur itu.

Senin, 02 September 2013

Al Habib Husein Bin Abu Bakar Al Aydrus



Al Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus

Habib Husein Bin Abu Bakar Alaydrus
dilahirkan di Yaman Selatan, tepatnya di daerah Hadhramaut, tiga abad yang silam. Ia dilahirkan sebagai anak yatim, yang dibesarkan oleh seorang ibu dimana sehari-harinya hidup dari hasil memintal benang pada perusahaan tenun tradisional. Husein kecil sungguh hidup dalam kesederhanaan.

Setelah memasuki usia belia, sang ibu menitipkan Habib Husein pada seorang “Alim Shufi”. Disanalah ia menerima tempaan pembelajaran thariqah. Di tengah-tengah kehidupan di antara murid-murid yang lain, tampak Habib Husein memiliki perilaku dan sifat-sifat yang lebih dari teman-temannya.

Kini, Al Habib Husein telah menginjak usia dewasa. Setiap ahli thariqah senantiasa memiliki panggilan untuk melakukan hijrah, dalam rangka mensiarkan islam ke belahan bumi Allah. Untuk melaksanakan keinginan tersebut Habib Husein tidak kekurangan akal, ia bergegas menghampiri para kafilah dan musafir yang sedang melakukan jual-beli di pasar pada setiap hari Jum’at.

Setelah dipastikan mendapatkan tumpangan dari salah seorang kafilah yang hendak bertolak ke India, maka Habib Husein segera menghampiri ibunya untuk meminta ijin.

Walau dengan berat hati, seorang ibu harus melepaskan dan merelakan kepergian puteranya. Habib Husein mencoba membesarkan hati ibunya sambil berkata : “janganlah takut dan berkecil hati, apapun akan ku hadapi, senantiasa bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya ia bersama kita.” Akhirnya berangkatlah Al Habib Husein menuju daratan India.

Sampailah Al Habib Husein di sebuah kota bernama “Surati” atau lebih dikenal kota Gujarat, sedangkan penduduknya beragama Budha. Mulailah Habib Husein mensi’arkan Islam dikota tersebut dan kota-kota sekitarnya.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut membawa Rahmatan Lil-Alamin. Karena daerah yang asalnya kering dan tandus, kemudian dengan kebesaran Allah maka berubah menjadi daerah yang subur. Agama Islam pun tumbuh berkembang.

Hingga kini belum ditemukan sumber yang pasti berapa lama Habib Husein bermukim di India. Tidak lama kemudian ia melanjutkan misi hijrahnya menuju wilayah Asia Tenggara, hingga sampai di pulau Jawa, dan menetap di kota Batavia, sebutan kota Jakarta tempo dulu.

Batavia adalah pusat pemerintahan Belanda, dan pelabuhannya adalah Sunda Kelapa. Maka tidak heran kalau pelabuhan itu dikenal sebagai pelabuhan yang teramai dan terbesar di jamannya. Pada tahun 1736 M datanglah Al-Habib Husein bersama para pedagang dari Gujarat di pelabuhan Sunda Kelapa.

Disinilah tempat persinggahan terakhir dalam mensyiarkan Islam. Beliau mendirikan Surau sebagai pusat pengembangan ajaran Islam. Ia banyak di kunjungi bukan saja dari daerah sekitarnya, melainkan juga datang dari berbagai daerah untuk belajar Islam atau banyak juga yang datang untuk di do’akan.

Pesatnya pertumbuhan dan minat orang yang datang untuk belajar agama Islam ke Habib Husein mengundang kesinisan dari pemerintah VOC, yang di pandang akan menggangu ketertiban dan keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya di jatuhi hukuman, dan ditahan di penjara Glodok.

Istilah karomah secara estimologi dalam bahasa arab berarti mulia, sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (terbitan balai pustaka, Jakarta 1995, hal 483) menyebutkan karomah dengan keramat, diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam ajaran Islam karomah di maksudkan sebagai khariqun lil adat yang berarti kejadian luar biasa pada seseorang wali Allah. Karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan tingkah laku seseorang, yang merupakan anugrah Allah karena ketakwaannya, berikut ini terdapat beberapa karomah yang dimiliki oleh Al Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus atau yang kita kenal Habib Luar Batang, seorang wali Allah yang lahir di Jasirah Arab dan telah ditakdirkan wafat di Pulau Jawa, tepatnya di Jakarta Utara.

1. Menjadi mesin pemintal

Di masa belia, ditanah kelahirannya yaitu di daerah Hadhramaut – Yaman Selatan, Habib Husein berguru pada seorang Alim Shufi. Di hari-hari libur ia pulang untuk menyambang ibunya.

Pada suatu malam ketika ia berada di rumahnya, ibu Habib Husein meminta tolong agar ia bersedia membantu mengerjakan pintalan benang yang ada di gudang. Habib Husein segera menyanggupi, dan ia segera ke gudang untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh ibunya. Makan malam juga telah disediakan. Menjelang pagi hari, ibu Husein membuka pintu gudang. Ia sangat heran karena makanan yang disediakan masih utuh belum dimakan husein. Selanjutnya ia sangat kaget melihat hasil pintalan benang begitu banyaknya. Si ibu tercengang melihat kejadian ini. Dalam benaknya terpikir bagaimana mungkin hasil pemintalan benang yang seharusnya dikerjakan dalam beberapa hari, malah hanya dikerjakan kurang dari semalam, padahal Habib Husein dijumpai dalam keadaan tidur pulas disudut gudang.

Kejadian ini oleh ibunya diceritakan kepada guru thariqah yang membimbing Habib Husein. Mendengar cerita itu maka ia bertakbir sambil berucap : “ sungguh Allah berkehendak pada anakmu, untuk di perolehnya derajat yang besar disisi-Nya, hendaklah ibu berbesar hati dan jangan bertindak keras kepadanya, rahasiakanlah segala sesuatu yang terjadi pada anakmu.”

2. Menyuburkan Kota Gujarat

Hijrah pertama yang di singgahi oleh Habib Husein adalah di daratan India, tepatnya di kota Surati atau lebih dikenal Gujarat. Kehidupan kota tersebut bagaikan kota mati karena dilanda kekeringan dan wabah kolera.

Kedatangan Habib Husein di kota tersebut di sambut oleh ketua adat setempat, kemudian ia dibawa kepada kepala wilayah serta beberapa penasehat para normal, dan Habib Husein di perkenalkan sebagai titisan Dewa yang dapat menyelamatkan negeri itu dari bencana.

Habib Husein menyangupi bahwa dengan pertolongan Allah, ia akan merubah negeri ini menjadi sebuah negeri yang subur, asal dengan syarat mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agamanya. Syarat tersebut juga mereka sanggupi dan berbondong-bondong warga di kota itu belajar agama Islam.

Akhirnya mereka di perintahkan untuk membangun sumur dan sebuah kolam. Setelah pembangunan keduanya di selesaikan, maka dengan kekuasaan Allah turun hujan yang sangat lebat, membasahi seluruh daratan yang tandus. Sejak itu pula tanah yang kering berubah menjadi subur. Sedangkan warga yang terserang wabah penyakit dapat sembuh, dengan cara mandi di kolam buatan tersebut. Dengan demikian kota yang dahulunya mati, kini secara berangsur-angsur kehidupan masyarakatnya menjadi sejahtera.

3. Mengislamkan tawanan

Setelah tatanan kehidupan masyarakat Gujarat berubah dari kehidupan yang kekeringan dan hidup miskin menjadi subur serta masyarakatnya hidup sejahtera, maka Habib Husein melanjutkan hijrahnya ke daratan Asia Tenggara untuk tetap mensiarkan Islam. Beliau menuju pulau Jawa, dan akhirnya menetap di Batavia. Pada masa itu hidup dalam jajahan pemerintahan VOC Belanda.

Pada suatu malam Habib Husein dikejutkan oleh kedatangan seorang yang berlari padanya karena di kejar oleh tentara VOC. Dengan pakaian basah kuyub ia meminta perlindungan karena akan dikenakan hukuman mati. Ia adalah tawanan dari sebuah kapal dagang Tionghoa.

Keesokan harinya datanglah pasukan tentara berkuda VOC ke rumah Habib Husein untuk menangkap tawanan yang dikejarnya. Beliau tetap melindungi tawanan tersebut, sambil berkata : “Aku akan melindungi tawanan ini dan aku adalah jaminannya.”

Rupanya ucapan tersebut sangat di dengar oleh pasukan VOC. Semua menundukkan kepala dan akhirnya pergi, sedangkan tawanan Tionghoa itu sangat berterima kasih, sehingga akhirnya ia memeluk Islam.

4. Menjadi Imam di Penjara

Dalam masa sekejab telah banyak orang yang datang untuk belajar agama Islam. Rumah Habib Husein banyak dikunjungi para muridnya dan masyarakat luas. Hilir mudiknya umat yang datang membuat penguasa VOC menjadi khawatir akan menggangu keamanan. Akhirnya Habib Husein beserta beberapa pengikut utamanya ditangkap dan di masukan ke penjara Glodok. Bangunan penjara itu juga dikenal dengan sebutan “Seksi Dua.”

Rupanya dalam tahanan Habib Husein ditempatkan dalam kamar terpisah dan ruangan yang sempit, sedangkan pengikutnya ditempatkan di ruangan yang besar bersama tahanan yang lain.

Polisi penjara dibuat terheran-heran karena ditengah malam melihat Habib Husein menjadi imam di ruangan yang besar, memimpin shalat bersama-sama para pengikutnya. Hingga menjelang subuh masyarakat di luar pun ikut bermakmum. Akan tetapi anehnya dalam waktu yang bersamaan pula polisi penjara tersebut melihat Habib Husein tidur nyenyak di kamar ruangan yang sempit itu, dalam keadaan tetap terkunci.

Kejadian tersebut berkembang menjadi buah bibir dikalangan pemerintahan VOC. Dengan segala pertimbangan akhirnya pemerintah Belanda meminta maaf atas penahanan tersebut, Habib Husein beserta semua pengikutnya dibebaskan dari tahanan.

5. Si Sinyo menjadi Gubernur

Pada suatu hari Habib Husein dengan ditemani oleh seorang mualaf Tionghoa yang telah berubah nama Abdul Kadir duduk berteduh di daerah Gambir. Disaat mereka beristirahat lewatlah seorang Sinyo (anak Belanda) dan mendekat ke Habib Husein. Dengan seketika Habib Husein menghentakan tangannya ke dada anak Belanda tersebut. Si Sinyo kaget dan berlari ke arah pembantunya.

Dengan cepat Habib Husein meminta temannya untuk menghampiri pembantu anak Belanda tersebut, untuk menyampaikan pesan agar disampaikan kepada majikannya, bahwa kelak anak ini akan menjadi seorang pembesar di negeri ini.

Seiring berjalannya waktu, anak Belanda itu melanjutkan sekolah tinggi di negeri Belanda. Kemudian setelah lulus ia di percaya di angkat menjadi Gubernur Batavia.

6. Cara Berkirim Uang

Gubernur Batavia yang pada masa kecilnya telah diramal oleh Habib Husein bahwa kelak akan menjadi orang besar di negeri ini, ternyata memang benar adanya. Rupanya Gubernur muda itu menerima wasiat dari ayahnya yang baru saja meninggal dunia. Di wasiatkan kalau memang apa yang dikatakan Habib Husein menjadi kenyataan diminta agar ia membalas budi dan jangan melupakan jasa Habib Husein.

Akhirnya Gubernur Batavia menghadiahkan beberapa karung uang kepada Habib Husein. Uang itu diterimanya, tetapi dibuangnya ke laut. Demikian pula setiap pemberian uang berikutnya, Habib Husein selalu menerimanya, tetapi juga dibuangnya ke laut. Gubernur yang memberi uang menjadi penasaran dan akhirnya bertanya mengapa uang pemberiannya selalu di buang ke laut. Dijawabnya oleh Habib Husein bahwa uang tersebut dikirimkan untuk ibunya ke Yaman.

Gubernur itu dibuatnya penasaran, akhirnya diperintahkan penyelam untuk mencari karung uang yang di buang ke laut, walhasil tak satu keeping uang pun diketemukan. Selanjutnya Gubernur Batavia tetap berupaya untuk membuktikan kebenaran kejadian ganjil tersebut, maka ia mengutus seorang ajudan ke negeri Yaman untuk bertemu dan menanyakan kepada ibu Habib Husein.

Sekembalinya dari Yaman, ajudan Gubernur tersebut melaporkan bahwa benar adanya. Ibu Habib Husein telah menerima sejumlah uang yang di buang ke laut tersebut pada hari dan tanggal yang sama.

7. Kampung Luar Batang

Gubernur Batavia sangat penuh perhatian kepada Habib Husein. Ia menanyakan apa keinginan Habib Husein. Jawabnya : “Saya tidak mengharapkan apapun dari tuan.” Akan tetapi Gubernur itu sangat bijak, dihadiahkanlah sebidang tanah di kampung baru, sebagai tempat tinggal dan peristirahatan yang terakhir.

Habib Husein telah di panggil dalam usia muda, ketika berumur kurang lebih 30-40 tahun. Meninggal pada hari kamis tanggal 17 Ramadhan 1169 atau bertepatan tanggal 27 Juni 1756 M. sesuai dengan peraturan pada masa itu bahwa setiap orang asing harus di kuburkan di pemakaman khusus yang terletak di Tanah Abang.

Sebagai mana layaknya, jenasah Habib Husein di usung dengan kurung batang (keranda). Ternyata sesampainya di pekuburan jenasa Habib Husein tidak ada dalam kurung batang. Anehnya jenasah Habib Husein kembali berada di tempat tinggal semula. Dalam bahasa lain jenasah Habib Husein keluar dari kurung batang, pengantar jenasah mencoba kembali mengusung jenasah Habib Husein ke pekuburan yang dimaksud, namun demikian jenasah Habib Husein tetap saja keluar dan kembali ke tempat tinggal semula.

Akhirnya para pengantar jenasah memahami dan bersepakat untuk memakamkan jenasa Habib Husein di tempat yang merupakan tempat rumah tinggalnya sendiri. Kemudian orang menyebutnya “Kampung Baru Luar Batang” dan kini dikenal sebagai “Kampung Luar Batang.”

Catatan :

Pengalaman masa lampau, tersiar khabar bahwa Al-Habib Husein membuang sejumlah uang ke laut di daerah “Pasar Ikan”. Tidak henti-hentinya para pengunjung menyelami tempat itu. Dengan bukti nyata, mereka mendapatkannya, sedangkan pada waktu itu, untuk dapat bekerja masih sukar di peroleh. Satu-satunya mata pencaharian yang mudah dikerjakan ialah, menyelam di laut. Dengan demikian, bangkitlah keramaian dikawasan kota tersebut, sehingga timbullah istilah “Mencari Duit ke Kota”

Penutup

1. Perayaan-perayaan tahunan di Makam Keramat Luar Batang.

a. Perayaan/peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, pada minggu terakhir di bulan Rabi’ul Awwal.

b. Perayaan/peringatan haulnya Al-Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus Keramat Luar Batang pada minggu terakhir di bulan Syawal.

c. Perayaan “akhir ziarah” pada bulan Sya’ban, yaitu pada 3 (tiga) hari atau 7 (tujuh) hari menjelang bulan suci Ramadhan.

2. Sumber Riwayat ini di peroleh dari :

a. Nara Sumber, sesepuh keluarga Al-Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus ialah Almarhumah Syarifah Muznah binti Husein Alaydus, kakak kandung Al-Habib Abu Bakar bin Husein Alaydrus, diceritakan kembali oleh penulis, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan Maghfirah-Nya….Amiin.

b. Diktat sejarah Kampung Luar Batang, oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta/Dinas Museum dan Sejarah, 1982/1983.